Terpaksa Menikah Diusia Belia

Terpaksa Menikah Diusia Belia
Bab 48 ( Kalung Berlian )


__ADS_3

Tok ...


Tok ...


Tok....


Arsha mengetuk pintu beberapa kali.Ziva semakin menggenggam erat tangan suaminya menunggu detik demi detik pintu di depannya terbuka.


Kreeeeekk


Pintu terbuka.Sosok wanita paruh baya kini berdiri di hadapan mereka dengan melempar senyum menatap keduanya.


"Arsha,Ziva kalian disini." Dina berdecak senang langsung merangkul keduanya dalam pelukannya.


"Ibu senang kalian pulang,ayo masuk!"Dina menguar pelukannya lalu menarik tangan keduanya masuk ke dalam rumah untuk duduk di atas sofa.


Dina terus merekahkan senyumnya menatap keduanya. "Tidak terasa sudah setahun lalu terakhir kali kita bertemu, bagaimana kabar kalian?"


"Kami baik-baik saja Bu, bagaimana kabar Ibu dan ayah?" Arsha menatap sekeliling ruangan itu yang selalu saja sama setiap dia pulang, sepi.Ya karena penghuni rumah itu hanya ibu dan juga ayahnya.


"Ibu dan ayah baik.Kapan kalian pulang?"


"Tadi Bu, sekalian nganterin Ibu dan Zahra," jelas Arsha.


"Lo ibumu ke Jakarta?" Dina menatap Ziva penuh tanya.


'Iya Bu, ibu Ayu ke Jakarta menghadiri wisuda juga perpisahan sekolah Ziva."


"Ziva lulus dengan nilai terbaik Bu, jadi Ziva mendapat beasiswa serta bisa memilih universitas kenamaan di Jakarta." Arsha tersenyum bangga dengan prestasi istrinya.


"Wah ... Ziva hebat," puji Dina.


"Semua juga berkat dukungan Kak Arsha Bu." Ziva menatap wajah Arsha.


"Kalian harus saling mendukung.Ibu yakin kalian berdua kelak akan sukses," Tutur Dina penuh perhatian.


Arsha nampak melihat sekeliling ruangan di rumah itu yang nampak sepi sedari tadi.


"Kamu mencari ayahmu, Nak?" Dina menatap Arsha.


"Ayahmu masih di pabrik paling sebentar lagi pulang," timpal Dina.


"Ziva sana buat minum untuk suamimu!" perintah Dina sambil tersenyum.


Tanpa menunggu Ziva langsung beranjak dari duduknya menuju dapur sementara Dina meninggalkan Arsha masuk ke kamarnya.


"Aku selalu takut masuk ke rumah ini sejak dulu, tapi sekarang aku harus terbiasa berada disini, tinggal disini," gumam Ziva. Langkahnya perlahan menyusuri tiap-tiap ruangan di rumah itu menuju dapur.


Beberapa saat kemudian Ziva kembali membawa 3 gelas jus jeruk lalu menyajikannya diatas meja.


"Minum,Sayang." Ucap Ziva perlahan tapi terdengar Dina yang langsung tersenyum menanggapi ucapan Ziva.


"Sini,Sayang!" Dina menyuruh Ziva duduk disebelahnya.


Ziva mengangguk lalu duduk diantara suami juga mertuanya.Dina tersenyum menatap Ziva dan Arsha bergantian.Bagi Dina tiada hal yang lebih membahagiakan selain melihat putra semata wayangnya bahagia apalagi Dina mengenal dekat siapa pendamping hidup putranya.Dina yakin mereka akan menjalani hidup bahagia.


Dina memberikan kotak perhiasan yang sudah sedari tadi dipegangnya kepada Ziva.


"Apa ini Bu?" Ziva menatap kotak berwarna merah itu.


Dina kemudian membukanya memperlihatkan isinya.


"Ini cantik sekali Bu." Ziva terpana melihat kalung emas bertahtakan liontin berlian di kotak perhiasan itu.Kilaunya begitu menyilaukan penglihatannya.


"Itu milikmu,Nak."


