Terpaksa Menikah Diusia Belia

Terpaksa Menikah Diusia Belia
Bab 34 ( Pelakor Minggir! )


__ADS_3

Sekitar jam 1 siang Arsha bergegas ke restoran xxx sesuai permintaan Kanaya. Beberapa menit sebelumnya Kanaya mengirim pesan singkat mengingatkan Arsha agar tidak melupakan janjinya.Arsha turun ke besment menuju parkiran lalu melajukan mobilnya menuju restoran xxx.


Sekitar 15 menit Arsha tiba di restoran karena memang restoran itu tidak jauh dari kantornya.Terlihat Kanaya sudah berada di dalam restoran itu kemudian melambaikan tangannya menyapanya.


Arsha kemudian duduk berhadapan dengan Kanaya yang saat itu tampil mempesona.Gadis itu nampak cantik dengan balutan dress selutut berwarna biru laut degan aksen pita di dada nampak membuatnya semakin manis.Rambut panjangnya tergerai sesekali dikibaskannya memperlihatkan leher jenjangnya membuat setiap pasang mata lelaki di restoran itu menatapnya kagum.


"Akhirnya kamu datang juga." Kanaya tersenyum manis menyambut Arsha.


"Pasti aku datang karena aku sudah berjanji,kan?" Arsha tersenyum menatap Kanaya.


Deg


"Kenapa hatiku berdetak kencang melihatmu tersenyum padaku, sepertinya aku sudah gila," batin Kanaya.


Setelah selesai makan mereka berbincang sejenak.


"Oh iya dimana Kamu tinggal?" Kanaya memulai perbincangan.


"Aku tinggal di apartemen x." Jelas Arsha.


"Kamu tinggal dengan orang tuamu?" tanya Kanaya.


"Aku tinggal dengan Adikku," Jelas Arsha.


Arsha menatap jam tangannya.


"Maaf ya kau harus segera kembali ke kantor, kalau kamu mau aku bisa mengganti biaya perbaikan mobilmu karena menurutku makanan ini tidak sebanding dengan kerugianmu," tawar Arsha.


Kanaya menggelengkan kepalanya."Tidak perlu, aku sudah menolaknya kemarin,kan?"


"Baiklah aku pergi dulu." Arsha melangkah pergi meninggalkan tempat itu setelah membayar makanan itu sementara Kanaya tersenyum menatap Arshaka.


"Aku semakin penasaran denganmu," batin Kanaya.


***


Ziva duduk lemah di sofa setelah sampai di apartemennya.Setelah kemarin jam kosong di kelasnya, hari ini begitu padat pelajaran membuatnya lelah.


Jam menunjukkan pukul 3 sore.Arsha sempat mengirim pesan singkat padanya memberitahu akan pulang telat hari ini.


.


.


"Ziva, kenapa tidur disini?" Arsha mengelus pipi Ziva lalu mengecup keningnya sekilas berusaha membangunkan.

__ADS_1


Ziva terbangun menggeliat." Uhh ... nikmat sekali tidur siangku."


"Kenapa nggak tidur dikamar malah tidur disini?" tanya Arsha.


"Ziva ketiduran disini." Ziva menunjuk bajunya yang masih lengkap memakai seragam sekolah karena terlalu lelah membuatnya mengantuk dan ketiduran.


"Dasar Kamu,sana mandi!" Arsha mengacak rambut Ziva gemas.


Ziva kemudian masuk ke kamarnya lalu beberapa menit kemudian keluar kamar menuju kamar mandi sementara Arsha masuk ke kamarnya.


Setelah selesai membersihkan diri, Ziva ikut duduk di depan televisi sambil membawa beberapa buku mengerjakan pr matematika.


Arsha keluar kamar kemudiaan duduk di samping Ziva.


"Ngapain Kamu Va?" Arsha fokus menatap buku Ziva.


"Ngerjain pr matematika ya,perlu kak Arsha bantuin?" tawar Arsha.


"Ziva bisa kok!sana mandi,bau." Ziva menutup hidungnya sementara Arsha mencium bau tubuhnya sendiri Lalu meletakkan ponselnya di meja beranjak ke kamar mandi.


Drt ... drt ... drt


Ponsel Arsha bergetar tanda notifikasi masuk.


Drt ... drt ... drt


"Siapa sih dari tadi kok bergetar terus." Kesal Ziva mengambil ponsel lalu membukanya.Ziva dan Arsha sama-sama mengetahui sandi ponsel mereka membuat Ziva leluasa membuka ponsel Arsha.


Ziva membuka pesan singkat di whxxx tertulis Kanaya lalu membuka pesan itu.


'Terima kasih ya Arshaka telah mentraktirku tadi lain kali aku yang akan traktir' pesan pertama Kanaya.


'Oh iya kamu meninggalkan sapu tanganmu tadi,aku sudah mengambil dan mencucinya kalau kita ketemu aku akan mengembalikannya' pesan kedua Kanaya.


