
Ziva mulai sedikit demi sedikit menyadari perannya sebagai seorang istri. Ziva selalu mengurus keperluan suaminya dari mengurus baju, rumah juga urusan perut.
"Maaf ya Kak, lauknya cuma seadanya karena di dalam kulkas hanya ada ini." Ziva memberikan piring yang sudah diisinya dengan nasi.
"Ini juga luar biasa karena kamu memasaknya untukku." Arsha tersenyum melahap makanannya.
Ziva menatap senyum manis yang dilemparkan suaminya itu membuat Ziva sedikit bingung bagaimana harus menyampaikan kabar tentang ayahnya karena ketika ingin membahas masalah ayahnya ujung-ujungnya mereka akan bertengkar.
Arsha telah menghabiskan makanannya lalu bangkit dari duduknya membawa piring kotornya.
"Tunggu Kak!" Ziva menghentikan Arsha.
"Nggak pa pa Kakak akan membantumu nggak perlu sungkan suami istri harus saling membantu." Arsha kembali tersenyum.
"Bukan itu Kak.Ziva ingin menyampaikan sesuatu yang penting kepada Kakak," terang Ziva.
Arsha menatapnya serius lalu kembali duduk.
"Ada masalah apa?" tanya Arsha.
Ziva menatap Arsha ada sedikit keraguan ingin menyampaikan tapi ini hal yang penting dan harus secepatnya disampaikannya saat ini juga.
"Apa?katakan!" timpal Arsha.
"Beberapa hari lalu ibuku menelpon memberitahuku kalau ... kalau ayahmu sakit," jelas Ziva.
Deg
Arsha tertegun mendengar kabar itu tapi tiba-tiba Arsha mengingat kembali perlakuan ayahnya terakhir kali bertemu membuatnya kembali bersikap dingin.
"Ayah sakit?apa hubungannya denganku?aku bukan lagi anaknya, kenapa aku harus memperdulikannya!" Arsha berkata dengan ketus.
"Apa kamu lupa terakhir kali kita kesana,orang tua itu mengusir kita!" tegas Arsha.
Keduanya saling menatap dengan tatapan yang tidak mampu diartikan seakan ada batu besar diantara keduanya membuat pemikirannya tak bisa disatukan.Dalam batin Arsha terdapat sedikit kecemasan tapi juga tersimpan dendam karena sifat ayahnya yang keras tidak menerimanya bahkan mengusirnya.
"Aku mengerti Kak tapi aku tidak ingin suatu saat kamu menyesali sikapmu ini," tutur Ziva.
"Aku tidak akan menyesali semua keputusan yang aku pilih di hidupku," tegas Arsha.
Arsha bangkit dari duduknya melangkah meninggalkan Ziva menuju balkon.
"Semoga Allah melunakkan hatimu Kak." Ziva menatap Arsha yang kemudian terlihat di balik kaca berdiri di balkon.
Ziva segera membereskan meja juga piring kotor.
Arsha berdiri menatap sorot lampu-lampu dari balkon apartemennya. Arsha kembali mengingat kenangan bersama ayahnya.Sewaktu kecil ayahnya sangat menyayanginya. Walaupun Ayahnya mempunyai sifat yang keras juga tegas membuatnya tidak begitu dekat dengan ayahnya tapi tidak mengurangi kasih sayangnya.
__ADS_1
Arsha kecil tumbuh dari keluarga yang kurang berada namun berkat kegigihan ayahnya Arsha mulai hidup mewah bahkan lebih dari cukup hingga mampu menghantarkannya menjadi lulusan S3 di bidangnya.
"Ayah." Arsha menitik air mata mengingat masa lalunya.Tangannya meraih ponsel di sakunya ingin menelepon tapi tiba-tiba Arsha kembali mengingatkan kata-kata ayahnya terakhir kali pulang kerumahnya.
(Pergi!Jangan pernah lagi menginjakkan kakimu dirumah ini, tidak sudi aku mempunyai anak sepertimu). Kata-kata itu kembali terngiang di telinganya membuatnya mengurungkan niatnya.
Arsha menggenggam erat ponsel di tangannya. "Sampai mati, aku tidak akan lagi menginjakkan kakiku di rumahmu!" Arsha menjawab ucapan ayahnya yang terus terngiang di telinganya.
Ziva mendekap tubuh suaminya dari belakang.Tidak ada suara yang terucap kecuali dekapan yang semakin erat.Ziva memahami sikap suaminya saat ini membuatnya mendukung apapun keputusan suaminya.Walaupun dalam benaknya menginginkan perdamaian antara suaminya juga ayah mertuanya. Ziva berharap suatu saat suaminya berubah karena tidak mungkin akan selamanya meninggalkan orang tuanya.
***
Ziva sedang bersiap kuliah. Hari ini jadwal kuliahnya pagi membuatnya bersiap lebih awal untuk bisa berangkat bersama suaminya.Setelah memoles wajahnya dengan make up tipis-tipis Ziva bergegas keluar kamar.Arsha sudah menunggunya di sofa. Melihat Ziva yang sudah keluar kamar, Arsha segera bangkit berjalan lebih dulu menuju parkiran.
