Terpaksa Menikah Diusia Belia

Terpaksa Menikah Diusia Belia
Bab 52 ( Bersikap Bijak )


__ADS_3

Ziva berusaha menghubungi Zacky.


"Ada apa Va menelepon Kakak malam-malam begini?"~Zacky.


"Kakak di mana?"~Ziva.


"Apa maksudmu, Kakak di rumah."~Zacky.


"Apa mungkin ada acara di kantor?kak Arsha belum pulang."~Ziva.


"Sepertinya tidak ada kalaupun ada Kakak pasti juga tahu."~Zacky.


"Begitu ya Kak, ya udah Ziva matiin teleponnya dulu."~Ziva.


Ziva memutus sambungan telepon.


"Apa yang sebenarnya terjadi nggak biasanya Kakak seperti ini?" lirih Ziva gelisah dengan keberadaan Arsha.


***


Keesokan paginya


Ziva terperanjat dari tidurnya mendengar alarm di ponselnya berdering.Ditatapnya wajah yang tidur pulas di sebelahnya lalu mengelus lembut.


Cup.


Kecupannya mendarat di kening suaminya.Kemarin malam hatinya begitu risau karena suaminya itu tak kunjung pulang bahkan saat dia memutuskan tidur pikirannya masih melayang memikirkan keberadaan suaminya itu.


"Ada apa?" Arsha terbangun merasakan usapan tangan juga kecupan Ziva.


"Kak Arsha dari mana, kenapa tidak menelepon Ziva?"


Ziva mencoba mencari tahu apa yang di lakukan suaminya sampai pulang larut malam.


"Kak Arsha pergi ke acara ulang tahun Kolega perusahaan," jelas Arsha.


"Kak Arsha pergi dengan siapa?" Ziva menatap tajam Arsha.


"Kak Arsha- " Arsha menghentikan ucapannya dan berpikir sejenak.


"Kak Arsha pergi dengan Kanaya, dia memintaku untuk menemaninya," sambungnya.


"Sudah kuduga," gumam Ziva dalam hati.


"Oh."


Ziva berekspresi datar lalu beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi.Arsha terdiam mencerna sikap Ziva yang biasa saja saat diberitahu kalau pergi dengan Kanaya padahal Arsha sempat berpikir istrinya itu akan marah besar.


"Syukur kalau dia tidak marah berarti tidak ada masalah yang harus aku risaukan," leganya.


Saat Kanaya meminta untuk pergi bersamanya sebenarnya Arsha ingin meminta izin terlebih dahulu tapi Arsha mengurungkan niatnya karena tidak ingin Ziva berpikiran yang tidak-tidak.Sebagai bawahan dia juga tidak mampu menolak tawaran Kanaya karena menyangkut reputasi perusahaan juga.Akhirnya dia memutuskan untuk mengatakan alasannya itu saat berada di rumah tapi nyatanya Ziva tidak ingin membahasnya lebih jauh.


Ziva keluar dari kamar mandi dengan badan yang lebih segar setelah mandi.Ziva bergegas menuju ke dapur untuk membuat sarapan.Ziva membuat scrambled egg dan menggoreng sosis serta membakar roti untuk sarapan.

__ADS_1


Arsha yang telah siap dengan baju kerjanya duduk dimeja makan.Ziva melayani Arsha menata roti bakar dengan telur diatasnya dan saos serta mayones.


"Makan, sayang." Ziva menyodorkan piring yang telah siap kepada Arsha.


Arsha terus menatap wajah Ziva tanpa cela mencari apakah ada yang salah dengan wajah itu.


"Mm ... apa kamu tidak marah, sayang?" Arsha memberanikan diri untuk bertanya karena Arsha tidak ingin terjadi salah paham lebih jauh.


"Marah?" Ziva menatap Arsha dengan tatapan biasa seakan Ziva tidak mengerti arah pembicaraan Arsha.


"Marah, aku pergi dengan Kanaya!" Arsha mempertegas pertanyaannya.


"Untuk apa aku marah, Kak Arsha kan sedang pergi bersama Bosmu ke acara yang penting." Ziva sedikit menahan kata-katanya padahal saat itu ingin rasanya dia memaki pria di depannya itu.Batinnya begitu kesal bukan karena pria itu pergi dengan Kanaya tapi karena tidak memberinya kabar sedangkan dia terus menunggu seperti orang bodoh.Sempat terlintas dipikirannya sesuatu yang buruk terjadi padanya tapi setelah seorang wanita menjawab teleponnya Ziva sedikit lega walaupun belum sepenuhnya karena dia tak mengetahui apa yang keduanya lakukan.


"Maafkan Kakak, lain kali Kak Arsha akan meneleponmu."


Ziva tidak merespon ucapan Arsha karena terlalu fokus menikmati sarapannya membuat Arsha mengalihkan topik pembicaraannya.


"Bagaimana kuliahmu, apa kamu sudah menemukan teman baru?" tanya Arsha antusias.


Tiba-tiba Ziva teringat akan Rendy yang ternyata kuliah di tempat yang sama dengannya.


