Terpaksa Menikah Diusia Belia

Terpaksa Menikah Diusia Belia
Bab 47 ( Pulang Sebagai Menantu )


__ADS_3

Ziva terus memandangi piala juga piagamnya diatas meja.Perasan bangga bercampur bahagia kini meliputi perasaannya.Usahanya selama ini tidak sia-sia karena benar kata pepatah usaha tidak akan mengkhianati hasil.


"Ibu bangga padamu sayang." Ayu mencium pipi kanan kiri Ziva saat itu Ziva langsung mendekap tubuh Ayu dengan erat.


"Semua berkat doa Ibu yang tidak pernah berhenti mendoakan Ziva di setiap sujud Ibu." Ziva mengurai pelukannya lalu kembali mencium pipi ibunya.


"Kak Ziva memang hebat,iya kan Kak Arsha?" Zahra melirik Arsha yang duduk disebelahnya.


"Iya Dek, Kak Ziva memang juara." Arsha mengacungkan jempol ke Ziva.


Suasana bahagia itu begitu terasa karena semua orang di ruangan itu begitu bangga dengan prestasi yang ditorehkan oleh Ziva.


"Semua berkat dukungan dan doa kalian, Ziva nggak pernah nyangka akan mendapat kesempatan sebesar ini.Mengingat dulu Ziva selalu dibawah bahkan Ziva selalu mendapat nilai merah.Beberapa kali Ziva mendapat surat peringatan dan hampir di keluarkan dari sekolah." Ziva mengingat kembali dirinya saat dulu begitu berantakan bahkan tidak ada semangat dalam dirinya untuk belajar karena yang terpenting saat itu adalah bersenang-senang.


"Sudah Sayang, lupakan masa itu sekarang pikirkan masa depanmu tapi semua tergantung suamimu.Kalian bisa rundingkan berdua mau lanjut kuliah atau menjadi ibu rumah tangga saja." Ayu melirik Ziva dan Arsha bergantian menyerahkan semua kepada keduanya.


"Tapi Ibu ingin kalian pulang dulu ke Bandung, temui ayah dan ibumu Nak Arsha.Mereka berhak tahu pernikahanmu dengan Ziva walaupun kalian masih sah secara agama tetap saja status kalian sudah menikah," tutur Ayu.


"Iya Bu, Arsha berencana pulang ke Bandung sekalian mengantar Ibu dan Zahra." Arsha menatap Ziva sekilas lalu fokus ke Ayu.


"Kalau gitu Arsha dan Ziva pamit pulang ya Bu." Arsha beranjak dari duduknya.


"Ibu istirahat saja sama Zahra sebentar lagi Kak Zacky pulang." Ziva mencium Ayu kemudian melangkah keluar menuju mobil menyusul suaminya yang lebih dulu masuk mobil.


20 menit kemudian mereka sampai di apartemennya.Arsha langsung membopong tubuh Ziva ke kamarnya begitu masuk kedalam rumahnya.


"Kak turunin Ziva! Ziva meronta dari tangan Arsha membuat tubuh Arsha limbung dan hampir jatuh kalau tidak segera ditahannya. "Diam Va, kalau nggak nanti kita jatuh!"sentak Arsha.


Arsha membawa Ziva berbaring ke ranjangnya.


"Apa Kakak tak boleh mengagumi kecantikanmu, jangan dihapus dulu!" Arsha menatap lekat wajah cantik Ziva yang masih begitu sempurna walaupun sudah beberapa jam.Riasan flawless yang semakin mempertegas kecantikannya.


"Entah kenapa hari ini kamu terlihat sangat cantik bahkan sedari tadi aku tak bisa mengalihkan pandanganku darimu." Puji Arsha yang terus saja menatap lekat wajah istrinya itu


"Jadi menurut Kakak, Ziva hanya cantik dengan riasan tebal seperti ini?" Ziva sedikit mencebikkan bibirnya kecewa karena suaminya memuji hanya saat dirinya bertopeng tebal seperti saat ini.


