
Arsha melepaskan pagutannya menatap Ziva penuh rasa bersalah.
"Maafkan aku Va,pakai lagi bajumu!" perintah Arsha.
Arsha mengambil bajunya yang tercecer di lantai segera memakainya kembali kemudian melangkah keluar dari kamar Ziva.Sementara Ziva sedikit tertegun dengan apa yang dilakukan suaminya sesaat lalu begitu menggebu tapi beberapa menit kemudian menguar begitu saja.
"Kenapa sih selalu membuatku kesal!" gerutunya.Ziva memakai pakaiannya kembali lalu membaringkan tubuhnya diatas ranjang
.
.
Ziva terbangun dari tidurnya kemudian meraih ponsel di nakas menunjukan waktu 17.35 sore.
"Sudah mau malam rupanya." Ziva beranjak dari tempat tidur melihat sekeliling rumah. Pandangannya terhenti tepat menatap Arsha yang sibuk di depan laptopnya berada di balkon.
Pemandangan sore itu nampak begitu indah langit yang cerah serta matahari yang hampir masuk keperaduaannya berwarna kuning oranye tampak memukau.
Ziva melangkah menuju dapur, mengambil 2 cangkir dan mengisinya dengan kopi instan.
"Kak, aku bikin kopi." Ziva menyajikan kopi tepat di depan Arsha.
"Terima kasih, sayang." Arsha menatap Ziva dengan rambut panjangnya terurai sedikit berantakan. "Bagaimana tidur siangmu?"
"Ngantuk banget tadi setelah ...." Ziva menghentikan bicaranya karena hampir saja salah bicara .
Arsha mengerti maksud ucapan Ziva.Namun apalagi yang bisa dilakukannya karena Arsha sudah berjanji untuk tidak menyentuhnya lagi tapi sesaat tidak memperdulikan semua.
"Maafkan Kak Arsha, entah kenapa Kakak selalu menginginkanmu," ungkap Arsha.
Arsha menyadari kekhilafannya dan memilih tidak melanjutkan sementara Ziva hanya kesal di buatnya karena sebenarnya sama dengannya dia juga menginginkannya.
"Kenapa Kak Arsha harus meminta maaf?bukannya sudah menjadi hak Kakak. Harus berapa kali Ziva mengatakan hal sama pada Kak Arsha!" tegas Ziva penuh penekanan setiap ucapannya.
Ziva menatap Arsha kemudian menyeruput kopinya perlahan. Suaminya itu terus saja menggodanya dengan urusan ranjang tapi tidak ingin melakukannya.Membuatnya melambung tinggi lalu menghempaskannya begitu saja tanpa mau tahu perasaannya.
"Kamu masih sekolah dan harus fokus menyelesaikan sekolahmu.Pikiranmu tidak boleh terganggu!"
Arsha memberi penjelasan pada Ziva berharap Ziva akan mengerti akan maksudnya. Selain ingin melihat wanita yang kini bergelar istrinya itu sukses Arsha juga ingin memegang janjinya pada kakak iparnya yang tak lain sahabatnya sendiri.
"Baiklah kalau itu sudah menjadi keinginan Kakak," Seru Ziva melengkungkan bibirnya keatas menandakan tidak masalah dengan semuanya.
__ADS_1
Arsha bernafas lega karena tidak susah baginya untuk bisa berkompromi dengan istrinya itu dan selalu bisa membuatnya bahagia walaupun dengan hal-hal sederhana.
"Awas saja kalau kakak merengek-rengek memintanya dariku!"ancam Ziva yang seakan ingin sekali terucap tapi kali ini dia memilih menahannya dalam hati.
"Maukah minggu ini kita pulang ke Bandung, mumpung pekerjaanku longgar?" tawar Arsha.
Ziva nampak tersenyum senang mendengar tawaran Arsha karena biasanya dia hanya bisa pulang saat liburan saja. Wanita di depannya itu mengangguk senang menerima tawarannya.
Arsha menatap lekat wajah Ziva, angin sore yang menerpa membuat rambutnya menyibak, menampilkan leher jenjang yang begitu menggoda hingga mampu menghipnotis siapapun yang melihatnya.Arsha menelan salahnya dengan susah payah dengan apa yang dilihatnya kini.Kecantikan Ziva yang benar-benar paripurna secara fisik dan hati membuat Arsha benar-benar beruntung memperistrinya.
"Tidak salah aku memperistrimu," gumam Arsha namun sangat lirih hingga tak terdengar oleh Ziva.
Senyumnya mengembang yang saat itu keduanya sama-sama tersenyum.
***
Minggu pagi setelah mandi dan berganti pakaian serta memoles wajah tipis-tipis dengan bedak dan lipstik Ziva keluar dari kamar.Terlihat Arsha sedang menunggunya di sofa memainkan gawai di tangannya.
