
Arsha memegang kedua tangan ibunya berusaha meyakinkan. "Ibu tahu sedari dulu Arsha dekat dengan Zacky dan kedekatan itu membuat Arsha dekat juga dengan Ziva.Arsha benar-benar mencintai Ziva, hanya Ziva yang Arsha mau."
Dina menatap mata Arsha yang begitu menyiratkan perasaannya kini, rasa cinta yang begitu besar pada wanita pilihannya.
"Selama ini Arsha selalu sendiri Bu hingga Arsha bersama Ziva membuat Arsha kembali hidup," timpalnya.
Dina mengerti bagaimana sulitnya menjadi putranya karena harus berjuang sendiri di kota besar ini demi mewujudkan semua cita-citanya dan rela meninggalkan semua termasuk keluarganya yang seharusnya mendukungnya bukan malah membuangnya seperti ini.
"Ibu mengerti maafkan ayahmu, Nak.Kau pasti sangat menderita disini sendiri tanpa keluarga yang mendukungmu,pasti sangat berat bagimu." Dina mengelus wajah Arsha lalu memeluknya dengan erat.
"Terima kasih Bu, walaupun Ibu tidak bisa menentang kehendak ayah tapi Arsha senang ibu mengerti Arsha." Arsha menguar pelukan ibunya lalu mencium punggung tangan ibunya.
"Apapun keputusanmu Ibu selalu mendukung dan mendokanmu.Sepulang kerja jemput Ziva, sebelum Ibu kembali ke kampung Ibu ingin bertemu Ziva!"
"Pasti Bu, Arsha akan menjemput Ziva.Arsha berangkat dulu ya,Ibu nggak pa pa kan dirumah sendiri kalau gitu biar pulang sekolah Ziva langsung kesini saja,gimana Ibu setuju?" tawar Arsha.
"Iya Ibu setuju,sudah sana jangan sampai kena marah Bosmu karena terlambat!"
Arsha kemudian mencium tangan ibunya lalu melangkah pergi.
Arsha menghubungi Ziva saat sudah berada di perjalanan menuju kantornya.
"Halo, Sayang."~Arsha.
"Iya Kak, ada apa?"~Ziva.
"Bisakah sepulang sekolah kamu pulang?"~Arsha.
"Ibu, udah pulang emang?"~Ziva.
"Ibu pengen ketemu kamu, Kakak sudah menceritakan pernikahan kita sama ibu."~Arsha.
"Apa?Kakak sudah cerita?Kakak gila apa!"~Ziva.
"Sudah nanti kamu bicara langsung sama Ibu."~Arsha.
"Ya udah ya Ziva sudah sampai disekolah, nanti kita bicara lagi."~Ziva.
Ziva langsung memutus sambungan teleponnya karena mobil Zacky sudah berhenti menandakan sudah sampai di sekolahnya.
Saat Ziva hendak keluar Zacky menghentikannya."Ada apa Va?"
"Kak Arsha nyuruh Ziva pulang, Tante Dina pengen ketemu," jelasnya.
"Jangan banyak tanya nanti kalau Ziva udah jelas Ziva akan cerita sama Kakak!" tegas Ziva sebelum kakaknya banyak bertanya hingga membuatnya akan telat masuk kelasnya.
"Ok," pungkas Zacky.
Ziva keluar dari mobil Zacky lalu mempercepat langkahnya menuju kelasnya karena bel sudah berbunyi.
.
.
Sekitar pukul 2 siang Ziva keluar dari pintu gerbang sekolahnya lalu naik ojek yang mangkal di depan sekolahnya.
__ADS_1
Sekitar 20 menit Ziva sampai apartemennya.Saat tepat berada di depan pintu apartemennya, Ziva menghentikan langkahnya.Perasaan cemasnya membuat jantungnya berdetak kencang membayangkan wanita paruh baya itu akan mengumpatnya habis-habisan.
"Jika Tante memintaku untuk meninggalkan kak Arsha mau nggak mau aku harus ikhlas," gumamnya.
Ziva menarik nafas panjang beberapa kali lalu menghembuskannya.
"Ya." Ziva meyakinkan dirinya sendiri lalu menekan bel apartemen itu.
Saat pintu terbuka Ziva di sambut senyum ramah si pembuka pintu yang tak lain adalah ibu mertuanya.
"Ziva sudah pulang, Nak?" Dina menarik tangan Ziva masuk ke dalam apartemen itu membuat pikirannya yang tidak-tidak menguar begitu saja karena mertuanya itu memperlakukannya dengan sangat baik walaupun sudah mengetahui hubungannya dengan putranya.
"Iya Tante, Ziva sudah pulang." Ziva duduk di sofa bersama Dina.Saat itu Dina terus menatapnya sambil tersenyum.
"Kenapa nih, Tante melihatku seperti ini," gumam Ziva.Saat itu begitu gugup membuatnya tidak bergerak sedikit pun.
Dina yang masih saja tersenyum menatapnya lalu menggenggam tangannya. "Terima kasih sayang, sudah menjaga putra Ibu."
Deg
Hati Ziva langsung mencair mendengar kata-kata yang begitu manis terucap dari wanita di depannya itu.
"I-ya Tante," jawabnya terbata-bata.
"Jangan panggil Tante, panggil Ibu ya seperti suamimu Arsha."
"I-ya I-bu." Ziva masih menjawab terbata-bata.
"Ganti bajumu, Ibu akan ambilkan makan siang untukmu!"perintah Dina.
Ziva mengangguk lalu beranjak dari duduknya masuk ke kamar Arsha.
