TERPAKSA MENJADI SIMPANAN

TERPAKSA MENJADI SIMPANAN
TMS EPS 66: TRAUMA UNTUK MEMBUKA HATI


__ADS_3

"Apa-apa ini? Apa yang terjadi pada kedua anakku? Kenapa aku sepertinya tidak laku disini. Tidak ada yang mau mendekatiku?" Syma merutuk kesal melihat kedua anaknya sedang sibuk sendiri dengan Ersad. Tanpa memperdulikan kehadirannya.


Sekilas, ada rasa hangat saat melihat kecerian mereka. Namun hal itu berubah seketika saat Syma ingat rasa sakit yang masih melekat didalam dirinya. Dia lebih memilih memalingkan wajahnya dan bersiap untuk berangkat kesekolah Zea.


******


Didalam perjalanan. Syma menutup rapat mulutnya. Tidak berniat sedikitpun untuk mengeluarkan suara. Yang terdengar, hanyalah kicauan Gokhan dan Zea yang tidak ada hentinya.


Sementara mereka berdua duduk dalam kecanggungan. Sialnya Zea tidak ingin duduk didepan. Dia lebih memilih duduk di belakang dengan alasan ingin tempat yang luas dan nyaman.


Tentu saja hal itu membuat Syma terpaksa kembali berdekatan dengan Ersad dengan duduk berdua didepan.


'Jika hubungan kami masih sah suami istri. Apa aku berdosa dengan sikapku ini? Ya Robb... Aku benar-benar butuh petunjuk darimu. Agar aku tidak salah dalam memilih langkah.' batin Syma begitu gelisah dengan keadaanya.


******


Setelah mengantar Zea dan pertemuan para wali murid. Kini tinggalah Ersad dan Syma yang semakin canggung.


Mereka berdua hanya diam, dan hanyut dalam pikiran masing-masing. Sampai akhirnya Syma menyadari bahwa yang mereka lewati bukanlah jalan untuk pulang.


"Ini bukan jalan pulang. Mas ingin membawaku kemana?" Syma bertanya tanpa menatapnya.


"Kau akan tahu nanti... "


Tidak butuh waktu lama, mereka akhirnya sampai. Syma berkerut heran saat menyadari Ersad membawanya ke sebuah tahanan.


Siapa yang ingin mereka lihat?


Keterkejutan Syma semakin menjadi saat menyadari sosok yang tiba-tiba datang menemui mereka.


"Revan?"


Pria itu menatapnya sendu. Tubuhnya nampak carut marut dan menyedihkan. Kerutan diwajahnya terlihat jelas, tanda pria ini sedang stress terlalu banyak beban pikiran.


"Bagaimana rasanya mendekam di penjara? Apa menyenangkan?" Ersad berucap pelan, namun itu cukup menyulut amarah Revan.


"Brengsek! Kenapa kau lakukan ini padaku? Keparat sialan... " Maki Revan menatap Ersad dengan bringas. Namun sayangnya dia tidak bisa melakukan apapun karena borgol yang ada di tangannya.


"Karena kau selalu mengganggu ketenangan dalam rumah tanggaku. Kau tidak akan berhenti jika tidak dihukum. Aku masih berbaik hati hanya memasukanmu kedalam sini. Dan bukan menghabisimu! Seharusnya kau berterimakasih untuk itu.


Dan setelah ini, aku harap kau sadar atas semua perbutanmu. Kau hanya sampah tidak berguna. Kau pantas membusuk disini!"


"Keparat sialan...

__ADS_1


Mati saja kau!"


"Hentikan Revan. Kenapa kau jadi mengerikan seperti ini? Mau sampai kapan kau bertindak bodoh dan merugikan dirimu sendiri. Berhentilah mengejar seseorang yang tidak ditakdirkan untuk kau milikki.


Berhentilah mengejar sesuatu yang sudah menjadi milik orang lain." Syma berucap tajam. Tidak ada lagi kelembutan yang biasa dia lakukan. Sampai Revan sendiri merasa sesak mendengarnya.


"Satu hal lagi....


Meski semua tujuanmu berhasil menghancurkan rumah tanggaku, aku tetap tidak akan pernah memilihmu. Selamanya aku tidak akan pernah memilihmu lagi, Revan. Ingat itu baik-baik dikepalamu!"


Syma segera berlalu dari sana. Disusul oleh Ersad dibelakangnya.


******


Syma tidak menyangka bahwa Ersad kini membawanya kerumah mewah yang pernah dia singgahi sebelumnya. Dan sayangnya Syma tidak bisa menolak karena Ersad memaksanya.


Syma hanya diam membisu saat Ersad menunjukkan semua perlengkapan Syma yang sudah ada didalam sana. Mulai dari pakaian dan aksesoris lainnya. Mungkin sebagian wanita akan takjub, namun tidak dengan Syma yang bersikap biasa saja.


"Cukup Mas." Syma berucap tegas. "Jangan membuatku berharap lagi. Aku belum siap jika harus terluka lagi.


