
"Aku merasa aneh dengan Ziva. Aku merasa dia sedang menyembunyikan sesuatu dariku." Arsha menatap Ziva penuh kecurigaan.
Sementara Ziva duduk termenung memikirkan sesuatu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Sebaiknya aku mengatakan semuanya atau aku terus menyembunyikannya?tapi si gila Alvin itu pasti akan terus merepotkanku. Aku tidak ingin Kak Arsha mengetahuinya bukan darinya.
"Aku takut nanti malah terjadi salah paham," batin Ziva. Ziva bangkit dari duduknya sambil mondar-mandir memikirkan kegelisahannya. Sekitar 10 menit Ziva akhirnya membulatkan tekadnya untuk menceritakan semua pada Arsha setelah berpikir panjang.
Ziva melangkah keluar dari kamar. Terlihat keberadaan Arsha duduk di sofa fokus di depan laptopnya. Ziva menuju dapur diambilnya cangkir dan diseduhnya kopi instan latte kesukaan Arsha dan segera membawanya ke tempat Arsha berada.
"Aku membuatkan kopi untuk Kakak." Ziva meletakkan cangkir kopi di meja lalu ikut duduk disamping Arsha.
"Apa yang sedang Kakak lakukan?" Ziva menyenderkan dagunya di bahu Arsha sambil menatap layar laptop yang begitu ruwet baginya.
Arsha mengecup pipi Ziva sekilas sedikit merilekskan otaknya sesaat.
"Kok cuma dikit," protes Ziva meminta kecupan yang lebih lama.
"Apa kau sengaja menggoda Kakak sepertinya kau ingin mengabulkan permintaan ibu." Arsha tersenyum menyeringai.
"Permintaan ibu yang mana?apa uang sedang Kakak rencanakan?" Ziva menatap curiga.
__ADS_1
Arsha hanya tersenyum berharap Ziva menemukan jawaban pertanyaannya. Melihat senyum yang begitu mencurigakan akhirnya Ziva mengerti maksud ucapan Arsha.
"Kakak!" umpat Ziva sambil membelalakkan kedua matanya. Arsha terkekeh menanggapi kekesalan Ziva. Tatapannya begitu dalam menatap istri kecilnya itu.
Tepat hari ini adalah anniversary ulang tahun pernikahannya yang ke 2. Dulu saat Ziva masih berstatus pelajar dirinya tidak pernah mengingat momen seperti ini karena Arsha tahu dirinya hanya ingin Ziva fokus bersekolah tanpa membebaninya dengan status seorang istri. Kini setelah semua terlewati dengan baik tidak ada lagi yang perlu disembunyikan bahkan rasanya kini ingin memberi tahu seluruh dunia bahwa Zivana Aysilla Airene adalah miliknya.
"Apa kau ingat hari ini?" Arsha menutup laptopnya fokus menatap Ziva disampingnya.
"Hari ini?" Ziva berpikir keras mengingat.
"Hari ini hari Rabu kan," timpalnya.
Arsha nampak sedikit kesal mendengar jawaban Ziva seketika mengalihkan pandangannya kembali fokus ke layar laptopnya.
"Maaf Kak,Ziva benar-benar nggak tahu. Memang hari ini-" Ziva terbelalak menatap fokus ponselnya pengingat di ponselnya baru saja terbaca olehnya.
"Happy Anniversary, Sayang," ucapnya. Kecupan hangat mendarat di pipi Arsha membuat pria itu seketika meleleh kemarahannya. Arsha merespon kecupan Ziva dengan ******* bibirnya mesra.
"Terima kasih sayang sudah menemani Kak Arsha selama 2 tahun ini. You are my everything." Arsha kembali memagut bibir Ziva lebih dalam dan lama sekitar 1 menit. Ziva langsung mendekap tubuh Arsha. Air matanya menitik merasakan cinta yang begitu besar dan tulus dari seorang laki-laki yang berstatus suaminya.
"Apa kau tidak meminta sesuatu dari Kakak,biasanya kau selalu menginginkan sesuatu handphone baru atau-."
__ADS_1
"Sudah cukup Kak Arsha sudah memberikan semua padaku jadi apalagi yang Ziva inginkan selain selalu bersama Kakak," sergah Ziva memotong ucapan Arsha.
Arsha tersenyum. "Kau sudah dewasa, Sayang." mengusap lembut wajah Ziva. "Tapi Kak Arsha punya sesuatu untukmu." Arsha mengambil sesuatu dari tasnya sebuah kotak hadiah.
"Apa ini,kenapa Kakak repot-repot memberiku hadiah." Ziva langsung mengambil kotak hadiah itu dari tangan Arsha.
"Cepat buka!" perintah Arsha.
Senyumnya terus menghiasi pipinya.
Ziva langsung membuka kotak persegi panjang itu tanpa berpikir panjang. Tampak sepasang buku berwarna merah dan hijau berada di dalam kotak itu.
"Apa ini Kak,buku nikah." Ziva merekahkan senyum di bibirnya menatap sepasang buku nikah yang menandakan kini pernikahannya legal secara hukum.Ziva antusias membaca buku itu yang bertuliskan nama Arshaka Attharazka dan namanya tertulis di dalam buku itu.
"Sebelum kau meminta meresmikan pernikahan kita, Kakak sudah lebih dulu mendaftarkan pernikahan kita di KUA. Kakak mempersiapkan ini sebagai hadiah anniversary kita," ungkap Arsha.
"Kakak." Ziva begitu terharu kembali air matanya tumpah mendengar pengakuan Arsha. Selama ini dia berpikir hanya dia yang menginginkan pernikahannya diresmikan tapi ternyata suaminya jauh lebih dulu mempersiapkan semuanya sebagai hadiah pernikahan untuknya.
"Jangan menangis bukankah seharusnya senyuman yang kini harusnya menghiasi bibirmu." Arsha mengusap air mata Ziva.
"Aku terlalu bahagia Kak dan air mata ini air mata kebahagiaan. Selama ini aku berpikir Kakak tidak serius denganku tapi aku salah. Maafkan Ziva Kak." Ziva berucap penuh rasa bersalah.
__ADS_1
"Sudah sana pergi ganti baju dan dandan secantik mungkin. Kakak ingin mengajakmu dinner!" perintah Arsha. Ziva mengangguk beranjak dari duduknya melangkah menuju kamarnya.