
Mia menatap putranya yang sedang tidur. Seulas senyuman mengembang diwajahnya.
Bagaimana tidak.
Setelah dia perhatikan dengan seksama. Rupanya Zico dan Revan merupakan duplikat yang nyaris sempurna. Mulai dari bentuk wajah serta hoby yang sama. Bahkan saat tidurpun, Zico menuruni kebiasaan Revan. Dengan menggesek-gesekan kakinya dikasur sampai akhirnya terlelap.
"Putraku sudah tidur rupanya." Suara Revan membuat Mia mengalihkan perhatiannya. Pria itu masuk begitu saja dan mendekati Mia, sebelum akhirnya mendaratkan ciuman singkat dipuncak kepala istrinya. Suatu kebiasaan baru yang membuat hati Mia semakin mengembang.
"Lihatlah kakinya... sama sepertimu saat mau tidur."
Revan terkekeh menyadari kebiasaan Zico yang sama dengannya. Kemudian tatapannya beralih pada Mia yang masih duduk dikursi rodanya.
"Ahk!" Mia memekik kaget, saat Revan tiba-tiba saja mengangkat tubuhnya. Membuat Mia terpaksa mengalungkan tangannya dileher suaminya itu.
"Aku sudah membuatkan sup hangat untukmu."
"Baiklah, tapi kenapa tidak memakai kursi roda saja seperti biasanya. Aku pasti berat...!"
"Tidak perlu. Begini lebih romantis." Revan berucap sembari membawa Mia ke tempat yang sudah dia siapkan.
Saat sudah sampai ditempat yang Revan maksud. Mia terkesima melihat hasil karya suaminya. Mulai dari lilin yang menghiasi meja serta bunga yang berjejer indah disekitar mereka. Dan ditengah meja sudah terhidang masakan dari suaminya yang menggugah selera.
"Ini sangat indah. Apa Kamu yang melakukannya...?" Mia berbinar bahagia menatap suaminya.
"Tidak, bukan aku. Tapi tukang yang melakukanya."
Mia mencubit kecil perut suaminya. "Aku serius."
"Heheh. Tentu saja aku, sayang. Memangnya siapa lagi?!"
Mia tersenyum malu. Namun saat matanya menatap ada yang aneh dari tempat duduk itu, Mia kembali menatapnya dengan penuh pertanyaan. "Kenapa tempat duduknya hanya satu?"
Revan hanya tersenyum, lalu duduk dengan santainya namun tidak melepaskan gendongannya pada istrinya. Membuat Mia kini beralih duduk dipaha suaminya.
"Begini lebih romantis."
"Astaga... " Mia memutar matanya. "Memang terlihat romantis. Tapi ini menyusahkanmu sendiri, Mas... "
__ADS_1
"Aku tidak merasa kesusahan. Justru aku nyaman seperti ini. Menghabiskan waktu berdua denganmu." Revan menatapnya penuh arti. Sementara Mia sudah bersemu merah tentunya. Selama pernikahan mereka, Mia juga tidak pernah diperlakukan seperti ini sebelumnya. Hal ini menimbulkan perasaan asing didalam dirinya. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa dia sangat bahagia.
"Ternyata ada untungnya anak kita tidur lebih awal. Kita bisa memanfaatkan waktu berdua seperti ini sepuasnya. Meski bagiku tidak akan pernah cukup, walau mau selama apapun. Aku ingin selalu bersamamu, Mia... "
Mia menangkup pipi suaminya. Menatapnya lembut dan penuh cinta. "Dan aku bahagia saat suamiku nyaman berada didekatku." Mia mengecup sekilas bibir suaminya. Membuat Revan menatapnya intens.
"Sebaiknya kita makan. Jika terus seperti ini, maka aku tidak menjamin makanan itu tetap hangat dan-"
Belum sempat Revan meneruskan ucapannya, Mia sudah mengerti maksudnya. "Baiklah, aku setuju." Mata Mia berbinar mengatakan itu. Dan Revan langsung beralih ke makanannya.
Memasukan beberapa kali suapan kedalam mulut istrinya.
"Apakah rasanya buruk?" Revan bertanya curiga, saat melihat ekspresi Mia yang tak terbaca. Hanya mengunyah dengan perlahan. Entah itu menikmati atau memang rasanya begitu asing dilidah.
"Enak. Sangat enak... "
"Jangan berbohong, Mia." Revan menatapnya curiga.
"No. Aku serius. Ini makanan terlezat yang pernah masuk kedalam mulutku."
Revan memasukan satu suapan kedalam mulutnya sendiri untuk memastikan apakah Mia berbohong atau tidak.