"Kamu selalu cantik tapi hari ini jauh lebih cantik dan juga hari ini kamu benar-benar membuat Kak Arsha bangga," ungkap Arsha dengan mata berbinar penuh kebahagiaan.


"Lalu apa aku sudah pantas bersanding denganmu?"


"Mm, kamu yang terbaik!" Arsha semakin mendekatkan wajahnya.


tanpa permisi Arsha ******* bibir Ziva membuat keduanya kini berpadu menjadi satu.Keduanya menikmati ciuman yang hangat itu.


"Kak Arsha." Ziva memeluk Arsha setelah keduanya saling melepas ciumannya.


"Apa Kamu bisa memanggilku suamiku?" pinta Arsha.

__ADS_1


"Iya Kak maksudku su - suamiku." Ziva berucap terbata-bata karena menyebut suami terasa begitu aneh serta lidahnya seperti kaku.Sedari kecil dirinya terbiasa memanggil kakak seperti dirinya memanggil kakaknya sendiri.


Arsha menyunggingkan senyum di bibirnya mendengar pertama kalinya Ziva memanggilnya suami.


"Apa Kak maksudku, su- suamiku senang?" Ziva tersenyum menatap Arsha yang terlihat senang.


"Sangat, suamimu ini sangat senang." Arsha mengusap lembut wajah Ziva keduanya saling melempar senyuman.


"Akhirnya setelah aku menunggu hari ini datang juga.Dimana hari, aku tidak peduli lagi dengan orang lain.Hari dimana aku bisa mengatakan pada dunia kalau kamu milikku." Arsha berucap penuh kebahagiaan merayakan hari ini hari yang selama satu setengah tahun ditunggunya.Arsha bersorak penuh kemenangan.


"Tapi Kak gimana dengan ayahmu bagaimana kalau ayahmu menentang hubungan kita?" Ungkap Ziva resah.


"Aku tidak peduli dengan ayahku karena sudah sejak lama ayah tidak menganggapku anak jadi setuju atau tidak bukan masalah bagiku," tegas Arsha.


"Tapi mereka tetaplah orang tuamu,aku tidak ingin Kakak semakin jauh dari mereka."


"Aku juga tidak ingin tapi kalau itu kemauan ayahku harus bagaimana aku selain mengikuti kemauannya."


Ziva terlihat merenung mencerna ucapan Arsha.


"Sudahlah jangan terlalu memikirkan ayahku yang terpenting aku dan kamu saling mencintai." Arsha mencoba tersenyum walaupun dalam hatinya diliputi kegetiran karena kembali ke rumah berarti kembali harus bersiap berdebat dengan ayahnya.


***


Ziva terlihat merenung saat berada di mobil sementara Zahra terus berceloteh di dalam mobil.


"Bu pasti teman-temanku senang aku membawa banyak mainan dari Jakarta," ungkap Zahra.Sebelum pulang Zahra meminta banyak mainan saat pergi ke mall.Ya akal liciknya meminta mainan yang begitu banyak dari kakaknya Zacky juga kakak iparnya Arsha yang tentu saja langsung dituruti keduanya.


"Hah." Ziva terkejut langsung menoleh ke belakang.


"Kakak ini tidur atau apa, Ziva dari tadi nyerocos, Kakak nggak denger!"Zahra mendesis kesal.


"Maaf Kakak nggak dengerin kamu, Dek." Ziva nyengir kuda merasa bersalah karena terlalu fokus dengan pikirannya sendiri.


"Huh." Zahra mencebikkan bibirnya kesal.


"Ada apa Sayang?" Ayu menatap wajah Ziva.


"Ziva nggak pa pa Bu."


"Apa kamu gugup?kalau kamu belum siap kita nggak usah pulang ke rumahku," tawar Arsha.


"Nggak Kak,Ziva siap kok." Ziva mencoba tersenyum padahal gelisah menyelimutinya pikirannya tapi Ziva membulatkan tekadnya dan akan menerima semua konsekuensinya.


