
CIIIITTTTT......
Hariz tiba-tiba menghentikan mobilnya, saat menyadari ada yang menyalip mobil mereka. Nampak beberapa orang keluar dari mobil itu dengan membawa senjata tajam dan juga pistol ditangan mereka.
Beberapa dari mereka mendekati mobil Hariz dan Aina.
"KELUAR!!" teriak salah satu orang bertubuh gempal tersebut.
"Astagfirullah bagaimana ini Mas. Aina takut! Mas bisa berkelahi kan?"
"Jangan konyol Aina. Kalau satu lawan satu, tentu saja saya bisa. Tapi kalau sebanyak ini, yang benar saja. Kamu kira saya, Jackie Chan! Kau saja yang lawan... "
"APA!! Mas Hariz gila, ya?"
Perdebatan mereka berdua terpaksa dihentikan, karena mendengar satu peluru ditembakkan keatas. Sebuah tanda peringatan dari kelompok penjahat itu.
DORRR
AAAaaa
Aina memekik kaget mendengarnya. Hariz juga kaget, tapi bukan karena suara tembakkan, melainkan teriakan nyaring dari mulut Aina.
"CEPAT KELUAR!!"
Mau tidak mau, mereka berdua akhirnya keluar. Sembari mengangkat tangan diatas sebagai tanda menyerah.
"Serahkan semua benda berharga kalian!!"
"Apa? Benda berharga? Kami ini orang miskin Pak, mana punya kami benda berharga." Aina mencoba menyahuti dengan memelas.
"Bodoh! Mana ada orang miskin yang punya mobil." Hariz memaki kesal.
"Mobil ini bukan milik kami. Kami menyewanya, hanya untuk bergaya saja."
"JANGAN MENIPU KAMI! CEPAT KELUARKAN SEMUA BARANG KALIAN. DAN TINGGALKAN KUNCI MOBILNYA."
"Hey, Pak. Jangan teriak-teriak. Nanti didengar orang. Aksi perampokan kalian jadi gagal nanti!" ucap Hariz yang langsung mendapatkan tendangan dari Aina, tepat ditulang keringnya.
AW
"Dasar idiot! Jika gagal kan bagus untuk kita."
"Kalian membuat kesabaran kami habis. Cepat serahkan, jika tidak kami tembak kalian sekarang juga!"
DORRR
Satu peluru lagi dilesatkan diatas, sebagai tanda peringatan kedua dari perampok itu.
"Ap-apa tidak ada pilihan lain? Misalnya wanita disebelahku ini. Kalian ambil dia saja, ya... "
"APA!! DASAR SUAMI SINTING. BAGAIMANA BISA KAU LEBIH PEDULI PADA HARTAMU DARI PADA ISTRIMU SENDIRI....
KAU MEMANG SUDAH GILA!!
__ADS_1
BRENGSEKK...
BIAR AKU SAJA YANG MEMBUNUHMU!" Aina mencoba untuk menyerang Hariz dengan memukulinya secara membabi buta.
Membuat sekelompok perampok itu hanya melongo menyaksikan kekonyolan pasangan suami istri itu.
Dan tanpa mereka sadari, sekelompok perampok itu telah dikepung oleh anak buah Hariz.
"AINA HENTIKAN! KITA HARUS KABUR SEKARANG... "
"TIDAK MAU! AKU BUNUH DULU KAU DASAR SUAMI PAYAH."
DORRR
DORRR
Tanpa Aina sadari, anak buah Hariz dan sekelompok perampok itu telah beradu tembak. Sebab itulah Hariz mengajaknya kabur.
"Kau lihat itukan? Kalo tidak mau ikut yasudah. Biar aku saja yang pergi! Aku belum siap mati konyol, disaat masih perjaka." Hariz segera masuk kedalam mobilnya.
Aina sadar, dia tidak bisa melindungi dirinya saat ini. Sebab itulah tidak ada pilihan lain, selain ikut bersama suaminya.
Hariz tersenyum kecil, melihat Aina berlarian kearah mobilnya. Wanita itu masuk begitu saja namun menatapnya penuh dengan kebencian.
Hariz tidak memperdulikan hal itu. Pria itu memilih kabur dan menjauh secepatnya dari bahaya itu.
******
Kini Hariz merasakan aura yang mengerikan dari tatapan Aina. Wanita itu masih menyimpan dendam didalam dirinya.
"Aina Mas hanya.... "
"Sampai disini aku mulai sadar.... " Baru berubah seperti itu saja perasaan Hariz sudah tidak enak. Hariz lebih suka Aina diam dari pada berbicara. Karena setiap ucapan yang keluar dari mulut Aina merupakan ancaman baginya.
