
"Ziva bangun, sayang." Suara lembut nan nyaring membangunkannya dari tidur.
Sepeninggal Arsha ke kantornya membuat Ziva tidak melakukan aktivitas apapun sehingga memutuskan untuk tidur karena badannya sangat lelah setelah perjalanan kemarin.
Ziva berusaha membuka matanya lebar-lebar karena matanya masih terasa lengket.Ziva duduk di meja makan setelah mencuci muka dan menggosok giginya.Saat makan Ziva mengamati wajah suaminya yang terlihat lebih baik daripada saat dirinya memutuskan untuk pergi ke kantor.
"Kak Arsha sudah sembuh?" Saat keduanya sudah menyelesaikan makan dan kini duduk di sofa.
"Kak Arsha baik-baik saja, mungkin karena Kak Arsha masuk angin semalam, setelah minum obat yang kau berikan Kak Arsha semakin membaik.Terima kasih ya telah merawat Kak Arsha." Arsha tersenyum lembut menatapnya.
"Aku hanya melakukan tugasku Kak," sahut Ziva.
Setelah pembicaraan itu Arsha fokus melihat acara televisi sementara Ziva masih hanyut dalam pikirannya.Kejadian kemarin malam begitu membuatnya syok.Ziva tidak pernah menyangka hubungan suaminya dengan ayahnya seburuk itu terlebih tatapan kedua orang tuanya saat menatapnya semakin membuat nyali Ziva menciut.Ada satu yang begitu mengganjal pikiran Ziva yaitu kata-kata Arsha yang mengatakan
...Aku dan Ziva sudah menikah...
Kata-kata itu terus terngiang di telinga Ziva bukan menepis kenyataan yang ada.Ziva hanya takut kalau ayah dan ibu mertuanya menganggapnya serius lalu membuat kabar itu terdengar ke telinga ibunya.Lalu apa reaksi ibunya nanti?
Arsha tertawa terbahak-bahak melihat acara tv lawak yang mengocok perutnya hingga membuatnya sampai menitikkan air mata karena saking lucunya tapi tiba-tiba pria itu terdiam melihat istrinya yang hanya diam tanpa ekspresi.Arsha lalu mematikan tivinya.
"Ada apa sayang, ada masalah?" Tatapannya menatap wanita di sampingnya penuh tanya.
"Aku kepikiran kejadian kemarin malam. Ada apa sebenarnya?" jelasnya.
Saat itu Arsha terdiam dengan pertanyaan istrinya sebenarnya Arsha tidak ingin hubungan buruknya dengan ayah diketahui Ziva.Arsha juga tidak mau saat berada di tempat ternyamannya membicarakan hal-hal yang tidak penting.
"Kenapa kamu harus membahas masalah itu lagi!" Arsha memasang wajah kesal.
"Aku cuma takut orang tua Kakak menganggap ucapan Kakak serius dan mengatakan semua pada ibuku," jelas Ziva.
"Sudah seharusnya orang tua kita mengetahui status kita.Apa salahnya kita menikah!" Arsha berkata dengan lantang tak ingin dibantah ucapannya.
Ziva memilih diam dan tak meneruskan bicaranya melihat ekspresi suaminya yang tidak ingin dibantah apalagi berdebat lebih panjang dengannya yang sedikit kesal membicarakan masalah orang tuanya.
Arsha selalu menutup rapat masalahnya dengan orang tuanya. Hubungannya dengan ayahnya menjadi regang setelah keputusannya menolak meneruskan usaha orang tuanya dan memilih karirnya sendiri bekerja di perusahaan properti.
Statusnya sebagai anak semata wayang membuatnya dalam pilihan sulit antara harus mengejar cita-cita atau menjadi anak penurut yang hanya berpangku tangan menikmati harta yang orang tuanya sediakan.Tapi Arshaka adalah pemuda yang berkemauan keras yang ingin mengejar karirnya sendiri mengejarnya dari nol dan ingin membuktikan dirinya mampu.
__ADS_1
"Orang tuaku urusanku,biarlah aku yang mengurus mereka. Kemarilah." Pria itu mendekap tubuh wanitanya.Arsha tidak ingin masalah apapun menganggu rumah tangganya terlebih saat ini mereka masih merasakan nikmatnya menjadi pasangan baru.
Keduanya saling menatap dengan senyuman yang tadinya suasananya begitu tegang berubah menjadi hangat.Arsha mengusap wajah Ziva dan mengulum bibirnya lembut. Netranya menatap wanita di depannya penuh cinta.
Bagi Arsha tidak masalah dia kehilangan semuanya asalkan bersama Ziva dia seperti memiliki semuanya karena semangatnya, hidupnya ada pada wanita yang kini dalam dekapannya.