"Apa Kakak masih marah?" Ziva sedikit berlari menyamakan langkahnya dengan Arsha.
Sejak kemarin malam Arsha sedikit dingin dan cuek padanya membuatnya berpikir Arsha mungkin masih marah padanya karena membicarakan masalah ayahnya.
"Marah untuk apa?" Arsha balik bertanya.
"Aku tidak ingin kamu membahas masalah itu lagi!" timpal Arsha penuh penekanan membuat Ziva hanya mengangguk pasrah.
Arsha berjalan dengan cepat membuat Ziva di buat terengah-engah menyamakan langkahnya.
Ziva mengelap keringat yang mengucur dari dahinya membuat suaminya langsung menyodorkan tisu untuk mengelap keringatnya.
"Terima kasih Kak." Ziva menarik beberapa lembar tisu lalu mengelap keringatnya.
Pria itu tak menjawab langsung tancap gas melajukan mobilnya meninggalkan area parkiran apartemennya.
"Berolahragalah agar badanmu kuat biar jalanmu tidak seperti kura-kura!" gerutu Arsha.
"Kura-kura,selambat itu aku?" Ziva menggeleng tidak percaya.
Arsha mengernyit mendengar lontaran Ziva.
"Baiklah sepulang kuliah aku akan pergi ke gym bersama Kayla," cetus Ziva.
Seketika Arsha mendelik sekilas menatapnya.
"Kenapa bukannya Kak Arsha ingin aku berolahraga,apa salahnya?" keluh Ziva.
Arsha tidak menjawab hanya fokus mengendarai mobilnya.
"Gimana Kak, boleh kan Ziva pergi ke gym?" Ziva memegang lengan Arsha sambil menatapnya lebih dekat.
"Apa kamu sengaja menggoda Kakak atau kamu pura-pura polos?" tanya Arsha.
__ADS_1
Ziva tampak berpikir keras mencari jawaban pertanyaan suaminya itu karena saat itu ia menangkap sinyal-sinyal cemburu membuatnya ingin menggodanya lebih lagi
"Aku hanya ingin berolahraga bukan untuk menggoda pria-pria yang berada di gym," jelas Ziva. Matanya mengerjap beberapa kali menatap Arsha.
"Ziva!" Arsha menghentikan mobilnya langsung menjewer telinga Ziva membuatnya memekik kesakitan.
Ziva mengusap telinganya yang masih terasa sakit akibat jeweran Arsha sementara Arsha kembali melajukan mobilnya.
"Ingat!" Arsha menatap tajam Ziva saat Ziva hendak turun dari mobil.
"Ziva nggak akan pergi tapi-" Ziva berucap pasrah lalu kembali menggoda.
Seketika Arsha hendak menjewer telinganya.
"Ampun Kak, Ziva nggak akan pergi!" Ziva melindungi telinga dengan telapak tangannya.
Arsha kembali memberi tanda peringatan sebelum Ziva turun dari mobil.
"Dasar posesif!" Ziva menatap mobil Arsha yang memulai menghilangkan dari pandangannya.
Ziva melangkah masuk menuju kelasnya. Ziva selalu menjadi pusat perhatian di kampusnya karena parasnya yang cantik hingga membuat laki-laki yang menatapnya terpesona.
"Hai anak baru!" Beberapa mahasiswi menghadang langkahnya menatapnya dengan tatapan sinis.
"Iya Kak, ada apa?" Ziva menjawab sopan.
"Jangan berlagak kamu, lihat sekelilingmu!" perintah Elina.
Ziva menatap sekelilingnya lalu kembali fokus menatap mahasiswa di depannya.
"Ada apa Kak, aku tidak mengerti." Ziva merasa bingung arah pembicaraan mahasiswi itu.
"Gara-gara kamu, semua perhatian laki-laki di kampus ini tertuju padamu." ketus Elina.
Ziva menjadi saingan Elina karena kecantikannya menyaingi kecantikannya.Saat sebelum Ziva masuk universitas itu dialah yang menjadi pusat perhatian laki-laki di kampusnya.
"Tapi Kak bukan salahku mereka memperhatikanku," jawab Ziva.
"Kamu!" kesal mahasiswa bernama Elina yang bersiap melayangkan tangannya menuju wajah Ziva.
Ziva hanya terdiam menunggu tamparan itu sampai di wajahnya.
Tiba-tiba tangan kekar menangkis tangan Elina.
"Jangan mencari masalah disini!" Rendy menatap tajam Elina.Elina kembang kempis menahan amarahnya.
"Rendy, kenapa kamu membelanya?jangan bilang kamu juga terpesona dengan gadis ini!" Elina menunjuk wajah Ziva dengan tatapan semakin kesal.
__ADS_1
"Aku memang mencintainya!Apa masalahmu!" tegas Rendy.
"Kalian!" Elina menatap tajam keduanya lalu beranjak pergi diikuti kedua sahabatnya yang ikut menatap tajam.