
Ziva kembali kerumahnya karena hari mulai gelap.
Ziva duduk lesu di sofa degan menyenderkan tubuhnya di sofa itu.
"Huffttt." Ziva membuang nafas kasar.
Nampak Arsha menatapnya dengan tatapan penuh tanya setelah keluar dari kamar mandi.
"Haistt." Ziva terperanjat melihat sosok laki-laki di depannya,saat hendak pergi ke kamarnya. Arsha yang berdiri di sebelahnya tanpa di ketahuinya membuatnya terkejut apalagi Arsha tidak memakai baju hanya handuk yang menutupi tubuhnya.
"Kenapa membentakku?" kesal Arsha.
"Sejak kapan Kakak berdiri di situ, mengagetkan saja!" keluh Ziva sembari menunjuk tubuh Arsha yang setengah telanjang.
"Kenapa,apa kau menginginkannya?" Arsha mendekap tubuh Ziva dengan senyum menyerigai di wajahnya.
"Ih apaan sih,jadi basah nih!" kesal Ziva.
Seketika Ziva mendorong tubuh Arsha menjauhi tubuhnya.
"Memelukmu saja sudah membuatku on." Arsha berbisik di telinga Ziva.
"Cari mati saja!" umpat Ziva.
Ziva meninggalkan Arsha menuju kamarnya tanpa merespon kemauan Arsha.
"Kau!" Arsha menggerutu kesal menyusul Ziva di kamar.
Arsha membuang sembarang handuknya langsung mengungkung tubuh Ziva.
"Akhh, apa yang Kakak lakukan?" Ziva seperti kehabisan nafas karena Arsha menindih tubuhnya.
Nafsu Arsha yang sudah membara seperti api yang berkobar membuatnya ******* paksa bibir Ziva dengan ganas.
"Apa kau sudah melupakan tugasmu,apa kuliahmu membuatmu lupa apa tugas utamamu?!" Arsha mendesis kesal meluapkan kemarahannya karena Ziva menolaknya.
"Aku ... aku- ." Arsha kembali ******* bibirnya hingga tak bisa meneruskan perkataannya.
Kali ini Ziva mengimbangi pagutan Arsha dengan sedikit memainkan lidahnya membuat permainan itu semakin panas.
"Apa kau sudah menyadarinya?" Arsha menatapnya sendu dengan senyum tipis menguraikan kebahagiaannya.
Ziva menganggukkan kepalanya lalu kembali memagut bibir Arsha penuh nafsu. Arsha membangkitkan nafsunya hingga kini dia mulai meminta permainan lebih dari suaminya itu. Akal licik Arsha kini mulai di mainkan.
Arsha bangkit dari tubuh Ziva lalu menuju lemari mengambil beberapa setelan jas.
"Apa yang Kakak lakukan?" Ziva menatapnya tajam. Suaminya itu kini malah meninggalkannya saat berhasil membuatnya mulai on.
__ADS_1
"Kakak harus segera pergi ke kota xx," terang Arsha.
"Kau!pergi sana jangan kembali!" pekik Ziva.
Ziva begitu kesal hingga
membuatnya berteriak lalu keluar dari kamar membuka pintu kamar dengan kasar.
"Ck ... kenapa jadi seperti ini,aku kan hanya ingin membalasnya tadi." Arsha menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Arsha segera memakai pakaian lalu mencari keberadaan Ziva. Perlahan Arsha mendekati Ziva yang terlihat menitikan air mata berdiri di balkon.
Arsha merasa bersalah padahal niatnya hanya ingin bercanda tapi entah kenapa hari ini istrinya itu sangat sensitif.
"Ziva." Arsha merangkul tubuh Ziva tapi seketika Zia menghempasnya kesal lalu kembali masuk ke dalam rumah.
"Ziva!" pekik Arsha.
Arsha segera mengejar Ziva dan langsung mencekal tangan Ziva yang sudah berada di luar pintu apartemennya.
"Ada apa Sayang?Kakak hanya bercanda,kenapa kamu begitu sensitif hari ini?"Arsha mengusap lembut wajah Ziva.
"Katakan pada Kakak!apa kamu sedang PMS?" Arsha mendekap tubuh Ziva. Seketika Ziva mendorong tubuh Arsha karena kesal. Suaminya itu malah kembali membahas masalah ranjang dengan menanyakan masalah kewanitaannya.
"Maafkan Kakak. Kita masuk!" Arsha menarik tangan Ziva kembali masuk ke dalam rumah dan mengajaknya duduk di sofa.
Arsha beranjak dari duduknya menuju dapur. Sekitar 5 menit Arsha kembali dengan segelas teh.
"Minumlah!" Arsha memberikan teh itu ke tangan Ziva.