Ziva membelalakkan matanya membaca pesan Kanaya di ponsel Arsha.


"Siapa ini Kanaya?"batin Ziva menaruh curiga.


Arsha keluar dari kamar mandi dan melihat Ziva menatap layar gawainya.


"Apa ada telepon penting?" tanya Arsha.


"Iya ini ada pesan dari Kanaya,berterima kasih karena kamu sudah mentraktirnya juga katanya kamu meninggalkan sapu tanganmu tadi terus katanya udah dibawa dia dan dicuci," jelas Ziva ketus lalu menaruh ponsel Arsha kasar.


Arsha menyadari perubahan sikap Ziva lalu duduk disampingnya.

__ADS_1


"Kenapa, kamu cemburu?" Arsha membelai rambut Ziva.


Ziva segera menangkis tangan Arsha dari kepalanya.


"Kanaya itu cuma orang yang pernah aku tabrak sampai mobilnya ringset.Dia tidak mau aku mengganti rugi dan sebagai gantinya dia ingin aku mentraktirnya makan siang itu saja nggak lebih," Jelas Arsha.


"Oh ... jadi maksud Kakak, dia bisa memperbaiki mobilnya yang ringset tapi dia tidak mampu membeli makanan di restoran.Apa Kakak sadar, itu hanya alasannya untuk bisa dekat dengan Kakak!" sentak Ziva.


Ziva begitu marah karena Arsha tidak menceritakan masalah itu padanya malah diam-diam makan siang bersama wanita itu.


"Apa Kakak mulai bosan denganku, bocah ingusan yang tidak secantik wanita itu," umpatnya mengatasi dirinya sendiri.


"Ziva, Kakak mohon jangan salah sangka, Kakak hanya mencintaimu tidak ada wanita lain di hati Kakak selain kamu." Arsha mencekal tangan Ziva berusaha memeluknya tapi Ziva terus berontak.


"Kalau Kakak sudah tidak membutuhkan Ziva lagi, Ziva mau pulang ke rumah Kak Zacky!" ancam Ziva.


Ziva langsung beranjak dari duduknya berlari masuk ke kamarnya dan langsung menguncinya.


"Va buka pintunya sayang, Kakak nggak menyangka akan seperti ini, Kakak pikir ini bukan masalah besar yang harus Kakak ceritakan tapi malah-" Arsha menggantung ucapnya kemudian duduk lemas di depan pintu kamar Ziva.


"Va maafin Kakak, sayang.Sungguh Kakak tidak bermaksud membuatmu marah seperti ini," bujuk Arsha.


"Cepat buka pintunya atau Kak Arsha akan masuk paksa," timpalnya.


Pria itu terus membujuk Ziva agar membuka pintu kamarnya.


Ziva yang berada di kamarnya mondar-mandir memikirkan cara untuk menyingkirkan wanita itu dari suaminya karena tidak mungkin suaminya itu akan melakukannya.


"Ya, aku harus menghempas bibit pelakor itu, sebelum menyebar," batin Ziva meyakinkan dirinya sendiri.


Ziva membuka pintu kamarnya, matanya terlihat merah karena menangis.Saat itu berdiri mematung di depan pintu seketika Arsha bangkit dari lantai lalu memeluk Ziva.


"Kamu percaya Kak Arsha kan, Kak Arsha bersumpah tidak ada hubungan dengan wanita itu," terang Arsha.


"Aku percaya sama Kak Arsha tapi aku tidak percaya dengan wanita itu pasti dia ingin mendapatkan Kakak.Caranya terlalu murahan tapi aku heran sama Kak Arsha sepertinya Kakak memberi kesempatan pada wanita itu untuk menggoda Kakak." tukas Ziva penuh penekanan.


"Mana ponsel Kakak Ziva mau telepon wanita itu." Ziva berjalan ke meja mengambil ponselnya Arsha di meja lalu menghubungi wanita itu.


"Halo Arsha,ada apa?"~Kanaya.


"Maaf ya Saya istrinya Arsha,Saya mohon jangan ganggu suami saya lagi.Kehadiran Anda menganggu kenyamanan kami."~Ziva.


Lalu Ziva memutus sambungan telepon tanpa mendengar panjang lebar suara wanita itu.


"Aku yakin kalau wanita itu punya muka nggak akan gangguin Kakak lagi tapi jika dia punya jiwa pelakor nggak akan menyerah begitu saja," jelas Ziva. Mengembalikan ponsel Arsha ditangannya dengan kasar.

__ADS_1


'Huhhh beres,' batin Ziva.


Ziva masuk ke kamarnya tersenyum lalu menutup pintunya meninggalkan Arsha yang masih mematung di tempatnya. Sementara Arsha masih tidak percaya, Ziva berbuat senekat itu.


__ADS_2