Terpaksa Menikah Diusia Belia

Terpaksa Menikah Diusia Belia
BAB 71 ( Menolak Bulan Madu )


__ADS_3

Ziva keluar dari apartemen langkahnya mengayun menyusuri lorong-lorong apartemen menuju lift.


Drt ... drt ... drt.


Ponselnya Ziva bergetar segera diraihnya ponsel di saku celananya.


"Kayla," gumamnya.


Ziva segera menjawab telepon masuk dari Kayla.


"Apa, gue baru mau keluar apartemen."~Ziva.


"Woi, apa maksud loe?jangan gila!"~Kayla.


"Cepat balik ke apartemen dan segera beberes."~Kayla.


"Apa sebenarnya maksud loe?"~Ziva.


"Ck, jangan berlagak bodoh,semua orang tahu loe baru aja kawin terus loe masih berlagak nggak ngerti.Masalah kuliah gue udah izin cuti sekarang bersenang-senang sama suami baru loe!"~Kayla.


Tut ....


Tut ....


Tut ....


Telepon sengaja diputus Kayla.Ziva berdiri mematung mencerna ucapan dari sahabatnya itu. Sahabatnya itu selalu saja memberinya kejutan tanpa bertanya dulu padanya. Sikap dan sifat Kayla tak berbeda jauh dari sahabatnya Keyla yang sudah beberapa bulan ini berpisah darinya Keyla harus pindah ke Amerika karena harus melanjutkan studinya disana.


"Key, aku merindukanmu," lirihnya dalam keheningan lorong itu.


Phaak.


Tiba-tiba tangan seseorang menepuk bahunya dari belakang membuatnya terperanjat.

__ADS_1


"Arkkk," jeritnya dengan wajah ditutupinya dengan kedua telapak tangannya.


"Ziva, ini Kak Arsha." Segera Arsha menampakkan sosoknya di hadapan Ziva dengan membuka tangan Ziva.


Ziva segera memeluk tubuh kekar di hadapan.


"Kakak membuatku terkejut dan takut," lirihnya mendekap erat tubuh Arsha.


Arsha mengecup pucuk kepala Ziva sambil mengelus lembut.


Keduanya berjalan berdampingan menyusuri lorong kembali masuk ke dalam apartemennya.Keduanya duduk di sofa. Beberapa saat kemudian Arsha bangkit dari duduknya mengeluarkan koper dan menyerahkan sebuah brosur kepada Ziva.


"Apa ini Kak?" Ziva menatap penuh tanya mengambil brosur dari tangan Arsha lalu membacanya dengan seksama.


"Thailand, kita akan kesana?" Ziva menautkan kedua alisnya penuh tanya.


Dengan senyum sumringah Arsha menganggukkan kepala tapi beda dengan Ziva wajahnya nampak terlihat sedih dengan menundukkan kepalanya.


"Ada apa, apa kamu tidak menyukainya atau kau mau ke Singapura atau Hongkong?" tawar Arsha antusias.


Ziva melihat paspornya tapi bukan perasaan senang yang menyelimutinya tapi perasaan sedih.


"Ziva ...." Kembali menundukkan kepala dan memilih tidak melanjutkan ucapannya.


"Ada apa sayang, apa kau tidak ingin pergi?" Arsha bertanya dengan lembut karena saat ini dia tahu betul raut wajah istrinya itu terlihat tidak senang.


"Kau ingin pergi kemana?" timpalnya.


Ziva menatap wajah Arsha beberapa saat lidahnya serasa kelu mengutarakan keinginannya ada rasa takut jikalau suaminya itu marah.


"Apa Kakak akan marah jika kita tidak ... pe- pergi?" tanya Ziva terbata bata.


"Apa!" Arsha menatapnya penuh kekecewaan.Rasanya perjuangannya sia-sia mempersiapkan semuanya untuk memberi istrinya itu kejutan padahal Arsha berpikir Ziva akan sangat senang tapi malah sebaliknya.

__ADS_1


"Sudahlah sebaiknya Kakak pergi bekerja dan kamu kuliah sana!" Arsha bangkit dari duduknya.Nada bicaranya terdengar begitu menyiratkan kekecewaan membuat Ziva merasa bersalah.Ziva langsung bangkit dan memeluk tubuh suaminya dari belakang. Air matanya menitik seiring dengan dekapan eratnya.


"Bisakah kita pulang ke Bandung Kak?Ziva ingin membuat ibu dan ayah senang selama ini kita selalu berada disini?Aku ingin kita kembali mengenang masa kecil kita dulu," ungkap Ziva.


Mendengar itu Arsha langsung membalikkan badannya dengan senyum tipis menghiasi sudut bibirnya.Arsha menganggukkan kepalanya seraya mengecup kening Ziva lembut.


"Ayo kita berangkat sekarang, nanti kita bisa sampai di rumah bareng ibu." Arsha menarik kopernya lalu menggandeng tangan Ziva melangkah kaki keluar dari apartemennya.Setelah mengunci pintu langkahnya mengayun menuju lift lalu turun ke besment.


"Apa kamu sudah siap?" Arsha bertanya saat keduanya sudah berada di dalam mobil.


Saat Ziva menganggukkan kepalanya mobil pun melaju meninggalkan tempat itu. Perjalanan 3 setengah jam akan ditempuh mereka untuk sampai ke tempat tujuan.


***


Mobil Arsha terhenti tepat di halaman yang cukup luas. Nampak seorang pria paruh baya keluar dari dalam rumah itu dengan membawa buku yang cukup besar. Pria itu adalah orang kepercayaan Hermawan yang sudah bekerja di keluarga itu sejak Arsha kecil.Arsha segera keluar dari dalam mobilnya.


"Mang Heri," sapa Arsha.


"Den Shaka." Heri menyapa balik dengan melempar senyum tipis.


Ziva yang masih di dalam mobil segera keluar.


"Selamat ya Den, dengar-dengar den Shaka sudah nikah sama mbak Ziva?" tanya Heri, mengulurkan tangan memberi selamat dengan segera Arsha menjabat tangan Heri.


"Alhamdulilah Mang Heri, jodohnya nggak jauh-jauh." Arsha merangkul bahu Ziva dengan senyum lebar memperlihatkan kebahagiaannya.


"Kalian memang sudah Mamang prediksi bakal nikah suatu saat dan prediksi Mamang benar," ungkap Heri.


Pria itu melanjutkan langkahnya setelah cukup puas berbincang dan sengaja tak ingin berlama-lama karena tahu mereka pasti lelah.


"Apa ibu sudah sampai?" Arsha merangkul bahu istrinya itu melangkah menuju pintu yang terbuka.


"Assalamualaikum,Bu," sapa Arsha.

__ADS_1


Keduanya memasuki rumah itu. Terdengar derap langkah mendekati mereka.


__ADS_2