Terpaksa Menikah Diusia Belia

Terpaksa Menikah Diusia Belia
Bab 87 ( Pria Berhati Malaikat )


__ADS_3

Arsha melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.Saat itu pikirannya hanya satu mencari keberadaan Ziva sebelum semuanya terlambat dan tidak berarti lagi.


Mobil Arsha berhenti di halaman rumah Zacky karena dalam pikirannya Ziva pasti ke tempat kakaknya.Arsha akan menanggung semua konsekuensi semua perbuatannya dan Zacky tidak akan melepaskan begitu saja karena telah membuat adik yang begitu disayanginya terluka. Baginya yang terpenting saat ini adalah meminta maaf entah permintaan maafnya diterima atau tidak.


Arsha mengetuk pintu beberapa kali tapi tidak ada respon dan saat hendak pergi tiba-tiba pintu terbuka.


"Ngapain malam-malam loe kesini?" Zacky mengucek matanya beberapa kali karena sudah dipastikan Zacky sudah tidur mengingat waktu menunjukkan pukul 11 malam.Zacky membelalakkan matanya menatap wajah Arsha yang penuh luka.


"Loe kenapa,apa yang terjadi?" cemas Zacky menatap wajah Arsha lebih dekat.


Arsha terdiam lama saat itu dalam pikirnya, seharusnya Zacky langsung menghajarnya ketika melihatnya tapi Zacky malah seperti tidak tahu apa-apa.


"Mungkinkah Ziva tak berada disini,lalu dimana dia?" gumam Arsha dalam hati.


"Woi." Zacky menepuk bahu Arsha karena pria di depannya ini malah diam seribu bahasa.


"Gue gue ...." Arsha benar-benar bingung harus jujur pada Zacky atau menyembunyikan semua sampai ia menemukan keberadaan Ziva tapi saat itu ia memilih pilihan yang kedua menunggu sampai ia menemukan Ziva.


"Gue balik aja udah malam." Arsha langsung masuk ke dalam mobil lalu melajukan mobilnya pergi.


Berbeda dengan Zacky yang masih merasa ada yang aneh dari Arsha bertamu begitu malam dan setelah ditanya malah pergi.


"Apa aku sedang bermimpi?" Zacky menepuk pipinya sendiri begitu keras membuatnya memekik sesaat lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ah bodo amat!" masuk kedalam rumah.


Sesampainya dirumah Arsha langsung mengecek ponsel Ziva untuk mencari tahu apakah Ziva ada dirumah Kayla sahabatnya.Setelah menghubungi Kayla yang ternyata tidak mengetahui keberadaan Ziva tapi Kayla bercerita kalau Ziva terlihat pucat saat terakhir kali bertemu dengannya.


"Kemana sebenarnya kamu sayang,tolong beritahu Kakak," lirih Arsha.


Hatinya benar-benar gundah memikirkannya sementara tak tahu lagi harus bertanya pada siapa.


***

__ADS_1


Keesokan pagi.


Alvin kembali ke apartemennya untuk mengetahui keadaan Ziva.Alvin juga menyuruh seseorang pembantunya untuk menjaga Ziva karena tidak ingin Ziva sendiri mengingat kondisinya yang cukup lemah.


"Apa kau jauh lebih baik?" tanya Alvin saat sudah berada di kamar bersama Ziva.


Ziva mengangguk membuat pria itu tersenyum setidaknya hari ini walaupun sedikit Ziva sudah mulai tersenyum.


"Melihatmu seperti ini hatiku sakit, aku akan membuatmu kembali bahagia."Yakin Alvin dalam hatinya memantapkan keputusannya.


"Bersiaplah aku akan mengantarmu ke tempat dimana seharusnya kau berada!" perintah Alvin.


"Kau ingin mengantarku pulang?aku tidak mau." Ziva langsung mengarahkan pandangannya ke tempat lain sebagai tanda penolakannya.


"Tapi seseorang menunggumu disana."


"Tidak ada yang menungguku karena semua sudah berakhir kalau aku pulang hanya akan membuat orang-orang yang aku sayangi sedih, biarkan aku tinggal disini.Aku akan bekerja dan aku pasti akan membalas semuanya." Ziva memohon, netranya menatap penuh permohonan.


