Terpaksa Menikah Diusia Belia

Terpaksa Menikah Diusia Belia
Bab 7 ( Mengungkap Rahasia )


__ADS_3

Sekitar pukul 1 malam Arsha menyelinap masuk ke kamar Ziva.Arsha kemudian membaringkan tubuhnya di samping Ziva dan melingkarkan tangannya di tubuh istrinya.Baginya tidak masalah ketahuan toh ibu mertuanya tahu tentang pernikahannya.


Ziva yang merasakan kehadiran Arsha membalikan tubuhnya menghadap Arsha.Arsha mencium wajah Ziva yang masih setengah terpejam saat itu dengan kondisi yang tidak sadar Ziva menganggap perlakuan Arsha itu seperti sedang bermimpi.


Ya,Arsha memang selalu menyentuh dan mendatangi istrinya itu disaat sudah terlelap karena saat itulah dia dengan bebas menyentuhnya.


Keesokan paginya.


Tok ... tok


Pintu kamar Ziva diketuk dari luar membuat Ziva terbangun dari tidurnya dengan susah payah gadis itu membuka matanya yang masih terasa lengket.


"Iya Bu,Ziva udah bangun," jawabannya.


Ziva menggeliat manja tapi saat itu tangan seseorang mengunci tubuhnya membuatnya reflek mendorong tubuh yang kini tepat dibelakang tubuhnya.


Saat langsung bangkit dari ranjang sementara orang itu terjatuh disisi sebaliknya membuatnya tidak mengetahui siapa orang yang berani kurang ajar padanya saat tengah tertidur.


"Jangan jangan ...."


Ziva memeriksa tubuhnya karena mungkin orang itu sudah merenggut kesuciannya.


"Kenapa kau mendorong tubuhku?" sergah pria itu membuat Ziva mendelikkan penglihatannya karena saat itu hanya suara yang keluar.Di detik berikutnya pria itu bangkit dari lantai dengan memeganginya pinggangnya yang sakit akibat jatuh dari ranjang.


"Sejak kapan Kakak berada disini?" pekik Ziva dengan keras. Saat itu dia tak sadar ada ibunya.


"Pelankan suaramu!"bisik Arsha.


"Ada apa Va, kenapa teriak-teriak?" tanya Ibunya lagi dari luar kamar.


Ziva benar-benar tidak tahu harus menjawab Arsha tapi saat itu Arsha memberi kode yang diangguki Ziva.


"Ziva jatuh, Bu," jawabannya.

__ADS_1


"Cepat mandi!" perintah ibunya.


"Ya Bu," jawab Ziva dengan cepat sebelum ibunya memergokinya sekamar dengan Arsha.


Ziva langsung keluar dari kamar melihat keberadaan ibunya yang saat itu sedang berada di dapur. Ziva langsung menarik tangan Arsha agar secepatnya keluar dari kamarnya sebelum akhirnya menuju kamar mandi.


Setelah selesai sarapan Ziva pamit pergi ke sekolah.


"Ibu hati-hati ya di jalan." Ziva memeluk tubuh Ayu dengan erat seakan tidak ingin berpisah darinya. Baru kemarin ibunya datang dan hari ini ibunya akan pergi.


"Sebenarnya Ziva masih ingin Ibu disini?" rengek Ziva.


Gadis itu terlihat sangat manja ketika sedang bersama ibunya.Hal yang wajar itu ia lakukan karena saat liburan sekolah bisa bertemu ibunya diluar itu Ziva harus menahan rindu, melupakan sesaat kasih sayang seorang ibu yang seharusnya menjadi haknya.


"Sudah sana keburu telat nanti." Ayu mencubit gemas pipi Ziva karena putrinya itu terus saja memeluknya sementara kakaknya sudah menunggu di mobil.


Di dalam perjalanan.


"Terus terang gimana?" Zacky balik bertanya.


"Ya terus terang kalau Kakak sudah menikahkan aku dengan Kak Arsha,"jelas Ziva.


"Sudah sana cepat turun!" Perintah Zacky saat mobilnya sudah terhenti tepat di depan sekolah Ziva.


"Bagaimana Kak?" Ziva kembali mengulangi pertanyaannya saat tidak mendapat jawaban yang diinginkannya.


"Sudah!itu urusan Kakak!"tegas Zacky sedikit membentak karena Ziva terus saja membuatnya kesal dengan pertanyaannya.


"Cih." Ziva menaikan sudut bibirnya saat turun dari mobil.Bagaimana tidak kakaknya itu selalu melakukan apapun semua kehendaknya tanpa memperdulikan perasaannya seperti menikahkannya secara paksa tanpa ia ketahui alasannya.


"Dasar diktator," umpat Ziva saat melihat mobil kakaknya berlalu pergi.


.

__ADS_1


.


.


Sepulang sekolah Ziva dan sahabat-sahabatnya berkumpul di belakang sekolah sesuai keinginan Ziva. Suasana sekolah juga sudah nampak sepi.


"Ada apa Va, kenapa ngomong aja harus nunggu sekolah sepi?" Keyla membuka pembicaraan dengan nada penuh pertanyaan.


Keyla, Medina juga Nara menatap tajam kearah Ziva tidak sabar menunggu apa yang akan disampaikan sahabatnya itu.


Ziva menghela nafas panjang dan memejamkan matanya sebentar.


"Sebenarnya gue ... gu-e ...." Ziva berucap terbata-bata lalu menghentikan ucapannya.


Ketiga sahabatnya malah dibuat kesal akan tingkahnya karena mereka sudah sangat serius mendengar tapi malah membuat seolah-olah hanya sebuah prank belaka.


Ketiga hampir beranjak pergi tapi tiba-tiba Ziva mengucapkan sesuatu yang membuat mereka terbelalak dengan mulut menganga.


"Gue udah married."


Gadis itu menundukkan kepalanya tapi bukannya percaya ketiganya malah mendekat kearahnya .


"Kebangetan loe bikin prank,nggak lucu tahu!" kesal Keyla mencubit kedua pipi Ziva.


"Ahh sakit.Gue beneran, suwer," jelasnya sambil meringis menahan sakit.


Ketiga sahabat itu saling memandang antara harus percaya atau tidak tapi kali ini raut wajah serius Ziva terlihat tidak sedang berbohong.


"Loe gila Va, bunting sama siapa loe? Laki-laki mana yang kasih dp di perutmu?" cerca Keyla menunjuk perut Ziva.


"Hush ... siapa yang hamil." Ziva mendelik ke arah Keyla. Sahabatnya yang satu ini selalu ceplas-ceplos saat bicara membuatnya semakin stres


"Pokoknya ceritanya panjang lain kali gue cerita," ungkap Ziva memeluk ketiga sahabatnya.

__ADS_1


__ADS_2