"Siapapun yang akan menjadi istri Arsha berhak atas kalung itu," timpal Dina.


"Tapi Bu,ini-"


"Kalian tahu kenapa Ibu memberikan kalung berlian ini?berlian adalah batu terkuat.Berlian terbentuk karena panas dan tekanan yang cukup besar hingga membuatnya menjadi sebuah batu yang sangat cantik seperti ini.Ibu ingin cinta kalian seperti berlian ini.Sebesar apa masalah atau badai yang akan menghadang jalan kalian, Ibu berharap kalian akan sekuat berlian ini hingga pancaran kilaunya akan menyilaukan, meluluhkan setiap mata yang memandangnya," terang Dina.


Ziva merasa sangat terharu akan kasih sayang yang begitu besar dari mertuanya itu hingga tak mampu lagi berkata-kata. "Ibu." Arsha dan Ziva bersamaan memeluk Dina erat.

__ADS_1


Dina memang tak bisa mengubah keadaan dengan kalung itu tapi setidaknya pemberiannya itu sebagai tanda restunya agar keduanya mampu melewati setiap cobaan yang menghadang.


"Arsha pasangkan kalung ini ke leher Ziva!" perintah Dina.


Arsha langsung memasangkan kalung itu di leher Ziva.


"Cantik sekali kalung itu di lehermu,Va," Puji Dina.


"Terima kasih Bu." Ziva kembali memeluk Dina.Ketiganya nampak begitu bahagia tapi tidak dengan pria yang berdiri tak jauh dari mereka dengan tatapan tajamnya.Pria itu terlihat mengepalkan tangannya menahan emosi.


"Ayah sudah pulang." Dina beranjak dari duduknya menyambut suaminya pulang.


"Siapa yang mengizinkan mereka memasuki rumahku!" Hermawan berkata dengan suara lantang.Saat itu jari tangannya menunjuk ke arah Arsha dan Ziva dengan tatapan yang masih sama.


"Ayah, sabar yah.Arsha anak kita satu-satunya, jangan terlalu keras." Dina mencoba meredakan emosi Hermawan.


Hermawan berjalan mendekati Arsha dan Ziva.


"Lancang sekali, siapa yang memberimu hak pulang ke rumah ini!" Hermawan kembali berkata dengan suara lantang.Terlihat jelas kemarahan dari raut wajahnya.


Ziva memegang erat tangan Arsha berharap Arsha meredam emosi menghadapi ayahnya.Ziva tidak ingin kali ini berakhir sama seperti terakhir kali ke rumah ini.Arsha yang sudah terlanjur dibakar emosi tida bisa lagi menahannya.


"Sampai kapan Ayah akan seperti ini, apa memang seperti ini mau Ayah?" Arsha beranjak dari duduknya menatap lekat wajah Hermawan dengan tatapan sama.


"Kau!lancang sekali!" Tangan Hermawan melayang menuju wajah Arsha seketika Arsha menangkis tangan Hermawan menjauh dari wajahnya.


"Ayah." Dina mencoba menenangkan kemarahan Hermawan dengan terus memegang tangannya.


"Arsha bukan lagi anak kecil yang bisa Ayah anggap lemah!sejak kecil Ayah selalu memaksakan kehendak Ayah, sekarang tidak lagi!" Arsha melempar tangan Hermawan kasar.


"Kak sabar." Ziva mencoba menenangkan dengan mengalihkan pandangan suaminya agar tidak bertatapan dengan ayahnya karena sedari tadi keduanya sama-sama bertatapan tegang.


"Pergi!Jangan pernah lagi menginjakkan kakimu dirumah ini, tidak sudi aku mempunyai anak sepertimu!"


Hermawan berteriak dengan lantang dengan mata terbelalak penuh amarah.


"Ayah, tarik lagi kata-katamu.Jangan biarkan putra kita pergi lagi." Dina memohon hingga berlutut di bawah kaki Hermawan.


"Aku tidak punya anak seperti dia, anak pembangkang!Pergi!" hardik Hermawan.


