
Setelah cukup lama berbincang dengan ayahnya Arsha memutuskan untuk keluar rumah sekedar mencari udara segar karena saat itu udara cukup panas.Arsha duduk di teras rumahnya.Fokusnya tertuju pada pohon jambu air di depan rumahnya yang sedang berbuah, entah kenapa saat itu tiba-tiba menginginkannya padahal Arsha tidak menyukai buah itu.
Tanpa berlama-lama pria itu memanjat pohon itu lalu memetik beberapa dan juga tidak ketinggalan memetik mangga muda yang berada tepat di samping pohon jambu.
Arsha sangat bahagia ketika keinginannya sudah ada di depan matanya.Saat ingin menggigit buah yang menurutnya begitu menggoda, tiba-tiba suara ibunya mengagetkannya.
"Apa yang kau lakukan?" tanyanya dengan wajah heran.
Tentu saja Dina begitu heran melihat putranya ingin memakan buah tersebut karena putranya itu tidak pernah menyukainya.
Semua bermula dari Arsha kecil yang terjatuh saat ingin mengambil buahnya dan harus dirawat di rumah sakit karena patah tulang.Sejak saat itu Arsha bermusuhan dengan pohon jambu juga yang berkaitan dengan jambu termasuk buahnya.
__ADS_1
"Ibu lihat sendiri, aku ingin memakannya," jelasnya kembali mengigit buah jambu itu.Ekspresinya begitu menikmati buah itu sampai membuat seseorang di pintu yang menatapnya hampir menetes air liurnya.
"Kakak melupakan aku dan memakannya sendiri," gerutu Ziva kesal.Saat itu langsung mengambil satu buah jambu dan langsung memakan buah tersebut.
"Ada apa dengan kalian apa ibu melewatkan sesuatu yang tidak ibu ketahui?" Dina menatap menantunya sekilas lalu putranya.
"Ibu akan segera punya cucu dan aku kena imbasnya.Ibu pasti heran kenapa aku makan jambu.Jangan tanya lagi Bu, semua karena cucu ibu itu."Pria itu kembali menggigit jambu dengan ekspresi kesal.Kesal karena tidak ingin makan tapi bingung karena airnya liurnya akan menetes jika tidak memakannya.
Dina mengusap lembut perut Ziva yang masih rata. "Cepat keluar nak karena nenek nggak sabar lagi menggendongmu."
Ucapan Dina itu langsung membuat anak dan menantunya langsung tersenyum geli mengingat kandungan Ziva masih baru berjalan beberapa minggu.
__ADS_1
Hari ini Dina benar-benar bahagia karena kebahagiaan datang bertubi-tubi mulai dari putranya yang memutuskan pulang dan tinggal lalu kabar kehamilan menantunya yang pasti kabar itu sudah ditunggu keluarga besarnya.Dina bahkan tidak menyangka hari ini akan datang karena ada saat dirinya putus asa dengan keinginannya.Semua terjadi karena Ziva merubah semua dari meluluhkan hati Arsha hingga berbaikan dengan ayahnya lalu karena Ziva juga akhirnya putranya itu kembali.
"Terima kasih Nak,ibu berutang banyak padamu." Dina memeluk Ziva penuh haru hingga membuatnya menitikkan air mata.
"Sudah Bu, Ziva tidak melakukan apapun semua berkat doa ibu yang tidak henti mendoakan aku dan kak Arsha." Ziva mencoba menghapus air mata ibu mertuanya.
Sementara itu Arsha yang entah kenapa juga ikut menitikkan air mata mendekati Dina langsung memeluknya. "Maafkan Arsha Bu seharusnya Arsha lakukan ini dari dulu, maafkan anakmu yang keras kepala ini. Arsha janji akan membuat ayah dan Ibu bangga.Mulai saat ini Arsha akan bekerja keras untuk membahagiakan kalian."
Dina mengelus lembut punggung putranya. "Ibu tidak pernah mengganggapmu salah Nak, kau hanya melakukan sesuatu yang kau senangi tapi ibu berharap saat kau jatuh dan membutuhkan Ibu, kau akan kembali karena seorang ibu hanya ingin yang terbaik juga kebahagiaan anak-anaknya."
"Terima kasih,Bu." Arsha memeluk tubuh ibunya dengan erat.
__ADS_1
"Rasanya baru kemarin kamu memeluk ibu dan waktu itu tinggimu masih sebahu ibu dan sekarang kau tumbuh setinggi ini, kau juga akan jadi seorang ayah, ibu benar-benar bahagia benar-benar bahagia," batin Dina.