
Ziva keluar kamar setelah mendengar suara-suara berisik dari luar.
"Bu Ayu,kok si Arsha pulang kesini nggak pulang ke rumahnya, memangnya ada hubungan apa sama si Ziva kok tiap pulang selalu kesini?" tanya seorang ibu tetangga Ayu bernama Ratna.
"Ziva sama Arsha sudah menikah Bu Ratna," jelas Ayu.
"Lo Ibu kemarin ke Jakarta menghadiri kelulusan Ziva atau ngawinin Ziva sama Arsha?" sambung Ratna
"Dua-duanya Bu." Ayu terus bersabar menjawab sopan pertanyaan tetangganya itu.
"Kenapa nikah tiba-tiba sih Bu Ayu, jangan-jangan Ziva hamil di luar nikah ya?" sahut tetangga Ayu bernama Dewi.
"Hust!" Ratna mendelik Dewi karena ucapannya yang terlalu bar bar.
"Memangnya Ziva nggak lanjut kuliah Bu, kok malah lulus langsung nikah sih?" sambung Dewi.
Pertanyaan tetangga Ayu semakin sinis dan menjerumus ke fitnah membuat Ziva semakin to tahan.
"Tante Ratna sama Tante Dewi, Ziva lulus langsung menikah bukan karena Ziva malas lanjut kuliah apalagi hamil Ziva menikah untuk menghindarkan Ziva dari zina," sahut Ziva tak kalah sinis.
Sedari tadi Ziva terus mendengarkan ocehan dari kedua orang itu tapi lama-lama kupingnya panas karena omongannya semakin menjadi-jadi hingga tidak bisa dibiarkan begitu saja.
"Kok sinis amat Va!" sahut Dewi.
"Tante sendiri yang membuat opini yang tidak-tidak tentang Ziva!"
"Habisnya menikah mendadak seharusnya habis lulus sekolah lagi!" sambung Dewi.
"Sudah Va."
Ayu berusaha meredam emosi putrinya dengan menarik tangannya masuk ke dalam rumah tapi Ziva bersikukuh.Ia mesti membuat ibu-ibu itu jera karena semakin dia diam semakin banyak fitnah yang tertuju padanya.
"Apa salahnya Tante lulus sekolah langsung nikah, toh bukan kesalahan lalu apa yang benar menurut Tante?Nikah salah nggak nikah-nikah salah apalagi nikah karena hamil makin salah di mata Tante!' sahut Ziva membelalakkan matanya menatap kedua tetangganya itu.
"Bu Ayu, didik Ziva yang bener dong,lihat tingkahnya mentang-mentang tinggal di Jakarta nggak punya sopan santun bicara sama orang tua," tutur Ratna.
"Pulang yuk Bu daripada kita terus mendengar celotehan Ziva yang nggak jelas," timpalnya.
Keduanya wanita itu beranjak pergi dengan raut wajah kesal.
"Maafin Ziva Bu, bukan maksud Ziva hanya saja Ibu-Ibu keterlaluan,"sahut Ayu.
"Halah Ibu Ayu ini sama saja, ayo Bu kita pulang saja."
Keduanya tetangga Ayu itu pun akhirnya pergi.
"Ibu ini kenapa sih baik banget sama Tante Ratna dan Tante Dewi?" Ziva sedikit kesal karena ibunya terlalu baik dan sabar menghadapi kedua wanita itu.
"Ziva Kamu nggak boleh seperti itu.Walau bagaimanapun mereka lebih tua daripada kamu,jaga bicaramu!" Ayu mendelik ke arah Ziva.
__ADS_1
" Sopan gimana Bu mereka yang mulai duluan kalau dibiarin pasti akan ada rumor yang nggak-nggak tentang Ziva.Biar mereka tahu dan nggak seenaknya bicara!" Ziva masih sedikit kesal.
"Sudah turunkan emosimu!"
Tiba-tiba mobil putih berhenti di halaman rumah Ayu membuat fokus keduanya berpindah.
"Siapa Bu?" tanya Ziva.
"Sepertinya mobil Juragan Hamid."
"Juragan Hamid, Ibu ngutang lagi sama dia?" Ziva melotot ke arah Ayu.
Seorang laki-laki yang lebih tua dari Ayu keluar dari dalam mobil bersama sopirnya yang membantunya turun.
"Ziva sayang calon istriku sudah pulang." Hamid mendekat kearah Ziva dan Ayu.Saat itu Hamid hampir saja mencium tangannya kalau saja tidak segera menarik tangannya."Juragan jangan kurang ajar ya!" sentak Ziva kesal.
"Calon istrinya apa maksudnya?" Ziva menautkan kedua alisnya menanggapi pertanyaan Hamid.
"Masuk dulu dong kita duduk biar enak ngobrolnya." Hamid masuk ke dalam rumah tanpa permisi bersama sopirnya.
"Apa sih Bu maksud juragan tua bangka itu?" Ziva berbisik di telinga Ayu.
"Ibu juga nggak tahu." Ayu menarik tangan Ziva masuk kedalam rumah lalu duduk.
Hamid memberikan sebuah cek nominal 50 juta kepada Ayu.
"Apa ini?" Ayu menatap serius Hamid.
Hamid tertawa bangga dan berpikir lamarannya itu pasti di terima karena selama ini apapun yang dikehendakinya pasti akan menjadi miliknya termasuk Ziva.Pria itu menatap Ziva intens membayangkan malam panas yang akan dilaluinya dengan daun muda itu.
"50 juta, maksud juragan mau memperistri Ziva dengan uang ini?" Ziva membelalakkan pandangannya ke arah pria tua itu.