Arsha langsung menarik tangan Ziva meninggalkan ruangan itu karena tidak sanggup lagi mendengar lebih banyak perkataan ayahnya yang membuatnya semakin sakit karena keberadaannya yang sama sekali tidak diinginkan.


"Arsha." Dina mengejar Arsha yang sudah melangkah sampai teras.


"Maafkan ayah, Nak.Ibu akan bicara sama ayahmu." Dina menatap keduanya dengan tatapan sedihnya dengan air mata yang terus menitik.


"Sudah Bu, ini yang ayah mau.Toh Arsha tidak dianggap lagi anak jadi apa gunanya." Arsha mengusap air mata ibunya dan kembali memeluk wanita yang telah melahirkannya itu. "Jaga diri Ibu," lirih Arsha sebelum akhirnya melepas pelukannya.


"Arsha," pekiknya.


Dina tidak ingin berpisah dari putranya itu tapi apa daya akhirnya harus merelakan anak dan menantunya pergi.


Arsha menarik tangan Ziva yang hendak memeluk mertuanya itu memperdulikan menarik paksa masuk ke dalam mobil.Mobil pun melaju meninggalkan tempat itu meninggalkan Dina yang masih terpaku menatap mobil itu walaupun sudah tak terlihat lagi


Arsha tiba-tiba menghentikan laju mobilnya.Menundukkan kepalanya diatas setir mobilnya.Terlihat jelas keputusasaan dari pria itu.


"Kak." Ziva mengelus punggung Arsha berusaha menguatkannya karena saat itu hanyalah kekuatan yang dibutuhkannya.Meski cukup lama pria itu sendiri tanpa kedua orang tuanya tapi ketika ucapan yang menyakitkan kembali terdengar di telinganya, lukanya kembali perih.


"Maafkan Kak Arsha." Arsha menatap lekat wajah Ziva.Sesaat dirinya begitu hanyut dalam kepedihannya dan melupakan Ziva yang selalu berada disampingnya.


"Ziva nggak pa pa Kak." Ziva mencoba tersenyum.


Sebelum datang ke tempat itu Ziva sudah menguatkan hatinya saat.Kali ini ia tidak seperti saat datang pertama kali yang begitu syok.Ziva sudah mengantisipasi kejadian yang sama terulang lagi dan ternyata firasatnya benar.


"Ayo kita pulang Kak," pinta Ziva.


Arsha mengangguk kemudian melajukan mobilnya kembali ke rumah Ziva.


Arsha dan Ziva duduk lesu di sofa setelah sampai di rumah.Raut muka mereka juga nampak kusut sekusut hati mereka.


"Kalian sudah pulang?" Ayu duduk mendekati Ziva dan Arsha.Ayu sudah bisa menebak yang terjadi pada mereka di rumah Arsha hingga tidak ingin mempertanyakan.


"Ayo makan dulu, Ibu sudah masak!" perintah Ayu.

__ADS_1


"Kak makan dulu yuk?" Ziva menarik tangan Arsha untuk pergi dengannya.Arsha pun langsung menuruti keinginan Ziva.Keduanya melangkah menuju dapur.


"Mm sayur asem, ikan goreng." Decak Ziva senang melihat menu favoritnya tersaji diatas meja makan.Ziva melayani Arsha mengambil nasi, sayur dan ikan goreng.


"Cukup Sayang," ucap Arsha.


Ziva kemudian mengambil nasi juga sayur untuk dirinya.


"Sayur ibu memang juara."Ziva menikmati tiap suapan tapi tidak dengan Arsha terlihat hanya mengaduk-aduk makanan di piringnya membuat Ziva bersiasat.


"Ayo makan Kak, mau Ziva suapin?" tawar Ziva.


Ziva langsung mengambil piring Arsha lalu menyendok makanan untuk di suapkan ke mulut suaminya.


"Nggak usah, Kak Arsha bisa sendiri." Arsha ingin mengambil piringnya dari tangan Ziva tap Ziva tidak memberikannya.


"Ayo buka mulut Kakak!" Ziva membulatkan matanya menatap suaminya itu dan tidak ingin suaminya menolak niat baiknya.


