Terpaksa Menikah Diusia Belia

Terpaksa Menikah Diusia Belia
Bab 36 ( Gelisah )


__ADS_3

Terima kasih untuk reader setiaku,othor berharap kalian menikmati setiap bab di novelku.Othor tunggu vote juga like kalian ditambah kopi atau bunga juga boleh๐Ÿ˜Š๐Ÿ™.


Selamat membaca...


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Arsha menatap Ziva lembut.


"Maafin Kak Arsha, tadi udah marah-marah sampai membentakmu." Pria itu menyadari kesalahannya udah berlalu kasar pada istrinya.


"Apa masih perih?" Arsha meniup luka bakar di jari Ziva untuk meringankan rasa panas juga perih yang kini dirasakan kekasih hatinya itu.


Ziva menggelengkan kepalanya. "Lebih perih hati Ziva melihat Kakak marah-marah tanpa Ziva tahu penyebabnya, apa Ziva membuat kesalahan hingga Kakak begitu marah?" Matanya menatap nanar pria di sampingnya itu.


Pria itu menggelengkan kepalanya lalu tersenyum. "Apa yang kamu lakukan di dapur tadi?" telisik Arsha.


"Ziva mau goreng telur, Ziva lapar." Ziva memegang perutnya yang terus keroncongan minta diisi.


"Kenapa nggak bilang Kakak atau kamu kan bisa Delivery Order." Arsha mengambil ponsel di saku celananya untuk memesan makanan dari luar.


"Mau makan apa?" Arsha memperlihatkan ponselnya yang berisi deretan menu makanan.


"Aku mau ini aja Kak." Ziva menunjuk salah satu menu.


"Sudah!Tunggu sebentar ya masih kuat nahan kan?" Arsha melirik Ziva.


"Ziva masih kuat kok." Ziva melengkungkan bibirnya keatas.


Arsha pun membalas senyuman Ziva.


Setelah menunggu 15 menit akhirnya makanan yang mereka pesan datang.


Ziva segera melahap makanan di depannya karena memang perutnya sudah sangat lapar.


Setelah makan Ziva ingin mencuci piring tapi Arsha tahu kalau jari Ziva kasih perih karena lukanya tadi membuatnya menggantikannya.


"Sebenarnya tadi Kakak marah karena Kakak bertemu lagi dengan Kanaya," cerita Arsha.


"Kanaya." Ziva mengingat kembali nama Kanaya sambil terus berpikir sepertinya namanya tidak asing di telinganya.

__ADS_1


"Kanaya!" pekik Ziva.


Ziva menatap tajam pria di sampingnya itu.Arsha mengangguk merespon Ziva.


"Aku sudah melarang Kakak dan bahkan aku sudah memperingatkan wanita itu, kenapa Kakak masih nekat bertemu dengannya!" ketus Ziva.


Ziva langsung meninggalkan pria itu tanpa bertanya lebih lanjut.Saat itu duduk di tepi ranjangnya dengan raut wajah menahan amarahnya.Arsha langsung menyusulnya karena tidak ingin istrinya itu salah paham akan ucapannya.


"Va, Kakak bukan sengaja menemui dia tapi dia di kantorku." Arsha memegang pundak Ziva berusaha membujuk agar mendengarkan penjelasannya.


"Dasar edan wanita itu pelakor tingkat dewa," umpat Ziva.


"V,a dengerin Kakak dulu, Kakak belum selesai bicara!" pekik Arsha.


"Apalagi?" ketus Ziva.


"Kanaya sebenarnya anak dari Pak Handoyo CEO perusahaanku," Jelas Arsha.


Seketika Ziva terbelalak mendengar ucapan Arsha.Kenapa wanita itu tiba-tiba muncul diantara dia dan suaminya dan kini malah mengagetkannya dengan statusnya di kantor suaminya.


"Wanita itu, lalu kenapa Kakak tidak mengatakannya dari awal?" Ziva merasa bingung, kenapa wanita sepenting itu di perusahaannya, suaminya itu tidak mengetahui.


"Aku pun baru tahu tadi," jelas Arsha.


"Sudahlah Va, jangan berpikir negatif tentang Kanaya.Mau nggak mau sekarang dia atasanku!" tegas Arsha.