"Apa yang mengganggu pikiranmu, Mia...?"
Mia menghela nafasnya. Sebelum akhirnya mengeluarkan suara. "Aku merasa tidak berguna sebagai istrimu. Seharusnya aku yang melakukan ini untukmu. Melayanimu dan-"
"Sssttt... " Revan membuat Mia menghentikan ucapannya. Memaksa wanita itu menatap matanya yang tulus. "Kau sangat berharga bagiku. Jangan pikirkan hal yang buruk tentang apapun. Justru aku senang melakukan semua ini untuk istriku."
"Tapi tetap saja aku tidak bisa mengerjakan tugasku seperti biasanya. Aku menyusahkanmu dan membuatmu melayaniku yang kesulitan berjalan ini."
Revan memutar matanya.
"Cukup Mia. Jangan mendebat hal ini."
"Maafkan aku... Aku hanya-" Belum sempat Mia menyelesaikan ucapannya. Revan telah membungkam mulutnya. Dengan sentuhan lembut dari bibirnya yang tebal dan menggoda.
Mia hanya terpaku sampai akhirnya ikut larut dalam irama permainan suaminya. Hingga tanpa sadar keduanya telah masuk dalam gelora cinta yang kembali menyeruak didalam diri mereka.
__ADS_1
Mia membuka mulutnya, memberikan akses pada suaminya dengan sesuka hati bermain disana. Sampai akhirnya mereka tidak kuasa menahan lagi hasrat yang sempat tertahan. Dan akhirnya berakhir ditempat tidur. Melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan oleh sepasang suami istri. Sebagaimana mestinya.
****
Beberapa minggu telah berlalu. Mia tidak lagi memakai kursi rodanya. Kondisinya semakin membaik. Semua itu terlihat jelas dari cahaya wajahnya. Kebahagiaan nampak jelas disana. Mia menyiapkan beberapa jenis hidangan untuk jamuan makan malam mereka.
Revan yang baru saja selesai mandi melihat kesibukan istrinya itu. Pria itu meletakkan handuknya kesembarang tempat dan memilih mendekati istrinya.
"Tidak perlu sesibuk ini, sayang. Aku sudah memesan semuanya," bisik Revan dengan melingkarkan tangannya dipinggang Mia.
Mia merasa geli, saat nafas Revan tiba-tiba saja menyentuh telinganya.
"Ini hanya tambahan. Aku suka memasak untuk banyak orang."
"Kau terlihat sexy dengan apron ini." Revan membalik tubuh istrinya dan membuat tubuh mereka menempel sempurna. Dengan seringai menggoda yang terukir diwajahnya.
Semburat merah mewarnai wajah Mia. Menjalar mulai dari hidung sampai ke telinganya. "Jangan seperti ini, Zico akan datang dan melihat kita."
"Biarkan saja. Kami sudah sepakat untuk memberinya tiga adik perempuan dan dua adik laki-laki."
"Apa?!"
Revan terkekeh dengan keterkejutan istrinya. Hingga secara refleks mencubit pipi Mia karena gemas. "Jangan mengatakan hal yang aneh padanya. Dia masih sangat kecil." Mia menatap Revan penuh peringatan.
"Memangnya aku bicara apa? Aku hanya mengatakan untuk memberinya adik. Bukan menjelaskan tutorial pembuatannya."
Mia mendengus. Dan berusaha melepaskan tangan Revan yang masih merangkulnya erat. Namun Revan tidak membiarkan hal itu terjadi. Malah Mia semakin merapat padanya.
"Aku tidak ingin melakukannya disini, Mas. Ini tempat terbuka." Entah mengapa ucapan itu keluar begitu saja dari mulut Mia. Hingga membuat Revan tiba-tiba mengangkat sebelah alisnya.
"Memangnya kita akan melakukan apa?"
Mia tergagap. Apalagi melihat ekspresi Revan yang sengaja menggodanya. Hingga dia kembali merutuki kebodohannya sendiri. Bagaimana bisa pikiran seperti itu terlintas dikepalanya. Lagi pula ada Zico yang akan tiba-tiba datang. Revan tidak mungkin seceroboh itu.
"Tapi jika kau mau, aku tidak keberatan," bisik Revan dengan nada sensual. Saat Mia nyaris runtuh dalam pertahanannya. Tiba-tiba saja dia teringat akan sesuatu saat mencium aroma tak sedap disekitar mereka.
Mia melepas paksa pelukan suaminya dengan kepanikan luar biasa.
__ADS_1
"Astaga...! Masakanku!!"