Terpaksa Menikah Diusia Belia

Terpaksa Menikah Diusia Belia
Bab 19 ( Merindukanmu )


__ADS_3

"Ibu." Zacky mencium tangan ibunya diikuti Arsha dan Anissa yang ikut mencium tangan Ayu.


Pandangan Ayu tak lepas dari gadis cantik berkerudung pink. "Siapa Ky?"Ayu menatap Zacky sekilas lalu kembali ke gadis cantik di depannya.


"Calon Zacky, Bu," terang Zacky.


Anissa terlihat mengulum tersenyum akan ucapan Zacky saat itu Ayu juga ikut tersenyum mengelus kepala Anissa. "Cantik sekali kamu, Nak," pujinya akan kecantikan Anissa.


Tentu saja pilihan Zacky tidak salah lagi selain cantik Anissa juga gadis yang solehah juga dewasa beda dari Ziva itu yang dipikirkan Zacky saat ini.


Anissa kembali mengulum senyum akan pujian dari calon mertuanya. "Ibu terlalu memuji."


"Kalian pasti lelah,duduklah! Ibu akan buat minum." Ayu melangkah menuju ke dapur diikuti Anissa yang ikut membantu.


Sementara Ziva yang duduk di kursi ruang tamu melangkah keluar menuju teras.


"Enak sekali udaranya disini, sejuk." Ziva berdecak senang.


Tentu saja karena kampung Ziva yang berada di kaki gunung membuat udara di kampung itu begitu sejuk ditambah kabut yang tiba-tiba menyelimuti menambah kesan damai.


Arsha menyusul Ziva ke terasZacky dan Zahra menyusul Anissa dan Ayu ke dapur meninggalkan Arsha seorang diri hingga Arsha memutuskan untuk mencari Ziva.Terlihat Ziva duduk di kursi teras menikmati waktu santainya perjalanan beberapa jam membuatnya sedikit kelelahan.


"Sudah lama ya Kak,kita nggak merasakan suasana yang seperti ini?" Ziva menatap pria yang juga merasakan kenyamanan yang sama seperti dirinya.


Arsha menganggukan kepala akan pertanyaan Ziva.Selain nyaman liburan kali ini walaupun cuma sehari cukup membuat pikirannya kembali rilex karena selama beberapa bulan ini merasa jenuh akan semua pekerjaannya di kantor.


Seseorang yang lewat depan rumah Ziva menatapnya penuh lalu memutuskan untuk mendekat.


"Ziva," serunya.


Pemuda itu tersenyum senang melihat keberadaan Ziva yang beberapa bulan tak ditemuinya.


"Hai Raka," sapa Ziva.


Pemuda itu adalah teman sekolah Ziva mereka cukup akrab . Sebenarnya Raka menyimpan perasaan pada Ziva tapi Ziva selalu menolaknya karena Ziva hanya menganggap kedekatan dengan Raka hanya sebatas teman.Sebelum janur kuning melengkung selama itu Raka akan berusaha meraih hati Ziva itu yang selalu ditanamkan Raka dalam benaknya.


Raka berjalan masuk ke teras rumah Ziva dan ikut duduk. "Ada Kak Arsha juga." Raka tersenyum getir karena tadinya ingin berduaan dengan Ziva tapi niatnya gagal.


Arsha menatap Raka dengan ketus karena sudah sejak lama Arsha mengetahui Raka selalu mengejar Ziva tapi kali ini dia tidak akan tinggal diam karena Ziva adalah miliknya.


"Kapan kamu balik, Va?" tanya Raka.


Raka mendekatkan kursinya tepat di samping Ziva bahkan begitu dekat membuat Arsha menatapnya kesal.Matanya berbinar menatap gadis cantik di sampingnya membuat Arsha semakin kesal mengepalkan tangannya.Arsha berusaha mengendalikan emosinya karena tidak ingin membuat keributan.

