
Kelegaan kini menyelimuti hati Ersad. Tanpa perduli luka disekujur tubuhnya yang nampak menyedihkan. Namun melihat Syma dan Zea selamat. Cukup membuatnya bersyukur.
Setelah Zea mendapatkan pertolongan pertama. Serta kondisinya sudah mulai tenang. Kini Ersad beralih melihat istrinya yang masih diperiksa oleh Dokter.
Namun baru saja dia membuka pintu. Tiba-tiba ekspresinya berubah, melihat para penyelamatnya nampak begitu hangat menyapa Syma. Meski Mia, Aina dan Vio juga ada disana. Tapi tetap saja, Ersad tidak suka Syma terlalu akrab dengan Hariz dan mantan suaminya, Revan.
"Kenapa kalian masih disini?" ucapnya dengan nada yang tidak bersahabat.
"Kami juga mengkhawatirkan Syma dan Zea," saut Hariz santai.
"Jika kalian juga mengkhawatirkan Zea. Zea ada dikamar sebelah. Kenapa kalian hanya kekamar Syma?"
Mereka saling menatap.
"Karena Zea sedang istirahat, kami tidak mau mengganggunya. Hari ini cukup berat baginya." ucapan Aina membuat Hariz dan Revan tersenyum.
Seakan menyelamatkan mereka dari pertanyaan Ersad yang cukup mengintimidasi mereka. Ersad sendiri menghela nafas beratnya. Tidak ada alasan baginya untuk mengusir para pengganggu ini.
"Sudah Mas. Biarkan saja mereka. Aku juga senang, mereka memperhatikanku. Sekarang aku merasa memiliki keluarga yang lengkap."
Mia mengangkat wajahnya, ketika Syma mengatakan hal itu. Syma memberikan senyuman terbaiknya. Seakan ucapan itu ditujukan khusus untuk Mia.
Ersad mendekat kearah istrinya dan memberikan pelukan hangat yang posesif. Sesekali dia mencium puncak kepala Syma, dengan mata tertuju pada Revan dan Hariz. Seakan sengaja menunjukan tanda kepemilikannya.
'Tutup matamu, Vio. Bisa-bisa kau tidak besar lagi, karena keseringan melihat adegan itu,' bisik Aina pada Vio yang bahkan tidak berkedip melihat kemesraan suami istri itu.
'Pasangan yang tidak berperasaan.'
"HUSH !"
Ersad menaikan sudut bibirnya, ketika perbuatannya itu berhasil membuat Hariz dan Revan memalingkan wajahnya.
Lalu perhatian mereka teralihkan pada Dokter yang masuk kedalam sana.
"Permisi, maaf mengganggu waktu kalian."
"Bagaimana Dok? apa tidak ada masalah pada istri saya?"
"Syukurlah tidak ada. Begitu pula dengan janin yang dia kandung. Siraman bahan bakar itu tidak mengenai perutnya. Hanya saja dia sedikit stress. Hal itu biasa terjadi pada ibu hamil karena perubahan hormon, yang membuatnya mudah terbawa perasaan."
Ersad tercengang mendengar penuturan Dokter itu. Dia memang pandai dalam hal bisnis dan yang lainnya. Namun ketika Dokter itu berucap tentang kehamilan Syma. Entah mengapa semua kepintarannya tiba-tiba lenyap. Matanya menatap bingung dengan pikiran mencerna ucapan Dokter itu berulang-ulang dikepalanya.
__ADS_1
"Hamil? kandungan?"
"Kenapa Pak?" Dokter itu berkerut heran.
"Berapa?"
"Apanya yang berapa? jumlahnya? atau apa?"
"Maksudku sudah berapa bulan?"
"Oh, maaf saya lupa memberitahu. Kandungan Ibu Syma baru berusia tiga minggu. Ini adalah trimester pertama yang masih sangat rawan. Saya harap Bapak tidak membiarkan dia kelelahan dan stress. Karena itu akan berdampak buruk pada istri Anda."
Ersad membuka lebar mulutnya. Dia sangat ingin sekali berteriak karena terlalu senang. Namun suara itu dia tahan. Matanya berbinar menatap Syma dengan penuh syukur.
Pertama kali dalam hidupnya. Dia akan menjadi seorang yang bergelar Ayah. Tidak ada yang lebih membahagiakan dari itu.
"Kalian dengar kan, apa yang dikatakan Dokter tadi. Syma hamil...
Dia sedang mengandung. Dan aku yang melakukannya. Aku telah membuatnya hamil..." Ersad bersorak senang, seakan ingin sekali memberitahukan pada seluruh dunia tentang keberhasilannya.
