
Dina menatap keduanya sambil beberapa kali mengusap matanya memastikan penglihatannya baik-baik saja tidak sedang berhalusinasi.
"Ibu, kenapa?ini beneran Ziva sama Kak Arsha, Bu." Ziva menarik tangan Arsha mendekat ke Dina yang masih terpaku di tempatnya. Ziva segera memeluk Dina dengan erat meyakinkan bahwa saat ini dirinya benar-benar di depan matanya bukan berhalusinasi.
"Ibu masih tidak percaya kalian disini secepat ini? bukankah tadi pagi Ziva mau pergi ke kampus?" Dina masih nampak bingung dengan kedatangan Arsha dan Ziva karena beberapa jam lalu mereka berpisah dan kini bertemu kembali.
Ziva menarik tangan Dina mendudukan di sofa.
"Ziva dan Kak Arsha memutuskan untuk liburan disini Bu,boleh kan Bu?" tanya Ziva dengan senyum lembutnya.
Bak mendapat kejutan besar seakan tak percaya Dina ternganga mendengarnya.
"Maafkan kami ya Bu, karena selama ini kami selalu sibuk dengan urusan kami sendiri sampai melupakan ayah dan Ibu," ungkap Ziva penuh rasa bersalah.
Arsha pun merasakan hal yang sama selama beberapa tahun ini jarang pulang ke kampung halamannya. Semenjak memperistri Ziva perlahan rasa benci itu memudar. Ziva selalu berusaha meredam emosinya dan bahkan selalu berusaha membuat hubungannya dengan keluarganya terutama ayahnya perlahan membaik.
Dari kejauhan nampak Hermawan menatap keduanya haru bercampur senang. Perlahan mendekat dengan langkah tertatih-tatih.
"Ayah." Arsha bangkit dari duduknya dan langsung membantu ayahnya berjalan menuju Dina dan Ziva duduk.
Ziva lalu mencium tangan ayah mertuanya dengan sopan setelah ayah mertuanya itu duduk begitu juga dengan Arsha langsung memeluk ayahnya.
"Bagaimana keadaan Ayah?" tanya Arsha.
"Ayah baik-baik saja." Hermawan menjawab pertanyaan Arsha dengan lancar tidak seperti saat terakhir kali bertemu.
__ADS_1
"Ayah menjawab pertanyaanku dengan lancar dan bahkan Ayah sudah bisa berjalan." Arsha berdecak senang.
Arsha menatap wajah ayahnya dengan senyum bahagianya. Terlihat wajah ayahnya nampak begitu segar. Raut bahagia juga nampak tersirat membuatnya kembali mengingat hubungannya dulu dengan ayahnya. Hubungan yang tidak pernah baik karena ego masing-masing. Senyum ayahnya itu begitu membuatnya bahagia setelah sekian lama senyum itu tidak pernah mekar sekalipun.
"Ayah terus melakukan terapi agar cepat sembuh karena Ayah sudah tidak sabar ingin segera menimang cucu. Ayah berusaha keras untuk itu," ungkap Dina.
"Arsha janji sama Ayah dan Ibu akan secepatnya memberikan cucu, iya kan sayang?" Arsha melirik sekilas Ziva membuat Ziva mau tidak mau mengiyakan ucapan suaminya itu.
***
Saat malam hari
Ziva sudah bersiap tidur di ranjangnya.Waktu menunjukkan pukul 9 malam.Suasana di kampung itu sudah sepi di jam yang masih terbilang sore di kota besar tapi saat di kampung jalanan sudah nampak sepi hanya beberapa motor yang lalu lalang itu pun sangat jarang.Suara burung yang terdengar dan membuat suasana malam itu nampak begitu hening.
"Kak bagaimana menurutmu kalau malam-malam seperti ini kita lalui setiap malam? rasanya begitu nyaman dan tenang," ungkap Ziva.
"Kak!" pekik Ziva.
Ziva langsung bangkit dari tempat tidurnya lalu berdiri di dekat jendela menatap luar jendela yang nampak gelap.
Arsha tahu betul saat ini istrinya itu sedang merajuk.Saat di desa pun pekerjaan menjadi prioritasnya membuatnya tidak fokus mendengarkan ucapan Ziva.
"Maaf sayang, Kakak sedang mengecek laporan dari Er-"
"Sebaiknya Kakak kembali ke Jakarta dan bekerja saja tidak usah mengurusi aku!" sergah Ziva memotong ucapan Arsha kembali ke tempat tidur menjauh dari Arsha.
__ADS_1
"Sayang,maafkan Kakak." Arsha duduk tepat di hadapan Ziva sambil memohon.Digengamnya tangan Ziva sambil diciumnya.Ziva nampak masih kesal hingga malas menatap wajah Arsha yang terus berusaha meluluhkan hatinya.
"Sayang, Kakak mohon." Arsha terus memohon.Perlahan Ziva mulai kembali menatap wajah suaminya itu menampakkan senyum yang mulai mengembang.
"Hahahaha." Ziva tertawa terbahak-bahak aksinya berhasil membuat prank ngambek. Arsha langsung mencubit pipinya gemas tapi dalam hatinya lega karena Ziva tidak benar-benar marah seperti dugaannya.
"Auu, sakit Kak." Ziva merengek kesakitan.Arsha langsung mendaratkan kecupannya di kening Ziva sementara Ziva langsung mendekap tubuh atletis suaminya membuat Arsha spontan mendorong tubuh Ziva jatuh terpental di ranjang.
"Apa kau siap dengan ucapanmu tadi siang?" Arsha tersenyum menyeringai dengan pertanyaannya.
"Ucapan yang mana?" Ziva balik bertanya seakan tidak mengerti arah pembicaraan suaminya padahal saat ini Ia tahu betul suaminya tengah meminta kesanggupannya segera memberi cucu untuk ibu dan ayah mertuanya.
"Apa perlu Kakak ingatkan?" Arsha memutar mata malas dengan pertanyaannya.
"Aku masih 20 tahun,Kak. Aku belum siap menjadi seorang ibu," ungkap Ziva.
Ada rasa bersalah ketika harus mengatakan kerisauannya apalagi harus mengatakannya langsung kepada mertuanya tapi itulah yang kini mengganjal pikirannya. Arsha mengelus kening Ziva seakan mengerti kerisauan yang kini menghantui istrinya itu.
Saat masih berstatus pelajar sudah harus menjadi seorang istri walaupun dulu Arsha tidak pernah sekalipun memaksa Ziva menganggapnya sebagai seorang suami melainkan Kakak tapi Ziva tetaplah kehilangan masa mudanya untuk bersenang-senang seperti teman-teman sebayanya.Setelah semua dilaluinya dengan tidak mudah kini dia tidak ingin memaksanya lagi untuk segera mengandung buah cintanya tapi terkadang keadaan membuatnya sulit dimana kedua orang tuanya sudah tidak sabar ingin segera menimang cucu darinya.
Arsha menghela nafas panjang lalu menghembuskannya. "Baiklah Kakak akan menunggumu sampai kamu siap."
Ziva langsung memeluk tubuh suaminya serasa suaminya itu tahu betul bagaimana perasaannya kini.
Dari balik pintu luar kamar seseorang tengah menguping pembicaraan dua orang yang berada didalam sana membuatnya sedikit kecewa.
__ADS_1
"Ini tak bisa dibiarkan,aku harus melakukan sesuatu," ujarnya.