Terpaksa Menikah Diusia Belia

Terpaksa Menikah Diusia Belia
Bab 86 ( Wanita Berhati Iblis)


__ADS_3

Mobil Kanaya berhenti di depan hotel mewah yang juga merupakan hotel milik keluarganya.


"Kenapa kita berhenti disini bukannya kita harus ke bandara secepatnya kalau tidak kita akan ketinggalan pesawat."


Arsha terlihat bingung akan tujuan atasannya itu.


"Kita harus menghadiri pesta pernikahan teman baikku jadi setelah mengucapkan selamat kita akan pergi," jelas Kanaya.


Keduanya yang sudah turun dari mobil langsung disambut dua pria yang langsung menarik tangannya.


"Tunggu!Ada apa ini?" Arsha menghempas dua pria yang menariknya dengan paksa tapi karena tubuh kedua pria itu begitu kekar tidak membuat keduanya bergeser dari tempatnya. Kanaya yang menatap Arsha merasa tidak nyaman langsung memberi kode kepada kedua pria itu untuk melepaskan Arsha karena tidak ingin Arsha curiga sehingga gagal rencana yang telah disusunnya dengan rapi.


"Ikut saja mereka hanya ingin kau berganti pakaian yang lebih baik," sahut Kanaya dengan serigai liriknya.


Akhirnya Arsha mengikuti kemauan Kanaya karena dia ingin segera menyelesaikan semua lalu menuju bandara.


Arsha yang sudah selesai berganti pakaian dan dirias tipis duduk di ruangan itu tapi saat itu perasannya merasakan sesuatu yang janggal karena tempat itu sangat sepi hanya beberapa tamu hotel yang lalu lalang disana.


"Tidak mungkin." Tepis Arsha menghilangkan keraguan hatinya.


Dua pria itu kembali datang tapi kali ini keduanya bersikap penuh hormat.


"Mari Tuan acaranya sudah dimulai,anda sudah ditunggu," ucap salah seorang pria.


Arsha langsung bangkit dari duduknya mengikuti keduanya pria yang akan menunjukkan kepadanya tempat acara itu di gelar.


"Silahkan Tuan." Kedua pria itu mundur dan memberi jalan Arsha untuk melanjutkan langkahnya menuju kursi yang telah disiapkan.

__ADS_1


"Ada apa ini?" Arsha menatap sekeliling ruangan itu yang tidak nampak seperti acara pernikahan.Selain sepi,tidak ada pelaminan juga yang nampak hanya Kanaya yang duduk disebuah kursi menunggunya.Senyumnya mengembang saat pria yang sebentar lagi menjadi suaminya itu menatapnya dengan seksama.


"Apa sebenarnya ini?" batin Arsha terus bertanya-tanya tapi saat itu tidak ada yang memberi tahunya.Perasaanya yang sejak tadi sudah merasa aneh kini semakin aneh apalagi dengan gaun yang dipakai Kanaya lebih seperti seorang pengantin dan juga setelan jas putihnya tampak serasi dengan pakaian yang dikenakan Kanaya.


"Sayang,ayo."Kanaya menghampiri Arsha yang sejak tadi hanya berdiri di tempat, membuatnya tidak sabar lagi menjadi nyonya Arshaka.


"Sebenarnya apa yang terjadi dan dimana acara pernikahan yang kau bicarakan tadi?"


Lagi-lagi Arsha belum menyadari kelicikan wanita tersebut yang sedang menjebaknya.


"Kau tidak lihat pengantinnya adalah kita berdua." Kanaya bergelayut di bahu Arsha dengan senyum kemenangan.


"Kau gila,aku sudah menikah!" tegas Arsha dengan mata terbelalak. Tangannya mendorong tubuh Kanaya menjauh darinya.


"Kau akan memiliki segalanya bahkan posisi Dirut akan kau dapatkan jika memenuhi keinginanku dan melupakan wanita sialan itu," tawar Kanaya.


Wanita itu tengah dibutakan cinta hingga apapun akan dilakukannya termasuk membuat pria itu mau tidak mau menuruti keinginannya.


Arsha memilih untuk pergi dari tempat itu tapi langkahnya terhenti saat beberapa pria berdiri di depannya.Beberapa bodyguard itu siap meremukkan tulangnya kalau tidak menurut.Tubuhnya ditarik paksa hingga akhirnya duduk bersanding dengan wanita berhati licik itu.


"Kau akan menyesal," umpat Arsha yang terus saja memberontak dari cekalan beberapa pria yang tidak melepas tangannya dari kedua sisi tubuhnya.


"Kau yang akan menyesal!balas Kanaya Cepat nikahkan kami!" perintah Kanaya dengan mata mendelik ke arah penghulu di depannya.


Penghulu itu menuruti saja perintah wanita yang begitu berkuasa itu mengingat ada banyak Bodyguard yang berjaga di tempat itu.


Penghulu itu memulai acara ijab qobul.Saat penghulu itu selesai melafalkan ijab, Arsha tidak mau menjawab membuat Bodyguard yang berdiri dibelakangnya langsung memukulnya bahkan menghajarnya sesuai instruksi Kanaya.

__ADS_1


"Kau akan mati jika tidak menyelesaikan ini secara baik-baik!" ancam Kanaya.


Beberapa kali Arsha terus mendapatkan perlakuan yang sama karena mulutnya terus terkunci rapat membuat Kanaya semakin emosi.Arsha tetap pada pendiriannya walaupun seluruh tubuhnya sudah dipenuhi luka.


"Lebih baik aku mati daripada aku harus menikahi wanita iblis sepertimu!" Pria itu tersenyum puas dengan jawabannya padahal saat itu luka yang memenuhi wajah juga tubuhnya begitu perih.


"Kanaya!"


Suara lantang seorang pria paruh baya yang begitu disegani membuat seluruh orang di ruangan itu terdiam di tempatnya


"Papa." Kanaya terkejut melihat sosok yang akan membuatnya mau tidak mau menurut semua akan perintahnya.


.


.


.


Arsha melangkah menuju apartemennya dengan langkah tertatih-tatih.Saat itu yang ada dipikirannya hanya satu, segera bertemu dengan wanita yang begitu dicintainya.


Arsha sadar selama ini telah terjebak dalam jerat Kanaya hingga mengabaikan istrinya sendiri tapi tidak pernah sekalipun pria itu bermain gila dengannya karena yang dilakukannya hanya untuk membalas budi tidak lebih.


Kelicikan Kanaya lah yang membuat seolah-olah pria itu bermain gila dengannya padahal yang dilakukan Arsha hanya sebatas seorang bawahan kepada atasan.


Arsha tetap tak menemukan keberadaan Ziva walaupun sudah mencarinya di seluruh ruangan itu.


Arsha mencoba menghubungi ponselnya untuk menanyakan keberadaannya tapi saat itu ponsel Ziva berdering di dalam kamarnya membuat harapannya untuk mengetahui keberadaannya pupus sudah.

__ADS_1


"Kau kemana sayang?jangan membuatku menyesal seumur hidup karena telah melukai hatimu," gumamnya dalam hati.


Perih luka yang memenuhi tubuhnya tidak sebanding dengan rasa penyesalannya yang begitu besar karena melukai hati orang yang dicintainya hingga pergi meninggalkannya.


__ADS_2