"Aku tidak mau memperparah hubunganku dengan kak Arsha, sudah cukup Kanaya membuat salah paham diantara kita.Rendy bukan masalah yang besar perlahan aku akan mengatakan statusku," gumam Ziva dalam hatinya.


"Ziva, kamu tidak ingin menceritakan pada Kakak?" Arsha kembali bertanya karena Ziva tidak segera menjawab pertanyaannya.


"Ziva punya satu teman, Kayla namanya," cerita Ziva.


"Kayla-Keyla, kenapa namanya mirip sekali apa mungkin mereka juga punya wajah yang mirip atau jangan-jangan mereka saudara kembar?" seloroh Arsha.Arsha membayangkan sosok Kayla mirip dengan Keyla.


Mendengar nama Kayla memang selalu mengingatkan sosok Keyla begitu pula dengan Ziva.Pertama kali Ziva bertemu dengan Kayla Ziva juga sempat berpikir Kayla adalah Keyla tapi seiring waktu Ziva yakin keduanya orang yang berbeda.Ziva juga mempertanyakan kemungkinan Kayla mempunyai saudara kembar tapi Kayla langsung menepisnya.


"Aku merindukanmu, Key," gumam Ziva dalam hati.


Membahas Keyla membuatnya merindukan sahabatnya itu karena sejak kepergian Keyla ke Amerika ia belum pernah mendapat telepon dari Keyla.Akankah Keyla baik-baik saja beradaptasi di lingkungan dan bahkan negara yang berbeda.Kerisauan itulah yang selalu memenuhi benaknya ketika teringat Keyla.


Drt ...


Drt ...


Drt....


Ponsel Ziva bergetar membuat fokusnya langsung berpindah ke ponselnya.Tertera nomer luar negeri di layar ponselnya.


"Mungkinkah?" batin Ziva berdecak senang.


Ziva langsung mengangkat sambungan telepon yang masuk.


"Hai, sayangku." Suara nan lembut menyapanya.


"Ini beneran loe?" Ziva seakan tidak percaya mendengar suara sahabatnya yang begitu dirindukannya.


"Iya ini gue, sahabat elo yang paling cantik dan ngangenin.Dari suara loe, gue tahu pasti loe sangat kangen gue kan?"~Keyla.

__ADS_1


"Dasar loe!" Ziva terus memekarkan senyumnya mendengar suara yang ditunggunya.


"Maaf ya gue baru sempat telepon loe, soalnya gue benar-benar sibuk banget disini."~Keyla.


"Iya nggak pa pa, gue ngerti kok."~Ziva.


"Udah ya gue baru pulang, nanti kita sambung lebih panjang lagi.Gue pengen dengar kisah loe sama pangeran berkuda besi loe."~Keyla.


"Siap, Sayang."~Ziva.


Tut ... tut ... tut.Telepon terputus.


"Siapa?" Arsha menatap tajam Ziva sedari tadi karena mendengar pembicaraan Ziva di telepon dan bahkan senyum istrinya itu terus saja mengembang.Diakhir telepon Ziva memanggil sayang membuatnya menaruh curiga.


Ziva menatap Arsha ada sedikit sinyal-sinyal cemburu terlihat di ekspresi suaminya itu membuatnya ingin lebih jauh melihat suaminya makin cemburu.


"Soulmate aku lah!" ketusnya.


"Soulmate!" Arsha semakin mendelik menatap Ziva.


Ziva beranjak dari duduknya mengambil dasi juga tas kerja Arsha.


"Cepat sana pergi kerja keburu siang!" Ziva menarik tangan Arsha yang telah selesai sarapan bangkit dari duduknya.


Ziva lalu memasangkan dasi Arsha membuat keduanya saling beradu pandang membuat Arsha tidak menyia-nyiakan kesempatan itu begitu saja.


Cup.


Arsha mendaratkan kecupannya di kening Ziva.


"Jangan gerak-gerak hampir selesai nih!" Ziva mendelik kesal karena suaminya terus bergerak-gerak menyulitkannya memasang dasi.


"Katakan padaku siapa yang baru saja meneleponmu?" Arsha mendekap tubuh Ziva erat meminta penjelasan selepas dasinya telah selesai dipasang.


"Orang yang benar-benar aku rindukan dan ku tunggu teleponnya," jawab Ziva.


Arsha berpikir keras siapa yang dimaksud Ziva namun melihat istrinya yang begitu jujur mengatakan langsung terpikirkan olehnya.


"Keyla?" celetuk Arsha.


Ziva menganggukkan kepalanya mengiyakan.


"Oh." Arsha terlihat lega dengan jawaban Ziva.


Arsha mengecup bibir Ziva mesra.


"Tunggu Kak Arsha pulang, Kak Arsha mau minta jatah ke kamu.Sudah lama kita tidak-"


Ziva langsung membungkam mulut Arsha." Sudah sana pergi nanti kamu telat." Ziva memberikan tas Arsha dan mendorongnya segera pergi.


"Cup." Kembali kecupan mendarat di keningnya sesaat sebelum suaminya pergi.


Setibanya Arsha di kantor, Erick sudah menunggunya.Beberapa pekerjaan penting sudah menunggunya untuk segera di selesaikan sampai akhirnya harus segera diserahkan pada atasannya.

__ADS_1


__ADS_2