__ADS_1


"Baru aja,ini juga baru duduk." Ziva tersenyum begitu manis.


"Kau memberikan senyumanmu pada bocah tengil ini, apa kau ...!" umpat Arsha dalam batinnya.


Arsha mendelik kesal kearah Ziva tapi Ziva malah tidak terlalu memperdulikannya.


"Kamu akan lama disini Va?" tanya Raka lagi.


"Aku nggak bisa lama-lama karena besok harus sekolah dan juga Kak Arsha harus Kerja," terang Ziva


Seketika senyum Raka berubah menjadi kecut membuat batin Arsha senang.


"Rasain, loe pikir mau gangguin bini orang!" batin Arsha.


Pria yang tadinya mengumpat kesal itu kini tersenyum senang dengan penolakan Ziva secara halus itu.


"Ikut aku sebentar yuk,Va," tawar Raka. Tangannya menarik tangan Ziva membuat Arsha kembali naik pitam karena tadi Arsha sempat berpikir Raka akan segera pergi dengan penolakan Ziva.


"Kau, cari mati!"Arsha menangkis tangan Raka dari tangan Ziva.Saat itu kesabarannya sudah hilang.


"Apa maksud Kak Arsha?" Raka bergidik ngeri dengan tatapan tajam pria di depannya itu.


"Sebaiknya kau cepat pergi." Ziva menarik tangan Raka segera menjauh pergi membuat Arsha kembali menarik tangannya karena sedikitpun wanitanya tidak boleh disentuh pria lain selain dirinya.


"Jangan memberi kesempatan pada pria manapun untuk dekat-dekat karena sekali kau memberi kesempatan mereka akan selamanya seperti itu!" tegas Arsha meski dengan nada marah tapi Ziva tahu perkataannya itu ada benarnya.Saat ini tidak ada lagi kesempatan baginya untuk berdekatan dengan pria lain karena hatinya sudah dimiliki pria bernama Arshaka.


Ayu menatap Ziva dan Arsha yang terdiam.Keduanya tampak saling menatap dengan Arsha yang mencekal tangan Ziva.


"Hhmm ...." Ayu berdehem memberitahu keberadaannya.Spontan Arsha melepas cekalan tangannya karena tidak ingin wanita itu berpikiran macam-macam akan dirinya tapi berpikiran macam-macam pun tidak masalah karena toh wanita itu sudah tahu semua.


"Ibu setuju kalau Ziva dengan Arsha?" tanya Arsha yang membuat dirinya spontan di pukul Ziva.Pria itu sengaja membuatnya merasa bersalah karena sudah menyembunyikan pernikahannya dan kali ini malah berulah dengan pertanyaannya.


"Kau mau Ibu jawab apa?" Ayu menatap Ziva lalu Arsha bergantian membuat Ziva yang saat itu sedikit kesal menahan malu akan pertanyaan Ibunya.


"Ibu, jangan menanggapi pertanyaan konyol Kakak." Ziva merangkul tubuh ibunya.


"Ibu pasti sangat senang kau bersama dengannya karena ibu tahu siapa dia," jelas Ayu menatap Arsha.


Seketika jawaban ibunya membuat pipi Ziva memerah karena malu.


Setelah cukup lama beristirahat juga makan, Arsha memutuskan untuk pulang kerumahnya sekedar untuk menyapa ibunya.Saat ini ibunya pasti di rumah sendirian karena ayahnya pasti masih di gudang.


"Apa kamu tidak mau ikut aku pulang?" tanya Arsha yang sudah berada di dalam mobil.

__ADS_1


"Aku disini saja,aku malu sama bibi dan paman." Ziva menolak halus ajakan Arsha.


"Baiklah,nanti malam aku akan menjemputmu balik ke Jakarta."


Mobil Arsha pun melaju pergi meninggalkan Ziva yang masih berdiri disana.Rumah Arsha tidak jauh dari rumah Ziva hanya berjarak sekitar 200 meter.Mobil Arsha terparkir di halaman rumah yang cukup mewah diantara deretan rumah itu.


