
"Terima kasih Kak Rendy sudah membantuku." Ziva tersenyum lalu melangkah pergi.
"Ziva apa kamu masih belum bisa membuka hatimu untukku,apa kamu masih bersama laki-laki itu?" pekik Rendy.
"Maaf Kak, Ziva harus ke kelas sekarang." Ziva mempercepat langkahnya karena sudah sangat terlambat.
...----------------...
Ziva keluar dari kelasnya bersama Kayla setelah kelasnya selesai. Keduanya menuju ke arah kantin.
Ziva dan Kayla duduk dan memesan makanan untuk mengisi perut mereka yang sedari tadi sudah keroncongan minta diisi.
"Mana nih oleh-oleh yang loe janjiin?" Kayla antusias menyodorkan tangannya meminta haknya.
"Gue pikir loe lupa." Ziva nyengir menanggapi Kayla.
"Nih." Ziva memberikan sebuah gantungan kunci bertuliskan I Love Jogja kepada Kayla.
"Ih lucu banget,langsung gue pasang nih." Kayla langsung memasang gantungan kunci itu di tasnya.
"Tapi loe ada urusan apa di Jogja?" sentak Kayla.
"Mm... ada deh mau tahu aja!" Ziva bangkit dari duduknya menuju kasir diikuti Kayla yang menggerutu kesal karena sahabatnya itu.
"Mbak makanannya sudah dibayar." Pelayanan kantin menolak uang yang diberikan Ziva untuk membayar makanannya.
"Di bayar gimana mbak,kita belum bayar kan Kay?" Elak Ziva menatap kasir sekilas lalu menatap Kayla.
"Iya mbak." Kayla membenarkan.
Kasir di itu menunjuk seseorang yang duduk di sebuah kursi di kantin itu membuat Ziva dan Kayla langsung menoleh ke arahnya.
"Siapa sih dia?" Ziva beranjak ingin mendatangi laki-laki itu yang tampak memandangnya dengan seringainya.
Kayla menarik tangan Ziva menghentikannya membuat Ziva menatap tajam Kayla.Kayla Manarik tangan Ziva keluar dari kantin tanpa menjelaskan membuat Ziva semakin kesal akan tingkah Kayla.
"Loe!" Ziva menunjuk kesal wajah Kayla.
"Sebaiknya Loe nggak berurusan sama laki-laki tadi.Alvin dia seorang playboy di kampus ini!" Kayla memperingatkan.
"Siapa memang laki-laki tadi?aku tidak peduli. Aku hanya ingin mengembalikan uangnya,"seru Ziva.
Gadis itu kembali masuk ke dalam kantin. Langkahnya yang pasti tanpa rasa takut sedikit pun menuju meja laki-laki itu duduk.
"Ini!" Ziva menaruh selembar uang seratus ribuan ke meja sambil sedikit menggebrak meja itu.
"What ... santai Baby," celetuk seorang pemuda.
"Maaf saya tidak menerima sumbangan uang anda karena saya yang makan jadi saya yang bayar!" tegas Ziva.
Keempat mahasiswa itu di buat takjub akan sikap Ziva.
"Gadis itu sangat menarik." Alvin berdecak kagum menatap gadis yang mulai menjauh itu.
"Menarik?gadis itu sangat kasar Vin biasanya setiap gadis akan bertekuk lutut di hadapanmu tapi dia-." Alvin langsung membungkam mulut sahabatnya itu.
__ADS_1
"Jangan bicara apapun tentang gadis itu karena aku menyukainya." Alvin tersenyum menyeringai.
Ketiga sahabatnya itu mengangguk karena segala sesuatu yang diinginkannya harus menjadi miliknya termasuk gadis itu.
Alvin segera mengirim perintah kepada seseorang untuk menyelidiki gadis yang membuatnya terpesona itu.
...----------------...
Ziva kembali kerumahnya setelah sempat jalan-jalan ke mall bersama Kayla. Ziva membaringkan tubuhnya diatas ranjang sambil memejamkan matanya.
"Ibu." Ziva tersentak mengingat sesuatu segera bangkit dari tempat tidur mengambil ponselnya di dalam tasnya.
Setelah 2 kali memdengung akhirnya teleponnya di jawab.
"Ibu, bagaimana keadaan ayah?"~Ziva.
"Ayah sudah di bawa pulang Va tapi ayah mengalami kelumpuhan membuat ayah kini hanya bisa berdiam di atas tempat tidur."~Dina.
"Ayah.Maafkan Ziva Bu karena Ziva tidak berhasil membujuk Kak Arsha."~Ziva.
