Terpaksa Menikah Diusia Belia

Terpaksa Menikah Diusia Belia
Bab 27 ( Saling Memahami )


__ADS_3

Hari ini Ziva begitu bersemangat membersihkan rumah lalu memasak makan siang untuk suaminya. Sebelumnya Ziva sudah pergi ke swalayan untuk berbelanja dan memasak makanan sesuai resep yang dipelajarinya di internet.


"Akhirnya selesai juga." Ziva terkekeh melihat masakannya telah tersaji diatas meja. Ziva mengambil tudung saji untuk menutupnya lalu melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang mulai lengket akibat keringat yang terus mengucur saat dirinya membersihkan rumah juga memasak di dapur.


Setelah beberapa menit kemudian Ziva keluar dengan rambut basah dan tubuh yang nampak lebih segar. Ziva masuk ke kamarnya untuk berganti baju setelah itu merebahkan tubuhnya diatas ranjang sambil memeriksa notifikasi dari ponselnya.


Ziva mengunggah beberapa foto selfie yang diambilnya dengan ponsel barunya.


"Wah ini sempurna." Ziva berdecak kagum melihat hasil jepretan kamera di ponselnya.


"Memang nggak salah,ini ponsel harganya puluhan juta," tambahnya.


Ziva menatap setiap lekuk ponselnya yang begitu dikaguminya.


"Waduh kalah saing aku,gitu amat muji-muji ponsel." Arsha melongok dari pintu membuat Ziva terkejut spontan melempar boneka di sampingnya sambil berteriak. "Kak Arsha!" geramnya.


Arsha terkekeh meninggalkan kamar Ziva tapi Ziva tidak tinggal diam melompat dari tempat tidurnya lalu berlari mengejar Arsha kemudian melompat ke punggung Arsha. Keduanya jatuh ke lantai posisi Arsha tertindih tubuh Ziva.


Arsha langsung menyambar bibir Ziva mengulumnya mesra.


Saat itu Ziva langsung memukul dada Arsha karena suaminya mencari kesempatan dalam kesempitan.


"Auu ... sakit sayang." Arsha merintih memegangi dadanya.


"Rasain!" umpat Ziva.


Ziva bangkit dari tubuh Arsha lalu duduk di tepi ranjang kembali fokus dengan ponselnya.


Arsha langsung berganti pakaian.


"Ziva tunggu Kakak di ruang makan." Ziva beranjak dari duduknya keluar kamar. Beberapa menit kemudian Arsha keluar dari kamar dengan baju santai yang sudah melekat ditubuhnya lalu duduk di samping Ziva. Ziva melayani Arsha mengambil nasi, tumis sawi dan semur daging ke piring Arsha.


"Wah baunya enak sekali semur dagingnya,beli dimana?" Arsha menghirup aroma semur yang menggoda selera makannya.


"Beli dimana,masak sendiri tahu!" Ziva berucap ketus.


Arsha tersenyum nyengir.Batinnya begitu bahagia selain puas secara batin kini puas di meja makan.

__ADS_1


"Kapan kamu belajar masak, kenapa sekarang kamu jadi pandai memasak?" Arsha tidak percaya ucapan Ziva karena sebelumnya istrinya itu tidak pernah memasak.


"Terus daging darimana,Kamu belanja,uang darimana??" tambahnya.


"Dari sini."Ziva terkekeh memperlihatkan kartu kredit di tangannya.


Arsha membulatkan matanya menatap apa yang berada di tangan Ziva.


"Loh loh kartu kreditku?kenapa bisa ada padamu?" Arsha merogoh kantongnya tapi tidak ada karena dompetnya ada di celana kerja yang sudah digantinya dengan baju santai.


"Sengaja semalam aku mengambilnya dari dompet Kak Arsha habisnya aku takut bosen dirumah terus pengen jalan-jalan nggak punya uang jadi aku inisiatif ambil aja." Tersenyum tanpa rasa bersalah.


"Ini aku balikin tadi aku pakai buat beli sayur sama daging juga aku beli pembalut tadi." Ziva menyodorkan kartu kredit ke Arsha.