Keluarga Arsha memang lebih berada dari keluarga Ziva tapi tidak membuat Arsha berpangku tangan menikmati setiap harta orang tuanya.Sejak lulus kuliah di Jakarta Arsha memutuskan untuk berkarir di kota metropolitan itu daripada mengurus perkebunan teh milik ayahnya membuat hubungan ayah dan anak itu menjadi renggang.


Alasan itulah yang membuat pria itu jarang dan bahkan tidak pulang sela beberapa tahun.Arsha hanya sesekali menelepon ibunya untuk memberi kabar itupun tanpa sepengetahuan ayahnya.


Arsha mengetuk pintu beberapa saat kemudian pintu pun terbuka.


"Arsha, putra Ibu sudah pulang." Dina memeluk erat putra yang begitu dirindukannya. "Kamu gemukan sekarang," timpal Dina.


Dina menuntun putranya masuk dan duduk di sofa.


"Kau pulang untuk menikah nak?kau akan disini terus kan?kau tahu Ibu dan ayah sangat kesepian tanpamu.Tinggalah dan menikah, sampai kapan kamu terus mengejar karirmu?harta ayahmu tidak akan habis 7 turunan.Kenapa kamu tidak bekerja disini saja meneruskan usaha dagang ayahmu serta mengelola kebun teh ayahmu?" Ayu bertanya panjang lebar,sorot matanya begitu sedih dengan nasib anaknya yang entah bagaimana keadaannya di kota besar.


"Ibu tahu aku hanya ingin melakukan semua keinginanku, pekerjaanku adalah kesenanganku, Bu.Sebentar lagi jabatan Manager di depan mata Arsha Bu!" tegas Arsha berbinar-binar menceritakan kesuksesannya.


"Kau memang keras kepala seperti ayahmu." Ayu akhirnya menyerah dengan keinginan putranya karena sifat Arsha yang keras kepala sama seperti suaminya.


"Kemana Ayah,Bu?" Arsha melihat sekeliling ruangan itu.


"Ayahmu ada urusan mendadak mungkin sore baru pulang.Apa kamu mau minum sesuatu?" tawar Dina.


"Tidak Bu, aku sudah minum dirumah Zacky tadi," tolak Arsha menyenderkan tubuhnya yang lelah.


"Kamu pulang sama Zacky juga?" tanya Dina.


"Iya Bu, nanti malam Arsha harus balik ke Jakarta," ungkap Arsha.


Dina yang tadinya berpikir Arsha akan tinggal beberapa hari sedikit kecewa tapi cukuplah pertemuan sesaat ini mengobati kerinduannya yang sudah setahun tidak bertemu dengan putranya itu. "Secepat itu Nak, apa kamu tidak bisa cuti sehari dua hari?" Dina menatap penuh harap.


"Arsha tidak bisa meninggalkan pekerjaan Arsha Bu terlebih jabatan Arsha sebagai Supervisor punya tanggung jawab lebih terhadap bawahan Arsha," terang Arsha.


Dina hanya bisa pasrah dengan perkataan putranya itu.


"Istirahatlah! Ibu akan memasak makanan kesukaanmu." Dina beranjak dari duduknya meninggalkan Arsha yang masih duduk lesu.


Arsha beranjak dari duduknya menuju kamarnya merebahkan tubuhnya diatas ranjang.


"Kenapa hanya beberapa saat aku sudah merindukanmu Va," batin Arsha.

__ADS_1


Matanya menatap kearah langit-langit kamarnya seakan wajah Ziva tergambar jelas disana.Arsha tersenyum dengan kekonyolannya.Baru beberapa jam saja berpisah dari Ziva tapi serasa sudah setahun membuatnya menyadari betapa besar cintanya kepada Ziva.


__ADS_2