
"Ayo Kak!" Ziva sudah berdiri di dekat pintu keluar.
Arsha kembali menyorot penampilan Ziva dari ujung kaki sampai kepala dengan atasan kotak-kotak longgar sebagai outer dan rok levis selutut ditambah lipstik berwarna merah membuat penampilannya nampak lebih dewasa juga kacamata yang semakin menambah plus penampilannya .
Arsha bangkit dari duduknya melangkah mendekati Ziva.
"Kok pakai lipstik warna itu?" Arsha hampir merusak lipstik Ziva dengan tangannya tapi secepat kilat Ziva menangkis tangan Arsha menjauh dari bibirnya.
"Sudahlah, nanti kita nggak jadi pergi!"Ziva menarik paksa tangan Arsha keluar dari apartemennya.
Sesampainya di sebuah Mall Ziva masuk ke sebuah toko baju dan fokusnya tertuju pada dress motif floral yang dipakai manekin karena terlalu fokus ke manekin itu.
Bruukkk ....
"Aw." Kedua wanita yang bertabrakan itu memekik bersamaan memegangi lutut dan siku mereka yang terasa sakit.Fokus keduanya beralih menatap satu sama lain dengan tatapan sama-sama ketus.
"Kamu nggak pa pa, sayang?"
Arsha segera membantu Ziva yang terjatuh di lantai dan langsung membantunya bangkit.Fokus Arsha berpindah saat mendapati wanita yang bertabrakan dengan Ziva adalah CEO di perusahaannya.
"Bu Kanaya."
Arsha segera membantu Kanaya dengan mengulurkan tangannya tapi seketika Kanaya menepis tangannya dan memilih bangkit dengan usahanya sendiri.
"Sombong banget." Ziva mengumpat dalam hatinya menatap wanita di depannya itu.
"Maaf Bu, kami nggak sengaja.Anda baik-baik saja?" Arsha mendekat dan membungkukkan badannya meminta maaf.Sikapnya itu begitu menghormati atasannya itu tapi sebaliknya Kanaya malah bersikap acuh.Tatapannya terus tertuju pada Ziva yang berdiri di belakang Arsha
"Apa mungkin itu pacarnya?" gumam Kanaya.
"Maaf saya nggak sengaja tadi." Ziva mendekat berdiri tepat di samping Arsha.Sebenarnya Ziva tidak ingin meminta maaf tapi Arsha terus menatapnya agar meminta maaf.
"Bukan salah kamu, aku juga terlalu fokus sama baju ini." Kanaya menunjuk dress yang dipakai manekin.
"Kenalin Ziva." Ziva mengulurkan tangannya sambil tersenyum lebar.
Arsha berbisik."Kenapa kenalan segala sih."
"Emang nggak boleh, aku kan juga pengen kenal bosmu yang cantik ini dan juga biar dia tahu aku pacarmu," bisiknya.
Kanaya mengernyitkan dahinya memperhatikan tingkah Arsha dan teman wanitanya itu yang tampak berbisik-bisik d depannya.
"Kanaya." Kanaya menjabat tangan Ziva seraya tersenyum datar.
"Apa ini pacarmu?".
__ADS_1
"Mm-."
"Iya, saya pacarnya Arsha," sergah Ziva.
Seketika Kanaya memperlihatkan senyum kecutnya.
"Oh ya sudah lanjutkan lagi, saya harus pergi ada urusan." Kanaya melangkah pergi meninggalkan Ziva dan Arsha.
"Kamu ini ada-ada aja,harusnya kamu lebih sopan itu atasan Kakak!" tegas Arsha.
"Atasan kalau di kantor, kan ini di luar kantor Kak." Ziva merasa sikap suaminya itu berlebihan walaupun atasan tidak seharusnya bersikap sombong seperti itu.
Arsha berjalan lebih dulu meninggalkan Ziva.
"Tunggu Kak!" Ziva setengah berlari menyusul Arsha kemudian menggandeng tangan Arsha.Dari kejauhan nampak Kanaya memperhatikan keduanya dengan tatapan sinis lalu kembali masuk ke toko baju itu.
"Mau makan apa?" Tanya Arsha saat keduanya sudah duduk disebuah restoran.
"Mm apa ya?" Ziva fokus memilih menu di buku menu.
"Aku mau Yangnyeom chicken aja Kak minumnya lemon tea." Seru Ziva.
Arsha kemudian melambaikan tangannya memanggil waiters.
"Siap,silahkan ditunggu!" Waiters itu melangkah pergi.
"Aku nggak suka dengan Kanaya Kak,sombong sekali dia." Ziva mengingat kembali momen saat bertemu Kanaya tadi.
