Terpaksa Menikah Diusia Belia

Terpaksa Menikah Diusia Belia
Bab 45 ( Beban )


__ADS_3

"Turunlah!" perintah Arsha.


Saat itu keduanya sudah berada di halaman rumah Zacky.Terlihat Ayu berdiri di teras antusias menyambut kedatangan Ziva.Wajahnya yang terlihat begitu cemas langsung mendekat ke Ziva yang baru saja turun dari mobil.


"Maafin Ziva, Bu," ucapnya lirih.


Seketika Ayu langsung memeluk erat tubuh putrinya itu dengan air mata yang menitik di pipinya. "Ibu yang bersalah.Karena Ibu, kau harus menanggung semuanya." Menatap wajah Ziva penuh haru.


Arsha yang menatap momen keduanya ikut sedih namun juga senang karena keduanya kini saling memahami satu sama lain.


"Jika kau tidak bahagia bersama Arsha, kau boleh tinggal disini," tawar Ayu.


Saat itu ketiganya sudah duduk di sofa.


Tubuh Arsha seperti bergetar mendengar penawaran Ayu.Saat itu bibirnya seakan ingin berteriak dengan pertanyaan konyol ibu mertuanya itu tapi Arsha juga ingin tahu bagaimana reaksi Ziva jingga Arsha menahan emosinya.


Ziva menatap balik wajah Arsha karena pria itu sedari tadi terus melekatkan pandangannya ke arahnya. "Aku bahagia tinggal bersama suamiku Bu.Kak Arsha memperlakukan Ziva dengan baik bahkan lebih baik dari siapapun!" tegas Ziva.


Mendengar jawaban manis dari istrinya itu seketika Arsha bernafas lega.Senyumnya langsung terlukis di wajahnya.Kasih sayang serta cinta Ziva adalah hal paling utama dalam hidupnya karena Ziva lah kini dia kembali bangkit dari keterpurukan.


"Sangat bodoh jika Ziva tidak mencintai Laki-laki sebaik dan sehebat Kak Arsha." timpal Ziva masih dengan tatapan yang tidak lepas dari pria yang saat ini dipujinya.


Ayu merasa bahagia mendengar pengakuan putrinya yang walaupun semua berawal dari kesalahannya tapi Ayu tidak menyangka putrinya itu akan bahagia dengan hidupnya.


Ketiga tersenyum bahagia menerima dan memaafkan kesalahan masing-masing.


"Dimana Zahra Bu?" Ziva menatap sekeliling rumah yang nampak sepi.


"Zahra minta dianter ke Mall sama Kakakmu."


"Dasar Zahra baru juga nyampe nggak sabaran banget!"umpat Ziva.


Ibunya terkekeh mendengar Ziva mengumpat adiknya sendiri.

__ADS_1


Ziva kembali menatap ibunya tidak menyia-nyiakan waktu bersama ibunya karena jika Zahra kembali akan sulit baginya untuk bermanja-manja seperti ini.


Sejak lulus SD dan masuk SMP, Ziva mulai pindah ke Jakarta ikut Zacky.Sejak saat itu pula Ziva kekurangan kasih sayang seorang ibu sementara Zacky yang selalu bekerja hampir tidak punya waktu untuknya hanya di akhir pekan saat libur mereka bisa menghabiskan waktu bersama itupun berubah seiring kakaknya yang mempunyai kekasih.


Setelah berbincang-bincang cukup lama akhirnya ayu memutuskan untuk beristirahat sebentar di dalam kamar meninggalkan Arsha dan Ziva.


Ziva menyenderkan kepalanya lalu tiba-tiba tangan Arsha menjadi tumpuan kepalanya karena pria itu ingin lebih dekat dengan wanita yang sejak tadi ingin sekali dipeluknya tapi karena ada ibu mertuanya membuatnya menahan niatnya


Cup.


Arsha mengecup pipi Ziva lalu mengusap mata Ziva yang terlihat sembab karena terus menangis tadi."Lihat wajahmu, jelek sekali.


"Kakak!" Ziva kesal reflek memukul dada Arsha karena mengatai dirinya jelek.


Pria itu tersenyum nyengir menanggapi kekesalan istrinya.


"Seharusnya dari awal Kakak mengatakannya padahal setahun yang lalu saat ibu kesini bukannya aku sedang menyembunyikan dari ibu tapi aku sedang menyembunyikan itu darimu.Jelas-jelas ibu tahu kita sudah menikah." Arsha mengingat momen setahun lalu saat Ayu berkunjung.Saat itu Ziva benar-benar takut kalau ibunya akan mengetahui statusnya tapi tidak dengan Arsha maupun Zacky yang terlihat santai karena memang keduanya menyembunyikan semua dari Ziva.


"Semua yang kalian lakukan sama aku, itu jahat!" Ziva menunjuk ke arah wajah suaminya dengan ekspresi kesalnya.


"Kakak tidak peduli bagaimana Kakak mendapatkanmu yang terpenting cinta Kakak terbalas." Keduanya saling menatap hingga membuat wajah mereka begitu dekat.Arsha tidak menyia-nyiakan kesempatan dan langsung ******* bibir Ziva lembut.


"Ish ... kalian bisakah melakukannya dikamar!" pekik Zacky.


Reflek Zacky menutupi mata Zahra agar tidak melihat adegan romantis di depannya.Saat itu Zacky berdiri di pintu bersama Zahra.