"Kamu bawa saja pakai kalau kamu perlu sesuatu tapi jangan boros-boros mengerti." pinta Arsha mewanti-wanti.


"Yes," batin Ziva.


Kemudian mereka menikmati makan siang menjelang sore itu dengan penuh nikmat.Setelah selesai Ziva membawa piring kotor lalu segera mencucinya.


Ziva melihat wajah suaminya yang tengah serius di depan laptopnya seperti biasa Arsha memeriksa laporan bulanan dari bawahannya.


"Kak." panggil Ziva.


"Hmm."


"Ziva boleh ...." Menghentikan ucapannya lalu berpikir. "Pulang ke Bandung?" tanyanya setengah ragu.Pertanyaan Ziva membuat Arsha menatap kearahnya.Saat itu tidak ada kata yang terlontar dari mulutnya lalu kembali fokus ke laptopnya.


"Kak." Merengek.


"Pulang, bukannya Kakak sudah memenuhi keinginanmu untuk tetap tinggal disini, lalu apa ini?"Arsha menatap tajam kearahnya.Saat itu Ziva hanya bisa menunduk dan takut menjelaskan tapi keinginannya lebih kuat daripada rasa takutnya.


"Bukan tinggal di Bandung tapi Ziva mau liburan di Bandung, Ziva bosen selama 2 minggu ke depan cuma dirumah aja," jelasnya.


Arsha kembali fokus menatap laptopnya dan tidak menghiraukan Ziva.


"Kak." Merengek kedua kalinya.

__ADS_1


"Ibu memintaku, tadi pagi ibu telepon aku," timpalnya menjelaskan.


Arsha tidak ingin berpisah jauh dari Ziva tapi sama halnya dengannya ibu Ziva juga sangat merindukan putrinya itu.


"Aku melarangnya hanya beberapa waktu saja,sungguh egois kau Arsha," pikirnya dalam hati.


"Baiklah tapi kau pergi dengan siapa, Kak Arsha tidak bisa mengantarmu karena pekerjaan Kakak sangat padat di kantor?" tanya Arsha.


Ziva nampak berpikir. "Ziva bisa naik bis pagi-pagi, tiap liburan sekolah Ziva sudah biasa naik bus pulang pergi Jakarta-Bandung," jelasnya.


"Kemasi barang bawaanmu besok pagi-pagi Kakak akan mengantarmu ke terminal!" perintah Arsha.


"Terima kasih Kakak." ucap Ziva mendekat ke Arsha dan spontan mencium pipi Arsha senang kemudian berlari menuju kamarnya.


"Girang banget kamu Va,nggak ngerti perasaan suamimu ini.Entah gimana rasanya 2 Minggu ke depan melalui hari-hariku tanpamu," batin Arsha.Menatap Ziva berlari ke kamarnya.


***


Arsha sengaja tidur di kamar Ziva karena esok Ziva akan meninggalkannya untuk liburan ke Bandung di tempat ibunya.


Arsha terus menciumi tangan Ziva membuat Ziva geli akan tingkah suaminya itu.


"Geli kak." Ziva menahan geli.


"Biarkan Kakak memelukmu semalaman, Kakak mau mengingat saat ini saat Kakak merindukanmu." Arsha kemudian memeluk tubuh Ziva.


"Kalau nanti kita sampai pagi begini terus nempel gimana?"


Suasana yang tadinya romantis berubah menjadi garing akibat ocehan Ziva yang konyol.Gadis itu terus saja mampu menggoda dan membuat suaminya kesal akan tingkah konyolnya.


"Kakak jangan mencari masalah denganku nanti Kakak sendiri yang bingung." umpat Ziva.


"Aku bisa solo kok," jawab Arsha enteng.


"Terus saja main solo nggak masalah kan kalau Ziva nggak balik kesini," ancam Ziva.Saat itu wajahnya berubah cemberut.


Tiba-tiba Arsha mengecup keningnya spontan membuat Ziva tersenyum karena suaminya itu bisa saja membuatnya mencair.

__ADS_1


__ADS_2