TERPAKSA MENJADI SIMPANAN

TERPAKSA MENJADI SIMPANAN
TMS EPS 56: TERTAWALAH DIATAS PENDERITAANKU


__ADS_3

"Sudah cukup Mas. Kita sudah terlalu lama mengurung diri dikamar. Mas bilang ingin keluar, kasihan Zea nanti bosan dengan Mina." Syma mencoba melepaskan diri dari Ersad yang masih mengungkung tubuhnya. Namun hal itu sia-sia, karena Ersad semakin menempelkan tubuhnya.


"Tenanglah Sayang. Zea tidak akan mencarimu, karena aku sudah meminta ijin padanya meminjammu seharian ini. Sebagai gantinya, aku membiarkan dia makan permen sesuka hatinya."


"APA!!" Syma langsung mendorong Ersad agar menyingkir dari tubuhnya.


"Apanya yang apa?"


"Zea tidak boleh banyak makan permen. Nanti giginya rusak bagaimana?"


"Hanya satu hari ini saja, Sayang. Biarkan dia melakukan apapun yang dia inginkan."


"Tidak.


Aku harus menghentikannya." Syma ingin beranjak dari sana, namun lagi-lagi Ersad menahannya.


"Tenanglah Sayang, aku hanya bercanda. Aku juga tahu mana yang baik dan buruk untuk Zea. Kau terlalu berlebihan."


"Benarkah?"


"Emh... " Ersad mengangguk.


"Mas bilang ingin pergi, ayo! Tunggu apa lagi?"


"Sepertinya tidak jadi saja. Kandunganmu sudah membesar Syma. Aku khawatir terjadi sesuatu padamu dijalan. Kita tunda saja, sampai selesai lahiran."


"Ya Allah, Mas. Kandunganku baru tujuh bulan. Dan aku baik-baik saja.


Sudahlah...


Lain kali jangan memberi harapan jika tidak bisa memenuhinya. Membuat orang lain berharap dan kecewa." Syma merutuk kesal dan sedikit menjauhinya.


Ersad hanya terkekeh melihat Syma yang semakin sensitif dan mudah merajuk.


"Baiklah, baik. Kita pergi sekarang, ayo!" Ersad berucap lembut sembari mengulurkan tangannya.


"Tidak usah. Kalau tidak mau pergi, ya jangan dipaksakan!" ketusnnya.


"Jadi Sayang, ayo kita pergi." Ersad menahan sabarnya sebisa mungkin.


"Tidak. Aku sudah tidak ingin lagi. Mas pergi saja sendiri."

__ADS_1


Ersad mengusap kasar wajahnya. Membujuk wanita baginya adalah hal yang paling sulit. Apalagi saat hamil seperti ini. Sifat menyebalkannya berkali-kali lipat.


"Baiklah jika tidak ingin pergi. Kita akan tetap disini dan membuka akses agar calon bayi mudah keluar," Ersad berucap dengan tersenyum mesum. Tentu saja hal itu membuat Syma semakin kesal karena dia sudah tahu kemana arah pembicaraan itu.


Namun meski begitu, Syma juga tidak bisa menolaknya. Karena Ersad selalu saja mengingatkannya akan dosa bagi seorang istri yang tidak mau menuruti perintah suaminya. Apalagi masalah kebutuhan biologis. Dan hal itu membuat Syma menyerah sampai akhirnya lagi-lagi dia berakhir diranjang.


******


"Mia?" Syma berkerut heran melihat Mia yang tiba-tiba datang menemuinya.


"Apa ada masalah?" Syma kembali bertanya, ketika melihat Mia hanya menatap hampa.


"Revan pelakunya. Dia yang mengirim poto itu. Dia ingin merusak rumah tangga kalian," Mia berucap pelan. Namun dia sendiri terlihat jelas sedang hancur.


"Ayo masuklah... Kita bicara didalam."


Mia mengikuti langkah Syma yang menuntun nya untuk masuk. Mereka akhirnya duduk berdekatan seperti dulu mereka lakukan.


"Sebenarnya aku tidak terlalu peduli dengan poto itu. Jadi jangan khawatir, kami tidak akan bertengkar hanya karena hal seperti itu."


Mia tersenyum tipis dengan anggukan pelan.


Bukan karena dia takut Revan akan kembali pada Syma. Tapi dia takut kebahagiaan Syma kembali terenggut dan berakhir menyedihkan dengan Revan.


"Aku sendiri bingung padanya. Rasanya ingin menyerah saja. Aku juga sudah merasa hambar dalam hubungan ini. Tidak ada cinta lagi diantara kami. Dia selalu marah dan bersikap kasar padaku. Entah ini karma atau apa. Yang jelas aku benar-benar sudah lelah dengan semua ini." Mia berucap lirih. Entah mengapa satu-satunya orang yang bisa diajaknya bicara hanyalah Syma.


