Terpaksa Menikah Diusia Belia

Terpaksa Menikah Diusia Belia
Bab 76 ( Permen Ajaib )


__ADS_3

Beberapa menit kemudian Ziva nampak bertingkah aneh saat obat yang diberikan Arsha mulai bereaksi. Terlihat raut gelisah sambil mondar-mandir berjalan kesana-kemari. Sementara Arsha yang berbaring di ranjang mulai merasakan tubuhnya juga mulai panas karena gejolaknya mulai naik tapi Arsha berusaha mengendalikannya dengan terus menatap layar gawainya. Jika Ziva sampai menyadari hal yang sama terjadi padanya mungkin akan mencurigai ulahnya.


Ziva mengibas-ngibaskan tangannya karena merasa tubuhnya mulai kepanasan.


"Ada apa?" Arsha bertanya seolah-olah tidak mengetahui akan reaksi Ziva.


"Kenapa AC nya tidak dingin, jangan-jangan rusak!" umpat Ziva mengambil remote AC menekan beberapa kali lalu meletakkan kasar remote kembali ke meja.


Ziva merasakan tubuhnya menjadi aneh selain merasa kepanasan, gejolak nafsu meningkat naik bisa dibilang mencapai 200% hingga tidak mungkin lagi bisa membendungnya.


"Ah."


Ziva merasa kesal pada dirinya sendiri. Mengesampingkan rasa malu karena saat ini hanya pelepasan lah yang memenuhi otaknya. Tanpa berpikir panjang langsung melucuti pakaiannya sendiri hingga membuatnya polos.


"Maaf Kak."


Mendekat dan langsung melucuti paksa pakaian Arsha. Keduanya sama-sama dipuncak tertinggi hasratnya.

__ADS_1


Entah berapa kali pelepasan mereka terus melakukannya tanpa lelah berselang 30 menit lagi dan lagi.


.


.


.


Ziva membuka matanya yang masih terasa berat dengan badan yang berasa letih setelah semalam bergulat tanpa henti.


Ziva menatap langit-langit kamarnya dan kembali mengingat kejadian tadi malam saat dirinya begitu liar seperti wanita malam tanpa sedikitpun rasa malu. Ziva menutupi wajahnya merasa dirinya begitu terlihat bodoh. Entah bagaimana menghadapi suaminya nanti saat sudah bangun.Tiba-tiba seseorang berusaha menarik tangannya menjauhi wajahnya. Sesaat wajah tersenyum pertama kali dilihatnya saat tangannya tidak lagi menutup wajahnya.


"Kak, kau sedang menertawakanku!" keluhnya kesal.


Arsha pun tersenyum menyeringai melihat tingkah konyol istrinya walaupun sudah lama bersama tapi istrinya itu tidak mau terlihat bernafsu saat di ranjang. Dulu saat masih awal-awal menikah dirinya berusaha mengunci diri agar tidak merusak kegadisan Ziva tapi dengan lantang Ziva terus berusaha menggodanya membuatnya pantas untuk mendapatkan haknya tapi kini seolah-olah itu tidak berlaku lagi.


"Buka tangannya biarkan sesaat Kakak menikmati kecantikan wajahmu." Arsha berusaha membujuk Ziva dengan sedikit memujinya.

__ADS_1


Ketika Ziva membuka tangan yang menutupi wajahnya dengan cepat Arsha mengecup keningnya lalu tersenyum sambil mengacak rambut Ziva gemas.


"Kakak!"


Ziva langsung bangkit dengan cepat menuju kamar mandi karena tidak ingin lebih dijahili suaminya itu. Arsha pun tersenyum puas saat semua rencananya berjalan lancar. Semoga apa yang menjadi keinginannya bisa berhasil dengan cara ini.


***


Beberapa hari setelah pulang dari Bandung Ziva dan Arsha melakukan rutinitas seperti biasa. Arsha kembali bekerja sementara Ziva kembali kuliah.


Mobil Arsha memacu meninggalkan Ziva tepat di depan kampusnya. Sekembalinya dia dari cuti Ziva tidak pernah melihat lagi batang hidung Alvin entah kemana perginya laki-laki itu. Mungkinkah kini dia telah move on dan melupakannya tapi yang jelas Ziva merasa senang saat ini karena tidak ada lagi yang mengganggunya di kampus.


Ziva berjalan dengan terburu-buru karena jam kuliahnya segera dimulai.


Ziva berlari terburu-buru hingga membuatnya hampir saja terjatuh dengan sigap tangan seseorang menariknya menjauhi lantai yang hampir menjadi tumpuannya.Seorang laki-laki yang begitu dikenalnya kini masih memegang tangannya dengan muka datarnya.


"Kau!" Ziva menatap kesal sambil menarik tangannya dari tangan pria itu.

__ADS_1


Ziva lalu kembali berlari menjauhi pria itu karena tidak ingin terlambat masuk kelas sementara pria itu terus menatapnya hingga akhirnya hilang di balik pintu.


__ADS_2