"Sebenarnya dia orangnya baik kalau Kamu sudah mengenalnya terlihat sombong itu hanya dari luarnya saja." jelas Arsha.
"Sepertinya kau kenal dekat dengan wanita itu Kak, kau bahkan tahu betul wanita seperti apa dia.Apa kau bermain di belakangku?" gumam Ziva.
Saat itu tatapannya tertuju pada pria di depannya itu.Tatapan penuh kecurigaan hingga membuatnya mulai bersiasat.
Setelah selesai mengisi perut kedua melangkah pergi keluar dari restoran itu.Keduanya bergandengan tangan mesra membuat mata-mata yang menatap keduanya menatap sinis.
"Apa mau beli sesuatu sebelum kita pulang?" Arsha menghentikan langkahnya menatap wajah Ziva.Ziva menggelengkan kepalanya lalu keduanya kembali melangkah.
Ziva menunggu Arsha cukup lama di mobil yang masih terparkir di parkiran karena sebelumnya suaminya itu meminta izin ke toilet sebentar.
Tiba-tiba pria itu kembali membawa buket bunga mawar merah yang langsung di berikan kepada Ziva juga boneka Teddy bear.
"Kakak." Ziva terharu dengan kejutan yang diberikan suaminya saat hendak memeluk suaminya Ziva terhalang bunga juga boneka di tangannya sehingga dia memutuskan untuk mengucapkan terima kasih saat sudah berada di rumah.
"Sebaiknya itu ditaruh di belakang saja agar tidak rusak," tawar Arsha yang langsung diangguki Ziva.
__ADS_1
Mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi kembali ke apartemennya.
Arsha fokus mengendarai sementara Ziva terdiam tak bersuara.
"Pantas saja nggak ada suara ternyata burung beoku keok." Arsha menatap Ziva sekilas lalu kembali fokus ke jalanan.
"Va,bangun Sayang kita sudah sampai." Arsha mengelus wajah Ziva yang saat itu sudah berada di apartemennya.Arsha menggendong Ziva sampai ke apartemennya lalu membaringkannya di sofa.
"Aku mau baju tadi." Rancau Ziva dalam tidurnya.Arsha langsung mengusap lembut wajah Ziva.
Cup.
Kecupan lembut mendarat di kening Ziva.
"Apa perlu Kita balik lagi?" Bisik Arsha di telinga Ziva.
"Mmm." Ziva kembali merancau.
Arsha mengangkat tubuh Ziva masuk ke dalam kamarnya membaringkan tubuhnya keatas ranjang.
Tiba-tiba Ziva menarik tubuh Arsha hingga terbaring disampingnya dan memeluknya erat. "Kak, aku nggak mau Kak Arsha dekat-dekat dengan Kanaya." Ziva berucap dengan mata terpejam.Arsha langsung melambaikan tangannya di depan wajah Ziva mengecek Ziva masih merancau atau memang sudah terbangun.
Ziva membuka matanya pelan-pelan dan menghembuskan nafas kasar.
"Apa kamu tadi bertanya pada Kakak?" Arsha menatap wajah Ziva yang saat itu matanya sudah terbuka sempurna.
Ziva manggut-manggut mengiyakan.
"Siapa yang dekat dengan Kanaya, Kanaya hanya atasan Kak Arsha itu saja!" tegas Arsha.
"Tapi dia nggak suka sama Ziva lihat saja tatapan matanya saat menatap Ziva dibanding Ziva wanita itu jauh lebih segalanya punya kuasa, cantik-."
Ssttt ....
Arsha langsung membungkam mulut Ziva yang terus nyerocos tanpa henti.
"Bicara apa kamu, bagi Kak Arsha kamu lebih segalanya karena cinta Kak Arsha hanya untuk Kamu!" Tegas Arsha penuh penekanan ucapannya.
"Aku tidak ingin masalah kecil menganggu hubungan Kita karena nanti akan ada masalah yang lebih besar.Kamu percaya sama Kak Arsha kan?" Arsha menatap mata Ziva lekat.Keduanya saling menatap.
"Aku percaya sama Kakak tapi Aku tidak percaya wanita di luaran sana apalagi sama Kanaya itu," ungkap Ziva resah.
Arsha langsung memeluk Ziva." Percayalah Sayang,Kak Arsha akan menjaga kesucian cinta Kakak."
Keduanya saling bertatapan membuat napas keduanya beradu.Ciuman mendarat di bibir Ziva.Mereka kembali berpelukan mengokohkan cinta mereka.Menautkan cinta lebih kuat lagi dari sebelumnya.Saling percaya dan menghargai itulah yang selalu mereka lakukan diusia yang sama-sama muda dan diusia pernikahan yang masih hitungan bulan itu.
__ADS_1