Dulu aku pernah merasakan patah hati yang sangat luar biasa. Hingga rasa trumanya melekat sampai bertahun-tahun lamanya. Dan sekarang kau datang lagi, setelah aku sudah ikhlas menerima semuanya.


Aku tidak bisa. Maaf...


Aku trauma untuk membuka hati lagi, lalu kemudian tersakiti lagi." Syma berucap lirih.


"Katakan padaku Syma. Apa didalam sini sudah tidak ada tempat untukku lagi... " Ersad menunjuk dada bagian kiri Syma.


"Aku tidak tahu.


Aku sudah berusaha membencimu agar aku bisa melupakan cintamu. Tapi rasanya itu sia-sia, karena menghapus cinta dan kenanganmu tidak semudah yang aku bayangkan."


"Kalau begitu tanyakan kembali pada hatimu. Jika memang kau sudah tidak mencintaiku lagi, maka silahkan ajukan cerai. Aku akan menerimanya.


Tadinya aku ingin mempertahankan rumah tangga kita sekuat mungkin. Aku bahkan berpikir bahwa aku tidak akan pernah melepaskanmu, Syma. Tapi setelah kupikir-pikir. Rupanya aku hanya egois mementingkan diriku sendiri. Aku begitu egois berusaha mempertahankanmu sementara kau sendiri tersiksa dengan kehadiranku.


Pikirkan itu baik-baik Syma. Karena kebahagiaanmu adalah prioritas utamaku. Jika kau memilih bahagia dengan berpisah dariku, maka dengan berat hati aku akan melakukannya."


Ada rasa sakit ketika Ersad mengatakan hal itu. Ersad sendiri tidak yakin dengan ucapannya. Apakah dia bisa melepaskan Syma? Wanita yang sangat dia cintai. Wanita pertama yang mengubahnya menjadi pribadi yang lebih baik. Wanita pertama yang mengajarkannya banyak hal tentang agama.


Wanita yang menjadi penyejuk dan penawar lelah disaat dia merasa kerasnya menghadapi dunia. Wanita yang menjadi penenang hatinya dan pemberi kasih sayang yang berlimpah.


Akan sangat sulit baginya. Melupakan kenangan bersama Syma. Namun dia tetap harus mengakhirinya jika itu membuat Syma bahagia. Meski akan menyisahkan luka di hatinya. Dan membuat hidupnya terasa kosong.

__ADS_1


******


"Aina, ada apa dengan kakimu?" Syma khawatir melihat Aina yang terlihat kesulitan berjalan.


"Hanya terkilir biasa kak," sautnya dengan senyuman yang selalu menghiasi wajah.


"Lalu bagaimana kau kesini? Dimana motormu?"


"Dia bersamaku... " ucap Hariz yang tiba-tiba datang menghampiri mereka.


"Hariz?"


"Bagaimana kabarmu Syma? Aku dengar kau tidak baik-baik saja." Hariz menatapnya dengan pandangan penuh arti.


Syma sendiri mengerti dengan arti tatapan itu. Hingga dia cepat-cepat memalingkan wajahnya.


"Buang semua pikiran burukmu pada suamimu, Syma. Dia tidak seburuk yang kau bayangkan... "


"Aku tidak ingin membahasnya," saut Syma berbalik untuk menghindari pembicaraan Hariz yang dia tahu arahnya kemana.


"Kalau begitu kau akan merasakan pahitnya penyesalan karena telah bertindak gegabah. Setidaknya pikirkan kedua anakmu yang membutuhkan Ersad."


Syma menghela nafas beratnya. Kembali menatap Hariz dengan penuh selidik. Seketika dia ingat, bahwa Hariz adalah sosok yang juga ikut berperan dalam misi suaminya.


"Aku sudah melatih hidupku dengan kedua anakku tanpa kehadirannya. Jadi, aku pikir semuanya akan baik-baik saja.


Aku dengar kalian berhasil dengan tujuan kalian. Selamat... " ucapan itu terdengar sinis.


"Tidak seluruhnya berhasil. Kami memang berhasil menjatuhkan Revan. Dan juga merebut kembali aset milik suamimu. Tapi ternyata hal yang lebih besar dari itu belum berhasil didapatkan. Yaitu cinta seorang istri pada suaminya."


"Itu bukan urusanmu!"


"Itu menjadi urusanku, karena aku telah terlanjur untuk membantu saudaraku. Saudara yang sedang terpuruk dan semakin hancur saat perjuangannya sia-sia... "


"Dia benar Syma. Kami tidak bisa diam lagi sekarang, kau harus mengetahui semuanya... "


Syma semakin bingung, saat Ceyda tiba-tiba berada diantara mereka.


"Apa maksudnya ini? Apa yang kalian sembunyikan dariku?"


TBC


AYO DUKUNG AUTHOR DENGAN MEMBERI LIKE KOMEN AND VOTE.

__ADS_1


TERIMAKASIH


AFF REAL


__ADS_2