
"Maaf Nyonya, Anda tidak boleh keluar, pesawat sebentar lagi akan berangkat."
"Tapi Pak, anakku ketinggalan. Aku harus menemuinya." Aina mencoba meyakinkan penjaga itu. Namun sayangnya orang itu menolak keras dan meminta Aina masuk kembali kedalam pesawat dan duduk dengan manis.
Bukan Aina namanya jika dia tidak berhasil dengan tujuannya. Tiba-tiba saja sebuah ide muncul dikepalanya.
Aina menangis meraung dan memaksakan air matanya agar keluar. Sontak penjaga itu terkejut dan cemas.
"Huuuuuuu....... Anakku ada diluar Pak. Aku harus menemuinya. Kasihan dia seorang diri. Kasihanilah aku Pak. Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya, aku akan menuntutmu!" ucap Aina dengan akting payahnya. Namun diluar dugaannya, penjaga itu akhirnya menyerah dan mengijinkannya keluar pesawat.
"Baiklah Nyonya, jangan menangis lagi. Kau boleh keluar. Tapi kau tidak boleh masuk lagi. Jika ingin masuk, kau harus ikut penerbangan selanjutnya."
"Anakku jauh lebih penting dari apapun Pak. Aku tidak peduli dengan yang lainnya lagi."
"Baik, silakan keluar."
Sontak Aina merubah ekpresinya menjadi girang dan segera keluar dari sana. "Terimakasih Pak."
"Dasar wanita aneh!"
******
Hariz mulai menyadari bahwa Aina sudah kabur darinya. Saat melihat tas Aina yang tidak berisi apapun. Pantas saja tas itu begitu enteng, Ternyata kosong.
"Sialan kau Aina. Kau sudah merencanakan ini semua. Pantas saja wanita itu tidak membawa koper. Bodoh!" Hariz menggeram kesal. Apalagi melihat pasangan sejoli yang duduk didepannya sembari menertawakannya.
*****
Saat keluar dari bandara, Hariz segera menelpon Aina. Namun sayangnya ponsel wanita itu sepertinya dimatikan. Berkali-kali Hariz menelponnya, namun tetap saja nihil.
Pria itu kini menghembuskan nafas gusarnya. Tidak ada gunanya berdiri seperti orang bodoh disana. Dia memilih untuk kehotel terlebih dulu. Mengistirahatkan diri dari rasa lelah fisik maupun batinya.
Hariz mencari taxi untuk mengantarkannya kehotel. Namun sayangnya, saat taxi itu sudah berhenti dihadapannya, Lagi-lagi kesialan menimpanya.
Dua sejoli yang waktu dipesawat tadi mengejeknya, kini tanpa rasa bersalah sama sekali merebut taxi yang sudah dengan susah payah dia pesan.
Hariz menatap geram. Namun kedua orang itu malah melambai. "Kami duluan ya... "
"Sialan!! Dasar pasangan setan," Hariz memaki kesal. Namun hal itu percuma. Taxi itu telah pergi meninggalkannya. Kini dia terpaksa mencari taxi lagi.
Untungnya tidak perlu bersusah payah seperti tadi. Tiba-tiba saja taxi sudah ada dihadapannya. Hariz segera masuk dan menuju kehotel yang sudah sempat dia boking sebelumnya.
******
__ADS_1
Aina sengaja mematikan ponselnya. Dia tahu, pasti Hariz akan menghubunginya. 'Apa aku terlalu jahat, pada suami sendiri? Huh, sudahlah. Ini pembalasanku untuknya. Siapa tahu setelah ini dia akan sadar.
Tapi...
Mau kemana lagi aku sekarang?'
Aina berpikir keras, memilih tempat terbaik untuknya beristirahat. Dan tinggal sementara Hariz belum kembali. Namun pikirannya buntu. Dia tidak mungkin pulang kepanti. Deriya pasti akan cemas dengannya.
Sementara jika dia ketempat Syma. Pasti dia akan mendengarkan kotbah wanita itu sepanjang malam.
ARGHH...
'Aku benar-benar bingung harus kemana?' Aina nyaris menyerah dan ingin pulang saja ketempat suaminya. Namun tiba-tiba saja, dia teringat dengan seseorang.
Vio?
'Ya, pria itu pasti mau membantuku!'
Aina bergegas kerumah Vio. Berharap pria itu akan mengijinkannya menginap sementara suaminya belum pulang.
"Aina? Kenapa malam-malam kesini?"
