
Arsha mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi karena pagi ini terlambat bangun padahal pagi ini akan ada Rapat Bulanan di timnya.
Cit....
Suara rem berdecit keras berusaha memperlambat lajunya.
Brrakkkkkk ....
"Sial," umpat Arsha.
Mobilnya yang ia kendarai menabrak mobil di depannya karena melaju dengan kecepatan tinggi membuatnya harus mengerem mendadak saat lampu lalu lintas tiba-tiba berubah menjadi merah.
Pengendara mobil di depannya itu terlihat turun dari mobil, melihat body belakang mobilnya ringset.
Tatapan tajamnya langsung tertuju pada pengendara mobil di belakangnya. "Punya mata nggak, bisa-bisanya nabrak mobil Gue, anjir ringset mobil gue!" sentak wanita itu dengan suara lantang.Wanita itu terus menggedor kaca mobil Arsha karena pria itu tetap sana tidak keluar dari mobil atau sekedar membuka kaca jendelanya.
Sampai akhirnya Arsha membuka jendela mobilnya. "Maaf saya tidak sengaja,saya akan mengganti semua kerusakan mobil anda," ucapnya.
Arsha memberikan kartu nama pada wanita itu.
Arsha kemudian melajukan mobilnya meninggalkan wanita itu begitu lampu lalu lintas berganti hijau.Dia sendiri tidak terlalu memperdulikan bagaimana keadaan mobilnya karena yang ada dalam pikirannya hanya cepat tiba di kantornya.
"Hei tunggu," pekik wanita itu.
Mobil hitam itu tetap melaju meninggalkannya.Wanita itu kemudian kembali masuk ke mobilnya setelah mobil dibelakangnya terus mengklakson.
Kanaya Handoyo wanita cantik lulusan universitas di Australia yang baru kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan kuliahnya.
"Arshaka Attharazka, Supervisor PT Agung Handoyo Grup," ucap Kanaya saat membaca kartu nama yang tertulis di kartu itu.Kaaya tersenyum menyeringai memasukkan kartu nama itu ke dalam tasnya.
***
Arsha keluar dari ruang rapat dengan langkah gontai setelah rapat dengan tim nya selesai.
"Napa loe sob,lemes amat?Ke kantin yuk?" Zacky menarik tangan Arsha.
Walaupun Arsha di kantor adalah atasannya tapi Zacky tetap memperlakukan Arsha seperti seorang sahabat.Arsha pun tidak mempermasalahkan hal itu karena memang keduanya sahabat dari kecil dan sekarang pun status mereka juga Kakak beradik.
"Kesel gue, tadi pagi mobil gue nabrak mobil orang sampai ringsek parah." Arsha mulai bercerita saat sudah duduk di kursi kantin.
"Gila loe, kenapa bisa nggak fokus gitu?" tanya Zacky antusias.
"Gue buru-buru karena rapat tadi, semenjak Ziva pulang ke Bandung gue selalu susah tidur." Arsha menceritakan masalahnya saat itu beberapa kali terus menguap.
"Kok bisa,jangan-jangan...," terka Zacky menggantung ucapannya.
Walaupun Zacky menggantung ucapannya tapi Arsha tahu ke arah mana pria di depannya itu berbicara.
"Iyalah masa nggak," pungkas Arsha.
__ADS_1
"Loe!" sentak Zacky degan mata terbelalak hingga tak ingin melepaskan pria di depannya itu dari tatapannya.
"Sama halnya dengan loe, gue sama."
Arsha menyamakan hubungannya dengan hubungan Zacky dengan Nissa.
Saat itu Zacky hanya diam tak bisa berkata apa-apa karena nyatanya dia sendiri tidak mampu menahan semuanya.
Keduanya nampak kompak sama-sama diam saat makan siang itu berlangsung.Zacky merasa kartu As nya sudah di pegang Arsha hingga alasan apapun tidak berarti baginya.Mau tidak mau dia mengikhlaskan adiknya karena dia sendiri yang menghalalkan hubungan itu.
"Kau, ikhlas?" Arsha menatap Zacky.
Arsha harus memastikan kakak iparnya itu tidak masalah dengan hubungannya dan Ziva yang terlalu jauh.
Zacky terdiam sesaat, tampak berpikir. "Sudah berapa kali?"
Arsha menggelengkan kepalanya berkata tidak tahu sudah berapa kali melakukannya dengan Ziva.
"Ishh, brengsek loe," umpat Zacky.
Arsha hanya tersenyum senang melihat sahabatnya kesal.
"Tadinya cuma pengen nyoba, eh malah ketagihan.Jangan cuma salahin gue karena Ziva juga gatal suka godain gue," tutur Arsha meringis membuat Zacky semakin kesal.
Zacky sempat ingin melayangkan pukulannya tapi hanya di tahannya.
"Kalau sampai Ziva bunting, gue gantung loe di Monas," bisik Zacky mengancam Arsha.
"Gue juga yang salah nyelametin Ziva dari kandang singa tapi malah gue masukin ke kandang harimau," batin Zacky.