"Jangan terlalu khawatir Nak, semua akan baik-baik saja." Ayu mengelus bahu Ziva yang duduk tepat di depannya.


"Makasih Bu." Ziva tersenyum melirik sekilas Ayu lalu kembali menatap ke depan.

__ADS_1


Setelah beberapa jam di perjalanan akhirnya mereka sampai.Ziva menyenderkan tubuhnya diatas sofa. "Lelah sekali." Ziva memukul-mukul kakinya yang terasa pegal akibat perjalanan jauh.


"Ibu akan bikin minum." Ayu meletakkan barang-barangnya beranjak ke dapur sementara Zahra langsung membongkar mainannya yang berada di dalam tas.


"Kak, aku mau main." Zahra berlari keluar membawa mainannya.


"Dasar bocah nggak ada lelahnya." Ziva mengumpat Ziva yang saat itu sudah tidak nampak dari pandangannya.


"Biasa Zahra memang begitu Va, biarkan saja." Ayu membawa minuman dari dapur dan menyajikannya di meja.


"Ayo diminum cuma ada teh manis." Ayu mempersilahkan.


"Nggak pa pa Bu." Arsha kemudian menyeruput teh itu karena memang sangat haus.


"Minum tehnya Sayang."Arsha menyodorkan gelas ke mulut Ziva.Ziva segera meneguk teh yang disodorkan Arsha.Terlihat ibunya tersenyum melihat aksi keduanya.Tentu saja kemesraan keduanya selalu membuat Ayu bahagia.


"Kenapa Ibu tersenyum?" Ziva penasaran karena ibunya terus tersenyum menatapnya dan suaminya.


"Ibu hanya mengingat kejadian yang sama saat kalian kecil.Saat kamu masih berusia 3 tahun, Arsha juga yang membantumu minum karena Arsha yang lebih telaten jagain kamu daripada kakakmu Zacky.Siapa sangka kini kalian berjodoh." Ayu tidak pernah menyangka hal-hal yang Arsha tunjukkan waktu kecil adalah bagian dari menjaga jodohnya.


Arsha pun kembali mengingat momen itu lalu tersenyum."Entah mengapa semua begitu manis semanis teh ini," gumam Arsha.Pria itu kembali menyeruput tehnya.


"Ih Kak Arsha tersenyum." Ziva menatap Arsha yang terlihat tersenyum sendiri seolah mengingat sesuatu yang begitu lucu.


"Kakak ingat waktu kecil kamu galak sekali suka marahin kak Zacky dan Kak Arsha.Kamu judes sekali waktu kecil." Arsha tersenyum mengingat masa kecil mereka.


"Ih Kak Arsha kok bahas itu sih, Ziva jadi malu." Pipi Ziva memerah menahan malu.


"Tapi kamu tetep sama dari dulu, Ziva si ceria.Semua orang selalu senang di dekatmu karena kamu selalu membawa keceriaan," puji Arsha.


"Kak Arsha juga, dari dulu Ziva selalu nyaman berada bersama Kakak karena Kakak selalu sabar menghadapi sifatku yang tidak ada baiknya," sahut Ziva.


"Kalian memang cocok." Ayu lalu melangkah pergi menuju dapur.


.


.


"Bu Ziva ke rumah Kak Arsha dulu ya,nanti malam Ziva pulang terus balik lagi ke Jakarta." Pamit Ziva mencium punggung tangan Ayu begitu juga Arsha.


"Hati-hati ya."


"Iya Bu."


Ziva melangkah keluar rumah bergandengan dengan Arsha menuju mobilnya.


Sekitar 10 menit mereka sampai.Arsha terlebih dulu keluar dari mobil.

__ADS_1


"Tunggu Kak!" Ziva kembali mengingat kejadian terakhir kali ke tempat itu ada rasa khawatir yang begitu besar dalam benaknya.


"Sudah nggak pa pa, Kak Arsha akan lebih bersabar menghadapi Ayah." Arsha menarik paksa tangan Ziva keluar dari mobil.Keduanya bergandengan tangan memasuki rumah itu.


__ADS_2