'Memalukan...
Tentu saja dia yang melakukannya, mana mungkin biawak !' celetuk Aina dengan mulut tak berfilternya.
Hariz tidak begitu terkejut dengan berita itu. Karena sejak awal dia sudah mengetahuinya dari Aina. Namun rasa sesak didadanya begitu terasa.
Berbeda dengan Revan yang sangat terkejut. Perasaannya hancur. Begitu remuk seakan tak terbentuk lagi. Bahkan Mia bisa melihatnya dari senyuman tipis palsu yang terukir diwajah Revan.
Syma merasa kikuk dengan keadaan itu. Ersad dengan tidak tahu malunya menciumnya tiada henti, tanpa perduli masih ada orang lain disana.
Aina dan Vio mulai jengah. Dia langsung saja meminta ijin untuk pulang kepanti.
"Selamat menikmati kebahagiaan kalian. Kak Syma, Kak Ersad. Kami pulang dulu," ujar Aina.
Selepas kepergian Aina dan Vio. Hariz mulai sadar. Dia juga tidak tahan berada terlalu lama lagi disana.
"Syma, Aku juga harus pulang. Selamat untukmu." Terlihat jelas, ucapannya tidak sesuai dengan raut wajahnya. Hariz berlalu begitu saja dengan perasaan kesal.
Begitu pula dengan Revan dan Mia. "Sepertinya kami juga harus pulang," ucapnya pahit. Tidak ada kata selamat yang terucap dimulut Revan. Pria itu langsung pergi begitu saja.
"Syma, selamat untukmu." Mia memeluk Syma sekilas sebelum menyusul Revan yang telah meninggalkannya.
__ADS_1
"Terimakasih Mia. Sering-sering lah berkunjung."
Mia mengangguk menanggapi ucapannya.
Kini tersisa mereka berdua didalam sana.
"Jangan lagi seperti itu dihadapan mereka Mas. Aku malu," ucap Syma sedikit merajuk pada suaminya.
"Kenapa harus malu? kita ini sah suami istri. Biar saja mereka melihat kemesraan kita. Lagi pula, siapa suruh berlama-lama disini," saut Ersad tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Tapikan ada Aina dan Vio. Mereka masih polos untuk melihat perbuatanmu."
"Sudahlah Sayang. Berhenti memikirkan mereka. Sekarang aku sedang bahagia. Aku sangat bahagia."
Senyuman Ersad pudar, mana kala melihat wajah istrinya nampak murung. "Apa kau tidak bahagia dengan kehamilanmu, Syma?"
"Tidak Mas, bukan itu. Aku hanya memikirkan Zea. Bagaimana dengan anak itu? apakah mentalnya baik-baik saja setelah kejadian itu. Aku takut dia mengalami trauma."
"Tenanglah. Aku akan membawa psikiater terbaik untuk memulihkan kondisi mental Zea. Aku sudah memikirkannya Sayang, jangan khawatir," ucap Ersad begitu lembut. Syma berhasil mendapatkan sedikit ketenangan sekarang.
"Terimakasih."
******
"Kalian tidak bisa pulang sendirian di jam seperti ini. Apalagi masih memakai pakaian sekolah seperti ini," ucap Hariz menatap Aina dan Vio datar.
"Lalu?"
"Aku akan mengantar Vio terlebih dulu. Orang tuanya pasti khawatir. Setelah itu baru Aina."
Hariz sudah berjalan mendahului mereka. Namun langkahnya terhenti, ketika sadar bahwa Aina dan Vio tidak mengikutinya.
"Kenapa masih berdiri disitu?"
"Em, begini Pak. Kami rasa Bapak tidak perlu mengantar kami pulang. Kami bisa pulang sendiri. Lagi pula, aku ini sudah cukup besar. Orang tuaku tidak akan khawatir."
"Aku tidak mau tahu. Diluar sana sangat berbahaya bagi kalian. Masuk kedalam mobilku, atau aku akan menskor kalian berdua."
Ucapan Hariz menjadi serangan telak bagi mereka berdua. Cepat-cepat Aina dan Vio masuk kedalam mobil Hariz tanpa ada bantahan lagi.
Jika saja guru lain yang mengancam, mungkin Aina sudah bersorak senang. Tapi berhubung Hariz yang bicara kali ini. Aina tidak bisa berkutik. Dia benar-benar tidak berdaya melawan Hariz barang sedikit saja.
__ADS_1
TBC