
Arsha meraih ponsel di saku celananya kemudian mencari foto Ziva di ponselnya.Dipandanginya foto Ziva seakan sudah berapa lama tidak bertemu. "Seandainya kamu disini," ucapnya lirih membelai wajah Ziva di foto.
Arsha menghubungi Ziva melalui sambungan telepon.
"Halo." Suara merdu menyambut teleponnya.
"Sayang,kamu sedang apa?aku merindukanmu," keluh Arsha dalam percakapannya ditelepon.
"Kakak ini ada-ada aja, baru saja Kak Arsha pamit pulang ke rumah, masa sudah kangen?"~ Ziva.
"D sangat sepi membuatku merindukanmu.Seandainya kamu disini pasti aku langsung memelukmu erat."~Arsha.
"Mm ... gombal lah,sudah ya nanti malam kita ketemu."~Ziva.
Panggilan telepon berakhir.
Arsha menaruh ponselnya di atas nakas kemudian memejamkan matanya.
...----------------...
Siang itu Ziva hanya bermalas-malasan di depan tivi sementara Zacky mengobrol dengan Anissa di ruang tamu.
"Kau kesini hanya untuk tidur?" tanya Zacky yang tiba-tiba berdiri di sampingnya.
"Mau apalagi?" ketus Ziva.
"Cepat hubungi Arsha karena Kakak berencana ingin pergi ke Kawah Putih!" perintah Zacky.
Kenapa nggak Kakak sendiri saja yang menghubungi kan Kakak yang mau pergi." Ziva kembali menjawab perintah kakaknya dengan ketus membuat Zacky langsung menarik telinganya.
"Aduh, aduh sakit Kak," pekik Ziva.
Sebelum telinganya kembali di jewer Ziva langsung beranjak dari tempatnya menuruti apa perintah kakaknya.Beberapa kali Ziva mencoba menghubungi tapi tidak ada jawaban. "Mungkin kak Arsha tidur kali ya?" batin Ziva.
Ziva kembali masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Gimana Va?" tanya Zacky.
"Kak Arsha tidak menjawab teleponku Kak, mungkin tidur kali," jawab Ziva lesu.
Belum juga semenit tiba-tiba ponsel Ziva berdering. Setelahnya berbicara dengan Arsha untuk rencananya.Pria itu langsung bergerak kembali ke rumah Ziva.
Sekitar 10 menit kemudian Arsha tiba di rumah Ziva.Melihat kedatangan Arsha ketiga bersaudara beserta Anissa segera keluar dari rumah.
Mobil pun melaju meninggalkan tempat itu.Sekitar 30 menit mengendarai mobil dengan kecepatan sedang mereka sampai. Mobil mereka dihentikan penjaga di gerbang loket setelah membeli tiket masuk kemudian melajukan mobilnya menuju parkiran.Setelah memarkirkan mobilnya Kemudian berjalan sekitar 100 meter menuju kearah kawah, bau belerang begitu menyeruak memenuhi hidung ketika masuk ke area kawah. Mereka kemudian memakai masker untuk meminimalisir bau belerang yang cukup kuat.
Setelah memasuki hutan kayu kemudian menuruni tangga mereka disuguhkan pemandangan kawah putih dengan pasir putih yang menakjubkan membuat mata mereka dimanjakan.
"Waoo." Nissa berdecak kagum akan pemandangan yang tergelar di depan matanya. Zacky menarik tangan Nissa menyusuri pinggiran kawah itu dan tak lupa berswafoto mengabadikan keindahan tempat itu.
Begitu juga Ziva langsung berlari begitu senang Arsha mengekor di belakang nya. Sementara Zahra asyik berlarian di tepi kawah.
Seketika Arsha teringat kenangan 10 tahun silam saat dirinya masih SMP sedang Ziva masih berusia 7 tahun. Di tempat yang sama Ziva terjatuh dan dialah yang mengendong dan menenangkan Ziva tak disangka sekarang Ziva telah menjadi istrinya. Sifat Ziva yang selalu manja berbanding terbalik dengan sifatnya yang begitu dewasa dan bijaksana tapi itulah sifat Ziva yang membuat rasa sayangnya terhadap Ziva semakin bertambah.
"Kak sini," teriak Ziva.
Arsha mendekat ke arah Ziva."Sini!kita foto bareng yuk," ajak Ziva.
