
Ziva duduk disebelah Dina yang mengupas apel sementara Arsha mengambil sepotong martabak di piring lalu duduk disebelah Ziva.
"Ibu," panggil Arsha.
"Hm."
"Mau cucu berapa, Ibu?" tanya Arsha.
"Cucu!"Ziva mengernyitkan dahi menatap suaminya.Ziva merasa aneh dengan pertanyaan suaminya sementara Dina menatap serius Arsha.
"Ibu sama mantu kok sama aja," gerutu Arsha.
"Ayo makan apelnya Sayang." Dina menyuapkan apel yang telah dikupasnya ke mulut Ziva dan mengabaikan pertanyaan Arsha.
"Gitu ya sekarang dah punya anak baru lupa anak yang lama," keluh Arsha.
Mendengar keluhan dari suaminya yang merasa cemburu, Ziva langsung menyuapkan apel ke mulut Arsha."Dah makan ini, jangan ngoceh mulu!"
Dina terkekeh melihat kelakuan anak dan mantunya yang terlihat keduanya begitu konyol tapi tiba-tiba kebahagiaannya itu berubah saat mengingat suaminya.
"Ibu bahagia melihat kebahagiaan kalian tapi ibu juga sedih karena ayah," ungkap Dina.
Arsha dan Ziva termangu mendengar ucapan Dina.Sesaat mereka begitu bahagia tapi mereka lupa ada batu besar diluar sana yang akan merobohkan dan bahkan meremukkan pondasi-pondasi cinta mereka.
"Kenapa aku harus peduli ayah sedang ayah terlalu egois dengan keinginannya! Apakah seorang anak tidak memiliki hak dan kemauannya sendiri, Arsha punya mimpi dan cita-cita dan Arsha ingin membuktikan kalau mimpi Arsha bisa terwujud bukan hanya mimpi muluk-muluk semata." Arsha meluapkan kemarahannya.
"Sabar Kak." Ziva mengelus punggung Arsha mencoba menenangkannya.
"Ibu mengatakan ini tidak untuk menakut-nakuti kalian tapi jadilah kuat seperti batu untuk melawan batu.Cinta bukan hanya tentang kebahagiaan semata tapi cinta juga tentang ujian.Kelak kalian akan dihadapkan segala macam ujian dan disaat itulah cinta kalian diuji." Dina menatap keduanya sambil tersenyum penuh keyakinan akan cinta keduanya.
"Ibu yakin kalian pasti bisa.Pada saatnya Ibu ingin kalian membuktikan cinta kepada semua orang terutama ayah, apa kalian sanggup?".
"Pasti Bu, pasti kami sanggup!" jawab Ziva tegas sedangkan Arsha hanya termangu.
Dina menyadari akan diamnya Arsha karena Arsha lah yang lebih mengenali ayahnya, bukan orang yang akan mudah di taklukan.
"Sudah jangan bahas itu lagi,ayo dimakan." Dina menyuapkan sepotong apel ke mulut Ziva kemudian Arsha mencoba mencairkan suasana.Ziva mengambil satu potong apel lalu menyuapkan ke Dina.
__ADS_1
"Terima kasih Bu, Ibu yang terbaik." Ziva memeluk tubuh Dina.
"Anak pintar." Dina mengelus rambut Ziva.
Arsha merekahkan senyumnya melihat keakraban ibu juga istrinya.
"Ayo dihabiskan,Ibu akan memberesi pakaian ibu setelah itu antar ibu ke terminal keburu magrib nanti.Ibu harus sampai dirumah sebelum esok pagi." Dina beranjak dari duduknya menuju kamar yang biasa Ziva tidur tapi Arsha sudah mengosongkan kamar itu sebelum ibunya datang.
"Apa Kak Arsha sudah tumbang sebelum berperang?"Ziva menanggapi diamnya Arsha dengan kesanggupan yang ditanyakan ibu mertuanya tadi.
"Anak kecil diam saja.Tahu apa Kamu Tetang perang!" ketus Arsha.
"Anak kecil mana,Ziva sudah SMA tahu!"
Ziva mencebikkan bibirnya yang membuat Arsha terkekeh melihat tingkah istrinya yang mulai merajuk.
