TERPAKSA MENJADI SIMPANAN

TERPAKSA MENJADI SIMPANAN
S2 WANITA HINA YANG MENJIJIKAN


__ADS_3

Mia tersentak kaget. Apalagi saat Revan mencengkram tangannya dengan kuat. Revan terus mendesaknya agar bicara.


"Aku sudah lelah membela diriku dihadapanmu, Mas. Tapi tak pernah sedikitpun kamu percaya. Lantas kenapa saat ini kamu mendesakku untuk bicara! apa jika dengan aku bicara kamu akan percaya? apa kamu percaya kalau aku menjalani hari yang buruk setelah memilih jalanku sendiri untuk pergi darimu."


"Tidak. Mana mungkin aku percaya dengan wanita licik sepertimu. Jelas-jelas kau meninggalkanku karena kegagalanku. Kau memilih pergi dan mencari pria lain, dan orang itu adalah Azkhan. Lalu kalian melakukan hubungan terlarang sampai lahirlah bocah kecil ini! kau menjijikkan Mia, kau sangat hina," ucap Revan dengan penghinaan yang kental.


Ada rasa sesak memang. Namun satu hal yang Mia syukuri setidaknya Revan tidak menyadari bahwa Zico adalah putranya. Revan menganggap Zico adalah anak dari hasil hubungan gelap Mia dan Azkhan. Mia sedikit lega dengan hal itu.


"Ya, kamu benar. Aku adalah wanita hina dan menjijikkan. Dan akan lebih baik jika kita benar-benar bercerai dalam hukum maupun agama."


Mendengar hal itu, justru membuat Revan tertawa hambar. "Kau pikir aku bodoh, Mia. Dengan menceraikanmu kau pasti merasa menang karena akan dengan mudah menikah dengan Azkhan. Itulah sebabnya aku memperingati beberapa kerabatku yang bekerja di pengadilan untuk mencegah setiap kali kau mengajukan gugatan cerai. Semua itu sengaja aku lakukan."


Mia terperangah. Pantas saja selama ini dia kesulitan mengajukan cerai. Rupanya Revan lah dibalik semua ini. "Lalu kau mau apa, Hah! apa yang kamu inginkan dariku."


"Aku tidak akan pernah menceraikanmu. Bukan karena aku mencintaimu. Tapi untuk menghukum semua perbuatanmu. Neraka adalah tempat yang pantas untukmu. Dan akan aku ciptakan neraka itu untukmu, Mia."


"Jangan pernah bermimpi, Mas. Meski kamu tidak mau menceraikanku, aku tidak akan sudi tinggal dirumahmu lagi." Mia membantah.


Revan begitu marah sampai tangannya bergerak untuk mencekik leher Mia. Namun hal itu terhenti saat mendengar suara Zico yang terbangun dari tidurnya.


"Jangan sakiti Mama Zico!!" Zico berteriak keras. Membuat mereka berdua seketika saling menatap tajam.


Sekilas, Revan menyadari kemiripan mereka saat marah. Namun hal itu tidak digubris mengingat Zico yang dia yakini adalah putra Azkhan. Segera saja Revan melepaskan Mia. Dan kembali menjalankan mobilnya.


Sampai akhrinya mereka sampai. Mia sedikit terkejut, karena Revan tidak mengantar mereka dipanti melainkan disebuah perumahan elit yang cukup megah.


Dimana ini?


Bagaimana Revan bisa mendapatkan rumah semewah ini?


"Mama, ini rumah siapa?"


"Ini rumah Zico, mulai sekarang kalian akan tinggal disini." Revan menyahuti dan memberikan sedikit senyuman pada Zico. Berharap bocah kecil itu akan menyukainya.


"Apa-apaan ini! aku tidak mau. Kami harus pulang kepanti sekarang. Bibi Deriya pasti menunggu," tolak Mia.


Dengan seringainya, Revan berkata, "Aku bisa meratakan panti asuhan itu dengan mudah jika aku mau, Mia. Apa kau lupa siapa suamimu ini, Hah! Mau mencoba hal yang pernah aku lakukan pada Syma dulu."

__ADS_1


Mia akhirnya bungkam. Jika sudah begini, apa yang harus dia lakukan? Revan tidak bisa dihentikan jika sudah bertindak. Mana mungkin Mia tega menciptakan masalah dipanti hanya karena dirinya sendiri.


Tidak ada pilihan. Mia setuju untuk sementara ini. Mungkin setelah ini dia akan mencari cara untuk melepaskan diri dari Revan.


