
Ziva semakin yakin akan keputusan untuk mulai membuka hati untuk Arsha. Bukan karena statusnya tapi karena tidak setiap pria memiliki sikap sepertinya.Kebanyakan pria di luar sana hanya memikirkan satu hal yaitu memiliki tubuhnya tapi Arsha berbeda pria yang seharusnya memiliki hak atas diri dan tubuhnya bahkan menolak karena ingin menjaganya sampai saatnya.
"Kak, kenapa kau membuatku semakin tak bisa lagi menolakmu, bodoh sekali jika aku melakukan itu samasaja aku menolak pria sebaik dirimu," kata Ziva dalam hati.
"Tidurlah,kakak akan bekerja sebentar." Arsha menyelimuti tubuh Ziva.
"Kakak mau pergi kerja, bukannya Kak Arsha sedang cuti kerja hari ini?" tanya Ziva.
"Kakak hanya memeriksa beberapa laporan kerja lewat laptop.Sudah istirahatlah!"
Pria itu melangkah pergi kamarnya.Arsha memeriksa file juga laporan penjualan bulan ini karena jabatannya sebagai Supervisor marketing membuatnya harus memastikan penjualan unit apartemen mencapai target setiap bulannya.Keuletan serta kerja kerasnya menghantarkannya duduk di kursinya saat ini.Jabatan Manager menjadi target selanjutnya yang harus segera di dudukinya, tak lain untuk membuat istri kecilnya itu semakin bahagia dan bangga akan dirinya.
Drt ... drt
Ponselnya berdering beberapa kali membuat fokusnya berpindah.
Setelah menerima telepon yang ternyata dari kantor Arsha sedikit termenung karena saat ini pikirannya benar-benar bingung.Kantor menugaskannya keluar kota untuk waktu beberapa hari sementara saat ini Ziva yang tengah sakit tidak mungkin dia meninggalkannya.
Arsha menuju ke kamar Ziva untuk menanyakan keadaannya tapi niatnya itu pupus saat Ziva terlihat tengah tertidur pulas.
__ADS_1
Ponselnya yang terus bergetar karena rekan kerjanya yang akan berangkat kerja bersamanya terus saja menghubunginya membuatnya mau tidak mau meninggalkan Ziva tanpa berpamitan.
***
Ziva terbangun dari tidurnya.Tangannya meraih ponselnya diatas nakas.Ziva menatap layar ponselnya, menunjukan pukul empat sore.
Ziva merasakan tubuhnya jauh lebih baik setelah bangun tidur.Ziva keluar kamar mencari keberadaan Arsha di kamarnya yang ternyata kosong lalu menuju balkon yang juga tidak ada bahkan di seluruh ruangan itu dia tak menemukan sosok yang dicarinya.
"Kemana perginya kak Arsha,bukannya tadi dia bilang ingin memeriksa pekerjaannya di laptop.Munginkah ada pekerjaan mendadak membuatnya pergi?" Lirih Ziva menduga-duga.
Tiba-tiba seseorang membuka kunci pintu dari luar.
"Kak Arsha." Seru Ziva.
"Ada apa,tidak senang gitu lihat Kakak?"
"Bukan begitu Kak, aku pikir kak arsha tadi karena aku sedang mencarinya.Eh ternyata malah Kakak," pungkasnya.
Fokus Ziva tertuju pada acces card di tangan kakaknya yang setahu Ziva hanya dia dan Arsha yang punya.
__ADS_1
"Kenapa itu ada pada Kakak,dimana kam Arsha?" Ziva menunjuk tangan Zacky sekilas lalu fokus menatap wajah Zacky.
"Kak Arsha ada urusan penting di Surabaya untuk beberapa hari jadi kak Arsha menyuruh Kakak untuk sementara tinggal di rumah Kakak," jelas Zacky.
Setelah mengemasi beberapa pakaian akhirnya mereka meninggalkan tempat itu.
"Sana istirahatlah di kamarmu!" perintah Zacky saat mereka sudah berada dirumah Zacky.
Ziva hendak melangkah menuju kamarnya.
"Tunggu Va!" Zacky menghentikan langkah Ziva.
Zacky memberi amplop coklat pemberian Arsha.Sebelum pergi pria itu menceramahinya panjang lebar untuk menjaga Ziva juga memberikan amplop berisi uang kepadanya untuk memberikannya pada Ziva.
Ziva duduk di tepi ranjang menatap amplop yang cukup tebal. Ziva sudah bisa menebak apa isi di dalamnya tapi saat itu dia kembali dibuat tercengang akan sikap suaminya yang begitu memperhatikannya bahkan hal sepele seperti ini tidak luput dari pemikirannya.
"Apa ini kak?kenapa kak Arsha terus membuatku malu,malu akan sikapku yang tidak dari awal memperlakukan kakak dengan baik.Hal sepele seperti ini bahkan tak luput darimu.Kau seharusnya terlalu sibuk untuk memikirkan ini."
Ziva menatap uang ditangannya yang menurutnya tidak sedikit.Lagi-lagi dirinya dibuat sesak akan perlakuan baik suaminya yang bahkan menurutnya terlewat baik.Ziva kembali memasukkan uang itu ke dalam amplop.Direbahkannya tubuhnya yang masih lemah di ranjang sambil mendekap amplop itu ke dalam dadanya.
__ADS_1
"Semakin lama aku semakin terlihat bodoh jika aku terus menyia-nyiakan kamu kak," batinnya.
Gadis itu semakin hanyut dalam perasaan bersalahnya karena suaminya terus menunjukkan betapa cinta dan perhatiannya padanya sementara dirinya hanya memberi kepalsuan karena telah membohongi pria itu dengan ucapan manisnya.Semakin lama perasaan bersalahnya semakin besar mengingat Arsha begitu sempurna mencintainya tanpa cela.