Terpaksa Menikah Diusia Belia

Terpaksa Menikah Diusia Belia
Bab 54 ( Semangat Pagi )


__ADS_3

Arsha nampak bersiap-siap pergi ke kantornya. Arsha berdiri di depan cermin memasangkan dasi di kerah bajunya. Ziva nampak menatap Arsha tapi tidak bergerak sedikitpun untuk membantu suaminya itu.


"Apa kau hanya akan melihatku saja?" Arsha berekspresi datar.


Sejak semalam Ziva tampak dingin dan acuh.Entah apa yang harus dilakukannya agar Ziva tidak marah lagi.


Ziva kembali memunggungi Arsha tidak ingin menanggapi pertanyaan sekaligus perintah itu.


"Ziva!"


Arsha marah dengan kelakuan Ziva yang semakin menjadi-jadi. Semalam Arsha berpikir dengan sendirinya Ziva akan melupakan kemarahannya dan membaik dengan sendirinya tapi kelakuan Ziva semakin membuatnya sakit kepala.


Arsha menarik napas panjang menghembuskan kasar berusaha meredam emosinya.Arsha sadar bukan dengan kemarahan untuk bisa membuat istrinya itu kembali seperti semula tapi dengan kasih sayang.


"Yak itu dia," gumam Arsha dalam hati.


Saat itu terpikirkan olehnya dengan senyum menyeringai berjalan mendekat Ziva.


Arsha mendekatkan mulutnya ke telinga Ziva membuat napasnya kini menghembus secara perlahan membuatnya sedikit merinding manja. Arsha mengigit kecil telinganya membuatnya sedikit melenguh karena sakit sekaligus rasa nikmat yang mulai menjalar ke tiap-tiap sarafnya.


"Apa yang kakak lakukan?" Spontan Ziva mendorong Arsha dengan mata mendelik menatapnya.


"Aku melakukan yang harus aku lakukan," jelasnya.


Arsha langsung menindih tubuh Ziva tanpa aba-aba membuat Ziva kini tak berkutik di bawah kungkungan tubuh Arsha.Ziva terus berusaha mendorong tubuh Arsha menjauh darinya tapi usaha sia-sia. Kekuatannya tidak sebanding dengan Arsha.


"Kakak!" pekik Ziva.


Ziva mendorong dengan kekuatan terakhirnya tapi alih-alih menjauh Arsha semakin mendekatkan wajahnya hingga bibirnya memagut liar bibir Ziva.


Penolakan Ziva semakin membuatnya terpancing untuk segera melancarkan aksinya.


Arsha menginci tiap lekuk tubuh Ziva membuatnya kini pasrah.Berbanding terbalik kini malah dirinya yang lebih menginginkan dan bersemangat untuk mendapatkan kenikmatan duniawi itu.


Kini posisi berubah, Ziva yang mengendalikannya.Dilucutunya seluruh benang yang menempel ditubuhnya juga Arsha membuat keduanya kini sama-sama polos.


Ziva mencium ceruk leher Arsha membuat gairah laki-laki itu semakin panas.Ziva ingin memberi stempel kepemilikan di sana tapi Arsha segera menjauhkan bibir Ziva dari sana langsung memutar balik kendali.


Tanpa membuang waktu Arsha melakukan lebih cepat setelah melirik jam di tangannya.


"Ahhhhh." Lenguhan keduanya menggema di ruangan panas itu.Arsha mencium sekilas kening Ziva yang masih lemas diatas ranjang kemudian memakai bajunya kembali bergegas menuju kantornya.


***


Ziva telah sampai di kampusnya setelah turun dari taxi. Ziva melangkah dengan langkah yang begitu bersemangat di pagi menjelang siang itu.Tentu saja karena di pagi hari dirinya mendapat amunisi dari suaminya membuat harinya begitu bersemangat.

__ADS_1


"Kayaknya ada yang lagi bahagia?" Seseorang tiba-tiba menghentikan langkahnya.Nampak Kayla tersenyum menatap sahabatnya itu yang terlihat sumringah.


"Gerangan apa yang membuatnya begitu bahagia?" batin Kayla bertanya-tanya.


"Hai Va," sergah Rendy membuat fokus keduanya berpindah.


Pria tampan itu tersenyum dan menghampirinya.


Kayla nampak senang. "Amunisi nih."


"Hus." Ziva mencubit perut Kayla membuatnya meringis menahan sakit.


"Kak Rendy." Ziva mengalihkan perhatiannya.


Entah kenapa saat bertemu Rendy jantungnya masih berdegub kencang.Pria itu selalu penuh pesona. Senyumnya yang sedikit di tahan membuatnya nampak misterius hingga setiap gadis yang menatapnya pasti berkedut-kedut dibuatnya.


Rendy adalah cinta pertama Ziva tapi cinta itu tak berakhir bahagia bahkan tak pernah terungkap.


