Terpaksa Menikah Diusia Belia

Terpaksa Menikah Diusia Belia
Bab 23 ( Menggoda )


__ADS_3

Ziva langsung berlari menuju kelasnya. Ziva duduk di kursinya sambil mengatur nafasnya yang terengah-engah.


"Kenapa loe?" Keyla menatap Ziva penasaran. Medina dan Nara berekspresi sama penasarannya dengan Keyla.


"Gara-gara elo, semua jadi kacau." tukas Ziva. Ziva menatapnya kesal.


"Kok gue sih." Keyla menunjuk dirinya sendiri saat itu ekspresi wajahnya terlihat bingung karena entah gerangan apa sahabatnya itu menyalahkannya begitu saja


"Ada apa sih?" Nara menatap Ziva kemudian ke Medina. Medina hanya menampakkan ekspresi tak mengerti.


Ziva tak menjawab pertanyaan sahabatnya -sahabatnya, mengalihkan pandangannya ke depan karena seorang guru masuki kelasnya menandakan kelas akan segera dimulai.


Saat pelajaran Ziva terlihat masih kesal sementara Keyla tidak fokus karena memikirkan Ziva yang masih marah padanya.Ziva terus cuek saat ia bertanya apa yang terjadi.


Pelajaran telah usai, Ziva memasukkan buku-buku ke tasnya kemudian pergi tanpa menghiraukan ketiga sahabatnya.


"Ada apa sih Key,kalian marahan?" tanya Medina.


Ziva terlihat sangat marah hingga meninggalkan mereka begitu saja padahal sebelumnya Ziva tidak pernah semarah ini.


"Udah sana cepat minta maaf!" Nara mendorong Keyla untuk mengejar Ziva.


Keyla segera membereskan bukunya kemudian berlari mengejar Ziva.


"Ziva tunggu," pekiknya.


Menahan pergelangan tangan Ziva hingga membuatnya berhenti.


Keyla langsung memeluk tubuh sahabatnya dari belakang. "Gue mohon maafin gue,sungguh gue tidak bermaksud mencampuri urusan loe.Gue hanya ...."


Belum selesai berbicara Ziva sudah membalikkan tubuhnya membalas pelukannya."Gue nggak marah kok cuma sedikit kesel aja," terang Ziva.


Keduanya melangkah bersama-sama menuju gerbang sekolah.Keduanya berpisah menuju mobil masing-masing.


Rendy dan temannya tampak mengawasi Ziva yang saat itu masuk ke mobil Arsha.Raut wajahnya nampak kesal sejak Ziva menolaknya tadi.


"Sudah lupain Ziva, Sob.Pacar Ziva lebih segala-galanya daripada loe.Lihat aja mobilnya juga bajunya yang seperti orang kantoran." Salah seorang sahabatnya mencoba membuatnya legowo.

__ADS_1


Rendy hanya terdiam karena apa yang dikatakan sahabatnya itu benar tapi perasaannya yang sudah jatuh cinta pada Ziva, begitu sakit.Ziva memberinya harapan lebih sampai rela memutuskan pacarnya hanya demi ingin bersama Ziva. Kini pupus lah sudah harapannya. Mawar ditangan dilepasnya demi Melati di taman,kini melati itu telah dipetik orang.Akhirnya kehilangan kedua bunga itu.


***


Ziva langsung masuk ke kamarnya begitu sampai di apartemennya membuat Arsha semakin bertanya-tanya, apa gerangan yang terjadi pada istri kecilnya itu.Saat perjalanan pulang istrinya itu nampak diam padahal biasanya suaranya akan menjadi radionya saat di dalam mobil.


Arsha masuk ke dalam kamarnya lalu segera berganti pakaian lalu menuju dapur untuk memasak sesuatu untuk dimakannya bersama Ziva.


Setelah semua tersaji di piring Arsha langsung mengetuk pintu kamar Ziva.


"Va, sayang makan yuk." Arsha mengetuk pintu beberapa kali.


Ziva keluar dari kamarnya yang masih lengkap dengan seragamnya.


"Kenapa belum berganti pakaian?" Arsha menunjuk baju yang masih melekat ditubuh Ziva.


Ziva tak menjawab, langsung kembali masuk ke dalam kamarnya.Sekitar 2 menit Ziva kembali keluar namun telah berganti pakaian.


"Kakak mau makan apa?"


"Kakak sudah memasak,duduklah." Arsha menarik tangan Ziva menuju meja makan yang sudah tersaji beberapa makanan.Ziva membelalakkan matanya menatap semua menu tersaji disana.Suaminya itu selalu tahu apa yang diinginkannya.Perutnya yang sedari tadi keroncong karena belum terisi sejak pagi begitu senang melihat makanan di depannya.


