Terpaksa Menikah Diusia Belia

Terpaksa Menikah Diusia Belia
BAB 70 ( Permintaan Khusus )


__ADS_3

"Kenapa pagi-pagi kau sudah cerewet sekali, tentu saja kantor memberi Kakak cuti," jelasnya.


"Oh, bilang dong dari tadi." Ziva bangkit dari tempat tidurnya menuju kamar mandi setelah sekitar 15 menit kemudian keluar dengan handuk melingkar ditubuhnya. Arsha nampak menatapnya seksama.


"Apa,kau mau pergi ke suatu tempat?seminggu adalah waktu yang tepat untuk kita berbulan madu," tawar Arsha.


Ziva segera berganti pakaian dan mengabaikan tawaran Arsha setelah itu menyisir rambut dan membubuhkan bedak ke wajah serta lipstik tipis-tipis.


Arsha terlihat kecewa karena Ziva tak menyahutnya sama sekali.Pria itu langsung bangkit dari tempat tidur setelah beberapa saat menunggu jawai dari istrinya.Saat itu Arsha berpikir Ziva tidak menginginkannya padahal dalam benaknya sudah terbayang bagaimana bahagianya mereka bisa bersama tanpa ada beban pekerjaan dan lainnya. Selama dua tahun ini jangankan untuk berbulan madu pernikahan saja mereka harus sembunyikan.


Saat Arsha hendak masuk ke kamar mandi Ziva langsing mendekap tubuh suaminya itu dari belakang.


"Beri aku kesempatan untuk bicara?"lirihnya.


"Aku merasa sebenarnya kau menyesal menikah denganku," tukas Arsha.


Pria itu berusaha menyingkirkan tangan Ziva yang mendekapnya begitu kuat.


"Kenapa Kakak berbicara seperti itu?"Ziva melepas dekapannya lalu menatap penuh Arsha.


"Sudahlah sebaiknya kita tetap dirumah tidak ada gunanya kita pergi berbulan madu." Arsha berucap kesal lalu masuk ke kamar mandi sembari menutup pintunya kasar.


Air mata Ziva tiba-tiba menitik begitu saja ketika pria yang dicintainya dengan ketus mengatakan hal-hal yang menyudutkannya seakan tidak percaya dengan rasa cinta juga kasih sayangnya selama ini.


Tok ....


Tok ....


Tok ....


Terdengar pintu diketuk dari luar.

__ADS_1


"Ziva," panggil Dina.


Ziva langsung mengusap air matanya begitu mendengar suara ibu mertuanya memanggilnya.Langkahnya mengayun menuju daun pintu.


"Iya Bu, ada apa?" tanya Ziva.


"Ibu mencari garam,dari tadi tidak menemukan." Dina berbicara dengan wajah menahan malu karena sudah menganggu pasangan suami istri yang tak lain anak juga menantunya itu.


"Sudah Bu, Ibu jangan merasa tidak enak, Ziva akan ambilkan garam yang baru." Ziva merangkul bahu Dina menuju dapur.Keduanya kini berkutat di dapur menyelesaikan menu sarapan pagi.Ziva membantu mertuanya menggoreng telur ceplok sementara Dina memasak nasi goreng sebagai menu utama.Setelah makanan siap di meja Ziva segera menyuruh pamannya yang duduk di balkon menikmati suasana pagi yang cerah.


"Paman, sarapan sudah siap!" Ziva berucap sopan.


"Terima kasih Va, duduklah paman ingin mengatakan sesuatu," pinta Deni.


Ziva langsung mendudukan tubuhnya begitu mendengarkan permintaan Deni.Pandangannya terfokus pada Deni yang tepat berada di depannya.


"Paman ingin kamu bisa membujuk Arsha untuk pulang ke Bandung.Kasian ayah dan ibumu mereka sudah cukup menderita selama ini hidup terpisah dari anak semata wayangnya apalagi sekarang ini kondisi bang Hermawan sedang sakit.Kedua orang tua itu sudah cukup tua sehingga keberadaanmu dan Arsha pasti akan sangat membahagiakan mereka apalagi nanti setelah kalian punya anak itu jauh lebih membahagiakan mereka," tutur Deni.


"Pasti Paman, Ziva akan perlahan-lahan membujuk kakak untuk pulang ke Bandung tidak mungkin selamanya kami akan disini kasian ibu dan ayah," balas Ziva.


Nampak Arsha yang duduk di meja makan memperhatikan keduanya membuat Ziva segera bangkit.


"Ayo paman, Kak Arsha sudah menunggu." Ziva melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah diikuti Deni yang mengekor dibelakangnya.


Keempatnya sudah duduk di kursi masing-masing menyantap makanan yang tersedia di depan masing-masing sampai akhirnya makanan di piring habis tak bersisa.


"Nak, setelah ini bersiap-siaplah antar Ibu juga paman ke stasiun!"perintah Dina.


"Ibu akan pulang secepat ini?" Ziva terlihat sedih mendengar Dina akan segera pulang ke Bandung.


"Ibu sebenarnya ingin tinggal lebih lama tapi ayahmu bagaimana,kasian bibimu pasti lelah mengurus ayahmu sendiri." Dina mengelus pipi Ziva dengan senyum yang lembut memberi pengertian pada menantunya itu.

__ADS_1


"Tapi Ibu selalu mengurus ayah sendiri, Ibu pasti lelah."Ziva bangkit dari duduknya dan memijat bahu Dina membuat Arsha dan Deni terlihat senang melihat keakraban mertua dan menantu itu.


"Ziva, ingat pesan paman!"celetuk Deni.


"Siap paman," seru Ziva.


Arsha menatap keduanya kesal karena terlihat Ziva begitu akrab dengan pamannya itu.


Dina juga Deni menuju kamarnya membereskan barang bawaan mereka sementara Ziva membersihkan meja.Arsha yang masih terpaku di tempatnya menatap Ziva dengan tatapan datar seakan menyimpan sesuatu yang ingin di segera diluapkannya.


"Apa yang sebenarnya paman katakan tadi?" tanya Arsha mulai menelisik.


"Paman ingin aku bisa membujuk Kakak pulang." Ziva melangkah menuju dapur dengan piring kotornya.Arsha langsung menyusul Ziva yang sedang mencuci piring.


"Lalu kau menyanggupinya bagaimana dengan mimpiku saat ini!" Arsha terlihat kesal.


"Sudah Kak kita bahas ini nanti setelah paman dan ibu pulang.Aku tidak ingin mereka mendengar semua ini, aku tidak ingin mereka semakin sedih." Ziva menarik tangan suaminya keluar dari dapur karena mendengar derap langkah mendekat.


"Ibu,paman sudah siap?" Ziva berucap ramah.


Dina dan Deni tersenyum menanggapi Ziva.


Ziva langsung memeluk Dina."Maaf,Ziva nggak bisa nganter Ibu karena Ziva harus pergi ke kampus."


"Ibu mengerti, Nak.Jaga diri baik-baik ya." Dina mengelus lembut wajah Ziva.Ziva pun mengangguk.


"Hati-hati Bu, Paman." Ziva mencium tangan ibu juga paman ya bergantian.


Sekilas Arsha mengecup lembut kening Ziva lalu segera menyusul ibu juga pamannya yang sudah berjalan di depannya.


Ziva segera bersiap-siap untuk pergi ke kampusnya karena takut terlambat.Hari ini kelasnya akan di mulai pukul 10 pagi dan waktu menunjukkan pukul 9 pagi.Ziva pun segera bergegas pergi setelah siap.

__ADS_1


__ADS_2