*****


Mereka tiba dikamar. Tentu saja Zico senang karena disana jauh lebih luas dari pada kamar yang ada dipanti.


"Mama, siapa paman itu. Kenapa dia menyuruh kita tinggal disini?"


"Em, dia-" ucapan Mia terhenti. Dia sangat bingung bagaimana cara menjelaskannya. Jika Mia bilang Revan adalah suaminya. Zico pasti langsung mengerti dan akan memanggilnya dengan sebutan Papa. Bagaimana jika Revan curiga?


"Mama?"


"Ah, Zico sayang. Sebaiknya Zico tidur ya. Mama sudah sangat mengantuk," ucap Mia sembari berpura-pura menguap dan nampak mengantuk berat. Hal seperti itu biasa Mia lakukan setiap kali Zico bertanya hal yang sulit untuk dijawab.


Zico mengangguk setuju. Menarik selimut lalu memejamkan matanya sampai akhirnya tertidur.


Mia yang tadinya memejamkan mata. Kini langsung membuka kembali matanya. Dia juga sangat ingin tidur. Namun matanya tidak ingin terlelap seperti Zico. Tentu saja karena kerisauan yang melanda hatinya.


Mia mengangkatnya.


*On Phone Call*


Mia: "Assalamu'alaikum Bibi."


Deriya: "Wa'alaikumsalam, Mia kalian dimana? kenapa belum kembali?"


Mia terdiam sejenak. Sepertinya hal seperti ini harus dia beritahukan pada Deriya agar wanita itu tidak khawatir. Tapi apa itu bisa menutup kemungkinan Deriya akan semakin khawatir jika tahu dia bersama Revan saat ini?


Deriya: "Mia kenapa diam saja!"


Mia: "Em Bibi, Mas Revan kembali."


Deriya: "Apa katamu? bagaimana bisa."


Mia: "Besok aku jelaskan. Yang harus Bibi tahu, bahwa saat ini kami berada di rumah Mas Revan. Dia membawa kami kembali."

__ADS_1


Deriya: "Apa dia menyakiti kalian, Mia!"


Mia: "Tidak Bibi. Mas Revan tidak seperti itu. Dia sudah berubah. Tidak ada lagi sikap kasar dalam dirinya. Dia hanya ingin kami kembali dan memulai semuanya dari awal lagi."


Deriya: "Oh baguslah kalau begitu. Semoga kalian bahagia."


Mia: "Amin. Jangan khawatir kan kami Bibi. Kami di sini baik-baik saja."


*Of Phone Call*


Setelah menutup telponnya. Mia tersenyum kecut. Entah mengapa dia tiba-tiba menutupi sikap Revan. Mungkin karena Mia tidak ingin Deriya khwatir padanya sementara dia tidak berdaya untuk melawan.


Tanpa Mia sadari, sejak tadi Revan menatapnya dari ambang pintu. Revan menduga bahwa Mia baru saja menelpon Azkhan untuk meminta bantuannya. Mata pria itu kini berkilat tajam. Dan langsung saja mendekati Mia yang berdiri memunggunginya.


Mia tersentak saat tangannya tiba-tiba ditarik. "Apa yang kamu lakukan, Mas? lepaskan tanganku, sakit..." Revan tidak mendengarkan rintihan Mia. Pria itu menyeretnya keluar kamar.


"Tidak tahu malu! beraninya kamu meminta bantuan Azkhan untuk keluar dari sini. Jangan menantangku, Mia. Kau akan menyesal."


"Aku tidak mengerti, meminta bantuan apa? bukan Azkhan yang menelponku tadi. Aakkh!!" Mia berteriak kesakitan saat Revan semakin menariknya kasar.


"Pembohong!!"


"Demi Allah, Mas. Bibi Deriya yang menelponku bukan Azkhan." seketika Revan melepaskan tangannya. Membuat Mia memegangi tangannya yang terasa sakit.


Sampai akhirnya terdengar suara ponsel disaku Mia berdering. Dengan ragu Mia mengambilnya. Matanya membulat saat melihat nama Azkhan terpampang jelas disana. Untuk apa pria itu menelponnya disaat seperti ini?


Revan merampas ponsel Mia. Matanya berkilat marah karena merasa dugaannya benar.


BRAKK


Revan melempar ponsel Mia dengan keras sampai layarnya hancur.


Lalu menarik Mia dan mendorongnya kekolam renang sampai tubuh Mia terhempas kedalam air.


BYURRRR


"Itu adalah hukuman untuk wanita tidak tahu malu sepertimu!!"

__ADS_1


__ADS_2