TERPAKSA MENJADI SIMPANAN

TERPAKSA MENJADI SIMPANAN
EPS 87 HARIZ&AINA: APA ITU CINTA?


__ADS_3

"Tapi Mas. Cara bicara Aina memang sudah seperti ini sejak kecil. Menurut Aina, tidak masalah jika mulut jahat asalkan hati kita baik."


"Mana ada istilah hati baik, jika bicaranya saja tidak baik Aina. Sebab, apapun yang keluar dari mulut itu berasal dari hati. Jika hati kita memiliki niat yang baik. Maka ucapan kita pun akan baik."


Hariz beranjak dari sana dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Membiarkan Aina berfikir tentang sikapnya sendiri selama ini.


Aina menghela nafasnya.


Jadi selama ini Aina salah. Meski sulit... Aina akan mencobanya Mas.


*******


"Ada mimpi apa, Mas Hariz ngajakin Aina makan diluar. Biasanya juga Mas Hariz maksa Aina masak dirumah."


"Jangan banyak bicara Aina, makan saja dan nikmati hidangan disini."


Tiba-tiba saja ponsel Hariz berdering. Pria itu langsung mengangkatnya.


"Ya, Bu Clara?"


(........)


"Saya ada di restauran X bersama istri saya."


(.....)


"Baiklah."


"Kenapa Bu Clara menelfon?"


"Dia bilang ada perlu."


Dan tidak menunggu lama, Clara tiba-tiba sudah hadir disana.


"Assalamu'alaikum Bu Clara... " Salam Aina yang tersenyum manis padanya. Clara sendiri sampai curiga, biasanya Aina tidak pernah bersikap sopan seperti itu.


"Waalaikumsalam."


Clara langsung membicarakan topik penting pada Hariz. Mereka berdua berbincang tanpa memperdulikan Aina disana. Namun Aina sendiri tidak merasa tersinggung. Wanita itu dengan santainya menyantap hidangan yang telah dipesankan oleh suaminya.


Pembicaraan mereka terhenti, saat Hariz lagi-lagi menerima telpon.


"Saya angkat telponnya dulu." Hariz memberi isyarat pada Aina agar bersikap manis di tempatnya dan menunggunya sebentar. Aina mengerti dan mengangguk patuh.


"Kamu tahu Aina, setiap kali aku bersama dengan Pak Hariz, maka orang yang melihat kami akan merasa kagum karena mereka merasa kami adalah pasangan yang cocok. Yang satunya tampan, dan satunya cantik."


Tanpa diduga, Aina malah terkikik geli mendengarnya.


"Yah, namanya juga omongan orang, Bu Clara. Mereka hanya bicara dengan apa yang mereka lihat. Padahal mereka sendiri tidak tahu bagaimana keadaan yang sebenarnya. Jadi Bu Clara jangan senang dulu.

__ADS_1


Percaya diri boleh. Tapi bodoh, jangan!" tidak ada nada kasar dalam bicaranya. Jika saja Aina tidak berjanji pada suami dan dirinya sendiri. Maka sudah sejak tadi, Clara mendapatkan makian darinya.


Namun meski begitu, tetap saja Clara merasa Aina sedang mengejeknya.


"Lalu kau sendiri bagaimana, Aina? Kalian berdua terlihat mesra dan selalu bersama. Padahal aslinya kalian sering bertengkar, bukan?


Kau juga jangan terlalu percaya diri sebagai istri dari Pak Hariz. Karena belum tentu dia menikahimu atas dasar cinta. Setahuku, Pak Hariz itu sebelumnya tergila-gila dengan wanita shalehah yang bernama Syma.


Jangan-jangan dia menikahimu hanya karena sebuah pelarian. Aku sendiri tidak yakin, dia mengatakan cinta pada wanita sepertimu.


Yang aku tahu, jika dia sudah bosan. Maka dia akan segera membuangmu! Atau hanya menjadikanmu koleksinya semata."


Ingin sekali Aina menusuk mulut Clara dengan garpu yang dia pegang. Namun apalah daya, Lagi-lagi karena janji dan tekad yang kuat untuk berubah.


'Ya Allah, kenapa disaat Aina sedang berusaha ingin menjadi baik. Banyak sekali setan yang mengganggu!'


"Maaf membuat kalian menunggu lama. Bu Clara, sepertinya kami permisi dulu." Hariz menggenggam tangan Aina begitu erat.


Clara menatap kepergian mereka dengan pandangan kosong. Kekecewaan terlihat jelas. 'Aku bisa mengalahkan ribuan wanita yang ingin mendapatkanmu. Tapi aku tidak bisa bersaing dengan satu wanita pilihanmu... '


******


Ucapan Clara terngiang-ngiang ditelinga Aina. Tidak bisa dipungkiri bahwa semuanya benar. Bahkan sampai saat ini, Hariz tidak juga menyatakan perasaannya. Namun herannya, sikap Hariz begitu manis dan tidak begitu menyebalkan seperti dulu. Sampai Aina lupa, apa tujuan pria itu menikahinya.