"Apa masih kurang?"
Hamid kembali menulis di ceknya lalu memberikannya pada Ayu.
"Tidak hanya uang tapi kebun, rumah akan aku berikan pada Ziva setelah jadi istriku kalau Ziva mau akan aku jadikan kau hanya satu-satunya istriku." Hamid menatap genit Ziva.Saat itu dalam pikirannya membuang 3 istrinya sebanding dengan mendapat daun muda seperti Ziva yang akan bisa menghentak malam-malamnya menjadi malam panas.
"Cih ...." Ziva merasa geli melihat tatapan tua bangka beristri 3 itu yang tidak mau lepas darinya hingga menawarkan untuk menjadikannya istri satu-satunya.
"Bagaimana?" Hamid merasa bangga dengan seluruh kekayaannya dan merasa lamarannya pasti tidak akan ditolak.
"Siapa Va?" Arsha keluar dari kamar menatap tajam Hamid karena pria tua itu menatap istrinya dengan tatapan penuh nafsu hingga membuatnya kesal.
"Ini Kak, Ziva mau di beli 150 juta." Ziva mengangkat cek pemberian Hamid memperlihatkan kepada suaminya.
"Siapa yang menjualmu?" Arsha melangkah menuju Ziva mengambil cek itu dan menyobek menjadi serpihan kecil.
"Hei Nak, apa hakmu!" Hamid menatap tajam Arsha yang merobek-robek ceknya.
__ADS_1
"Saya yang harusnya bertanya, apa hak anda ingin membeli istriku?" Arsha menatap sama dengan tatapan Hamid sama-sama menatap tajam.
"Istri,sejak kapan kalian menikah?Ayu aku sudah mengatakan sejak lama ingin memperistri Ziva kenapa kamu malah menikahkan Ziva dengan anaknya Hermawan ini?" Hamid menatap serius Ayu.
"Lebih baik aku menikahkan Ziva dengan Arsha daripada membuat Ziva menjadi istri ke 4 mu, Ziva itu lebih cocok menjadi anakmu daripada istrimu," hardik Ayu.
"Dasar keluarga miskin tak tahu diri dikasih kekayaan malah menolak mentah - mentah,sudah di kasih untung malah sok - sok man." Hamid terlihat sangat kesal beranjak dari duduknya melangkah pergi diikuti sopirnya.
Ayu bernafas lega karena akhirnya Ziva terbebas dari pria tua itu semua berkat Arsha yang membantunya untuk menyelesaikan masalah hutang di masa lalu hingga sekarang pria tua itu tidak memiliki hak atas putrinya.
"Kau penyelamat keluargaku, Nak," gumam ayu menatap Arsha.
Arsha kembali ke kamarnya tanpa mengatakan apa-apa.Ayu memberi isyarat pada Ziva untuk mengikuti suaminya ke kamar.Ziva mengangguk lalu melangkah menyusul Arsha.
Terlihat Arsha duduk fokus menatap jendela.
"Kak." Ziva menepuk lembut bahu Arsha.
"Seharusnya Kakak tidak membawamu pulang kesini, banyak masalah yang harus kita hadapi di sini." Arsha menyesali keputusannya membawa Ziva ke Bandung yang justru mereka menemui banyak masalah.
"Tidak Kak, Ziva malah senang kita kembali.Ziva senang kita sudah mencoba walau gagal tapi setidaknya kita sudah berusaha.Ingat kata ibu Dina." Ziva mengingatkan kembali kata-kata mertuanya. "Kita harus menjadi kuat agar bisa menyilaukan semua orang seperti berlian."
"Aku tidak tahu kenapa terkadang kamu jauh lebih dewasa daripada Kakak." Arsha mendekap Ziva masuk ke dalam pelukannya.
"Karena aku belajar dari Kakak," lirih Ziva.
Cup.
Kecupan mesra mendarat di kening Ziva.
"Apa kamu bersedia diperistri juragan Hamid semisal belum menikah denganku?" Arsha menatap penuh tanya.
"Aku akan pertimbangkan mengingat juragan Hamid begitu kaya raya," jawab Ziva enteng.
"Berarti kamu sosok istri yang mau berbagi suami berarti aku punya kesempatan." Pria itu tersenyum menyeringai dengan pikirannya.
"Apa nih maksudnya?" Ziva mendelik Arsha.
"La tadi katanya kamu mau jadi istri ke 4 juragan tua itu," jelas Arsha.
"Aku belum selesai bicara, dengerin! setelah aku jadi istri juragan Hamid, aku kompak dengan istri juragan yang lain bikin rencana seolah- olah jurangan mati kelelahan karena tidak kuat dengan 4 istrinya meminta sekaligus walau sebenarnya pria itu mati karena over dosis obat **** dan semua kekayaannya akan jatuh ke tangan istri-istrinya." Ziva terkekeh dengan rencananya.
"Parah ... parah!"
"Biar tau rasa itu tukang kawin." Ziva tertawa menyeringai.
"Ck ... nggak ada kesempatan nih.Bisa-bisa nasibku jadi seperti si tua bangka itu."Arsha sedikit kecewa.
"Jangan harap!" tegas Ziva.Matanya mendelik ke arah Arsha yang hanya cengengesan dengan ancaman istrinya itu
__ADS_1
Tiba-tiba ponsel Arsha berdering saat itu panggilan dari Zacky yang memintanya secepatnya pulang karena terdengar kabar dirinya akan diangkat menjadi Manager pemasaran.
"Yuhuuuu." Arsha langsung bersorak senang mendengar kabar itu.Diangkatnya tubuh Ziva berputar beberapa kali mengungkapkan kebahagiaannya.