Apakah saat ini pria itu menyesali keputusannya? jawabannya iya, dia menyesal mengingat Ziva yang masih berusia belia dan statusnya sebagai pelajar SMA.
"Kenapa nasibmu jadi seperti ini Va, harusnya Kak Zacky yang menanggung semua bukan kamu," batin Zacky.
Pria itu kembali hanyut dalam perasaan bersalahnya.Nasib adiknya begitu kacau karena pikiran sesaatnya yang akan ditanggung Ziva seumur hidupnya.
Saat itu Arsha menatap wajah Kakak iparnya itu terlihat murung dan sedih.Arsha bangkit dari duduknya mengusap punggung kakak iparnya. "Sudahlah, loe kenal siapa gue.Gue nggak akan mengecewakan loe juga ibu Ayu."
"Memang cuma Loe yang mengerti posisi gueterima kasih sudah membantuku waktu itu sob," ucap Zacky berdiri memeluk Arsha.
Keduanya tersenyum lalu segera pergi setelah membayar makanannya.
***
"Dah Merry," ucap Ziva melambaikan tangannya meninggalkan rumah Merry sahabatnya.Ziva mengayun langkahnya dengan ceria namun langkahnya berubah lemas melihat sosok di depan matanya.Saat itu tatapan tidak suka tertuju padanya.
"So-re Tan-te," sapa Ziva sedikit terbata-bata lalu menundukkan wajahnya yang ketakutan.
"Ziva," sapa wanita itu dengan senyum hangat seketika merubah persepsi Ziva yang seakan wanita setengah baya itu ingin menerkamnya tadi.
__ADS_1
"Kamu disini nak,sedang libur ya?" tanya Dina yang adalah Ibu Arsha.
"Iya Tante, Ziva sedang libur sekolah," jawab Ziva sopan.
"Bagaimana kabar Arsha disana Va?" tanya Dina.
Wanita itu menitikkan air mata saat mengingat putra semata wayangnya.
"Kak Arsha baik kok, jangan sedih lagi Tante." Ziva mengelus punggung Dina berusaha menguatkan.
"Terima kasih ya,Nak
Tante benar-benar merindukan Arsha.Kamu lihat sendiri, Arsha tidak betah saat pulang ke rumah." Dina mengusap air matanya.
"Sabar ya Tante."
Ziva kembali mengelus punggung Dina membuat Dina melempar senyum ke Ziva."Kamu anak baik Ziva."
Ziva hanya tersenyum mendengar pujian Dina.
"Sudah ya Tante pulang dulu,ditunggu ayahnya Arsha tadi minta kopi tapi kopi di rumah habis jadi ke warung dulu." Dina beranjak pergi mengingat sesuatu yang harus dikerjakannya.
"Maafkan Ziva Tante karena sudah berpikiran negatif tentang Tante.Ternyata Ziva salah, terlalu takut dengan pikiran Ziva sendiri," batin Ziva.
Ziva kembali mengayunkan langkahnya menuju rumahnya karena hari sudah mulai gelap.
.
.
Ziva, Ibu dan Zahra duduk santai di depan televisi setelah selesai makan malam.
"Bu tadi Ziva bertemu dengan Tante Dina." Ziva menceritakan pertemuannya dengan Ibunya Arsha.
"Lalu apa yang terjadi?" tanya Ibu Ziva antusias.
"Kasian Tante Dina, kelihatan sedih banget karena rindu dengan kak Arsha tadi sampai nangis tanya kabar kak Arsha sama Ziva." Ziva mengingat lagi pertemuan singkatnya tadi dengan Dina.
"Bukannya 2 bulan lalu baru pulang?"
"Pulang tapi cuma sebentar Bu, Ibu kan tahu sendiri keluarga mereka sedang tidak baik, hubungan kak Arsha dan ayahnya," jelas Ziva.
"Kasian ayahnya Arsha pasti berat sekali baginya putra satu-satunya pergi dari rumah."
Ayu mengerti perasaan ayah Arsha karena dia sendiri merasakan betapa berat harus tinggal terpisah dari kedua putra dan putrinya selama ini.
"Tapi Kak Arsha punya cita-cita dan mimpi yang ingin dikejarnya Bu, jadi bukan salahnya kini memilih jauh dari rumah." Ziva sedikit emosi dengan nada ketus seakan membela pria itu.
"Kok Kamu jadi kesel gitu Va?" Ibunya terkekeh melihat ekspresi Ziva yang berubah kesal.
__ADS_1
"Apa Arsha menceritakan semua padamu, bujuklah agar bisa berbaikan dengan ayahnya karena semua orang tua sama ingin yang terbaik untuk anaknya," tutur Ibunya berpesan.
Ziva mengangguk akan pesan ibunya karena benar kata ibunya.Perlahan Ziva akan merubah semua keadaan menjadi lebih baik karena Ziva tidak ingin selamanya suaminya itu tidak harmonis dengan ayahnya.