"Ibu jangan pergi." Ziva terlihat sedih ketika melihat Dina telah siap dengan tas tentengnya
"Maaf ya kalau ada waktu Ibu akan sering-sering kesini." Dina mengeratkan pelukannya ke anak dan menantunya itu
"Jaga diri kalian baik-baik ya, ingat pesan Ibu!"
Ketiganya larut dalam perpisahan itu.Meski bukan waktu yang lama tapi rasa sayang juga cinta yang mengikat kebersamaan singkat itu.
Terima kasih Ibu, kaulah segalanya.
***
Ziva dan Arsha duduk lesu di sofa sepulang mengantar Dina.
"Kak kenapa Ibu sebaik itu ya?Aku berpikir Ibu akan marah akan pernikahan kita." Ziva menyenderkan kepalanya di dada Arsha.Ziva malah sempat berpikir meninggalkan pria disampingnya itu demi mengembalikan keharmonisan keluarganya.
"Ibuku lebih baik dan lebih lembut dari siapapun," ungkap Arsha.
"Iya aku juga merasakan betapa lembut ibu Dina tapi kenapa wanita selembut ibu bisa bersuami sekeras ayah Anton Hermawan?" Ziva mendongakkan kepalanya melirik Arsha.
"Itulah mereka saling melengkapi, ayahku bagaikan api dan ibu adalah air mereka akan saling melengkapi.Aku masih ingat sewaktu kecil aku berkelahi dengan temanku.Ayahku memarahiku habis-habisan tapi ibuku membelaku mati-matian." Arsha tersenyum mengingat momen masa kecilnya.
__ADS_1
"Aku tahu, kamu mewarisi 2 sifat itu dalam dirimu.Kamu sangat lembut bahkan lebih lembut dari kapas tapi terkadang kamu lebih panas lebih panas daripada api," ungkap Ziva.
"Lalu apa kamu menyukai kedua sifat suamimu itu?"
"Tentu, sifatmu itu membuat aku iri."
"Iri dengan sifatku, kenapa?"
"Karena aku hanya punya sifat egois saja," jelas Ziva.
"Siapa bilang istriku hanya punya sifat egois.Kamu itu punya sikap dan pemikiran dewasa bahkan terkadang lebih dewasa daripada aku.Selain itu kamu juga punya hati yang baik." Arsha mencekal dagu Ziva menatap kedua mata indah istrinya.
"Alah gombal." Ziva melepaskan cekalan Arsha mengalihkan pandangannya.
"Kok gombal sih?" Arsha mulai menggelitiki Ziva karena gemas dengan istri kecilnya itu sementara Ziva terkekeh menahan geli membuat matanya sampai berkaca-kaca.
"Ampun Kak." Ziva tidak tahan lagi dengan Arsha yang terus menggelitiknya tanpa ampun.
"Sana pergi mandi, Aku mau ajak Kamu makan diluar!" perintah Arsha sesaat setelah menyudahi gelitikannya.
"Hm." Ziva berdehem nampak pasrah dengan perintah Arsha.
.
.
"Va, buruan lama banget!" Pekik Arsha.Sekitar 15 menit Arsha sudah menunggunya di sofa sambil memainkan gawainya tapi entah tuan putri tak kunjung keluar kamar.
"Ayo Kak, Ziva sudah siap." Ziva berdiri di depan kamarnya sambil memperlihatkan penampilannya di depan suaminya.
Arsha memfokuskan pandangannya menatap Ziva dari ujung kaki sampai kepala.Nampak Ziva memakai dress berwarna soft pink diatas lutut, berkerah sabrina yang menampakkan bahu juga setengah punggungnya.Arsha membelalakkan matanya menatap Ziva tanpa berkedip.
"Apa sebaiknya kita nggak usah pergi?" Arsha beranjak dari duduknya mendekati Ziva.Fokusnya tertuju pada leher Ziva yang membuatnya menelan salivanya sendiri sementara tangannya traveling meraba paha Ziva yang setengah terbuka karena dress mininya menampakkan setengah pahanya.
"Kenapa berpakaian seperti ini, sengaja kamu membuat mata-mata nakal diluar sana traveling menatapmu," bisik Arsha di telinga Ziva.
"Ini kan cantik Kak, aku suka baju ini."
__ADS_1
"Kamu mau aku yang lepaskan bajumu atau cepat ganti bajumu sekarang!" Arsha menatapnya tajam karena saat itu pria di depannya itu terlihat emosi.
"Cih." gerutunya terpaksa menuruti perintah suaminya.