
Arsha berjalan setengah berlari menuju ruang perawatan Ziva.Arsha masuk dan langsung melangkah mendekati Ziva yang terbaring di tempat tidur.
"Kak Arsha," lirih Ziva.
"Apa Kamu baik-baik saja?" Arsha tersenyum.
"Ziva baik-baik saja."
Walaupun sudah di pindahkan ke ruang perawatan Ziva masih terlihat lemah.Wajahnya nampak pucat dengan selang infus di tangannya.
Arsha menggenggam erat tangan Ziva."Maafkan Kak Arsha."
Gadis itu menggelengkan kepalanya karena yang patut dipersalahkan adalah dirinya.Sebagai seorang istri sudah harusnya melayani apa keinginan suaminya.
Arsha bersyukur karena bisa melihat wajah yang kemarin malam terlihat lemah kini tersenyum karena baginya tidak ada yang lebih membahagiakan kecuali senyum memukau istri kecilnya.
***
Sekitar pukul 1 siang Arsha menuju ke rumah sakit setelah meeting di luar kantor selesai.
Sekitar 15 menit Arsha telah sampai dirumah sakit.Arsha mempercepat langkahnya menyusuri koridor-koridor rumah sakit menuju ruangan perawatan Ziva.Arsha mengetuk pintu lalu masuk ruangan itu.
Nampak Ziva tengah tertidur.Arsha memandangi wajah pucat Ziva.Arsha mengelus dahi Ziva dan menciumnya lembut.Ziva terbangun merasakan kecupan hangat suaminya.
"Kak Arsha," ucap Ziva menatap Arsha.
"Bagaimana keadaanmu?" Arsha mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang.
"Ziva baik-baik saja Kak."
Tok ... tok.
__ADS_1
Terdengar pintu diketuk dari luar.Arsha kemudian melangkahkan kakinya menuju daun pintu dan membukanya.
Ketiga sahabat Ziva juga seorang laki-laki tengah berdiri disana.
"Kalian." Arsha menatap ketiga sahabat Ziva dengan ramah tapi menatap sinis seorang pria di belakangnya.
Arsha langsung mempersilahkan masuk.
Ketiga sahabat itu berbincang-bincang membuat suasana di ruangan itu begitu riuh tapi berbeda dengan pria yang bersama mereka. Matanya terus saja menatap Ziva dengan tatapan yang berbeda.Beberapa kali Rendy terlihat menatap Ziva cukup lama.
Arsha terus menatap pria itu seperti tawanan yang tak ingin dilepasnya.
"Laki-laki itu!Ingin aku mencolok matanya agar tidak menatap istriku seperti itu?" batin Arsha mengumpat sambil mengepalkan tangannya menahan amarahnya.
Ziva yang mulai menyadari ketidak sukaan suaminya kepada Rendy, berbisik pada Keyla untuk segera pergi sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.Keyla kemudian mengajak pulang sesuai perintah Ziva.
"Aku pulang dulu ya, cepat sembuh ya Va." Pamit Rendy menjabat tangan Ziva cukup lama membuat Arsha kembali membelalakkan matanya.
Suasana nampak hening sepulangnya teman-teman Ziva.Arsha juga masih terpaku di sofa memandangi gawainya.Ziva hanya terdiam menatap suaminya yang nampak bersikap dingin.Terlihat raut kemarahan di wajahnya yang kini dipertontonkannya.
Ziva menghela nafas panjang lalu mengalihkan pandangannya ke arah jendela yang nampak taman yang menghijau.
Cukup lama suasana hening hingga suara riuh seseorang masuk ke ruangan itu.Zacky dan Anissa yang memasuki ruangan itu.
Gimana keadaanmu sayang?" tanya Anissa meletakkan parcel buah di meja kemudian memeluk tubuh Ziva.
Sementara Zacky menatap gelagat sahabatnya yang dingin dan cuek menatapnya sekilas lalu kembali ke gawainya.Zacky yang penasaran apa yang di terjadi mendekat duduk disampingnya sahabatnya itu
"Napa loe?"
"Gue nggak pa pa," jawab Arsha masih dengan sikap dinginnya.
__ADS_1
"Nggak biasanya loe kayak gini sob."
Arsha tak menjawab malah bangkit dari sofa lalu beranjak pergi keluar dari ruangan itu
"Kenapa laki loe?" tanya Zacky melangkah mendekati Ziva dan Anissa.
"Entahlah Kak, Ziva pusing menghadapi kak Arsha," ucap ziva menghela nafas panjang.
"Kasian kamu Dek, gara-gara Kakakmu.Kamu jadi harus mengurus laki-laki macam itu," tukas Annisa.
"Kok gara-gara gue." Zacky mengernyitkan dahi.
"Ya gara-gara loe nikahin Ziva yang harusnya masih senang-senangnya mengenal lawan jenis, lah ini malah dipaksa nikah sama laki-laki ngambekan kayak gitu!gue aja pusing ngurus loe yang cemburuan dan dikit-dikit ngambek!" kesal Annisa membuka borok Zacky.
"Kalian sekongkol melawanku?" Zacky menatap serius Nissa dan Ziva.
Ziva menatap pasangan suami istri itu yang juga berselisih paham walaupun sama-sama dewasa.Anissa dan Zacky telah lebih dulu menikah siri sebelum Ziva dan Arsha.Hubungan Zacky dan Anissa lebih ke arah hubungan yang lebih dewasa.Setahun terakhir ini Anissa terus menuntut Zacky untuk segera menikahinya tapi Zacky masih belum berpikir kearah itu dan masih fokus mengejar karirnya mengingat dia tulang punggung keluarganya.
"Sudah Kak Anissa, Kakak seperti itu karena sangat mencintai Kak Anissa." Seru Ziva menengahi keduanya.
"Iya sih Dek tapi kadang sikapnya itu ngeselin.Bikin gedek." Nissa melirik Zacky.
"Iya iya maaf tuan putri," ucap Zacky mencairkan suasana.
Ziva tersenyum menatap keduanya seakan keduanya menjadi cermin untuknya.Seberapa mereka dewasa tetaplah sikap cemburu,marah ataupun berselisih paham akan tetap ada diantara mereka berdua.Menyatukan dua hati yang berbeda bukanlah hal yang mudah.Ego yang sama hingga tidak ada yang mau mengalah menjadi hal tersulit untuk menyatukan perbedaan.
"Aku harus belajar dan menerima apapun yang ada pada suamiku,kak Zacky telah memilihnya untukku dan mulai saat ini aku juga harus belajar mencintainya.Bukan salahnya menikahi ku tapi salahku belum mencintainya dan menerimanya sepenuh hatiku," batin Ziva.
...----------------...
Jangan lupa dukung author dengan vote,like dan komen🙏
__ADS_1