Sejak dulu hanya Syma yang mau mendengar semua keluh kesahnya.


"Dengar Mia. Kalau Revan sudah dipasangkan bersamamu saat ini. Itu artinya Kamu memiliki kemampuan untuk menghadapinya. Sebab itulah tidak dititipkan pada perempuan lain.


Para ulama saja mengatakan bahwa, ketika kamu mendapatkan pasangan yang tidak menyenangkan, maka bersabar itu adalah yang pertama. Cobalah untuk menerima dulu itu semua. Merespon dengan nilai-nilai kebaikan.


Cara meresponnya adalah, bayangkan ketika Allah sedang memberikan sebuah misi kebaikan yang melahirkan pahala yang banyak bagimu. Jika kamu sudah berpikir bahwa ini dititipkan padamu karena kamu mampu. Dan ada misi dakwah didalamnya. Barangkali Allah sedang menyiapkan pahala dan Syurga didalamnya.


Selalu ada jalan dalam setiap permasalahan.


Tapi jalan yang pertama jangan pernah berpikir untuk berpisah terlebih dulu. Mungkin bukan cinta yang sedang Allah hadirkan untukmu. Melainkan syurga yang Allah janjikan." Syma berucap begitu lembut.


Tidak bisa dipungkiri, bahwa mendengar hal itu membuat hati Mia menjadi lapang. Meski dia sadar bahwa begitu mudah mengatakan, tetapi sulit sekali untuk menjalani.


"Aku tidak seberuntung dirimu, Syma. Satu orang yang membencimu, tapi banyak orang yang mencintaimu.

__ADS_1


Kau benar. Mungkin memang ini sudah takdirku. Takdir yang begitu menyedihkan. Mengharapkan sebuah cinta dari suami sendiri tapi hasilnya nihil. Jangankan cinta, bahkan menatapku saja dia tidak ingin.


Miris sekali, bukan?" Mia tertawa hambar setelah mengatakannya.


Syma hanya terdiam. Sekarang dia sadar. Bahwa setiap kejadian selalu ada hikmah di dalamnya. Allah memisahkannya dari Revan dan mempertemukannya dengan Ersad. Pria yang memiliki karakter berbanding balik dengan Revan.


Revan yang bersikap acuh dan tidak pernah peduli. Sementara Ersad selalu saja menyempatkan diri untuk memperhatikan anak dan istrinya. Ersad juga bersikap lembut dan romantis. Begitu manis hingga Syma tidak bisa berhenti merindukan suaminya itu saat berjauhan.


"Bersabarlah. Mungkin Kau memang tidak seberuntung diriku. Tapi aku juga belum tentu kuat sepertimu. Percayalah bahwa suatu saat nanti, kehidupanmu akan menjadi lebih baik lagi.


Ikuti alurnya dan nikmati prosesnya. Allah tahu kapan kita harus kembali bahagia. Kau wanita yang kuat Mia. Aku percaya itu."


"Kenapa Syma? Kenapa kau tidak membenciku? Padahal aku pernah menyakitimu. Aku pernah merenggut kebahagiaanmu. Kenapa kau tidak membalasku.


Bukankah seharusnya kau tertawa melihat penderitaanku. Tertawalah....


Tertawai nasib burukku! Tertawalah diatas penderitaanku Syma. Jangan selalu bersikap baik padaku.... " ucap Mia disela isak tangisnya.


Syma memeluknya dengan erat. Syma tahu bahwa saat ini Mia sedang terpuruk. Dia membutuhkan bahu untuk bersandar. Dan Syma orang yang tepat untuknya.


*****


"Ya Allah, apa yang Ibu lakukan?"


"Ibu sedang merapikan mainan Zea Syma. Kenapa kau terkejut?"


"Tentu saja aku terkejut. Ibu tidak boleh melakukan itu. Aku biasa menyuruh Zea membereskan sendiri mainannya. Dan sekarang, dimana anak itu?"


"Dia bersama Mina. Sudahlah biarkan saja, Lagi pula Ibu ini harus banyak bergerak. Supaya tubuh terasa segar."


"Tapi tidak dengan cara seperti ini, Ibu. Lebih baik Ibu temani aku belanja kebutuhan bayi. Bukankah ini lebih menyenangkan?"


"Baiklah, tapi tunggu Ibu selesai."


"Sudah Ibu tinggalkan saja. Ayo kita belanja... "


"Tapi... " Syma langsung meraih tangan Ceyda untuk mengajaknya pergi. Meninggalkan mainan Zea yang masih berserakkan dimana-mana.


Ceyda hanya bisa pasrah. Dia mengikuti keinginan Syma dengan senang hati tentunya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2