
Arsha beranjak menuju ke tempat Ziva berada.Arsha bertanya kepada Satpam hotel yang berjaga di depan hotel. Ternyata tempat Ziva berada tidak jauh dari hotelnya. sekitar 10 menit di tempuh dengan jalan kaki sedangkan menggunakan mobil sekitar 4 menit.
Arsha memilih berjalan kaki menuju tempat Ziva berada tepatnya di jalan Malioboro.
Jalan Malioboro di sepanjang jalan menawarkan cinderamata khas Yogyakarta.
Arsha menyusuri jalanan yang cukup ramai tertulis Jl.Malioboro yang menjadi penanda telah sampai di jalan dimana
Ziva berada.
Arsha segera menghubungi Ziva.Dari kejauhan Ziva yang menatapnya tanpa sepengetahuan Arsha segera berlari menghampirinya.
"Kakak," sambut Ziva.Wanitanya itu berlari memeluk tubuh atletis Arsha.
"Kenapa pergi sendiri, kalau nyasar gimana?" keluh Arsha.
Arsha mencubit gemas pipi Ziva membuatnya tersenyum nyengir.
"Kalau aku nyasar, Kakak akan mencariku sampai ketemu, kan?" Ziva menatap wajah Arsha penuh harap.
Arsha menggelengkan kepalanya sengaja menggoda Ziva membuatnya mendelik kesal.
"Hahaha." Arsha tertawa keras menanggapi Ziva.
"Ihh." Seketika Ziva meninggalkan Arsha dengan raut wajah kesal.Saat itu Ziva terlihat marah menanggapi serius candaan Arsha.
"Ziva, Kak Arsha cuma bercanda." Arsha mengejar Ziva langsung mencekal tangannya menghentikan langkahnya.
Ziva tersenyum meringis karena berhasil membuat prank marah kepada Arsha membuat prianya itu mencubit gemas pipinya. Kali ini Arsha mencubit lebih keras membuatnya meringis kesakitan.
Keduanya bergandengan menyusuri jalanan itu sesekali berhenti melihat lihat barang yang di jajakan di sana.
Ziva fokus menatap lonceng angin yang terbuat dari bambu.Lonceng itu berbunyi nyaring juga menenangkan ketika Ziva menggerakkan sumbunya.
"Kak, aku mau ini.Kalau di pasang di balkon rumah kita pasti asyik banget," seru Ziva.
Tanpa membuang waktu Arsha segera memberi uang pedagang itu.
"Tunggu Kak!" Ziva menarik tangan Arsha membuatnya sedikit bingung dengan tingkahnya karena baru saja istrinya itu memintanya untuk dibelikan tapi ketika ingin membayar malah menahannya.
"Kalau belanja seperti ini, kita harus pintar-pintar menawar," bisik Ziva.
Ziva pun menawar harga lonceng angin itu setengah dari harga yang di tawarkan dengan sedikit merayu akhirnya mendapatkan harga yang diinginkan.
Setelah puas berbelanja dan makan mereka kembali ke hotel karena hari sudah cukup larut malam.
"Terima kasih Kak sudah mengajak Ziva ikut bersama Kakak." Ziva menatap wajah tampan suaminya saat keduanya sudah berbaring di atas ranjang.
__ADS_1
"Bisakah kau tetap mendukung Kakak dengan pekerjaan Kakak?" Arsha malah melontarkan pertanyaan lain membuat ekspresi wajah Ziva berubah dengan senyumannya.
"Ziva selalu mendukung Kakak." Ziva menggenggam erat tangan Arsha.Arsha mengusap lembut wajah Ziva membuat pipi Ziva kini memerah di buatnya.Keduanya saling mengulum senyum menatap satu sama lain.
***
Keesokan paginya Arsha berangkat menyelesaikan pekerjaan di kota itu sementara Ziva masih hanyut dalam buaian mimpi.
Memasuki masa kuliahnya Ziva disibukkan dengan masa adaptasi.Bagi Ziva saat ini bukan lagi waktunya bermain-main seperti saat di bangku SMA dulu.Ziva harus bekerja keras agar nantinya lulus membanggakan Arsha suaminya juga keluarganya.
Ziva menggeliat senang akhirnya ada waktu tidur berkualitas untuknya tanpa khawatir jadwal kuliah.
"Benar-benar waktu terbaik untuk bersantai." Ziva berdecak senang. Rasanya badannya sangat segar setelah bangun tidur.
Drt ....
Drt ....
Drt ....
"Ibu." Ziva menatap layar ponselnya segera menjawab telepon dari ibunya.
"Assalamualaikum, Bu."~Ziva.
"Wa'alaikumsalam.Bagamana keadaanmu, Nak?"~Ayu.
"Ibu baik, sayang.Apa kamu sudah mendengar kabar mengenai mertuamu?"~Ayu.