Keterdiaman Aina, membuat Hariz curiga. Dia yakin ada sesuatu yang sangat ingin Aina keluarkan, namun wanita itu lebih memilih untuk memendamnya.


"Ada apa Aina? Kenapa kau diam saja?"


"Lelah? Apa yang membuatmu lelah? Kita hanya makan. Jangan katakan kalau hatimu yang lelah."


"...... "


"Mas tahu bagaimana mengembalikan mood mu... " Dalam sekejap, Hariz telah berada diatas Aina.


"Aina sedang tidak ingin melakukan itu, Mas." Aina berusaha menyingkirkan tubuh Suaminya. Namun percuma, karena tenaganya kalah jauh.


"Mood mu akan membaik Aina, percayalah." Hariz menyentuh lehernya, namun dengan sekuat tenaga akhirnya Aina berhasil menyingkirkan tubuhnya.


"Cukup Mas!


Aina bingung sama Mas Hariz. Sampai saat ini Mas Hariz tidak pernah mengatakan tentang perasaan Mas Hariz sama Aina. Sebenarnya apa alasan Mas Hariz menikahi Aina?


Cinta?


Pelarian?


Atau nafsu? Aina bingung Mas. Bagaimana bisa hubungan tanpa cinta bisa terjalin dalam rumah tangga. Sesuatu yang mungkin menurut Mas Hariz tidaklah penting, tapi sangat penting bagi kami para perempuan."


Hariz menghembuskan nafas beratnya. Kini dia mengerti titik permasalahannya.

__ADS_1


"Kau tahu apa itu cinta, Aina?


Cinta adalah Ali, ketika ia berbaring menggantikan Rasulullah ﷺ. Di tempat tidur beliau ketika sekelompok orang kafir tengah berkumpul untuk membunuh sang Rosul. Padahal dia tahu, bahwa bisa saja dia yang terbunuh karena berbaring dikasur tersebut.


Cinta adalah Bilal. Ketika dia tidak lagi mengumandangkan azan setelah perginya Rosulullah ﷺ. Dan ketika dia mengumandangkan azan lagi atas perintah Umar saat penaklukan baitul Maqdist. Tidak pernah ada tangisan yang begitu memilukan saat dia melantunkan, Asyhadu anna Muhammadan Rosulullah.


Cinta adalah Zubair. Yang mendengar kabar wafatnya Rosulullah ﷺ. Lalu dia keluar dari rumahnya dengan menyeret pedang Dijalanan kota Mekkah. Padahal usianya saat itu baru lima belas tahun.


Cinta adalah Rabi'ah bin Ka'ab. Ketika Rosulullah ﷺ. Bertanya padanya. Apa keinginanmu? Maka Rabi'ah menjawab: Aku hanya berharap agar dapat mendampingimu di syurga.


Cinta tidak butuh pengungkapan Aina. Sama halnya dengan Sayyidina Ali, Bilal dan juga pengikut Rosulullah ﷺ yang lainnya.


Orang lain mungkin mengutarakan cinta dengan cara yang romantis Aina. Setiap harinya bahkan setiap saat mengungkapkan cintanya. Membisikan kata-kata indah ditelinga istrinya.


Sedangkan Mas sendiri....


Mas tidak mampu mengungkapkan semua itu. Karena bagi Mas, ucapan saja tidak cukup. Akan lebih baik mengungkapkannya dengan cara tindakan. Dan Mas pikir Aina sudah tahu jawabannya dari tindakan yang selalu Mas lakukan.


"Tapi bagaimanapun juga Aina ini perempuan, Mas. ungkapan yang menurut Mas tidak penting itu, merupakan hal yang penting bagi kami. Bahkan hanya dengan ucapan seperti itu saja, kami para istri sudah sangat bahagia.


"Jika Mas tidak mencintaimu, untuk apa Mas mempertahankan rumah tangga kita sampai saat ini. Untuk apa Mas peduli dengan sikap Aina yang diluar batas.


Kalau pernikahan ini hanya didasari oleh nafsu...


Untuk apa Mas berhenti ketika Aina meringis kesakitan? untuk apa Mas rela menahan hasrat sampai Aina benar-benar siap. Padahal diluar sana banyak wanita yang siap mengangkang kapanpun kami butuhkan.


Katakan Aina? Untuk apa semua itu?


Kau hanya tidak merasakan apa yang telah Mas lakukan untukmu Aina.


Kau tidak melihat rasa cinta yang terpendam didalam diri suamimu ini.


Jika kau menyukai kata-kata indah. Maka Mas akan mengatakan....


Kau adalah mutiara. Kau adalah berlian termahal yang Mas miliki. Kau adalah air jernih yang mengalir di padang pasir.


Begitu banyak pengungkapan jika harus diungkapkan semuanya. Bahkan ribuan sajak tidak akan cukup untuk menjabarkan betapa indah dan berharganya seorang istri dimata suaminya."


******


TBC


JIKA SUKA DENGAN CERITA INI SILAHKAN


LIKE


KOMEN


VOTE

__ADS_1


TERIMAKASIH 👍


__ADS_2