"Maaf Kak Rendy, Ziva harus segera ke kelas." Ziva menarik tangan Kayla meninggalkan Rendy yang masih berdiri mematung di tempatnya.


"Mungkinkah kamu masih bersama pria itu?" gumam Rendy.


Rendy merasa Ziva menjauhinya ketika ingin mendekatinya membuat secercah harapannya kini pupus sebelum berkembang.


"Maafkan aku Kak Rendy," gumam Ziva dalam hati.Ia tidak ingin membuat hatinya semakin bingung hingga tak memberi kesempatan pada dirinya sendiri untuk berlama-lama dengan pria itu.


"Kenapa sih loe narik-narik gue.Gue masih pengen ngobrol sama Kak Rendy!" kesal Kayla.


Kayla langsung menarik tangannya dari cekalan Ziva.


"Gue nggak mau Kak Rendy salah paham sama gue," jelas Ziva setengah berteriak.


Kayla semakin tidak mengerti kearah mana Ziva berbicara apalagi dengan nada sedikit kesal.Kayla sendiri belum terlalu mengenal Ziva mengingat baru sebulan mereka bersahabat.


"Seharusnya loe seneng dong, pria sekeren kak Rendy menyukai loe!" tegas Kayla.


Ziva nampak terdiam tidak merespon ucapan Kayla.Gadis itu nampak hanyut dalam lamunannya.


"Ziva ... Ziva."


Kayla beberapa kali memanggil tapi tidak ada respon lalu Kayla menepuk bahu Ziva membuat Ziva tersentak.


"Napa loe malah melamun?" Kayla menatap Ziva dengan tatapan aneh.


Ziva kembali menarik tangan Kayla karena dosen memasuki kelas mereka menandakan kelas akan segera di mulai.

__ADS_1


.


.


.


Ziva keluar dari kelasnya setelah kelas usai, disusul mahasiswa lainnya yang ikut keluar.


"Va, nonton yuk?" ajak Kayla.


Ziva berpikir sejenak. "Ok."


Setelah antri membeli tiket juga beberapa cemilan dan minuman, Ziva dan Kayla memasuki bioskop itu.


Semua penonton nampak berteriak kaget dan kadang menutup wajah mereka karena takut karena film yang mereka tonton bergenre horor.Ziva malah melamun diantara histerisnya para penonton.Entah kenapa hari ini Ziva diliputi perasaan kalutnya akan Rendy.


Ziva Kembali mengingat terakhir kali memasuki bioskop ini di tempat duduk yang sama. Ditengah film di putar Rendy ******* bibirnya mesra.


"Tidak!" Seketika tubuhnya berdiri membuat penonton di kursi belakangnya menatap tajam karena terhalang pandangannya dari film yang sedang diputar.


"Ziva, napa loe?" Kayla menarik tangan Ziva kembali duduk.


"Gue balik dulu ya, nggak enak badan," pamit Ziva.


"Yah Ziva nggak seru.Ya udah kita balik, gue antar loe balik." Keyla dan Ziva bergegas pergi meninggalkan bioskop menuju apartemen Ziva.


"Gue antar sampai sini ya." Kayla mengelus bahu Ziva.


"Iya makasih dah nganter gue balik.Maaf ya gara-gara gue kita harus pulang lebih awal." Ziva merasa bersalah menggenggam tangan Kayla.


"Nggak pa pa, cepat istirahat ya." Kayla tersenyum.


Ziva keluar dari mobil kemudian melambaikan tangannya saat mobil Kayla berlalu pergi.


Ziva segera melangkah menuju apartemennya di lantai 7.Sesampainya di apartemennya Ziva langsung masuk ke kamarnya lalu duduk ditepi ranjang mengusap kasar wajahnya


"Loe selalu cemburu dengan Kanaya tapi gimana dengan loe sendiri Va!loe masih nggak mampu menahan perasaan Loe sendiri!" umpat Ziva dalam hatinya.


Pertemuan kembali dengan Rendy mengingatkan lagi akan masa lalunya.Masa di mana dirinya berjuang keras untuk mendapatkan cinta Rendy. Saat cintanya terbalaskan semua terasa sia-sia.


"Siapa yang aku cintai?kenapa hatiku tiba-tiba berdebar ketika bertemu Rendy?bagaimana dengan Kak Arsha, apakah aku mencintainya atau aku telah terbiasa dengannya?"Ziva membayangkan wajah Arsha dan Rendy kini mengusik batinnya.


"Ziva!" teriakan seseorang kini mengalihkan perhatiannya.Ziva segera beranjak dari duduknya menuju suara yang memanggilnya.


"Kak Arsha sudah pulang." Ziva menatap Arsha yang duduk di sofa lalu ikut duduk di sebelahnya.

__ADS_1


"Kak Arsha harus keluar kota, siapkan beberapa baju kerja untuk Kakak bawa!" perintah Arsha.


Ziva langsung menuju ke kamar untuk mempersiapkan perintah Arsha tanpa bertanya lebih jauh lagi.


__ADS_2