"Kabar apa, Bu?"~Ziva.
"Ayah mertuamu sakit keras.Sudah beberapa hari di rawat di rumah sakit."~Ayu.
"Apa Bu, ayah sakit?"~Ziva.
"Iya Nak."~Ayu.
"Ziva baru dengar dari Ibu, sepertinya kak Arsha juga tidak tahu karena kak Arsha tidak mengatakan apa-apa. Setelah pulang dari Jogja Ziva akan berbicara dengan Kak Arsha."~Ziva.
"Baiklah.Ibu tutup teleponnya."
Telepon langsung terputus.
Ziva termangu memikirkan ayah mertuanya. Walaupun tak pernah dekat dengan sosok dingin ayah mertuanya itu tapi Ziva merasa sangat khawatir.Ziva mengingat ibu mertuanya dan segera menghubunginya.Suara lembut nan khas kini menyapanya.
"Halo Sayang."~ Dina.
"Ibu, bagaimana keadaan Ibu?"~Ziva.
__ADS_1
"Ibu baik-baik saja, bagaimana denganku?maafkan kejadian terakhir kali kita bertemu ya."~Dina.
"Nggak pa pa Ziva mengerti Bu, bagaimana keadaan ayah, Bu?"~Ziva.
"Ayah ... ayah baik-baik saja."~Dina.
"Kenapa ibu berbohong, ayah sedang tidak baik-baik saja, kan?"~Ziva.
Suara isakan kini terdengar memenuhi telepon.Sejenak Ziva memberi watu untuk ibu mertuanya itu.Cukup lama dan akhirnya perlahan Dina kembali berbicara.
"Maafkan Ibu Nak, Ibu dan ayah bukan orang yang pantas kalian khawatirkan. Ibu malu dengan sikap ayah jadi Ibu berpikir untuk tidak memberitahu kalian. Ayah kena serangan jantung.Saat ini keadaan ayah sudah membaik.~Dina.
"Ibu dan ayah tetaplah orang tua kami sampai kapanpun tidak akan ada yang berubah.Ziva akan memberitahu kak Arsha, Bu.Semoga Kak Arsha mengerti."~Ziva.
"Iya sayang.Sampaikan salam Ibu untuk suamimu ya."~Dina.
***
3 hari berlalu Ziva dan Arsha kembali ke Jakarta setelah urusan di kota itu selesai.Arsha duduk lesu di sofa sesampainya di rumah sementara Ziva bergegas mandi karena merasa lelah.Mandi akan membuat tubuhnya kembali segar.
Setelah beberapa menit Ziva keluar dari kamar mandi.Ziva mendapati suaminya tertidur di atas sofa.
"Kasian kamu Kak, pasti kamu lelah dengan pekerjaanmu." Ziva mengusap lembut kening suaminya membuatnya mengingat kembali pembicaraannya dengan ibu mertuanya di telepon beberapa hari lalu.Ziva menunda untuk membicarakan masalah ayah mertuanya karena tidak ingin masalah itu menganggu pekerjaan suaminya saat di Yogyakarta.Ziva memutuskan untuk membicarakannya sepulang dari Yogyakarta.Menunggu suaminya bangun Ziva bergegas menuju dapur untuk memasak sesuatu.
Ziva berpikir keras bagaimana caranya menyampaikan keadaan ayah mertuanya kepada suaminya.Ia tidak ingin nantinya suaminya bersikap tidak peduli.Hubungan Arsha yang buruk dengan ayahnya membuatnya tidak sekalipun membahas tentang ayahnya. Ujung-ujungnya sifat keras kepala Arsha menghalangi semua nasehat baiknya.
"Semoga kali ini kak Arsha mengerti," lirih Ziva.
"Apa?"
Tiba-tiba suara berat menyahutnya membuatnya terkejut hingga membuatnya terperanjat.
"Ih, Kakak!" Ziva mendelik kesal menatap suaminya.
"Kenapa begitu terkejut, apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan?" Arsha tampak berpikir menatapnya.
"Apaan sih, membunyikan apa maksudnya?" Ziva berekspresi kesal karena tuduhan suaminya itu.
Melihat ekspresi Ziva, Arsha tersenyum dan langsung mendekap tubuh Ziva dari belakang membuatnya tidak bisa bergerak.
"Lepasin Kak, nanti gosong masakanku!" Ziva berdecak kesal.
"Sana mandi,bau!" timpal Ziva.
"Baiklah aku mandi dulu." Arsha beranjak pergi menuju kamar mandi.
Sepiring sayur juga telor ceplok kini tersaji diatas meja.
__ADS_1
Ziva bergegas menuju kamarnya untuk berganti pakaian karena bajunya berbau masakan.Arsha juga telah selesai mandi dan berganti baju.Keduanya kini duduk di meja makan.