"Kak Arsha nggak mau lagi kau berulah dengan Kanaya kalau tidak ingin Aku dipecat dari kantorku!" Arsha memperingatkan istrinya lebih jauh.


"Iya, Ziva tahu.Pasti Kakak punya masalah besar di kantor sekarang." Ziva menundukkan wajahnya merasa bersalah.


"Kakak bisa mengatasinya, Kakak tahu Kamu melakukannya karena begitu mencintai Kakak." Arsha mencekal dagu Ziva hingga wajah cantik Ziva terlihat sempurna.


"Kau mau melakukannya malam ini?" tawar Arsha.


Ziva langsung mengangguk menyetujui.Arsha langsung bergerak cepat sesudah Ziva mengiyakan pertanyaannya.Mendorong tubuh Ziva ke atas ranjang hingga kini tubuhnya berada diatas Ziva.


"Kenapa sekarang Kakak lebih-."


Arsha langsung membungkam mulut Ziva dengan ciuman panasnya hingga membuatnya tak dapat melanjutkan kata-katanya.Keduanya hangat dalam buaian cinta juga rasa rindu yang selama beberapa minggu di tahannya

__ADS_1


***


"Tumben ya burung beo kita ini nggak ada suaranya." Keyla melirik Ziva yang duduk di sebelahnya.


Ziva termangu tak bereaksi membuat Keyla berbisik dengan Medina juga Nara perihal tingkah aneh Ziva tapi mereka sama-sama tidak mengerti sebab musabab sahabatnya itu diam tak bersuara.


"Va, ada masalah?" Keyla memegang bahu sahabatnya itu hingga membuatnya menoleh ke arahnya.


"Gue nggak pa pa kok,"jelas Ziva. Saat itu tersenyum tapi begitu ketara senyumnya di paksakan.


"Jangan bohongi gue.Sahabatmu ini mengenalmu sejak lama jadi tidak ada gunanya kamu berbohong!" sentak Keyla.


"Gimana ya, Gue juga bingung." Ziva menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ayolah cerita mungkin saja Kita bisa bantu." Bujuk Medina memegang tangan Ziva.


"Sebenarnya ini masalah kak Arsha.Beberapa hari lalu gue terima W***p dari seorang wanita dari ponsel kak Arsha.Wanita itu bernama Kanaya dari kata-katanya, gue tahu dia ngincer kak Arsha.Gue inisiatiflah telepon dia daripada urusannya makin panjang tapi setelah itu-" Ziva menghentikan ucapannya.


"Setelah itu apa Va?" Keyla antusias.Ketiga sahabatnya itu menatapnya penasaran.


"Setelah itu Kak Arsha bilang kalau Dia-."Ziva kembali menghentikan ucapannya.


"Ziva!" pekik ketiga sahabatnya bersamaan.


Ziva tampak berpikir dan langsung ke inti pokok masalahnya.


"Masalahnya, wanita itu atasan kak Arsha di kantornya."


Seketika ketiga sahabatnya menganga dengan ucapan Ziva serasa tidak percaya apa yang dikatakan sahabatnya itu karena Ziva sudah terlalu jauh bertindak dan akhirnya itu membuat masalah untuk suaminya.


"Parah Loe Va,pasti sekarang kak Arsha dalam masalah besar," terka Keyla.


Kali ini terkaan Keyla benar membuat Ziva semakin larut dalam rasa bersalahnya.Walaupun suaminya sudah mengatakan dapat mengatasi semuanya tetap saja karena hal itu akan mempersulit gerak suaminya di kantor.


"Lebih baik Loe segera minta maaf sebelum kak Arsha kehilangan pekerjaannya," tutur Medina.


"Betul kata Medina, Aku setuju," tambah Keyla.


"Tapi gimana gue terlanjur bilang kalau gue bininya, padahal setahu orang-orang di kantor, kak Arsha belum nikah." Ziva menyampaikan kekhawatirannya.

__ADS_1


"Bilang aja loe ceweknya bukan bininya beres," cetus Keyla.


"Sepertinya Aku memang harus meminta maaf," gumam Ziva.


__ADS_2