
Arsha berpikir istrinya akan mengerti keadaannya dan yakin setelah dijelaskan sekali lagi Ziva akan mengerti. Dia tidak ingin berlama-lama jauh dari Ziva karena semalam sudah harus kedinginan tidur terpisah dari istrinya.
Pagi itu Arsha telah bersiap pergi ke kantor dengan setelan jas hitam menunggu Ziva siap. Setelah 10 menit akhirnya Ziva keluar dari kamar. Ziva bersikap dingin sampai tidak sekalipun melirik kearahnya.Langkahnya terus mengayun menuju pintu bergegas pergi.
"Ziva, Kakak akan mengantarmu." Arsha berlari melangkah di belakang Ziva.
"Tidak perlu,aku bisa naik taxi." Ziva berucap datar dan terus melangkah meninggalkan Arsha.
"Va, Kakak mohon jangan lakukan ini sama Kakak. Kak Arsha tahu Kakak salah tapi setidaknya kamu dengarkan penjelasan Kakak."Arsha menarik tangan Ziva berusaha menghentikan langkahnya.
Ziva hanya diam tidak ada satu patah katapun keluar dari mulutnya hanya sikap dingin yang terus saja dipertontonkannya.
"Kakak melakukan semua juga demi kamu kalau sampai Kakak kehilangan pekerjaan bagaimana nasib kita bagaimana nasib kuliahmu." Arsha membelai wajah Ziva dan berbicara dengan sangat lembut berharap kali ini Ziva memahami semua.
"Kakak hanya mencintaimu." Arsha perlahan mendekat bersiap mendaratkan kecupan di bibir Ziva.
Drt ... drt ... drt.
Ponsel Arsha bergetar membuat fokusnya kini terpecah sementara Ziva berlalu pergi begitu saja saat suaminya menjawab telepon masuk yang tak lain dari Kanaya.
Ziva berjalan cukup jauh dari kompleks apartemennya disaat bersamaan mobil Arsha melaju dengan kencang tanpa sedikitpun berusaha mencarinya.
"Yah jelas wanita itu jauh lebih penting daripada aku." Ziva mengingatkan dirinya sendiri sambil terus menatap mobil Arsha yang sudah hilang di balik padatnya jalanan di pagi itu.
Perasaan sedih,kecewa tentu saja selalu hinggap.Rasanya dirinya ingin berteriak sekencang mungkin bertanya pada Tuhan, skenario apa yang kini dijalaninya. Ziva terus melangkah karena sedari tadi melambaikan tangan menghentikan taxi tapi selalu saja taxinya sudah berpenumpang. Tentu saja dirinya akan sulit mencari taxi karena bisa dipastikan sangat sulit mencari taxi di jam-jam sibuk seperti ini.
__ADS_1
"Sebaiknya aku pulang saja," gumamnya.
Ziva langsung berputar langkah ingin kembali ke apartemennya.
Beep ... beep ..
Klakson mobil menghentikan langkahnya membuat fokusnya tertuju mobil sport berwarna hitam.
"Va," panggil seorang pria dari dalam mobil yang tak lain adalah Alvin.
Ziva menatap sekilas tapi setelah tahu pengemudi mobil itu Alvin langkahnya kembali mengayun. Alvin sedikit kesal melihat tingkah Ziva yang sama sekali tidak memperdulikannya dan malah meninggalkannya begitu saja tanpa membalas sapaannya.
"Ziva!kau!" umpatnya mengepalkan tangannya.
Alvin langsung turun dari mobil sembari meredam kemarahannya karena tidak mungkin dirinya mengumpat wanita yang begitu dicintainya itu. Selama ini tidak ada wanita yang bisa menolaknya hanya Ziva wanita yang berbeda dari lainnya hingga membuatnya hampir ingin mengakhiri hidupnya.
"Kau mau kemana?" tanyanya dengan senyum tipisnya.
Pria itu benar-benar sangat manis saat dihadapan Ziva karena Alvin tahu untuk mendapatkan simpati zaman Ziva dirinya tidak boleh berlaku kasar apalagi memaksanya seperti dulu kalau tidak ingin dia malah lari sejauh-jauhnya hingga tak ada lagi kesempatan baginya.
"Pulang." Ziva berucap dengan ekspresi datarnya.
Alvin mengepalkan tangannya mendengar jawaban dari Ziva karena nada bicaranya yang lembut dibalas dengan cuek dan terkesan kasar.
"Sabar Al,sabar," gumam Alvin mengingatkan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Loh bukannya hari ini jadwal kuliahmu pagi?" Alvin kembali bertanya dengan lembut.
Ziva merasa aneh karena Alvin tahu jadwal kuliahnya tapi ada yang lebih aneh yang mengganjalnya. Sikap Alvin tidak seperti biasanya, yang biasanya selalu sesuka hatinya. Hari ini pria itu begitu sabar hingga senyumnya terus saja mekar walaupun sedari tadi dirinya bersikap dingin.
"Kau salah minum obat atau apa?" Ziva memegang jidat Alvin memeriksa suhu tubuhnya.
Deg
Jantung Alvin berdetak dengan cepat saat wanita yang dicintainya itu menyentuh wajahnya meski hanya sebuah sentuhan yang bagi sebagian orang menganggapnya biasa.Alvin serasa melayang diatas awan, entah apa tapi saat ini dirinya begitu bahagia.
Alvin langsung memegang tangan Ziva yang masih menempel di kepalanya dan hampir saja tangan itu dikecupnya tanpa sadar tapi Alvin tahu hal itu akan membuat Ziva ilfill nantinya sehingga diurungkannya.
"Salah minum obat gimana,aku ini baik-baik saja," jelas Alvin kembali tersenyum.
Alvin menarik tidak melepas tangan Ziva dan malah menarik tangannya menuju mobil.
"Alvin lepaskan,mau kemana?" teriak Ziva berusaha melepas tangannya.
"Ayo kita berangkat kuliah bersama," jelas Alvin saat Ziva sudah duduk di dalam mobilnya.Alvin segera masuk ke kursi kemudi. Mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi.
Ziva menjadi pusat perhatian saat keluar dari mobil Alvin.Selain terkenal playboy Alvin juga salah satu mahasiswa tertampan disana. Saat itu banyak mahasiswi merasa patah hati melihat Alvin bersama seorang gadis sementara mahasiswa laki-laki malah menatapnya sinis.
Ziva langsung berlari setelah keluar dari mobil Alvin. Dia tidak ingin orang yang mengenalnya salah paham tapi diantara mahasiswa itu ada Rendy yang menatapnya setengah tidak percaya. Rendy tahu betul Ziva sudah menikah tapi kenapa malah ke kampus bersama Alvin yang seorang playboy.
Alvin menatap wanita pujaan hatinya itu dengan senyum bahagianya karena bisa bersamanya walau hanya sesaat.
__ADS_1
"Apapun akan aku lakukan bahkan nyawa pun akan ku berikan padamu," gumamnya tidak patah semangat untuk mendapatkan simpati Ziva.