
Drt ... drt
Ponsel Ziva berdering beberapa kali membuatnya harus melepaskan pelukan ketiga sahabatnya.
"Laki gue," ucap Ziva saat menatap layar ponselnya.
"Dimana kamu?"-->Arsha.
"Aku masih di sekolah, Kak."-->Ziva.
"Kakak di depan sekolahnu dan Kakak lihat sekolahmu sudah sepi atau kau sedang membohongiku."-->Arsha.
"Ziva nggak bohong Ziva keluar sekarang."-->Ziva.
Karena tidak ingin suaminya semakin marah Ziva langsung menutup sambungan telepon.Semenjak ia ketahui berbohong, Arsha begitu sangat posesif bahkan selalu menjemput dan mengantarnya sekolah.
Tanpa berlama-lama Ziva mengajak serta ketiga sahabatnya sebagai bukti kalau dia tidak berbohong sekalian memperkenalkannya pada Arsha.
Arsha langsung keluar dari mobil saat dari kejauhan Ziva berjalan menuju arahnya.
Ketiga sahabatnya terpukau melihat suami Ziva yang ternyata diluar ekspektasi mereka.
"Va itu suami loe?" tanya Keyla memastikan karena sedikitpun Keyla tidak bisa berpaling dari pria tampan di depan matanya.Belum juga menjawab Ziva yang berhenti tepat di depan pria itu dipastikan tanpa perlu menjawab pria itu benar suami Ziva.
"Kenalin Kak, Keyla." Keyla mengulurkan tangannya dengan tatapan pujanya.
Saat Keyla untuk beberapa detik tidak melepas tangan Arsha ditambah matanya yang mulai berkedip-kedip membuat Ziva langsung menampik tangan Keyla menjauh.
"Ziva!" Keyla mencebikkan bibirnya kesal karena Ziva tak memberinya kesempatan hanya untuk menatap pria tampan ala Opa Korea itu.
"Laki gue,loe embat juga," bisik Ziva di telinga Keyla.
Keyla hanya tersenyum menanggapi tuduhan Ziva yang tidak benar tapi mungkin juga benar.
"Medina,Kak."
"Nara."
Kedua sahabatnya juga ikut memperkenalkan diri tapi tidak seperti Keyla yang genit, keduanya malah terlihat canggung.
"Senang bertemu dengan kalian, terima kasih ya selama ini sudah menjaga juga menjadi sahabat baik Ziva," ucap Arsha dengan senyum tipisnya tapi sangat mematikan semua lawan jenis yang menatapnya.
"Uluh -uluh co cweet banget.Kak Arsha tidak hanya tampan tapi juga perhatian.Mau dong foto copyannya Kakak." Keyla berulah lagi kali ini dengan santai memegang tangan Arsha sekaligus menyenderkan kepalanya di bahu Pria itu.
Ziva hanya menghela nafas menatap kelakuan sahabatnya itu tapi saat itu Ziva membiarkannya saja.
__ADS_1
Cukup lama mereka bercakap-cakap lalu keduanya berpamitan pergi.Ziva langsung masuk ke dalam kamarnya begitu sampai di apartemennya diikuti Arsha yang ternyata mengekor di belakangnya.
Apa yang Kakak lakukan disini, Ziva mau ganti baju."
Gadis itu mengusir dengan halus saat Arsha duduk di tepi ranjangnya tapi bukannya pergi pria itu malah merebahkan tubuhnya diatas ranjangnya membuat Ziva kini mendelik menatapnya.
"Bisa Kak Arsha keluar sebentar." Ziva mengulangi perintahnya untuk yang kedua kali membuat pria itu langsung bangkit dan mengungkungnya si sudut ruangan itu.
"Ganti aja, kenapa menyuruh Kakak pergi atau kau ingin Kakak yang mengganti bajumu?" Pria itu menatapnya intens dan hampir saja mengecup bibir ranumnya kalau tidak segera mendorongnya.Ziva langsung mengambil baju di lemari kemudian melangkah keluar menuju kamar mandi.
Arsha terlihat kesal membanting kasar ponselnya diatas tempat tidur.Kali ini dia merasa sudah tidak sanggup menahan keinginannya hanya untuk melihat tubuh istrinya yang polos sebagai suami itu sudah menjadi haknya.
"Kenapa, apa Kak Arsha tidak berhak melihat tubuhmu?" Arsha menatap Ziva datar terlihat raut kekecewaan di wajahnya.
"Kakak ini kenapa haruskah Ziva memperlihat sekarang, bukannya kakak sendiri yang bilang Ziva hanya perlu bersekolah tanpa memikirkan hal-hal lain." Ziva kembali mengulang ucapan Arsha saat pertama kali ia menginjakkan kaki di tempat ini.
Arsha terdiam menyadari kata-kata itu memang pernah ia ucapkan tapi apa salahnya hanya melihat tubuhnya istrinya sendiri.
"Ah persetan dengan semua ucapanku yang lalu,"batin Arsha.
Arsha langsung menarik paksa baju Ziva hingga memperlihatkan lekuk tubuh wanitanya.Arsha dengan susah payah menelan salivanya karena saat itu keinginannya tidak hanya ingin melihatnya saja tapi ingin mengkoyak seluruh benang yang masih menempel ditubuh molek itu.
Arsha yang tengah di puncak hasratnya kini susah untuk mengendalikannya lagi hingga menarik paksa tubuh itu ke atas ranjang,dengan liar mencium ceruk leher jenjang itu membuat Ziva terus meronta.
