
Panti asuhan mengajarkan Mia dengan sebuah kesederhanaan, kebersamaan dan rasa syukur yang mendalam. Terkadang hanya dengan menatap anak-anak yang bermain dan tertawa ceria. Hatinya kembali damai. Mereka malaikat kecil yang polos namun menyejukkan baginya.
Kini tatapannya beralih pada sosok yang tengah berjalan tergesa-gesa, namun dihiasi dengan senyuman sumringah diwajahnya. Siapa lagi kalau bukan Azkhan.
Syma sendiri sampai berkerut heran. Apa yang membuat pria itu sampai begitu senang?
"Mia.... " jika saja mereka sudah sah sebagai suami istri, mungkin Azkhan sudah memeluknya saat ini. Demi memperlihatkan padanya betapa dia sangat bahagia.
"Azkhan? kau terlihat berbeda, apa terjadi sesuatu?"
"Yah, telah terjadi suatu keajaiban, Mia. Ibuku merestui hubungan kita. Sekarang tidak ada lagi halangan bagi kita untuk menikah." Azkhan menjawab dengan antusias.
Senyuman di wajah Mia pudar. Entah bagaimana dia harus menanggapi. Yang jelas, kenyataannya mereka tidak akan bisa bersama selama Revan masih menjadi suaminya.
Melihat keterdiaman Mia, membuat senyuman diwajah Azkhan ikut pudar. Matanya menatap datar kearah Mia. "Katakan padaku, alasan apa lagi yang membuatmu ragu, Mia... "
"Azkhan, aku... "
"Katakan!" Azkhan menekankan ucapannya. Menatap Mia dengan tajam. Berharap jawaban Mia tidak akan mengecewakannya.
"Suamiku telah kembali," ucapnya lirih.
"Lalu? kau bisa mengajukan gugatan cerai pada si brengsek itu! apanya yang sulit?"
Mia menggeleng. "Tidak semudah itu, Azkhan. Anakku dipertaruhkan disini. Bagaimana jika dia merebut hak asuhnya, aku bisa mati tanpa Zico. Aku tak bisa hidup tanpanya. Zico adalah penyemangat hidupku. Aku tidak berdaya jika menyangkut anakku."
"Lalu bagaimana denganku, Mia... Tidakkah kau memikirkan perasaanku sedikit saja? dengan menikah denganku, kita bisa merebut hak asuh anak bersama. Percayalah kita pasti bisa."
"Aku tidak ingin mengambil resiko. Tolong mengertilah Azkhan. Sejak awal aku tidak pernah sedikitpun memberimu sebuah harapan. Sudah kukatakan jangan terlalu banyak berharap dariku, karena kau akan kecewa. Ini juga bukan hal yang aku inginkan."
"Tapi hatiku berlabuh padamu, Mia. Lalu katakan dimana letak kesalahannya? apa ini juga keinginanku?"
Mia terhenyak. Dia tahu selama ini Azkhan menaruh hati padanya. Namun Mia tidak bisa menerimanya. Rasa tidak pantas karena dirinya adalah wanita yang sudah memiliki seorang anak.
"Cobalah mencintai wanita lain yang jauh lebih pantas daripada aku, Azkhan. Aku yakin-"
"Cukup!" Azkhan menaikan tangannya. Agar Mia menghentikan ucapanya. "Hatiku adalah milikku, perasaanku adalah milikku. Tidak ada siapapun yang berhak menentukan pada siapa hatiku harus berlabuh."
__ADS_1
Mia kembali bungkam. Dia bahkan tak berani menatap Azkhan yang pastinya sudah dipenuhi kekecewaan. "Aku kecewa, Mia... aku kecewa padamu yang tak pernah berpikir begitu sulitnya aku berjuang demi mendapatkanmu. Aku bahkan mempertaruhkan segalanya untukmu. Kau wanita paling egois yang pernah aku kenal."
Azkhan berbalik dan pergi meninggalkan Mia seorang diri. Perasaan hancur dan kecewa berpadu menjadi satu. Namun tak menyurutkan niatnya untuk memiliki Mia. Dia akan tetap berjuang dan mencari siapa suami Mia, dan akan memaksanya untuk menceraikan Mia secepatnya.
"Aku akan mendapatkanmu, Mia... "
*****
Azkhan begitu kalut. Entah apa yang harus dia lakukan. Kenyataan Mia selalu menolaknya, membuatnya seperti orang yang kehilangan arah dan tujuan.
