
"Ibu."
Pelukan hangat mendekap dari belakang tubuh Dina yang tengah sibuk mengiris bawang merah. Senyumnya merekah dengan tingkah menantunya itu yang secara tidak langsung mengobati rasa kesepian selama beberapa tahun ini begitu sepi. Kehadiran Ziva membuat suasana rumah begitu ceria juga karena Ziva lah kini anak semata wayangnya kembali ke rumah ini dengan rasa tentram dan damai karena saat ini ketegangan juga ketidak akuran Arsha dan suaminya mereda.
Dina membalikan badannya dan langsung mengelus lembut wajah menantunya itu dengan senyum yang terus merekah.
"Ah pedih, Bu," teriak Ziva mengucek matanya beberapa kali.
Dina kembali mengusap mata Ziva berusaha membantunya tapi bukannya membantu Ziva semakin berteriak pedih.
"Cepat cuci mukamu!" Dina mendorong Ziva menuju wastafel cuci piring. Ziva segera membasuh mukanya beberapa kali hingga rasa pedih di matanya perlahan menghilang.Ayu memberinya beberapa lembar tisu untuk mengelap wajah Ziva.
"Maafkan Ibu ya, Nak." Dina berucap lirih dengan raut muka bersalah.
"Ziva baik-baik saja Bu, Ibu tidak usah merasa bersalah begitu." Ziva tersenyum menanggapi permintaan maaf Dina. Tangannya langsung bergerak mengiris bawang juga tomat serta cabai sementara Dina segera mempersiapkan wajan untuk menumis kangkung.
Beberapa menit kemudian tumis kangkung telah tersaji juga sambal teri serta telor ceplok telah tersaji di meja makan.
Mertua juga menantu itu kini duduk berhadapan di meja makan menikmati teh hangat di pagi yang masih buta itu.
"Ibu benar-benar bahagia karena kamu dan Arsha malah berlibur kesini bukannya ke Thailand," ucap Dina sembari merekahkan senyumnya.
__ADS_1
"Ibu maafkan Ziva selama ini Ziva dan kakak selalu sibuk dengan urusan kami dengan waktu yang tidak banyak ini Ziva berharap mampu mengobati rasa rindu Ibu sama kak Arsha." Ziva bangkit dari duduknya lalu mendekati Dina menggenggam tangan Dina lalu menciumnya sebagai tanda permintaan maafnya.
Dari kejauhan nampak Arsha mengamati keduanya. Arsha seperti tertampar oleh ucapan Ziva benar adanya selama ini dirinya hanya sibuk dengan pekerjaan tanpa menyadari perasaan ibunya.Selama beberapa tahun ibunya harus hidup berjauhan dari dirinya bahkan saat ibunya memintanya untuk menginap dirinya selalu menolak. Ketegangan dengan ayahnya yang selalu menjadikannya tidak nyaman berlama-lama dirumahnya sendiri.
"Ziva buatkan kopi untuk suamimu!" perintah Dina begitu mengetahui Arsha melangkah mendekat.
"Iya Bu." Ziva bangkit dari duduknya digantikan Arsha yang langsung duduk di kursi Ziva.
"Apa tidurmu nyenyak, Nak," tanya Dina.
Dina menatap lekat wajah putranya yang nampak terlihat segar di pagi itu beda saat di Jakarta, anak semata wayangnya itu selalu diburu dengan pekerjaan sampai melupakan waktu hanya untuk dirinya sendiri.
"Tentu saja Bu,Arsha merasa sangat segar disini." Arsha menarik tangannya keatas melakukan peregangan ringan.
Ziva kembali dengan membawa secangkir kopi lalu meletakkan kopi itu tepat di hadapan Arsha lalu mengambil cangkir tehnya menuju dapur.Beberapa menit kemudian Ziva kembali.
"Aku akan mandi dulu," pungkasnya.
Arsha mengangguk juga Dina mendengar ucapan Ziva.Langkahnya mengayun menuju kamar. Beberapa saat lalu dia berpikir mencari alasan agar bisa membiarkan ibu juga suaminya mengobrol berdua.Anak dan ibu itu pasti akan sungkan berbicara dari hati ke hati saat ada dirinya lalu mandilah kemudian menjadi alasannya untuk memberikan kesempatan itu.
"Oh iya kemarin saat Ibu berbelanja ke warung bertemu dengan Bagas bersama anak dan istrinya.Kamu tahu Bagas sudah punya 2 orang anak laki-laki dan perempuan.Anaknya lucu sekali,Ibu sampai ingin membawanya pulang saking gemasnya." Cerita Dina dengan gregetnya yang masih mengingat kegemasan anak dari sahabat dekat putranya itu.Melihat antusias Dina bercerita Arsha merasa bersalah karena keinginan ibunya itu tidak segera terkabul.
__ADS_1
"Pasti Ibu ingin sekali segera memiliki cucu," ucap Arsha dengan ekspresi datar.
Dina langsung tersenyum mendengar ucapan Arsha.
"Maafkan Ibu, pasti Ibu membuatmu dan istrimu merasa tertekan dengan permintaan Ibu." Dina mengelus lembut punggung Arsha.
"Baiklah Bu, Arsha pasti akan segera mewujudkan permintaan Ibu
Arsha janji Bu." Arsha beranjak dari duduknya dengan membawa cangkir kopinya menuju kamar.
Kali ini dia tidak ingin membuat ibunya menunggu lebih lama lagi untuk menimang cucu tapi dia harus memikirkan cara agar Ziva menyetujui niatnya itu.Arsha berhenti sesaat ditempatnya.Pria itu memikirkan cara untuk berbicara pada istrinya tapi saat itu Dina mengetahui apa yang dipikirkan putranya itu.Dina bergegas menghampirinya.
"Ini." Dina memberikan sesuatu yang langsung diletakkan di telapak tangan Arsha.
"Apa ini Bu?" Arsha menatap Dina sekilas lalu menatap sesuatu ditangannya.
Ayu tersenyum. "Itu jawaban dari pertanyaanmu, Ibu tahu apa yang sedang kau pikirkan.Ajak istrimu ke villa kita, itu akan membantumu."
Ayu beranjak pergi setelah menjelaskan kepada Arsha tapi saat itu Arsha terlihat masih tidak mengerti apa yang dimaksud ibunya.
'Jawaban dari pertanyaanku.Ah mungkinkah?' batin Arsha mulai mengerti maksud dari ucapan Dina.
__ADS_1
Arsha langsung memasukkan pemberian Dina kedalam saku celananya.