Ziva langsung meminum teh buatan Arsha. Arsha tersenyum tipis menatap Ziva yang mulai tenang. Arsha duduk menatap Ziva yang duduk dengan waktu lama tanpa berbicara sepatah katapun.
"Pergilah!aku nggak pa pa dirumah sendiri." Ziva berucap datar.
"Kakak akan tetap disini sampai kamu menceritakan apa masalahmu." Arsha terus tersenyum menanggapi Ziva.
"Apa Kakak merasa lucu ketika menatapku," keluh Ziva. Senyum Arsha membuatnya tidak nyaman seakan sedang menertawakan dirinya.
"Baiklah Kakak menyerah." Arsha pasrah mengangkat kedua tangannya. Saat ini apapun yang dilakukan tidak ada benarnya di mata Istrinya itu.
"Sudah sana pergi kerja!" Ziva mendorong tubuh Arsha hingga terjatuh ke lantai.
"Dengar Sayang!Kakak hanya bercanda tentang tadi.Kakak tidak akan pergi kemana-mana," jelas Arsha.
"Jadi apa kita bisa melanjutkan?" tawar Arsha dengan senyum menyerigainya.
"Apa Kakak bisa melupakan itu sesaat!" Ziva kembali berkacak pinggang.
__ADS_1
Raut muka kecewa nampak di wajah Arsha tapi bukan salah Ziva jika saat ini menolaknya. Wanita selalu seperti itu mood yang tidak baik tidak akan mendukung masalah pekasuran. Arsha yang menyadari hal itu nampak tersenyum menerima penolakan Ziva.
"Lalu apa yang kau inginkan, Kakak akan menuruti semua kemauanmu?kau mau ponsel baru atau apa?ayo katakan!" tawar Arsha.
"Kau!" Ziva mengernyitkan dahi mendengar ucapan suaminya itu.
"Kenapa tidak sekalian Kakak menawariku ice cream sama pabriknya sekalian!" sinis Ziva.
"Memangnya kau anak kecil," sahut Arsha.
"Itu Kakak ngerti.Ziva bukan lagi anak kecil yang saat marah dibujuk ini itu.Ziva mau kita menyelesaikan masalah kita," terang Ziva.
Arsha kembali tersenyum merespon sikap Ziva. Istrinya itu tubuh dewasa tanpa disadarinya. saat masih SMA dulu mudah baginya untuk membujuk istrinya itu saat marah dengan menawarkan ingin mengabulkan semua keinginannya tapi kini semua tidak berguna karena Ziva lebih memilih menyelesaikan masalahnya.
"Baiklah katakan apa maumu?" Arsha mengelus pucuk kepala Ziva.
"Aku mau kita menikah secara resmi." Ziva berucap dengan cepat.
"Ok." Arsha langsung mengiyakan keinginan Ziva.
Seketika membuat Ziva terperangah. Semudah itu suaminya itu mengiyakan keinginannya tanpa bertanya lebih jauh lagi. Ziva langsung mencebikkan bibirnya kesal.
"Apalagi, Kak Arsha sudah bilang Ok,kan?" Arsha terlihat bingung menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ziva terus saja merajuk membuat kepalanya pusing.
"Apa kita menikah tanpa orang tua kita, kenapa Kakak tidak berpikir masalah itu?" pekik Ziva.
"Orang tua yang mana bukannya ibumu sudah mengetahui pernikahan kita dulu. Tinggal kita suruh ibu sama Zahra kesini,beres." Arsha berucap enteng.
"Orang tuamu?" sergah Ziva.
"Orang tua yang mana?aku sebatang kara." Arsha kembali berucap enteng.
"Kak!" pekik Ziva.
Arsha langsung menatapnya tajam. "Apa kau ingin kita bertengkar lagi,apa sebenarnya maumu?"
"Ayo kita coba sekali lagi." Ziva terlihat memohon.
Arsha langsung bangkit dari duduknya.
"Kak Ziva mohon untuk terakhir kalinya kita temui orang tuamu setidaknya suatu saat kita tidak menyesal.Bagaimapun juga mereka adalah orang tua kita.Restu mereka adalah kebahagiaan kita." Ziva bersimpuh di bawah kaki Arsha memohon.
Arsha menarik tubuh Ziva bangkit dari kakinya.
"Apa kamu yakin?" Arsha menatap wajah Ziva dengan penuh kekaguman.
Ziva mengangguk penuh keyakinan. Arsha langsung memeluknya dengan erat.
__ADS_1
"Aku tidak pernah menyangka pikiranmu jauh lebih dewasa daripada Kakak.Terima kasih sayang." Arsha mengecup kening Ziva.