"Jangan pernah meninggalkan Kakak, mengerti?" lirih Arsha dengan sorot mata berbinar-binar.
Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Ziva hanya anggukan lalu semakin mendekap erat tubuh lelakinya itu.
***
Keesokan paginya.
Ziva yang sudah turun dari mobil Arsha, melambaikan tangannya. "Bye Kakak."
Mobil Arsha pun melaju pergi meninggalkan Ziva yang masih terus menatap mobil itu hingga hilang di balik mobil yang begitu padat di kota itu.
Dari kejauhan nampak Rendy mengawasi Ziva lalu segera mempercepat langkahnya mendekati Ziva.
"Itu itu-" Ziva berucap terbata-bata.
"Kak Arsha yang mengantar Ziva,Kak Arsha pacar Ziva," sergah Keyla.
Keyla tiba-tiba muncul diantara mereka.Saat Rendy mengawasi Ziva tidak sengaja Keyla melihat Rendy begitu kesal dan mengejar Ziva membuat Keyla bersiasat menjauhkan Rendy dari Ziva.
"Ayo Va!" Keyla menarik tangan Ziva pergi.
"Ziva!aku belum selesai bicara!" teriak Rendy.Wajahnya terlihat kesal karena Ziva pergi begitu saja saat dirinya masih belum selesai bicara.
Keyla terus menarik tangan Ziva membuatnya menjauh dari Rendy.
"Key lepasin,sakit tahu." Ziva menarik paksa lengannya dari cekalan tangan Keyla.
"Loe ini harusnya berterima kasih sama gue karena gue udah nyelametin loe dari Kak Rendy plus gue udah bilang loe udah punya pacar pasti tu Kak Rendy nggak gangguin loe lagi," gerutu Keyla.
Keyla sedikit kesal karena Ziva seperti tidak menghargai usahanya membuat Keyla berpikir.Sahabatnya itu jangan-jangan menginginkan dua pria sekaligus.Keyla menatap Ziva dengan tatapan anehnya.
__ADS_1
"Woi,gue bukan seperti yang loe pikir!" Ziva mendelik tajam ke arah sahabatnya itu.
Keyla merasa aneh tiba-tiba Ziva memiliki kekuatan super mendengar batinnya berbicara.
"Loe sejak kapan bisa mendengar ...."
"Gue selalu tahu apa yang loe pikirkan," sergah Ziva menarik tangan Keyla yang saat itu masih terlihat tidak mengerti.
.
.
Bel berbunyi menandakan waktu istirahat tiba.Ziva dan teman-temannya bergegas ke kantin untuk mengisi perut.
"Va,aku ingin bicara denganmu?" Rendy menghadang jalan keempat sahabat itu.
Rendy menarik paksa tangan Ziva seraya menatap tajam ke arah teman-teman Ziva yang ingin menghalanginya.
Ziva menoleh kebelakang dan jarinya membentuk o mengisyaratkan akan baik-baik saja dan menyelesaikan masalahnya dengan Rendy sementara Rendy terus menarik tangan Ziva menjauh dari teman-temannya.
Rendy membawa Ziva ke belakang sekolah yang cukup sepi. Tangannya mengungkung tubuh Ziva yang menyender ditembok. "Kamu hutang penjelasan padaku?" Rendy menatap tajam Ziva membuatnya merasa tidak nyaman karena jarak mereka yang begitu dekat hingga nafas mereka saling beradu.
"Apa maksud Kak Rendy?" Ziva berusaha keluar dari kungkungan tangan Rendy.
Semakin Ziva bergerak Rendy semakin mendekat membuat Ziva hanya bisa diam akan perlakuan pria itu.
"Siapa laki-laki yang mengantarmu tadi,benar dia pacarmu?kenapa selama ini kamu memberiku harapan?apa arti ciuman kita saat ada di bioskop waktu itu?" Rendy memberondong Ziva dengan beberapa pertanyaan sekaligus.
Seakan sudah terjebak dalam permainannya sendiri itu yang saat ini dirasakan Ziva.Pria itu meminta pertanggung jawabannya atas semua perlakuannya selama ini yang memberinya harapan.
"Maafkan aku Kak Rendy. Aku minta maaf tidak bisa bersamamu. Tolong lupakan aku." Ziva terus memberontak keluar dari kungkungan tangan Rendy.
Rendy begitu emosi karena telah di permainkan.
Bumm
Rendy melampiaskan semua amarahnya meninju tembok di depannya.Zivayang mengira pukulan itu tertuju padanya hanya bisa memejamkan matanya.Saat Ziva menyadari pukulan Rendy bukan tertuju padanya Ziva segera kabur.
__ADS_1