Terpaksa Menikah Diusia Belia

Terpaksa Menikah Diusia Belia
Bab 69 ( Drama Pengantin Lawas )


__ADS_3

Lewat tengah malam Ziva bersama keluarga meninggalkan hotel tempat resepsi pernikahannya setelah berganti baju dan menghapus riasannya yang beberapa jam membuatnya bak putri raja.


"Ibu akan ikut denganku," ucap Zacky.


Malam ini tidak mungkin ibunya akan tidur dirumahnya Ziva karena ibu Arsha dan pamannya pasti akan menginap disana pikir Zacky.


"Ibu nggak pa pa kan malam ini tidur dirumah kakak dulu?" Ziva menatap ibunya kemudian memeluknya dengan manja.


"Tentu saja tidak apa-apa sayang.Urusi ibu mertuamu dan pamanmu dengan baik ya," tutur Ayu.


Pelukannya pun terlepas saat Zacky membuka pintu mobil untuk Ayu hingga membuat Ziva mau tak mau pasrah melepas pelukannya.


"Sudah sana masuk mobil ibu dan juga pamanmu sudah menunggu!" perintah Ayu.


Ayu pun segera masuk ke dalam mobil begitu juga dengan Ziva.Mobil pun bergerak maju meninggalkan tempat itu.


Sekitar 20 menit mobil pun terhenti di besment apartemen.Disana nampak mobil-mobil terparkir rapi. Keempatnya naik menuju apartemennya Arsha.


"Rumahmu ini lebih bagus daripada yang dulu, Nak." Dina berdecak kagum.


Matanya menatap sekeliling rumah Arsha yang nampak sangat mewah.


"Duduk Paman, Bu." Ziva mempersilahkan lalu menuju dapur untuk membuat minuman.Arsha keluar dari kamar setelah menaruh tas ibu dan pamannya.


"Arsha ini bekerja di bidang properti Bu dan rumah menjadi salah satu fasilitas yang Arsha dapatkan ketika mencapai suatu jenjang.Semakin Arsha jabatannya tinggi semakin pula Arsha akan mendapat fasilitas yang semakin bagus." Arsha nampak bangga menceritakan pekerjaan yang beberapa tahun diperjuangkan hingga sampai titik ini.


"Kau benar-benar sudah melupakan kampungmu," celetuk paman Arsha bernama Deni.


Arsha sedikit tersentak mendengar celetukan pamannya seakan sedang menyindirnya.


"Sudah jangan memulai lagi!" Dina mencoba menenangkan Deni dan membuat suasana menjadi tenang seperti sebelumnya karena terlihat Paman dan keponakan itu saling menatap tajam.


"Apa yang sebenarnya Paman ingin katakan?katakan saja!"ucap Arsha memekik.


Mendengar suara sedikit gaduh membuat Ziva yang telah selesai membuat teh segera membawanya menuju ke paman dan ibunya.Terlihat disana suami juga pamannya masih bertatapan sengit.


"Ada apa Bu?"tanya Ziva lirih.

__ADS_1


"Bawa suamimu ke kamar, ajak istirahat! perintah Dina.


Ziva mengangguk menyetujui perintah Dina.


"Sayang, ayo tidur!" Ziva menarik paksa Arsha menuju kamarnya membuat Arsha terpaksa menuruti kemauan istrinya itu.Pasangan suami istri itu akhirnya telah masuk ke dalam kamarnya meninggalkan Deni dan Dina diruang tamu.


"Sudahlah jangan membuat keributan disini, ingat kakakmu sekarang sedang sakit!kamu tahu sendiri bagaimana keponakanmu itu,bukan orang yang mudah dipaksa sifatnya itu yang menurun dari kakak iparmu." Dina berkata dengan lembut menasehati adiknya itu.


"Tapi mbak sampai kapan anak itu akan membanggakan pekerjaannya daripada usaha keluarga kita seharusnya sebagai anak semata wayang anak itu bisa menjadi penerus keluarga," keluh Deni.


Dina mengerti kekesalan Deni tapi Arsha memang anak yang keras kepala semakin dipaksa anak itu akan semakin tambah keras kepala.


"Minum tehmu lalu pergi tidur sudah lewat tengah malam bukan waktunya berdebat!" Dina menyeruput tehnya lalu meninggalkan tempat itu menuju kamarnya.


Sementara Ziva masih mendekap tubuh suaminya dari belakang sesaat masuk ke dalam kamarnya.Ziva berusaha meredam emosi suaminya.


"Sudah Kak, lampiaskan kemarahan Kakak padaku," tawar Ziva.


