
Ziva hanya menangis menerima perlakuan Arsha membuat Arsha menghentikan aksinya.
Arsha menyelimuti tubuh polos Ziva lalu menjatuhkan tubuhnya di samping Ziva.
"Maafkan Kak Arsha," lirihnya.
Tidak ada jawaban dari Ziva hanya suara isakan yang terdengar.
Arsha menyesali apa yang di perbuatanya hingga hilang kendali. Pakaian Ziva pun robek karena di tarik paksanya.
"Sepertinya binatang biasa yang memakan mangsanya itulah diriku," batin Arsha.
Arsha menatap wajah Ziva diusapnya air mata yang mulai mengering dari wajahnya. " Maafkan Kak Arsha."
Ziva langsung memeluk tubuh Arsha dengan erat.
...----------------...
Beberapa hari kemudian setelah kejadian itu Ziva lebih banyak diam tidak seperti biasanya. Keceriannya perlahan memudar membuat Arsha semakin terpuruk dengan rasa bersalahnya.
"Apa kau mau jalan-jalan sore nanti setelah Kakak pulang kerja?" tawar Arsha. Ziva yang fokus menatap kaca jendela mobil melirik Arsha sekilas menggelengkan kepalanya menolak tawaran Arsha.
Mobil terhenti di depan kampus Ziva. Ziva langsung turun dai mobil tanpa mengatakan apapun. Arsha terus memandanginya hingga hilang di balik gerbang universitas itu.
Arsha langsung tancap gas menuju kantornya. Sekitar 20 menit akhirnya sampai di kantornya.
Arsha melangkah gontai. Tiba-tiba seseorang menepuknya dari belakang. Arsha langsung menengok ke belakang.
"Kau." Arsha kembali melanjutkan langkahnya. Zacky menyamakan langkahnya dengan langkah Arsha.
"Beberapa hari aku mendiamkanmu bukan berarti kau bisa lari begitu saja dariku." Zacky berkata dengan ekspresi wajah datar.
"Apa yang sebenarnya yang terjadi antara kau dan Ziva,apa kau melakukan sesuatu yang membuatnya sedih. Apa kau tahu pagi itu dia menangis di jalanan lalu aku membawanya pulang!" Zacky mengingat kembali kejadian Minggu pagi beberapa hari yang lalu.
Arsha tampak tak menggubris dan terus melangkah menuju ruangannya sementara Zacky memandangnya dengan tatapan kesalnya.
...----------------...
Sepulang kerja Arsha langsung kembali ke rumahnya.
"Cepat bereskan baju-bajumu Kakak akan membawamu pulang!"
Suara keras terdengar dari dalam rumahnya membuatnya cepat-cepat masuk kedalam rumahnya. Terlihat Zacky duduk di kursi menatapnya dengan sinis.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan dirumahku, dimana Ziva?" Arsha melangkah mencari keberadaan Ziva.
Terlihat Ziva sibuk memasukkan pakaiannya ke dalam tas.
"Ziva apa yang kau lakukan, kenapa kau memasukkan semua pakaianmu ke dalam tas?" Arsha melongok lemari yang sudah kosong dari pakaian Ziva tersisa hanya pakaiannya.
Ziva lalu membawa tas itu keluar seketika Arsha langsung menarik tas Ziva menghentikannya. "Ziva!" Arsha berteriak dengan suara lantangnya. Matanya menatap tajam kearah Ziva.
"Aku hanya menuruti perintah Kak Zacky," terang Ziva.
Ziva kembali keluar dari kamarnya menuju ruang tamu. Zacky segera bangkit begitu melihat Ziva lalu mengambil alih tas Ziva.
Arsha landung berlari menghadang keduanya.
"Apa yang sedang kau rencanakan, kenapa kau membawa istriku pergi dari rumahku?" Arsha menatap Zacky dengan tatapan penuh amarah.
"Sudah cukup aku bersabar atas semua sikapmu. Berhari-hari aku menunggu penjelasanmu tapi tidak ada. Saat di kantor aku bertanya kau juga mengabaikanku. Aku sebagai Kakaknya berhak membawa adikku keluar dari sini karena aku sudah tidak percaya lagi padamu!" tegas Zacky.
Zacky berusaha mendorong Arsha dari hadapannya.
"Ziva iangan pergi, Kak Arsha mohon." Arsha mengenggam tangan Ziva menghentikannya tapi Zacky terus menariknya keluar dari rumah itu.
"Ziva!" pekik Arsha. Matanya terus menatap kepergian Ziva hingga hilang di balik pintu lift.
Arsha menendang pintu kesal.