"Apa yang tak bisa Kakak lakukan?kenapa Kak Arsha begitu multitalent." Ziva menatap pria di depannya itu penuh kekaguman.Selain tampan,mapan, Arsha juga pandai memasak.Satu lagi kehebatan suaminya yang membuatnya semakin terkagum-kagum dan tercengang akan semua hal yang bisa dilakukannya.


"Apa Kakak tidak menyesal menikah denganku wanita urakan yang tidak bisa apa-apa. Sementara Kakak begitu sempurna?" Ziva merasa tidak berguna di hadapannya suaminya.


"Apa yang kamu katakan,kamu begitu sempurna di mataku." Arsha memegang dagu Ziva dan menatap wajah Ziva dengan senyum bahagianya.


Arsha mengambil nasi juga lauk. Sesendok nasi kini berada di depan mulut Ziva.


"Ziva bisa makan sendiri," tolak Ziva.


Arsha terus memaksanya. Akhirnya Ziva membuka mulutnya.Sesuap nasi masuk ke dalam mulutnya membuat mulutnya bergoyang merasakan nikmatnya masakan suaminya.Beberapa suap nasi telah masuk ke mulutnya.


"Cukup Kak,Ziva sudah kenyang," tolak Ziva.


Arsha kemudian memakan nasi sisa bekas Ziva, tidak ada rasa risih atau semacamnya bagi Arsha.

__ADS_1


Ziva merasa tidak percaya dengan apa yang dilakukan suaminya itu. "Kak,kau bisa ambil nasi baru.Kenapa malah makan nasi sisaku?"


"Memangnya kenapa kalau akau makan nasi sisamu?"


Arsha terus melahap makanannya.Walaupun sangat lapar Arsha berusaha menahannya dan lebih dulu menyuapi Ziva hingga kenyang setelah itu baru gilirannya makan.Sikap Arsha itu yang penuh perhatian membuatnya semakin lama semakin terpesona.Wanita mana yang tidak meleleh di perlakukan bak putri raja seperti itu.Arsha adalah paket komplit suami idaman bahkan jika ingin mencari kekurangan pria itu sudah dipastikan pria itu tidak memiliki kekurangan.Ziva merasa beruntung menikah dengan suami seperti itu tapi entah bagaimana dengan suaminya yang memperistri dirinya yang selalu payah dalam segala hal.


Setelah selesai makan keduanya duduk bersama sambil menonton televisi


"Terima kasih Kak."


Ziva tersenyum menatap pria disampingnya itu, senyumnya terus mekar karena sikap manis suaminya itu membuat hari ini yang tadi buruk menjadi begitu manis.


"Aku tidak ingin kamu menyembunyikan apapun dariku,kamu mengerti?" Arsha mengusap lembut wajah Ziva.


Wanitanya itu mengangguk masih dengan senyumannya.


"Kenapa tadi kamu terlihat murung?" tanya Arsha.


"Aku cuma cuma sedikit ada masalah pelajaran disekolah.Minggu depan aku ada ulangan kenaikan kelas," jelas Ziva.


"Kamu harus belajar yang rajin.Jangan sampai kamu tidak naik sekolah bisa lama lagi aku menunggumu." Pria itu menghembuskan nafasnya berharap itu tidak terjadi.Sudah cukup menunggu setahun setengah tidak ingin lebih lama lagi


Ziva nyengir kuda menanggapi ucapan suaminya itu.


"Kakak serius Va, belajar yang rajin kalau perlu Kak Arsha akan menjadi guru lesmu, bagaimana kamu setuju?" Arsha merapikan kerah bajunya membuat dirinya merasa pantas menjadi guru les dadakan Ziva.


"Bisa-bisa kita nggak belajar tentang pelajaran sekolah malah belajar yang lain." Ziva menaikan sudut bibirnya mengerti alasan dibalik tawaran suaminya.


Ziva sengaja menaikan roknya menampakkan pahanya yang putih menggoda membuat Arsha menelan salivanya dengan susah payah.


"Ziva!kenapa kamu mulai lagi,sengaja kamu memancing Kakak!" Arsha menurunkan rok Ziva menutupi kembali pahanya.


"Tapi aku menginginkannya Kak." Ziva duduk dipangkuan Arsha membuat pria itu berdebar akan perbuatannya.Mulai melepas satu demi satu kancing bajunya menampakkan bukit sintal miliknya.


"Ziva!" bentak Arsha.


Walaupun menolaknya tapi matanya tak bisa lepas dari pemandangan di depannya membuat tonjolan padat di bawah sana menegang dengan sendirinya.

__ADS_1


__ADS_2