Mendengar itu Arsha menjadi berpikir apa maksud ucapan Ziva.


"Apa maksudmu?" Arsha membalikan badannya menatap Ziva.


"Aku berpikir tadi kau menawarkan sesuatu untukku," tukas Arsha.


"Menawarkan apa?" Ziva balik bertanya.


Istrinya itu masih saja terlihat konyol di depannya.Malam ini bukan lagi malam pertama bagi mereka walaupun baru beberapa jam melangsungkan pernikahan tapi seolah-olah sedang mempertontonkan keluguan seorang wanita di malam pertama.


"Apa kau sedang menggodaku, apa selama ini les-les yang aku berikan belum cukup?kau membuatku geram!" Arsha mengangkat tubuh Ziva paksa dan melemparnya keatas ranjang.Tubuhnya kini mengungkung wanita itu penuh nafsu bercampur emosi.


"Jawab aku, apa maumu?"Arsha menatap penuh tuntutan membuat Ziva tak bisa berkutik.


"Aku tidak menyangka Kakak seromantis ini di anniversary kita yang kedua.Pertama Kakak memberiku ijazah keberhasilanku menjadi istrimu dan yang kedua Kakak merencanakan pesta pernikahan kita tanpa sepengetahuanku.Apa Kakak ingin tahu bagaimana perasaanku?"Ziva berucap antusias seolah-olah sedang berusaha mengalihkan fokus suaminya ke hal lain melupakan kebodohan ucapannya tadi.


Arsha terdiam menatap wanita di bawah tubuhnya itu senyum bahagia begitu terlihat saat wanita yang begitu dicintainya itu merasa begitu bahagia menceritakan semua surprise yang diberikannya tapi kemudian senyumnya berubah menyeringai seakan menyadari sesuatu.


"Cih, kau berusaha mengalihkan pembicaraan kita sebelumnya?apa kau tidak akan memberiku sesuatu sebagai ucapan terima kasih?" Arsha masih tersenyum menyeringai dengan pertanyaan yang membuat Ziva seakan terpojok.

__ADS_1


"Apa kau gila, ibu dan paman ada disebelah." Ziva mendorong Arsha menjauhi tubuhnya.Terlihat raut kekesalan dari wajahnya.


"Sayang, kok jadi marah gitu, Kak Arsha cuma bercanda lagian mereka nggak mungkin dengar kok," bujuk Arsha.


Ziva semakin kesal mendengar ucapan Arsha bukannya mengerti malah semakin menjadi-jadi.Ziva beranjak dari duduknya melangkah meninggalkannya spontan Arsha menarik tangan Ziva menghentikan langkahnya.


"Jangan pergi sayang." Arsha memohon tapi Ziva malah melempar tangannya.


"Aku mau mandi! Ziva melangkah menuju kamar mandi karena badannya terasa lengket apalagi rambutnya yang tadi disanggul membuat rambutnya kini kaku seperti watak suaminya itu.


"Ok." respon Arsha mengetahui istrinya hanya pergi ke kamar mandi bukan ke tempat lain seperti perkiraannya.


***


Keesokan Pagi.


"Kak bangun!" Ziva menggoyangkan tubuh Arsha untuk membangunkannya tapi pria itu malah hanya menggeliat lalu mendekap tubuhnya membuatnya sulit bergerak.


"Kak!" pekiknya.


Cup.


Kecupan mendarat di pipi Ziva sekilas lalu pria itu kembali memejamkan matanya.


"Jangan berisik," lirih Arsha.


Ziva merasa bingung biasanya suaminya itu selalu bangun lebih dulu karena pagi-pagi harus bersiap pergi ke kantornya tapi pagi ini malah menyuruhnya tidur lagi.


"Apa dia masih dalam buaian mimpi?"gumam Ziva dalam hati.


"Kak bangun!" pekik Ziva.Didorongnya tubuh Arsha sampai jatuh dari ranjang.


"Arkh," pekik Arsha kesakitan.


"Kenapa kau mendorongku?" Arsha bangkit dari lantai.Wajahnya terlihat kesal.


"Kakak membuatku capek, dari tadi aku membangunkanmu tapi Kakak malah bicara ngelantur," keluh Ziva.

__ADS_1


"Ngelantur bagaimana?kakak sudah bangun dari tadi." Arsha kembali naik ke ranjangnya dan kembali berbaring.


"Kakak nggak kerja,sudah jam berapa ini!" Ziva berucap kesal suaminya itu tetap asyik ingin melanjutkan tidurnya.


__ADS_2