TERPAKSA MENJADI SIMPANAN

TERPAKSA MENJADI SIMPANAN
S2 JANGAN MENGATAKAN HAL YANG AKAN MEMBUATMU MENYESAL


__ADS_3

"HENTIKAN!!"


Perasaan Mia tak terbendung lagi. Matanya berkaca-kaca. Buliran bening siap meluncur tanpa bisa dicegah. Ucapan Revan begitu menyesakkan dada.


Sementara Revan sendiri bingung. Bukankah seharusnya Mia senang terbebas darinya?


"Zico adalah putraku. Aku tidak menghalangimu untuk bersamanya juga. Karena kau juga berhak atas dirinya. Tapi bukan berarti kamu bisa memisahkan aku dengan putraku."


"Tapi dengan begitu kalian bisa menjalani pernikahan dengan damai. Aku tidak akan melarangmu untuk menemui Zico kapanpun kau mau, Mia... "


"Cukup, Mas! jangan mengatakan hal yang akan membuatmu menyesal. Apa tidak cukup kau menghancurkan perasaan Zea dengan berpisah dari Syma. Dan saat ini... Mas juga ingin menghancurkan perasaan Zico dengan kehilangan ibunya? aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi."


"Tapi-"


"Aku mohon jangan pisahkan aku dari anakku, Mas... kau boleh melakukan apa saja padaku. Jika kau membenciku silahkan pukul aku. Jika bosan melihatku, silahkan cari wanita lain yang ingin kau nikahi. Aku tidak akan merasa keberatan selama anakku masih berada di dekatku."


Tanpa diduga, Mia malah bersimpuh di kakinya. Dengan isak tangis yang membuat tubuhnya bergetar. Revan sangat terkejut dengan hal itu. Mia telah salah mengira dirinya. Perasaan Revan ikut hancur melihat wanita ini semakin terpuruk.


Revan mengangkat tubuh Mia dan memegang kedua bahu wanita itu. Menatapnya teduh dengan kedua jemari mengusap lembut air matanya. Revan juga merasakan sesak didadanya karena telah membuat wanitanya menangis.


"Kau salah paham, Mia. Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya ingin kau bahagia. Dan Azkhan adalah orang yang tepat."


Mia menggeleng. "Aku bahagia bersama putraku. Aku bahagia bersamamu, Mas..."


Revan menatapnya tak percaya. "Denganku? apanya yang membuatmu bahagia saat bersamaku? apa kau lupa bagaimana perlakuanku padamu selama ini. Apa kau lupa bagaimana semua luka ditubuhmu ini bisa ada. Itu karena ulahku, Mia. Jangan gila. Pergilah bersama Azkhan dia mencintaimu."


"Aku tidak bisa," lirih Mia disela isak tangisnya.


"Kalian akan bahagia. Zico akan sering mengunjungimu."


"Tidak... " Mia tetap bersikeras.


Revan menghembuskan nafas gusarnya. Bingung menghadapi seorang wanita yang sulit ditebak seperti Mia.


"Kenapa? apa alasannya? kau tidak akan kehilangan anakmu, Mia. aku akan-"


"Karena aku mencintai kalian."


Deg


Revan membeku ditempatnya. Kalian? apa itu artinya Revan juga termasuk?

__ADS_1


"Kalian?" Revan membeo. Tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.


"Ya, aku mencintai kalian berdua. Aku tidak ingin kehilangan lagi. Aku memang sempat menyerah pada diriku sendiri untuk mengikhlaskanmu, Mas. Tapi kenyataannya sampai saat ini, aku bahkan tidak bisa. Aku tidak bisa... " Mia semakin terisak.


Revan semakin mengeratkan tangannya. Betapa tidak percayanya dia dengan semua ini.


"Setelah semua yang telah kulakukan, kau masih mencintaiku Mia?" Revan menatapnya teduh. Matanya memerah entah menahan tangis atau apa.


Mia mengangguk.


"Bodoh! apa yang ada didalam pikiranmu, Mia? tidak adakah sedikit saja terbesit di kepalamu ingin membalas dendam padaku dan berbalik menyakitiku?"


"Tentu saja ada. Pikiranku selalu memerintahkan aku untuk membalas semua perbuatanmu, Mas. Tapi aku tidak bisa. Hatiku selalu berkata, bahkan jika aku punya seribu kesempatan untuk menyakitimu, aku tidak akan melakukannya."


Revan tidak bisa menahannya lagi. Pria itu menarik Mia agar masuk kedalam pelukannya. Air mata penyesalan membanjirinya. Dia pikir semuanya sudah terlambat.