Arsha sedikit merenung lalu segera menyusul Ziva. Mobilnya melaju dengan kecepatan tinggi menuju rumah Zacky.
Terlihat Zacky menarik paksa Ziva masuk ke dalam rumahnya disusul Arsha yang langsung berlari begitu turun dari mobilnya sementara Zacky berhasil membawa Ziva masuk.
"Masuk ke kamarmu!" tegas Zacky.
Ziva hanya mengangguk menuruti perintah kakaknya.
Arsha menatap tajam Zacky begitu pula Zacky tatapan matanya tidak terlepas dari Arsha.
"Kau ikut campur terlalu jauh!" Arsha berucap dengan suara lantang.Arsha melangkah menuju kamar Ziva tapi Zacky menghalanginya.
"Kau ingin membawa adikku pulang,langkahi aku!" hardik Zacky.
Arsha yang begitu marah langsung mendorong Zacky membuat Zacky terjatuh sementara Zacky langsung menarik kaki Arsha hingga ikut jatuh.
Keduanya saling berkelahi membuat Ziva langsung keluar dari kamarnya mendengar suara ribut dari dalam kamarnya.
__ADS_1
Hentikan!" pekik Ziva.
Raut wajah Ziva yang sembab karena menangis masih terlihat jelas membuat Arsha segera bangkit dari lantai menghampiri Ziva.
"Maafkan Kak Arsha, Sayang." Arsha mendekap tubuh Ziva dengan erat sementara Zacky hanya memandangi keduanya.
Ziva langsung duduk di sofa diikuti Arsha dan Zacky. Ketiganya saling memandangi beberapa saat tanpa ada suara. Ziva bangkit dari duduknya dan langsung dihentikan Arsha yang duduk di sampingnya.
"Aku akan mengambil kotak P3K," ucap Ziva.
Arsha melepas tangannya lalu Ziva melangkah menuju tempat penyimpanan kotak obat.
Ziva mengobati luka kecil di sekitar bibir Arsha dengan perlahan begitu pula dengan Kakaknya Zacky.
"Apa yang kalian inginkan, kenapa kalian saling menyakiti?" Ziva melirik keduanya bergantian.
"Kak Arsha hanya ingin membawamu pulang," lirih Arsha.
"Apa kalian tahu apa yang Ziva inginkan?" tanya Ziva.
Arsha dan Zacky saling menggeleng tidak mengetahui apa yang diinginkan Ziva.
Saat ini Ziva bersikap lebih dewasa dari pada kedua orang di sampingnya itu yang jauh lebih dewasa daripada dia tapi bersikap kekanak-kanakan.
"Apa kalian ingin dengar atau lanjut ingin berkelahi?" Ziva kembali melirik keduanya.
"Kami ingin mendengar kemauanmu." Arsha dan Zacky menjawab serempak.
Ziva pun manggut-manggut merespons jawaban Kakak juga suaminya itu.
"Baiklah. Ketika Ziva berbicara Ziva tidak ingin ada yang memotongnya!" tegas Ziva.
Ziva menarik napas panjang lalu menghembuskannya membuat dirinya senyaman mungkin untuk mengungkapkan apa yang ada dalam hatinya.
"Ziva mau pulang ke Bandung meminta izin kepada orang tua Ziva dan orang tua Kak Arsha untuk menikah. Ziva tidak ingin Kak Arsha menolaknya." Ziva melirik ke arah Arsha yang tampak tidak setuju tapi Zacky mendelik ke arahnya membuatnya terpaksa menyetujui.
"Baiklah Kak Arsha setuju," jawab Arsha.
Setelah mendengar jawaban Arsha Ziva menoleh ke arah Zacky yang duduk di sebelah kanannya. Ziva menatapnya dan mengenggam tangannya.
"Terima kasih Kak sudah berbuat sejauh ini. Ziva sangat bahagia Kakak bertindak sewajarnya seorang Kakak tapi Ziva janji akan menyelesaikan urusan rumah tangga Ziva secepatnya." Ziva tersenyum lalu Zacky segera memeluk Ziva dengan erat.
"Kamu jauh lebih dewasa daripada Kakak. Kakak benar-benar tidak menyadari kamu tumbuh secepat ini." Zacky mengusap punggung Ziva.
__ADS_1
"Arsha walaupun kita berteman sejak kecil kamu tetaplah adik iparku. Jangan pernah lakukan hal lagi yang bisa membuatku marah dan membawa Ziva paksa keluar dari rumahmu. Kali ini aku memaafkanmu tapi lain kali jangan harap!" tegas Zacky.
Arsha merespon ancaman Zacky dengan membuat tanda hormat berarti siap kepada Zacky.