Ziva kemudian membuka pintu lemari dan mencari-cari bajunya. "Pasti di dalam tas ini." Ziva mengeluarkan tas besar dari dalam lemari lalu membukanya dan benar saja tas itu berisi baju-bajunya.
Ziva lalu segera berganti pakaian karena takut Dina menunggunya terlalu lama.
"Ayo duduk sini, Nak." pinta Dina saat melihat Ziva sudah keluar dari kamar.Saat itu Dina sudah membawa sepiring nasi komplit dengan lauk pauknya.
"Biar Ibu menyuapi menantu Ibu." Dina mengambil sesendok makanan lalu diarahkan ke mulut Ziva.
"Ziva bisa kok Tante, biar Ziva makan sendiri," tolak Ziva.
Saat itu Ziva merasa tidak enak karena makan pun harus di suapi.
"Ayo buka mulutmu?"
Dina terus memaksa membuat Ziva tidak bisa menolak.Ziva membuka mulutnya, sesendok nasi kini sudah berada di mulutnya.
"Mm ... enak sekali masakan Tante maksud Ziva, Ibu.Ziva harus belajar banyak dari Ibu," Puji Ziva.
Ziva melempar senyuman saat melontarkan pujiannya.
"Habiskan makananmu dulu baru kita bicara ya." Dina kembali menyuapi Ziva hingga suapan terakhir.
Entah kenapa saat menyuapi Ziva, Dina begitu bahagia seakan keinginan mempunyai seorang putri terkabul.
__ADS_1
"Mau nambah lagi?" tanya Dina.
"Cukup Bu, Ziva sudah kenyang." Tolak Ziva lalu segera meneguk air putih yang nada di depannya.
"Sini biar Ziva yang cuci kali ini Ibu harus nurut kata menantu Ibu!" Paksa Ziva mengambil piring juga gelas kotor di meja lalu membawanya ke dapur untuk di cuci.
Beberapa menit kemudian Ziva kembali ke sofa dimana Dina duduk.
Tiba-tiba bel rumah berbunyi.
"Biar Ziva saja Bu." Ziva beranjak dari duduknya menuju daun pintu membuka pintu.
"Kak Arsha sudah pulang?"
Arsha langsung memeluk dan mencium kening Ziva. "Kak Arsha rindu sekali padamu," lirihnya di telinga Ziva.
Ziva langsung mendorong Arsha menjauh karena merasa tidak enak, Dina terus menatap keduanya.Arsha kemudian masuk menaruh 2 kresek makanan 1 berisi buah-buahan dan satunya berisi martabak.Saat Ziva hendak membawa kresek itu ke dapur Dina mengambil alih. "Biar Ibu bawa ke dapur.Ziva layani suamimu!"
Dina beranjak dari duduknya menuju dapur sementara Ziva menyusul Arsha yang sudah lebih dulu masuk kamar.
"Ayo layani suamimu!" Arsha mengulangi perintah ibunya.Mendorong tubuh Ziva hingga jatuh ke ranjang.Pria itu langsung mengungkung tubuhnya dan mencumbuinya.
"Kak hentikan, ada Ibu diluar!" Ziva meronta dari kungkungan Arsha tapi terus saja mencumbu leher jenjangnya membuatnya semakin kesal lalu mendorong sekuat tenaga hingga membuat tubuh Arsha sedikit menjauh.
"Kamu tidak dengar ibu bilang apa tadi, layani suamimu gitu kan?" Arsha menirukan perintah ibunya untuk kedua kalinya.
"Jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan, ibu menyuruh melayani bukan seperti dalam pikiranmu itu!" tegas Ziva.
Arsha terkekeh melihat Ziva terlihat begitu kesal. "Iya iya Kak Arsha tahu tapi nanti malam kamu harus membayar penolakanmu,mengerti!" ancamnya.
"Sangat dimengerti Tuan Arshaka, Nyonya Arshakamu ini akan membuatmu kewalahan!" Ziva berucap penuh penekanan
"Oiya ... semakin nggak sabar aku." Arsha tersenyum menyeringai.
Ziva beranjak dari tempat tidur kemudian mencari ganti baju untuk suaminya di lemari.
"Ayo ganti bajumu!";Ziva melepas satu persatu kancing kemeja Arsha memperlihatkan perut atletisnya dan juga celananya memperlihatkan si ontong on karena mencumbunya tadi.
"Kamu ini cari masalah saja." Ziva menyentil ontong membuat Arsha meringis menahan ngilu. "Au ... sakit sayang."
"Ayo cepat pakai bajumu!" perintah Ziva setelah semua pakaian tanggal dari tubuh Arsha.
"Kami ini nakal sekali, rasakan pembalasanku nanti malam.Aku nggak akan ngelepasin kamu sampai pagi!" ancam Arsha.
Pria itu begitu gemas akan kelakuan istrinya yang selalu menggodanya lalu menarik hidung Ziva.
"Ahh... sakit Kak."
Ziva memegang hidungnya yang merah akibat tarikan Arsha lalu berjalan keluar.
"Ada apa, kok teriak-teriak?" tanya Dina yang saat itu sudah duduk di sofa menikmati martabak.
"Anak Ibu ini nakal sekali, masa hidung Ziva ditarik sampai merah begini," keluh Ziva mengadu.
"Arsha!" Dina menatap tajam Arsha yang mengekor dibelakang Ziva.Saat itu dia terkekeh senang berhasil menjahili Ziva.
__ADS_1
...----------------...
Please dukungan kalian yah tinggalin jejak di setiap Babnya dan juga vote kalian...Author tunggu🙏