"Bukan salahmu, Nak. Ibu mengerti kenapa suamimu berbuat demikian. Selama ini ayah sudah sangat keterlaluan. Ibu mohon padamu jaga anak ibu, dukung dia selalu."~Dina.
"Ziva mengerti Bu.Salam buat ayah, Bu.~Ziva.
Ziva mengakhiri teleponnya.
Ting tong
Ting tong
Terdengar bel rumah berbunyi.
Seorang kurir mengantar barang yang berdiri di depan pintu rumahnya.
"Dengan Mbak Zivana?" tanya kurir itu.
"Iya," sahut Ziva.
"Silahkan diterima Mbak dan tolong di tanda tangani." Kurir itu memberikan buket bunga mawar merah serta kertas.
Ziva menerima bunga itu dan melihat siapa pengirim di bunga itu.
Semoga kamu menyukai bunga ini.Walaupun kecantikan bunga ini tak sebanding dengan kecantikanmu tapi aku harap kau menyukainya. Ttd Alvin Handoyo.
Begitu surat yang tertulis di kertas yang di sematkan di bunga itu.
"Mas," panggil Ziva. Kurir itu melangkah kembali dimana Ziva berdiri.
"Iya Mbak?" tanyanya.
"Tolong kembalikan ini ke pengirimnya mungkin dia salah kirim!" perintah Ziva.
"Maaf Mbak tidak bisa. Saya hanya di tugaskan mengirim." Kurir itu melangkah pergi meninggalkan Ziva.
Ziva menatap bunga itu dan kembali membaca tulisan di bunga itu.
__ADS_1
"Alvin Handoyo. Siapa dia?" Ziva kembali masuk ke dalam dan meletakkan bunga itu di meja ruang tamu rumahnya. Langkahnya mengayun menuju kamarnya.
Drt ... drt ... drt .... Ponsel Ziva bergetar di atas ranjang.
"Siapa?" Ziva menatap bingung layar ponselnya.
Ziva langsung menjawab telepon masuk itu.
"Iya siapa nih?"~Ziva.
"Apa kamu sudah menerima bunganya,apa kamu menyukainya?"~Alvin.
"Siapa sebenarnya kamu,kenapa mengirim bunga padaku?"~ Ziva.
"Kamu tidak mengetahui siapa aku baru beberapa jam kita bertemu!"~Alvin.
Ziva termenung sesaat mengingat ucapan Kayla saat di kampus tadi.
"Kamu! dari mana kamu tahu rumahku juga nomer teleponku?"~Ziva.
"Itu sangat mudah bagiku. Kau menjadi wanita beruntung selanjutnya."~Alvin.
"Cih ... jangan pernah lagi meneleponku atau menggangguku dengan omong kosongmu itu!"~ Ziva.
Ziva langsung memutus sambungan teleponnya dan menonaktifkan nomer teleponnya. Dilemparnya ponsel itu di atas ranjang hingga memantul keatas.
Ziva nampak kesal kenapa dia memilih tempat di kuliah seperti ini. Dari Rendy dan sekarang Alvin dan bahkan satu lagi gadis yang mengganggunya tadi.
"Huh!" Ziva berdecak kesal menjambak sendiri rambutnya.
Universitas Ziva adalah universitas pilihan hanya orang-orang terpilih dan pandai serta anak-anak orang kaya yang bisa memasuki tempat itu. Ziva merasa bangga bisa masuk ke universitas itu tapi kini merasa kecewa. Sebulan kuliah di sana sudah banyak gangguan yang menghadangnya.
"Ziva!" teriak Arsha.
Ziva tersentak dengan teriakan Arsha. Ziva segera menuju Arsha yang memanggilnya. Arsha menatapnya tajam dengan bunga di tangannya.
"Sial!apalagi ini?" batin Ziva.
Ziva melangkah mendekati Arsha dengan langkah sedikit menahan.
Masih dengan tatapan tajamnya, Arsha melempar bunga di tangannya ke lantai.
"Jelaskan!"
"Aku menemukan bunga itu di depan rumah kita Kak,mungkin salah kirim," jelas Ziva.
Gadis itu terus menunduk tidak berani menatap wajah suaminya.
"Benarkah?lalu kenapa kamu menunduk?" tanya Arsha.
"Aku-"
"Aku tidak mentoleri hal seperti ini lagi. Kalau aku menemukan kebohonganmu, kau akan berakhir seperti ini!" Arsha memotong ucapan Ziva. Kakinya nampak menginjak bunga di lantai itu.
Arsha menuju kamarnya meninggalkan Ziva yang masih mematung di tempatnya.
__ADS_1
"Kenapa aku begitu ceroboh?" batin Ziva.
Ziva kemudian membereskan bunga yang berserakan di lantai membuangnya ke tempat sampah.