
Sekitar pukul 2 siang bel sekolah berbunyi menandakan pelajaran telah usai. Murid-murid berhamburan meninggalkan sekolah.
"Va,loe mau langsung balik?" tanya Keyla.
Tanpa berpikir lama Ziva langsung menjawab."Iyalah."
"Gue antar?"tawar Keyla. Tangannya menarik tangan Ziva ke parkiran.
"Va!" teriak seseorang.
Ziva kemudian membalikkan tubuhnya mencari sumber suara yang memanggilnya.Nampak Rendy melambaikan tangannya dengan senyumnya yang terus mekar menatapnya.Dalam sekejap pria itu kini sudah berada di depannya membuat Keyla langsung pergi meninggalkan keduanya.Seperti biasa Rendy menawarkan diri untuk mengantar Ziva pulang tapi mulai saat ini Ziva sadar harus menjaga jarak dari pria itu kalau tidak ingin nantinya pria itu salah paham terhadapnya.
"Maaf Kak, aku sudah janjian pulang bareng Keyla,maaf sekali lagi Kak Rendy," tolak Ziva melangkahkan kakinya menyusul Keyla d parkiran motor.
Keyla yang melihat Ziva mendatanginya sedikit heran, dia pikir sahabatnya itu akan pulang bersama Rendy tapi tenyata dugaannya salah.
"Ayo Va," ajak Keyla yang sudah duduk diatas motornya.keduanya berlalu pergi meninggalkan tempat itu.
Setelah 20 menit mereka akhirnya sampai di komplek apartemen milik Ziva.
Ziva mempersilahkan masuk saat pintu sudah terbuka.Keyla masuk mengekor Ziva kemudian duduk di sofa sementara Ziva masuk ke kamarnya menaruh tas dan berganti pakaian.
"Key mau minum apa loe?" tanya Ziva.
Saat itu Keyla menatap sekeliling ruangan di apartemen itu yang tidak terlalu besar tapi cukup nyaman.
"Keyla, mau minum apa?" Ziva mengulangi pertanyaannya karena sahabatnya itu tidak menjawab.
__ADS_1
"Terserah yang penting makanan dan minuman bukan batu." kelakar Keyla membuat Ziva menatapnya ketus.
Beberapa menit kemudian Ziva sudah membawa beberapa kotak minuman dingin juga cemilan untuk menemani waktu bersama mereka.
Sedari tadi Keyla terus menatap foto yang terpajang di dinding rumah itu.Bukan foto Ziva atau suaminya tapi foto anak kecil laki-laki dan perempuan yang pose anak laki-laki itu sedang menggendong anak perempuan itu.
"Va, siapa foto dua anak kecil di foto itu?" tanya Keyla karena terlalu penasaran hingga membuatnya harus bertanya pada pemiliknya.
"Oh foto itu sudah jelek sebenarnya aku ingin membuangnya tapi Kak Arsha melarangku," jelas Ziva yang sebenarnya tidak menjawab pertanyaan Keyla.
"Jadi siapa mereka?" Keyla kembali mengulang pertanyaannya tapi kali ini nada bicaranya sedikit ketus.
"Ah aku malu kau seharusnya tahu tanpa bertanya." Saat itu Ziva menahan senyumnya karena saat dia kecil wajahnya begitu tidak menarik menurutnya.
"Dasar kau!" kesal Keyla mengetahui siapa orang di foto itu.
"Kak Arsha adalah sahabat kakakmu karena mereka begitu dekat membuatku juga sering bermain dengan Kak Arsha dan rasanya menikahi kakakmu sendiri,itu yang aku rasakan," jelas Ziva.
"Lalu gimana hubunganmu sekarang dengan kak Arsha apa sudah ....?" Keyla melirik ke arah Ziva yang sedang minum.
Tiba-tiba saja Ziva tersedak mendengar pertanyaan Keyla yang menanyakan sesuatu yang intim tentang hubungan dengan Arsha.
"Pelan-pelan Va minumnya." Keyla menepuk punggung Ziva.
Tiba-tiba bel rumah berbunyi tanpa menunggu lama Ziva langsung membuka pintu.
"Sayang, kamu sudah pulang."Ziva menyambut kedatangan suaminya.
__ADS_1
Arsha langsung memeluk tubuh Ziva dan mencium kedua pipi Ziva bergantian membuat Ziva spontan mendorong tubuh pria itu menjauh.
Keyla yang menatap keduanya langsung mengalihkan pandangannya melihat pasangan di depan matanya bermesraan.
"Ada apa?" Arsha heran dengan sikap Ziva karena saat itu Arsha tidak menyadari keberadaan Keyla di sana.
"Hai Kakak ganteng," sapa Keyla dengan senyum manisnya.
Arsha menjawab sapaan Keyla dengan senyuman dan langsung menuju kamarnya untuk berganti pakaian.
Cukup lama ketiganya berbincang-bincang hingga akhirnya Keyla pamit karena hari sudah mulai gelap.Sekembalinya Ziva dari mengantar Keyla, tangan nakal langsung menarik tubuhnya duduk di sofa.
"Apa yang Kakak lakukan?" Ziva langsung bangkit mengamankan tubuhnya dari suaminya.
"Kak Arsha cuma merindukanmu."Arsha kembali menarik tubuhnya dan dengan mudahnya percaya ucapan manis suaminya itu yang penuh siasat
Arsha mencumbu leher Ziva membuat Ziva merasa kegelian, saat itu tidak ada penolakan darinya karena sebenarnya semenjak saat itu dia selalu menginginkannya.
"Kak jangan!" Ziva menolak sambil mendesah membuat Arsha bukannya menghentikan cumbuannya malah semakin panas.Arsha semakin nekat dan terus mencumbu yang tadinya mendapat penolakan Ziva kini begitu menikmatinya karena mendesah tanpa henti.
"Aku merindukanmu sayang,bisakah kita lakukan sekali lagi?" lirih Arsha ditelinga Ziva.
Ziva mengangguk menyetujui.Keduanya seperti dibakar nafsu yang semakin membara.Arsha membopong tubuh Ziva ke kamar.Tanpa membuang waktu segera melucuti pakaian Ziva yang kini telah tanggal dari tubuhnya.
Keduanya berpadu menikmati setiap kenikmatan duniawi membuat mereka sesaat melupakan segalanya dan hanya hasrat yang menguasai dan memenuhi jiwa dan pikiran mereka.
...----------------...
__ADS_1