Arsha segera menandai Ziva stempel kepemilikannya di bukit sintal itu membuat Ziva terus meringis menahan sakit sementara Arsha terus meruda paksanya tanpa ampun.Saat itu hanya air mata yang terus keluar saat matanya yang terus terpejam.Arsha yang melihat reaksi berlebih Ziva hanya menghela nafas panjang lalu melepaskan tubuh itu dari cengkeramannya.
Ziva yang menyadari Arsha keluar dari kamarnya menatap bercak-bercak merah di dadanya lalu segera memakai pakaiannya kembali.
***
Sekitar pukul 10 malam Arsha keluar kamar. Setelah membatalkan niatnya Arsha langsung menyibukkan pikirannya dengan pekerjaan.Saat itu perutnya terasa lapar karena sejak tadi siang belum diisi.
Tiba-tiba bel rumahnya berbunyi.
"Pasti itu makanannya," gumam Arsha.
Sebelum keluar kamar Arsha sempat memesan makanan online karena tidak ingin repot sementara perutnya sudah meronta-ronta ingin diisi.
Setelah menaruh makan di meja Arsha lalu mengetuk pintu kamar Ziva karena Ziva pasti juga lapar sama sepertinya.Beberapa kali Arsha mengetuk pintu tapi tidak ada respon dari dalam.
"Apa mungkin sudah tertidur?"gumam Arsha.
Arsha membuka pintu kamar Ziva yang ternyata tidak dikunci,ia hanya ingin memastikan karena tidak ingin Ziva tidur dalam keadaan perut lapar.
Saat memasuki kamar terlihat tubuh Ziva tertutup selimut seluruhnya hanya bagian muka saj yang terlihat.
__ADS_1
"Ziva bangun!makan dulu." Arsha menyetuh wajah Ziva berusaha membangunkan dengan lembut.Tidak ada respon dari Ziva kecuali rintihan yang keluar dari mulutnya.
"Ziva, kamu sakit?" Arsha memegang dahi Ziva yang basah akan keringat.
"Ya Allah,panas sekali." Arsha merasakan panas berlebih di dahi Ziva.
Segera Arsha menarik selimut Ziva lalu membopong tubuhnya menuju mobil.Arsha melaju dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit terdekat yang membutuhkan waktu tempuh sekitar 15 menit.
Arsha langsung membopong tubuh Ziva masuk UGD. "Dokter, Suster!" Pekik Arsha.
Seorang Dokter dan Perawat datang segera memeriksa Ziva.Arsha terlihat cemas mondar-mandir menunggu di luar ruangan.Arsha teringat akan Zacky dan segera menghubunginya untuk memberitahu keadaan Ziva.
Melihat Dokter dan perawat keluar dari ruangan UGD Arsha langsung mendekat untuk menanyakan keadaannya.
"Gimana keadaan Ziva dok?" Arsha melangkah mendekati Dokter.
"Mbak Ziva terkena malaria gejala berat dan harus dirawat di ICU nanti setelah membaik akan di pindah ke ruang perawatan," terang Dokter.
"Apa ini berbahaya dok?"tanya Arsha.
"Kita tunggu hasilnya setelah 24 jam.Kami akan memantau terus kondisinya," ucap Dokter.
Arsha duduk lesu di bangku sepeninggalan Dokter juga Perawat. Saat itu Arsha benar-benar merasa bersalah karena tidak bisa menjaga Ziva hingga membuatnya kini terbaring lemah di ruang ICU.
"Maafkan Kak Arsha Va, pasti kamu begitu syok dengan kelakuan Kak Arsha.Harusnya Kakak bisa melindungimu bukannya seperti bajingan yang memaksamu dengan brutal.Kak Arsha tidak akan bisa memanfaatkan diri Kakak jika sesuatu yang buruk terjadi padamu," batin Arsha.
Arsha menatap lekat wajah Ziva dari balik kaca luar ruangan itu.
"Gimana keadaan Ziva?"Zacky menepuk bahu Arsha yang masih fokus menatap Ziva dari balik kaca.
"Ziva kena malaria Ky," ucapnya lirih.
"Apa keadaannya parah?" tanyanya lagi.
"Kita bisa menunggu hasilnya setelah 24 jam karena dokter harus memantau kondisi Ziva.Ziva mengalami malaria gejala berat dan harus dirawat di ICU," ucap Arsha dengan suara lemah seakan ikut merasakan sakit yang dirasakan Ziva.
"Jangan khawatir,Ziva pasti baik-baik saja." Zacky mengelus punggung Arsha.
"Aku merasa bersalah karena terlalu sibuk dengan urusanku tidak mengurusi Ziva dengan baik.Seandainya aku mengurus Ziva baik-baik pasti Ziva nggak akan sakit," ungkap Arsha.
"Sudahlah jangan menyalahkan dirimu, itu bukan penyebab sakit Ziva.Malaria itu penyebabnya nyamuk.Kamu harus kuat,saat ini Ziva sangat membutuhkan dukunganmu." Zacky menepuk bahu Arsha beberapa kali.
Arsha menunggu Ziva dengan sabar sampai semalam tidur di kursi luar ruangan ICU hanya untuk menunggu keadaan Ziva karena ia tidak ingin saat Ziva sadar dirinya tidak ada.
Pagi itu Arsha dibangunkan oleh seorang perawat yang memberitahunya kalau Ziva sudah sadar dan dipindahkan ke ruang perawatan Mawar.Arsha yang begitu bahagia mendengar kabar itu langsung menuju kesana.
__ADS_1