"Jangan berpikir buruk dulu, Aina."
"Bagaimana bisa aku tidak berpikir buruk, sementara kenyataannya sudah terpampang jelas. Aku pikir, sebagai seorang suami kau akan melindungi istrimu. Menjadi pahlawan bagiku seperti di film yang biasa aku tonton.
Tapi ternyata aku salah...
Dan aku sadar, bahwa semua yang ada difilm hanya ilusi. Pembodohan publik! Mulai sekarang aku benci menonton film."
"Baiklah. Lagi pula kita tidak punya TV."
"DIAM! Aku belum selesai bicara. Jika mereka benar-benar mengambilku, apa Mas Hariz tidak berpikir apa yang akan terjadi denganku nanti? Bagaimana kalau mereka menyiksaku, menjual organ tubuhku? Lalu membuangku seperti sampah. Tidak aku sangka suamiku sendiri tega melakukan ini. Huuuuuuu.... " Aina menangis sembari terus berkicau.
Sementara Hariz, setiap kali ingin bicara selalu saja disela olehnya.
"Aina dengar dulu, Mas melakukan ini... "
"Mas jahat! Aina mau pulang kepanti saja."
"Aina, Mas hanya... "
__ADS_1
"Aina menyesal menikah dengan Mas Hariz. Aina mau cari suami lain saja."
"Aina, dengar dulu!"
"Aina mau.... "
"AINA!!" Hariz mengeraskan suaranya. Menghimpit Aina hingga wanita itu tersudut ditembok.
"Kau memang tolol. Apa kau pikir Mas setega itu memberikanmu begitu saja pada mereka?
Tidak Aina.
Mas melakukan ini, semata-mata untuk mengulur waktu sementara anak buah Mas belum datang. Saat didalam mobil tadi, Mas sempat memencet tombol darurat hingga anak buah Mas bisa melacak keberadaan kita. Dan itu membutuhkan waktu."
"Mas bohong... "
"Astaga wanita ini. Terserah mau percaya apa tidak. Yang jelas sekarang kita sudah selamat.
Lagi pula, kalaupun mereka ingin mengambilmu. Besok-besok mereka pasti akan mengembalikanmu padaku. Karena tidak tahan tentunya dengan wanita aneh sepertimu!"
"APA!! Kalau begitu kenapa Mas mau dengan wanita aneh sepertiku!"
"Mau bagaimana lagi? Mas terlalu bosan dengan wanita normal."
"Jadi maksud Mas Hariz, Aina tidak normal?"
"Bukan Mas yang bilang."
"Brengsek. Suami sialan! Tidak bisakah kau bersikap manis sedikit pada istrimu, Hah!!
Kau lebih pantas menikah dengan siluman. Atau dengan kuntilanak.
Dasar suami kejam. Tidak berperasaan! Kau menyebalkan.... " Aina terus memukuli suaminya dengan bertubi-tubi.
Hariz sendiri hanya menerimanya dengan terkikik geli. Pukulan Aina tidak ada rasanya sama sekali ditubuh kerasnya. Namun wanita itu tidak mau berhenti sebelum Hariz meminta ampun.
"Baiklah Aina, Mas menyerah. Hentikan seranganmu itu!"
"Tidak mau. Mas jahat... "
Hariz menangkap kedua tangan Aina. Sehingga memaksanya berhenti menyerang Hariz.
"Kita lanjutkan dikamar saja. Aku akan membalasmu, bagaimana?" Aina tahu maksud ucapan Hariz. Sebab itulah dia semakin kesal.
"Ayolah Aina, kita sudah menikah beberapa minggu tapi kau masih perawan. Kita coba lagi, ya... "
"Tidak mau! Perawani saja biawak betina sana!! Melihat Ma saja Aina kesal. Bagaimana mau melakukan hal itu."
"Apa kau tidak tahu, kalau menolak ajakan suami, kau akan dilaknat oleh malaikat sampai besok? Lagi pula, berhubungan suami istri bisa menghilangkan stress."
"Jangan membawa-bawa agama Mas. Aina tahu Mas Hariz sangat pintar menyalah gunakan aturan, iya kan?"
"Astaghfirullah Aina. Kalau tidak percaya, tanya saja pada Syma. Dia akan menjelaskan semuanya padamu! Lagi pula, bagaimana Mas tidak membawa bawa agama. Pasalnya mulai dari mumbuka mata, sampai memejamkan mata kembali. Kita selalu menggunkan agama kita dalam berdoa tentunya."
__ADS_1
Aina terdiam. Wajahnya masih ditekuk dan menahan geram. Matanya masih berkilat marah. Namun Hariz malah tersenyum sinting kearahnya.
"Bagaimana, mau ya... "