Ziva mengarahkan kamera ponselnya ke depan wajahnya dan Arsha. Beberapa kali Ziva mengambil fotonya bersama Arsha hingga foto yang terakhir.Ziva memfokuskan ponselnya,tiba-tiba Arsha mengecup pipinya sehingga pose itulah yang tercapture di ponselnya.
"Apa ini?" Ziva menatap fokus foto di ponselnya.
"Jangan dihapus aku suka itu,nanti kirim ke ponselku ya," pinta Arsha.
"Ok." Ziva mengerucutkan bibirnya sedikit kesal.
Setelah puas dan hari sudah mulai gelap mereka meninggalkan tempat itu.
...----------------...
Setelah sampai dirumah Arsha sengaja tidak turun dari mobil karena sebelum ia kembali ingin berpamitan dengan ibunya.
__ADS_1
Saat Ziva hendak turun dari mobil Arsha menahan pergelangan tangannya."Kau ikut aku!"
Pria itu berkata dengan tatapan mata tajam membuatnya tidak bisa menolak karena sudah dipastikan ketika ia menolak pasti pria itu akan marah.Akhirnya Ziva menurut saja apa perkataan Arsha
Mobil pun terhenti menandakan mereka telah sampai. Keduanya turun dari mobil. Arsha menggandeng tangannya Ziva seakan ingin memberi tahu kedua orang tuanya agar melupakan perjodohan yang selalu mereka bicarakan.Sudah sejak lama Arsha dijodohkan dengan gadis pilihan orang tuanya yang derajatnya sama dengan keluarganya.
Keduanya berjalan beriringan lalu mengetuk pintu beberapa kali.Beberapa saat kemudian pintu terbuka.
"Kamu pulang, Nak.Ada Ziva juga, ayo masuk," sambut Dina.
Tatapan Dina menatap keduanya dengan tatapan penuh tanda tanya.Arsha dan Ziva kemudian duduk sementara ditempat yang sama ayah Arsha telah duduk lebih dulu menatap keduanya dengan tatapan tajam.Tatapan yang menyiratkan ketidak sukaanya kepada kedua orang di depannya itu.
Ziva yang merasa tidak nyaman dengan tatapan Aya Arsha langsung mengalihkan pandangannya.Arsha yang mengetahui Ziva merasa tidak nyaman langsung menggenggam tangannya berusaha membuatnya kembali nyaman.
"Pulang juga kamu,pulang bukannya dirumah malah keluyuran tidak jelas!" hardik Ayah Arsha dengan mata terbelalak menatap keduanya.
"Ayah yang membuat Arsha tidak betah dirumah hingga Arsha malas pulang ke rumah," balas Arsha ketus.
"Anak tidak tahu diri,sudah menolak dijodohkan sekarang pulang membawa gadis miskin ini!"
Ayahnya semakin geram, bangkit dari duduknya seketika melayangkan tangannya menuju wajah Arsha dengan sigap Arsha menangkis tangan ayahnya yang belum sampai menyentuh wajahnya.
"Aku hanya mencintai Ziva dan selamanya aku tidak menerima perjodohan itu.Aku dan Ziva sudah menikah!" Tegas Arsha dengan suara lantang.Tangannya menarik tangan Ziva keluar dari rumah itu.
"Arsha ... Arsha." Dina mengejar Arsha tapi Arsha tidak menggubris berlalu pergi meninggalkan rumahnya.
"Sudah Bu, biarkan anak tak tahu diri itu pergi!" tegas ayah Arsha menarik paksa tangan Dina masuk ke dalam rumah.
Keduanya langsung masuk mobil.Ziva masih terlihat gemetar melihat pertengkaran Arsha dan ayahnya.
"Tenang sayang." Arsha menggenggam tangan Ziva berusaha membuatnya tenang
"Apa kamu mengajakku kesana untuk ini?" tanya Ziva.
Wajahnya nampak kesal. Selama ini Arsha tidak mengatakan masalahnya dengan orang tuanya seakan membuatnya masuk ke dalam masalah itu tanpa tahu sebelumnya.
__ADS_1
"Aku hanya ingin orang tuaku tahu. Aku mencintaimu dan berhenti menjodohkan aku dengan gadis pilihan mereka!" tegas Arsha.