"Pantaskah aku mendapatkan cintamu, Mia... Aku terlalu kotor untuk itu. Aku sangat jauh dari kata pantas," Revan berucap lirih. Menumpahkan segala sesak didadanya.


"Kita bisa memulai semuanya dari awal, Mas."


Revan semakin mengeratkan pelukannya. Sesekali mencium puncak kepala istrinya. Mereka begitu larut dalam perasaan masing-masing. Revan seakan tak ingin melepaskan Mia barang sedetik saja. Sampai akhirnya suara Zico membuat mereka terkejut.


"MAMA?! kenapa kalian berpelukan sambil menangis?" Zico menatap keduanya begitu polos.


Zico melihat kearah sisa roti lapis yang sudah nyaris habis. "Kalau tahu pedas kenapa masih dimakan. Itu hampir habis."


Ah sial, Mia lupa bahwa ketelitian Zico sama seperti Revan.


"Sudahlah. Sebaiknya kita kembali tidur. Ini sudah sangat larut." Revan menengahi mereka. Dan membuat seulas senyum diwajah Mia.


"Bisakah malam ini Zico tidur bersama Paman?"


Sontak hal itu membuat Revan terkejut sekaligus senang. "Tentu saja boleh."


"Tapi kenapa?" Mia menyela tak Terima ditinggal seorang diri.


"Tidak apa-apa, Ma."


"Sudahlah, Mia. Biarkan dia bersamaku malam ini."


Mia menghela nafasnya. Membiarkan mereka pergi. Mia menatap punggung keduanya dengan seulas senyuman penuh arti. Berharap setelah ini semuanya akan baik-baik saja. Bagaimana pun juga Revan memang harus mendekati Zico secara perlahan. Agar anak itu tahu siapa dirinya dan menerimanya dengan tulus.

__ADS_1


****


Revan mengambil tempat disebelah Zico. Berbaring sembari menghadapnya.


"Paman, sebenarnya Zico berbohong pada Mama."


Revan menautkan alisnya. "Atas dasar apa?"


"Zico lelah mendengar Mama menangis setiap malam. Entah apa yang membuatnya sedih, Zico sendiri bingung."


"Mama sering menangis sejak kalian tinggal disini?"


Zico menggeleng. "Tidak juga. Bahkan sebelum kami disini."


Revan terdiam sejenak. Lalu suara Zico kembali mengejutkannya.


"Paman, Maukah paman jadi Papa Zico?"


Sontak permohonan itu membuat Revan membulatkan matanya. Belum sempat Revan menjawab, anak itu kembali berucap, "Kasihan Mama. Sepertinya Mama menyukai paman. Mama sering tersenyum saat menyusun pakaian paman. Zico pernah melihatnya mencium baju paman."


Revan terhenyuh mendengarnya. Ternyata benar selama ini wanita itu mencintainya dalam diam. Cinta yang menyakitinya namun tetap membuatnya bertahan.


"Zico mohon... " tatapan permohonan anak itu semakin membuat Revan gemas. Revan memeluk putranya dengan penuh kasih sayang. Sesekali mengecup puncak kepalanya.


"Aku memang Papamu, Zico... Aku memang orang tua kandungmu."


"Apa?"


Revan mengangguk serius. Membuat anak itu menatapnya bingung. "Benar Nak. Aku adalah Papamu yang sebenarnya. Bukan Azkhan atau siapapun. Akulah orang tuamu."


"Tapi kenapa tidak bilang sejak awal?"


"Papa baru tahu dari Mamamu. Kau adalah putraku, hanya putraku." Revan kembali memeluknya dengan erat.


Bocah kecil yang polos itu tersenyum sumringah. Dia tidak mengerti apa maksud dari Revan sebenarnya. Hanya mendengar bahwa dia punya seorang ayah, Zico begitu gembira. Hingga membalas pelukan Revan.


"Zico senang ternyata punya Papa sungguhan."


Revan tidak hentinya mencium putranya. Dengan kebahagiaan yang sulit sekali untuk dijelaskan. Dia pikir Zico akan sulit menerima dirinya. Namun ternyata dia salah. Anak itu malah memintanya sendiri untuk menjadi orang tuanya.


Begitu banyak kejutan pada hari yang Revan lewati ini. Tidak menduga bahwa perasaanya terbalaskan. Tidak menduga bahwa Tuhan masih memberinya kesempatan untuk berubah memperbaiki semuanya.

__ADS_1


Dan Revan tidak hentinya mengucap syukur atas nikmat yang dia sendiri merasa tidak pantas untuk mendapatkannya.


Mereka akhirnya terlelap. Dengan berpelukan satu sama lain.


__ADS_2