Terpaksa Menikah Diusia Belia

Terpaksa Menikah Diusia Belia
Bab 84 ( Terima Kasih Alvin )


__ADS_3

"Va,gue antar loe balik ya?" tawar Kayla yang saat itu sudah keluar dari kelas seusai mata kuliah mereka selesai.Saat itu Ziva terlihat pucat apalagi terus saja memegang kepalanya membuat Kayla semakin cemas.Tapi tiba-tiba wanita disampingnya itu membuatnya lega.


"Gue cuma lapar aja dari kemarin belum makan,gue akan makan sebelum pulang." Ziva berkata dengan tersenyum sambil memegangi perutnya.


"Gue temenin ya?" tawar Kayla.


Ziva menggelengkan kepalanya sebagai penolakan karena hari ini dia berpikir untuk memastikan ulang apa yang dilakukan suaminya di kantor terkhusus di ruangan atasannya.Ziva tidak ingin Kayla mengetahui rencananya.


"Ok, hati-hati ya langsung pulang setelah makan." Kayla akhirnya pasrah akan penolakan sahabatnya itu walaupun sedikit ada rasa aneh sahabatnya itu terus saja menolaknya.Kayla hanya ingin lebih lama lagi menghabiskan waktu dengannya.


Setelah keduanya berpisah Kayla dengan mobilnya melaju meninggalkan Ziva yang saat itu menunggu taxi online pesanannya.


Kepala Ziva kembali berputar beberapa kali sampai memejamkan matanya karena semua terlihat berputar membuatnya limbung hampir terjatuh kalau tidak ada tangan seseorang yang menahannya dari belakang. Pria itu lalu membawa Ziva dengan cepat masuk ke dalam mobil.


"Cepat hubungi tuan kalau tidak ingin mendapat masalah, wanita ini pingsan!"perintah seseorang pria yang baru saja membawa Ziva masuk ke dalam mobil kepada pria yang duduk di belakang kemudi.


Setelah menelepon dan mendapat instruksi untuk membawa wanita ini ke rumah sakit tanpa berlama-lama kedua orang dengan pakaian serba hitam melaju dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit terdekat.


Dokter dan beberapa perawat langsung memeriksa saat tiba di rumah sakit sementara kedua pria itu menunggu Tuannya datang dengan gelisah.


Beberapa menit kemudian orang yang di tunggu kedua pria itu datang dengan tatapan tajam kearah keduanya. "Apa yang terjadi kenapa dia tiba-tiba pingsan?" tanyanya dengan wajah cemas.


"Kami tidak tahu Tuan, Dokter sedang memeriksa di dalam," jelas salah seorang pria.

__ADS_1


Kedua pria itu ditugaskan secara khusus oleh Alvin untuk menjaga Ziva sekaligus melaporkan apapun yang terjadi pada wanita yang begitu dicintainya itu.


Pria itu langsung masuk ruangan UGD saat melihat dokter telah selesai memeriksa.


"Bagaimana Dok?"


Dokter itu hanya tersenyum membuat Alvin menatap tajam padanya karena Alvin dengan wajah cemasnya menanti penjelasannya tapi dengan enteng pria tua itu menjawab dengan senyuman.


"Selamat ya Pak,istri anda hamil," jelas Dokter menepuk bahu Alvin lalu keluar dari ruangan itu.


Saat itu Alvin mematung seakan waktu berhenti sesaat.


Hamil. Hamil. Hamil.


"Kurang ajar bajingan itu telah membuat wanitaku hamil tapi aku tidak akan mundur!" batin Alvin, mengepalkan tangannya.


"Secepatnya akan ku buat kalian berpisah, bajingan itu tidak boleh tahu kehamilannya," batin Alvin bersiasat.


Melihat Ziva yang mulai tersadar Alvin segera mendekat.


"Dimana aku?" Ziva menatap sekeliling ruangan itu dan hanya Alvin yang berada di sampingnya.


"Kau di rumah sakit tadi kau pingsan," jelas Alvin.

__ADS_1


"Pingsan?" Ziva mengingat kembali kejadiannya saat sedang menunggu taxi dan setelah itu dia tidak ingat lagi.


"Apa Dokter sudah memeriksaku,apa katanya?"


"Kamu kelelahan, jangan terlalu banyak beraktivitas istirahatlah yang banyak karena kondisimu sangat lemah." Bohong Alvin tapi saat itu Ziva mempercayai ucapan pria itu.


"Terima kasih Alvin, entah berapa banyak aku berhutang budi padamu tapi yang jelas kamu malaikat penyelamatku." Ziva tersenyum mengutarakan rasa terima kasih.


"Tidak perlu berterima kasih kau hanya perlu bersamaku itu sudah cukup," batin Sebenarnya ingin sekali kata-kata itu keluar dari mulutnya tapi Alvin berpikir berkali-kali lipat karena tidak ingin semua rencananya gagal begitu saja hanya satu kecerobohannya.


"Aku senang bisa membantumu." Pria itu kembali tersenyum.


Dulu sempat terpikir di benak Ziva, Alvin yang notabenenya orang kaya yang biasanya sombong, memaksakan keinginan sendiri,aneh dan semua hal buruk tentangnya tapi semua itu terbantahkan nyatanya pria ini punya hati lembut juga hangat.


"Terima kasih Alvin."


Entah berapa kali Ziva mengucapkan kata-kata itu hari ini tapi yang jelas hari ini dia hutang nyawa pada pria itu.


"Masuklah dan jangan lupa pesanku dan satu lagi." Alvin mengambil paper bag yang berisi beberapa vitamin untuknya.


Lagi lagi Ziva dibuat terharu akan kebaikan Alvin.Hari ini benar-benar Alvin melakukan segalanya termasuk membayar uang perawatannya tapi pria itu menolak dan kini lagi-lagi tanpa sepengetahuannya memberikan beberapa vitamin untuknya.


"Terima kasih Alvin." Pria itu kembali mengulang ucapan Ziva sambil tersenyum puas saat mobilnya melaju pergi.

__ADS_1


__ADS_2