"Apa sih Kak Zacky, kenapa tiba-tiba nutup mata Zahra." pekik Zahra menyingkirkan tangan kakaknya dari pandangannya.


"Maaf kebablasan." Arsha nyengir kuda sementara Ziva menarik sebelah sudut bibirnya.


Zahra menaruh barisan paper bag di meja kemudian memeluk Ziva.


"Zahra kangen sama Kak Ziva." Keduanya berpelukan erat.

__ADS_1


"Kak Ziva juga." Ziva mengurai pelukannya lalu mengacak kasar rambut Zahra.Gemas akan adiknya yang mulai tumbuh menjadi remaja


"Ah ... Kak Ziva!" Zahra terlihat kesal lalu memutuskan untuk pergi ke kamar sebelum bagian tubuh yang lainnya menjadi sasaran kakak perempuannya karena kakaknya itu selalu usil ketika bersamanya.


Zacky menatap wajah Ziva saat itu terlihat keceriaan.Sebelumnya Zacky benar-benar risau karena melihat kemarahan yang begitu besar dari Ziva.Zacky sampai berpikir bagaimana jika Ziva tidak akan memaafkan semua kesalahannya dan menyalakan dirinya seumur hidupnya tapi pemikiran itu seketika sirna melihat pancaran ceria terlukis di wajah adiknya itu.


"Sudah nggak marah lagi, apa perlu detik ini juga Kakak menyuruh Arsha menceraikanmu?" tawar Zacky menatap Ziva.


Saat itu Arsha menatap tajam ke arahnya karena ucapannya yang terlalu bar bar.Zacky bahkan tidak berpikir bagaimana caranya dia membujuk Ziva tadi.Sahabat juga kakak iparnya itu sengaja memancing kemarahannya."Menikah itu bukan permainan Ky.Walaupun kamu memaksaku sampai mati, aku tidak akan menceraikan Ziva!" tegas Arsha masih dengan tatapan tajamnya.


"Bukan gitu sob, aku cuma tidak ingin menjebak adikku dalam pernikahannya.Buat apa dipaksa kalau tidak bahagia," kilah Zacky.


Zacky berpikir sebelum semua terlambat lebih baik mengakhiri daripada bertahan tapi tidak bahagia.Mengingat usia Ziva yang masih muda jadi masih banyak kesempatan untuknya mencari kebahagiaannya sendiri.


"Sudah sudah!kenapa kalian malah ribut sendiri.Ziva setuju sama Kak Arsha pernikahan itu bukan permainan jadi tidak seharusnya Kak Zacky memaksaku menikah karena Kakak tidak akan tahu, akan berakhir bahagia atau sedih!" tegas Ziva yang langsung membuat kedua pria di sampingnya itu merasa terbungkam dengan perkataan Ziva.


"Kak Zacky ingin diusia Ziva yang ke 18, Ziva menjadi janda bahkan saat itu ijazah Ziva belum keluar," pekik Ziva dengan tatapan mata nanar.


Zacky seakan mendapat tamparan keras dari perkataan Ziva.Sejenak Zacky termenung.


"Lalu apa maumu sekarang,Kakak menyerahkan semua padamu." Zacky pasrah.


"Ziva bukan tidak bahagia menikah dengan Kak Arsha tapi Ziva merasa Kakak membuang tanggung jawab Kakak dan sepenuhnya menyerahkan tanggung jawab itu pada Kak Arsha.Setelah Ziva pikir-pikir sebaiknya Ziva kembali kesini dan melanjutkan hidup Ziva seperti dulu!"


"Ziva apa maksudmu, kamu ingin meninggalkan Kak Arsha? bukannya tadi kamu bilang kamu bahagia hidup bersamaku, apa mungkin Kak Arsha kurang memanjakanmu dalam hal materi?Kak Arsha akan memenuhi apapun keinginanmu."Arsha menatap Ziva penuh harap.


"Justru itu, aku merasa aku hanya beban untuk Kak Arsha.Kita tidak bercerai hanya saja Ziva ingin memperbaiki diri dan kembali pada Kak Arsha disaat yang tepat.Saat Ziva merasa Ziva sudah pantas bersanding dengan Kak Arsha!" tegas Ziva.


"Ky cepat bujuk Ziva!Ziva berubah karena perkataanmu!" Arsha kesal karena ucapan konyolnya membuat Ziva berpikiran yang tidak-tidak.


"Sayang, Kak Arsha mohon jangan lakukan ini.Selama 1 tahun lebih Kakak berusaha menjadi Kakak,teman dan suamimu.Kak Arsha tidak bisa berpisah darimu walau sedetik.Kakak mohon." Arsha menatap Ziva dengan raut wajah begitu sedih berharap Ziva akan merubah keputusannya.


"Arsha benar Va, selama ini dia bahagia hidup bersamamu entah apa yang akan terjadi jika kamu meninggalkannya.kamu adalah hidupnya," bujuk Zacky.

__ADS_1


"Sudah!bukannya kita sudah membahasnya tadi.Ziva kenapa Kamu jadi berubah-ubah gini,Nak.Arsha suamimu jadi sudah menjadi tanggung jawabnya memenuhi semua kewajibannya, sebagai seorang istri ikutilah kemana dia pergi dan inginkan," sahut Ayu.


Ayu langsung keluar dari kamarnya mendengar perdebatan sengit dari luar kamarnya hingga memutuskan untuk ikut bicara.


__ADS_2