"Vio, boleh aku menginap dirumahmu? Suamiku sedang keluar negri. Aku takut jika sendirian," bohongnya. Tentu saja Vio sudah tahu dengan gelagat Aina.
"Menginap dirumahku? Jangan konyol Aina. Kau sudah menikah, jika kau tidur disini akan menimbulkan fitnah dalam rumah tangga kalian nanti. Tidak dicari saja, masalah sudah datang sendiri. Apalagi sengaja kau cari seperti ini.
Brakkk
Vio menutup pintunya setelah berucap panjang lebar.
"Astaga.... Pria itu. Hey Vio! Kau ini teman macam apa? Tega sekali kau mengusirku."
Percuma saja Aina berteriak. Vio tidak akan pernah membukakan pintu untuknya. Baginya kini Aina sudah bersuami dan jarak diantara mereka sudah sedikit renggang. Mereka tidak bisa sedekat dulu lagi.
Aina tidak punya pilihan lain. Dia terpaksa kembali ke kediaman suaminya. Meski nanti dia tidak bisa masuk kedalam karena dikunci. Setidaknya dia bisa tidur diluar, dimana tempat favoritnya di sebuah ayunan.
********
Tidak ada yang bisa Hariz lakukan dinegara itu seorang diri. Tanpa kehadiran Aina, hidupnya terasa kosong. Meski setiap kali berdekatan dengan wanita itu mereka selalu bertengkar.
"Lihat saja saat aku kembali besok. Kau tidak akan aku ampuni, Aina. Wanita sepertimu harus diruqyah!"
Hariz menatap kearah bawah hotel dan tidak sengaja menemukan sepasang sejoli yang sudah membuatnya bertambah jengkel. Kini pasangan itu seolah sengaja memanas-manasinya dari bawah dengan bercumbu mesra. Bahkan mereka hampir melakukan adegan yang lebih panas dari itu.
__ADS_1
"Pasangan idiot. Sudah susah payah kehotel bukannya main di kamar, malah memilih tempat seperti itu." Hariz merutuk kesal.
Karena merasa dendam. Tiba-tiba saja muncul ide untuk membalas perbuatan pasangan yang menurutnya idiot itu.
Hariz menyeringai dan segera masuk kedalam kamar mandi. Mengambil air dari dalam kloset dengan ember dan segera keluar dari sana.
"Rasakan pembalasanku, pasangan idiot!!"
Byurrrrrrrrrr
Sontak kedua pasangan itu kebasahan akibat air dari dalam toilet yang disiramkan Hariz padanya.
Hariz langsung bersembunyi sembari tertawa senang. Kini akhirnya dia mendapatkan hiburan yang menyenangkan. Aksi pembalasan dendam itu cukup menghiburnya.
"Hey... DASAR KURANG AJAR! SIAPA YANG MENYIRAM AIR SEMBARANGAN!!"
Tentu saja pasangan itu berteriak kesal dan memakinya. Dan hal itu semakin membuat Hariz tertawa girang.
"Pak Hariz?" senyuman Hariz pudar, saat melihat Clara yang tiba-tiba ada disana.
"Bu Clara? Apa yang anda lakukan disini?"
"Kamarku ada disebelah. Em, selamat atas pernikahanmu. Maaf aku tidak bisa datang." Ada raut kesedihan diwajah Clara. Yang Hariz sendiri tidak mengerti ada apa dengan wanita itu.
"Oh. Tidak masalah. Kebetulan kamarku ada disini juga. Jadi kita bersebelahan." Hariz tersenyum canggung.
"Apa kalian sedang berbulan madu?"
"Em, tidak juga. Aku sedang ada urusan bisnis disini."
Clara tersenyum tipis. "Jadi istrimu tidak ikut?"
Hariz mengangguk. "Ya."
"Kau sendiri? Sedang apa disini?"
"Tidak ada. Aku hanya sedang mencari pelarian. Dari sesuatu yang telah membuat hatiku hancur berantakan. Aku ingin menenangkan diri dan menata kembali hatiku yang retak. Dan aku memilih tempat ini sebagai tujuanku."
Hariz yang tidak begitu peduli dengan ucapan Clara. Hanya mengangguk saja.
"Baiklah Bu Clara. Silahkan tata kembali hati anda yang retak itu. Saya masuk duluan kedalam, Ya. Besok pagi saya harus kembali ke istanbul."
Clara mengangguk lesu. Wanita itu hanya menatap punggung Hariz dengan tersenyum miris.
__ADS_1
TBC
JANGAN LUPA VOTE SEIKHLASNYA YA 😚