Arsha menatap wanita di depannya itu cukup lama.
Cup
Kecupannya mendarat di kening wanitanya dengan sangat lembut. "Seharian ini mungkin kita tidak bisa bermesraan dan pasti Kakak akan sangat merindukan saat-saat seperti ini," ungkap Arsha.
"Kan cuma sehari,Kak Arsha harus bersabar menahan rindu padaku.Ziva berusaha menguatkan memeluk tubuh atletis namun memiliki hati yang begitu rapuh.
"Bagaimana kalau aku tidak bisa menahannya?" Arsha kembali mengeluh.
"Kau harus bisa apapun yang terjadi!"ancam Ziva.
Arsha yang gemas akan ancaman Ziva mencubit pipi Ziva lalu menghujani wanitanya itu dengan banyak kecupan.
Tiba-tiba ponsel Arsha berdering menandakan harus segera pergi karena mereka sudah ditunggu.
Sekitar 20 menit Arsha tiba di depan rumah Zacky kemudian membunyikan klakson memberitahu Zacky untuk segera keluar.Beberapa saat kemudian Zacky keluar bersama Anissa kemudian memasuki mobil.Ziva keluar mobil dan pindah di kursi belakang bersama Anissa.Mobilpun melaju membelah jalanan di kota itu menuju Bandung tepatnya di desa Ciwidey jarak tempuh sekitar 4 jam setengah.
Ini pertama kalinya bagi Anissa ikut Zacky pulang ke kampung halaman.Rencana Zacky sekaligus memperkenalkan Anissa ke keluarganya.
"Memang kalian langsung mau nikah Ky?" Arsha memecah keheningan di dalam mobil itu.
Zacky tidak menjawab pertanyaan Arsha malah menoleh kearah belakang menatap Nissa.
__ADS_1
"Aku sih maunya cepat nikah tapi tahu tuh sahabat kamu gimana." Nissa berucap dengan nada sinis.
"Tuh buruan Sob, udah dapet lampu hijau tinggal loe nya harus sat set," sahut Arsha.
"Iya pasti gue usahain cepat," jawab Zacky setengah kesal.
Arsha seperti meremehkannya untuk urusan wanita tapi kali ini Arsha memang benar.Arsha yang dibilang tidak pernah pacaran nyatanya tidak butuh waktu lama untuk berumah tangga sementara dirinya hanya bertahun-tahun menjalin kasih tanpa ada ikatan.
.
.
Memasuki desa Ciwidey mereka disuguhkan pemandangan yang begitu menakjubkan hamparan sawah yang begitu menghijau,Kebun teh dan juga kebun strawberry menyejukkan mata mereka yang lelah seakan lelah mereka berbuah manis.Hampir setengah tahun mereka tak pulang ke kampung membuat Meraka begitu merindukan suasana kampung yang tenang dan damai.
Mobil pun masuk ke pelataran yang cukup luas dan terhenti. Semua yang berada di mobil perlahan turun. Zahra yang melihat kedatangan Kakak nya langsung berteriak "Kak Ziva." Zahra langsung berlari dan memeluk Ziva dengan erat.
"Kakak kok lama ndak pulang sih?" tanya Zahra sedikit kesal.
"Kan ini kakak udah pulang dek," jawab Ziva mencubit kedua pipi Zahra gemas membuat Zahra kembali mendekap tubuh Kakak perempuan itu.
"Ayo masuk,dimana ibu?" Ziva berjalan beriringan bersama Zahra diikuti Zacky,Arsha dan Nissa.
Pandangannya Zahra tidak lepas kepada wanita cantik di samping kak Zacky, karena senyumannya begitu tampak manis membuat Zahra bertanya-tanya.
"Kakak cantik itu, siapa Kak?" bisik Zahra menarik tubuh Ziva mensejajarkan tingginya dengan Ziva.
"Itu pacar kak Zacky," sahut Ziva.
Mereka pun duduk di kursi sementara Ziva dan Zahra berlanjut ke belakang mencari ibunya.
"Buk, Ibu," panggil Ziva.
"Ibu seperti mengenali suara itu, Ziva!" teriak Ayu begitu melihat putrinya di depan matanya lalu memeluk Ziva dengan erat.
Belum semenit Ayu dan Ziva berpelukan tapi Zahra sudah menarik tangan ibunya. "Ibu lihat Kakak cantik di depan sana Bu!"
"Dimana Zahra?" Ayu ikut menarik tangan Ziva hingga mengikutinya.
Benar saja Gadis cantik berkerudung pink itu menatapnya dengan senyuman membuatnya langsung jatuh hati.
...----------------...
__ADS_1
Lanjut vote,like dulu ya dan berikan ranting lima biar author makin semangat menulis🙏😊.