"Apa kau ingin menyesal seumur hidup karena pemikiran konyolmu.Pulang dan dengarkan apa kata suamimu karena priamu itu hanya mencintaimu," jelasnya penuh penekanan.


Saat ini Ziva hanya ingin memastikan apa yang dikatakan Alvin tidak benar karena jelas-jelas suaminya lebih memilih Kanaya daripada dia.


Ini akan menjadi pertemuannya yang terakhir karena jika ingin berpisah maka harus berpisah secara baik-baik agar dikemudian hari tidak ada masalah pikir Ziva dalam benaknya


Flash Back On.


Melihat betapa terpukulnya Ziva karena ditinggalkan suaminya sampai ingin mengakhiri hidupnya membuat Alvin sadar perbuatannya bisa saja mencelakai orang yang begitu dicintainya.Kejadian kemarin membuatnya tersadar keinginan konyolnya bisa saja membuat wanita yang begitu dicintainya kehilangan nyawa dan saat itu dirinya akan hidup dengan rasa penyesalan yang akan ditanggung seumur hidupnya.Mencintai bukan hanya memiliki tapi juga memberi itu yang saat ini Alvin pikirkan karena sampai kapan pun dirinya tidak berhak mendapatkan cintanya.


Akhirnya Alvin memutuskan untuk melepaskannya karena baginya saat ini yang terpenting kebahagiaan Ziva.


Alvin yang sudah mengetahui rencana Kanaya langsung memberi tahu Papanya untuk menggagalkan rencananya karena saat itu yang bisa menghentikan semua hanya Papanya.Hingga akhirnya karena perbuatannya Kanaya kembali dikirim ke Australia untuk melanjutkan studinya.


Alvin juga memantau Arsha yang terus mencari keberadaan Ziva walaupun saat itu kondisinya yang penuh luka tidak sedikitpun membuatnya putus asa hingga akhirnya membuat Alvin yakin cinta keduanya begitu kuat.

__ADS_1


Ya, Alvin bertekad untuk menyatukan kembali cinta keduanya walaupun keputusannya ini akan membuatnya harus kehilangan wanita yang begitu dicintainya.


Flash Back Off.


Alvin menekan bel rumah Arsha beberapa kali tapi saat itu tidak ada respon.


"Apa pria itu sudah pergi?" batin Alvin.


Sesuai laporan anak buahnya Arsha seharusnya berada di dalam apartemen karena sejak kemarin malam tidak keluar.


"Kau lihat kan rumah ini kosong, lebih baik kita pergi."


Ziva melangkah beberapa langkah hendak pergi namun langkahnya terhenti saat pintu terbuka dan penghuni rumah itu langsung ambruk.Ziva langsung berlari kembali.


"Kak,kau kenapa bangun!wajahmu kenapa seperti ini?" Ziva menangis melihat keadaan suaminya yang penuh luka.


"Ziva maafin Kak Arsha." Arsha berucap sangat lirih hingga akhirnya kesadarannya hilang.


"Kak ...." pekik Ziva, menggoyang-goyang tubuh Arsha.


Alvin segera membantu Ziva untuk membawa Arsha ke kamar sesudahnya pria itu langsung pergi meninggalkan mereka berdua.


"Ya Al, kamu sudah melakukan sesuatu yang benar," ingatnya dalam hati.


Semoga kebaikan hati Alvin kelak berbuah manis dan tentunya mendapatkan cinta yang jauh lebih baik dari saat ini.


Kembali ke Ziva dan Arsha.


Arsha yang mulai tersadar langsung memeluk tubuh wanita di sampingnya entah ini nyata atau hanya mimpi yang jelas saat ini hatinya begitu bahagia.


"Aku mohon jangan pergi lagi," gumamnya mendekap tubuh Ziva sangat erat.


Ziva hanya terdiam tak menjawab lalu teringat kembali akan luka yang memenuhi wajah Arsha.

__ADS_1


"Apa yang terjadi padamu Kak?apapun keputusanmu aku akan melepaskanmu, jika itu membuatmu ...." Arsha langsung membungkam mulut Ziva sehingga tidak dapat melanjutkan kata-katanya.


__ADS_2