Bahkan saat malam menjelang, Azkhan tetap saja tidak bisa berhenti termenung bagaimana caranya mendapatkan hati wanita itu. Kini Azkhan sudah berkeliling mengendarai mobilnya tak tentu arah dan tujuan. Satu-satunya yang menjadi tujuannya kali ini adalah kediaman, Revan. Yah, mungkin Revan bisa memberikan solusi untuknya?
Namun saat dia telah sampai. Azkhan mendengar suara yang tidak asing ditelinganya. Suara anak kecil yang sedang berlari dan tertawa. Sesekali berteriak.
'Tidak. Tidak mungkin itu Zico?' Azkhan menggeleng. Mungkin dia sedang kalut jadi pikirannya tertuju pada Zico.
"Zico, ayo tidur ini sudah malam."
Deg
'Suara itu... ' Azkhan semakin dibuat penasaran. Kenapa tiba-tiba ada suara Mia dirumah Revan? apa yang sebenarnya terjadi.
Saat sampai di ruangan tengah. Pandangan Azkhan langsung tertuju pada kedua orang yang saling berdebat. Tidak ada Zico disana. Sepertinya anak itu sudah menuju kamarnya.
Azkhan membeku ditempatnya. Tidak menduga dengan apa yang baru saja dia lihat. Orang yang menjadi sepupu terbaiknya. Orang yang sangat dia percaya. Rupanya adalah orang yang sangat ingin dia lenyapkan dari muka bumi ini. Sejak lama Azkhan membenci siapapun suami Mia. Namun tidak dia sangka, orang yang dia benci rupanya sepupunya sendiri.
Orang yang dia bantu keluar dari penjara.
Tatapan Azkhan berubah tajam. Emosi menguasai dirinya. Tangannya terkepal kuat menatap kearah Revan yang kini sedang membentak Mia dengan kasar.
"HENTIKAN!!"
Mereka berdua kini menoleh ke sumber suara. Yang memperlihatkan Azkhan dengan raut murkanya.
Revan tidak kalah terkejut dari Mia. Entah bagaimana dia harus menghadapi situasi ini. "Az-"
Azkhan berjalan dengan langkah tegas mendekati Revan. Dan....
__ADS_1
BUGH
Ahk!
Mia memekik kaget, saat satu pukulan mendarat di pipi suaminya.
"Azkhan, apa yang kau lakukan! hentikan!!" Mia berteriak mencoba menghentikannya. Namun Azkhan yang sudah dikuasai oleh amarah tidak peduli akan hal itu.
"Rupanya kau si brengsek itu!"
BUGH
Satu lagi pukulan Azkhan layangkan diwajah Revan. Revan tidak mengelak. Saat darah keluar dari sudut bibirnya, Mia merasa panik dan langsung menyeka darahnya.
Azkhan yang melihat pemandangan itu sangat terpukul. Bagaimana bisa Mia malah membela orang yang berkali-kali menyakitinya?
"Apa yang kau lakukan, Mia! menjauh darinya.. " Azkhan menarik tubuh Mia menjauh dari Revan.
"Lepaskan aku! suamiku terluka!" Mia memberontak dan kembali mendekati Revan.
"Bodoh! kenapa kau membelanya? bukankah dia yang telah menelantarkan kalian? dia hanya suami tidak berguna. Dia tidak pantas mendapatkan belas kasihan darimu, Mia."
'Kalian?' Revan bergumam bingung. Apa yang dimaksud Azkhan dengan kalian? bukankah Zico adalah anaknya?
Kini tatapan Mia mengarah pada Azkhan. "Dia suamiku, Azkhan. Mau bagaimanapun sikapnya terhadapku, dia tetaplah suamiku saat ini. Jadi tolong, jangan sakiti dia. Jika kau masih menganggapku sebagai temanmu."
Deg
Revan membeku ditempatnya. Mia bukan hanya cemas melihatnya terluka, namun juga masih peduli terhadapnya. 'Sebenarnya apa yang diinginkan wanita ini? bukankah seharusnya dia senang melihatku seperti ini... ' batin Revan sembari menatap Mia penuh makna.
"Kau lihat, Revan! wanita yang kau sia-siakan masih tetap membelamu. Tapi kau? kau bajingan... " Azkhan masih sangat ingin menghantamnya dengan satu pukulan. Namun tiba-tiba saja Mia menghalanginya dengan merentangkan tangannya membelakangan Revan.
"Lawan aku dulu, jika kau masih ingin memukulnya!"
*****
ASSALAMU'ALAIKUM READERS AUTHOR BALIK LAGI NIH. MOHON MAAF SEBELUMNYA LAMA UPDATE.
__ADS_1
TAPI TENANG... NOVEL TIDAK AKAN DIGANTUNG KOK.
SILAHKAN VOTE SEIKHLASNYA JIKA SUKA ☺