"Aaa ...."


Satu suapan masuk ke mulut Arsha.


"Gitu dong,anak pinter." Ziva tersenyum nyengir melihat ekspresi suaminya yang terlihat kesal tapi tetap saja menuruti keinginannya.Arsha menarik sudut bibirnya kesal diperlakukan bak anak kecil.


"Wah pinter makannya habis." Ziva menyuapkan makanan hingga suapan terakhir.


"Pinternya." Ziva mengelus kepala Arsha beberapa kali seperti memuji anak kecil yang menghabiskan makanannya membuat Arsha mendengus kesal lalu tersenyum karena Ziva bisa membuatnya sesaat melupakan kesedihannya.


Arsha mengelus pipi istrinya membuatnya tersenyum menampakkan deretan giginya.


"Sudah jangan sedih lagi ada Ziva disini. Ziva akan membuat Kakak melupakan semua kesedihan Kakak.Kakak istirahat di kamar sana, Ziva cuci piring dulu!"


"Hm," jawab Arsha berdehem.


Pria itu beranjak dari duduknya melangkah meninggalkan Ziva.


"Sudah Va,biar Ibu yang cuci." Ucap Ayu saat memasuki dapur.


"Ziva bisa kok Bu."


"Wah anak Ibu banyak berubah.Arsha banyak memberi hal positif padamu." Ayu menatap Ziva yang sedang mencuci piring.


"Ziva malu Bu, kak Arsha bahkan melakukan semua sendiri masa Ziva hanya berpangku tangan.Kak Arsha membuat Ziva sadar karena Ziva selalu payah dalam segala hal sementara kak Arsha sempurna dalam segala hal," Ungkap Ziva.


Ziva duduk menemani Ayu yang sedang makan setelah menyelesaikan pekerjaannya.


"Arsha selalu mandiri sejak kecil Va.Kamu tahu sendiri bagaimana keras ayahnya."


"Iya Bu Ziva tahu, itu yang membuat kak Arsha tampak mandiri membuat tekadnya untuk sukses semakin bulat." Ziva kembali mengingat kemarahan ayah mertuanya tadi.Betapa kerasnya sikap ayah mertuanya itu hingga membuat suaminya tidak ingin membahasnya karena secara tidak langsung kembali membuka lukanya.


"Kamu harus mendukung Arsha hingga puncak kesuksesannya!"


"Pasti Bu.Ziva berharap suatu saat ayah mertuaku akan bangga dengan kesuksesan kak Arsha hingga membuatnya luluh dari kemarahannya."


"Pasti sayang suatu saat ayah mertuamu pasti akan menyadari kesalahannya mengingat Arsha anak yang baik.Orang tua mana yang bisa terus-terusan membenci anaknya mungkin di luar terlihat marah benci tapi Ibu tahu pasti ada kasih sayang dan kerinduan yang begitu besar," tutur Ayu membesarkan hati Ziva.


"Kalung itu Va." Ayu menatap leher Ziva yang begitu berkilau dengan pancaran berlian sebagai liontinnya.


"Kalung ini Ibu Dina yang memberikan sama Ziva.Kalung ini dipersiapkan khusus untuk istri kak Arsha." Ziva menatap liontin berlian di lehernya.


"Beruntung sekali kau menjadi istri Arsha, sedikit bersabarlah." Ayu mengusap punggung Ziva.


Ziva menganggukkan kepalanya mengiyakan perkataan Ayu.


"Sudah sana lihat suamimu,hibur dia!" perintah Ayu.


"Iya Bu." Ziva melangkah menuju kamarnya.Perlahan Ziva mendekat terlihat Arsha tengah tertidur lelap.Ziva duduk di tepi ranjang menatap lekat wajah Arsha.


"Semoga Kakak tetap kuat, Ziva akan selalu bersama Kakak." Ziva mengusap wajah sedih suaminya.


...----------------...


Lanjut vote,like dan tinggalkan jejak di setiap babnya.Dukungan kalian adalah semangat untuk author melanjutkan ceritanya 🙏.

__ADS_1


__ADS_2